Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 38 - Kebetulan


__ADS_3

“Ayah?!”


“Ibu?!”


Ayline mempercepat langkahnya, menghampiri dua orang paruh baya yang sudah sangat ia rindukan. Beberapa saat yang lalu, Ayline menerima pesan singkat dari Denis, jika suaminya menunggu di salah satu restoran. Tak ingin membuat Oswald menunggu lama, Ayline pun bergegas menuju restoran yang disebutkan Denis.


Wanita paruh baya yang dipanggil Ayline dengan sebutan Ibu, melebarkan tangannya untuk menyambut putri semata wayangnya dengan sebuah pelukan hangat. Ada genangan air mata di pelupuk matanya, karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Ayline setelah sekian lama.


“Ayline, sayang ….” Ibu Melanie mengusap lembut kepala sang putri.


“Bagaimana bisa Ibu dan Ayah ada di sini?” tanya Ayline menatap wajah Ayah, Ibunya, lalu terakhir suaminya. Oswald ada di sana, sudah pasti pria itu tahu mengenai jawaban atas pertanyaannya.


Ayline mencium punggung tangan Ayahnya. Tak ada pelukan untuk mengungkapkan rindu seperti yang ia lakukan pada Ibunya. Sejauh ini, Ayahnya adalah pria paling kaku dan dingin di hidup Ayline. Dari dulu hingga sekarang, Ayline masih sulit membedakan apakah sebenarnya ia memang segan yang berlebihan atau malah takut pada sang Ayah.


“Nak Oswald mengundang kami ke acara pembukaan outlet baru kalian. Kebetulan juga, Ayahmu memiliki beberapa pertemuan bisnis di Kota ini.” Penjelasan tersebut datangnya dari Ibu Melanie.


Dalam hati Ayline bergumam, outlet baru kalian? Aku bahkan tak pernah sedikit pun terlibat dengan urusan perusahaan.


Ayline menghela napasnya pelan agar tak ada yang menyadari. Seharusnya sebagai istri jika tidak mengerjakan urusan rumah, maka setidaknya ia bisa membantu sang suami di perusahaan, pikirnya. Anehnya, suaminya tidak meminta kedua hal itu. Suaminya malah memintanya hamil dengan pria lain. Rumah tangga yang gila! Gerutu Ayline dalam hati.


“Kenapa diam? Kamu dari dulu suka begitu, tiba-tiba saja melamun!” tegur Bu Melanie.


Ayline hanya tersenyum. “Terima kasih, Mas. Aku memang sangat merindukan kedua orang tuaku,” ucap Ayline pada Oswald.


“Jangan berkata seperti itu, Sayang,” ucap Oswald lembut. “Aku takut Ayah dan Ibu akan berpikir aku melarangmu bertemu mereka,” lanjutnya disambut tawa oleh Ayah Damien dan Ibu Melanie.


Dalam hati Ayline bingung harus tertawa atau menangis. Lembut sekali ucapan suaminya di depan kedua orang tuanya. Sungguh peran yang nyaris sempurna sebagai suami dan menantu idaman.


“Bukan itu maksudku. Aku yakin, Ayah dan Ibu pasti mengerti,” ucap Ayline seraya satu tangan menggenggam tangan suaminya.


Basa-basi siang itu tak berlangsung lama. Setelah pesanan makanan mereka dihidangkan oleh pelayan, semua orang fokus pada makanan mereka masing-masing. Sesekali hanya ada perbincangan ringan mengenai pekerjaan antara Ayah Damien, Oswald, dan Denis.


Dua jam berlalu, acara makan siang dadakan itu pun selesai. Ayline bergelayut manja di lengan sang Ibu. Rasanya belum rela jika mereka harus berpisah. Rindu pada kedua orang tuanya belum terobati sepenuhnya.

__ADS_1


“Kapan kalian akan pulang?” tanya Ayah Damien.


“Malam ini, Ayah,” jawab Oswald.


Raut wajah Ayline berubah sedih. Ia semakin mengeratkan pelukan pada lengan Ibunya. Oswald yang melihat pemandangan itu, berpikir untuk memberi Ayline sedikit kebebasan bersama kedua orang tuanya.


“Sepertinya istriku ini masih sangat merindukanmu, Ibu,” ucap Oswald.


Ibu Melanie salah paham. Ia pikir Oswald menyindir putrinya karena bersikap sangat manja padanya. “Maaf Nak Oswald, mungkin karena kami sudah lama tak bertemu.” Bu Melanie bahkan berusaha untuk menarik tangannya, agar Ayline melepaskan pelukannya.


Oswald tergelak. “Tak apa, Bu. Aku mengerti kok,” balas Oswald.


“Bagaimana jika Ayline tinggal dulu bersama kalian? Nanti setelah urusan Ayah dan Ibu selesai di Kota ini, baru Ayline juga pulang,” usul Oswald.


Ayline tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya. Kedua netranya terbelalak, “Benarkah, Mas? Kamu benar mengizinkan aku tinggal bersama Ayah dan Ibu?”


“Kamu sesenang itu, Sayang?” tanya Oswald.


Ayline tak peduli lagi, apakah suaminya itu bertanya dengan tulus atau hanya berpura-pura. “Ya, aku sangat senang! Terima kasih, Mas,” serunya.


Apa maksud Mas Oswald? Kabar baik apa yang dia inginkan?


...…...


Keesokan harinya, Ayline mengikuti kedua orang tuanya bertemu dengan klien di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan. Semalaman, Ibu Melanie memberikan banyak nasihat pada putrinya. Bagaimana sebaiknya seorang istri melayani suami, bagaimana sebaiknya seorang istri mengurus rumah tangga, dan masih banyak hal lain. Entah mengapa dinasihati oleh Ibunya sendiri, namun rasanya seperti Oswald yang adalah anak kandung Ibunya.


Dari apa yang Ibunya katakan, semua hanya tentang kenyamanan Oswald. Bagaimana menyenangkan Oswald. Bagaimana Ayline harus menuruti semua perkataan Oswald. Seolah yang paling penting adalah perasaan Oswald.


“Bu, aku izin ke toko buku ya?” pinta Ayline.


“Toko buku?” Kening Bu Melanie mengernyit. “Apa tidak sebaiknya kamu ikut saja pertemuan Ayahmu dengan kliennya? Kamu bisa sekalian belajar mengenai bisnis,” usul Bu Melanie.


“Tapi, Bu ….”

__ADS_1


Ayline sungguh tak ingin berada di sana. Aneh memang, sebab kemarin dia begitu senang sebab Oswald mengizinkannya tinggal bersama kedua orang tuanya. Tapi, sejak semalam yang dibicarakan Ayah dan Ibunya hanya Oswald saja. Tidak ada secuil pembahasan mengenai diri Ayline.


“Biarkan saja, Bu. Kamu seperti tak tahu anakmu itu bagaimana!” celetuk Ayah Damien.


“Tapi Ayah, jika Ayline mulai belajar bisnis dia kan bisa membantu Oswald di perusahaan,” ucap Bu Melanie.


“Kamu tak hanya bisa membantu suamimu nantinya. Kamu juga bisa membantu keluarga kita jika punya kekuasaan di perusahaan.” Bu Melanie sudah membayangkan besarnya keuntungan yang akan keluarganya dapatkan seandainya Ayline juga memiliki kekuasaan di Pallas Grup.


Ayline menghela napasnya, keputusan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya tak seperti yang ia harapkan. Pembicaraan hanya seputar tentang uang dan kekuasaan.


“Bu … Mas Oswald pasti tahu kok, kapan aku siap dan mampu untuk membantunya di perusahaan. Aku tak ingin memaksanya,” elak Ayline.


Bu Melanie berdecak. Padahal dulu saat menikahkan Ayline ia sudah membayangkan jika kekuasaan dan jabatan suaminya akan semakin kuat.


“Sudahlah Bu, aku akan ke toko buku. Tolong kabari aku jika pertemuan Ayah sudah selesai.” Tanpa menghiraukan larangan Ibunya lagi, Ayline bergegas meninggalkan restoran dan mencari di mana letak toko buku.


...…...


Toko buku di pusat perbelanjaan itu terletak di lantai teratas. Saat Ayline masuk ke dalam toko, kebanyakan pengunjung adalah pelajar.


Hari itu toko buku sangat ramai. Dari informasi salah seorang pegawai toko, sedang berlangsung acara bedah buku oleh salah satu penulis novel yang sedang naik daun. Berpikir jika pertemuan Ayahnya akan memakan waktu lama, Ayline pun memutuskan untuk mengikuti acara bedah buku tersebut walau akhirnya ia harus berdesak-desakan.


“Permisi … permisi …” Ayline masih berusaha masuk di tengah kerumunan. Namun apa daya, para pelajar itu sepertinya masih lebih lincah darinya hingga Ayline tetap saja berada di barisan paling belakang.


Penasaran dengan wajah penulis novel yang sedang menjawab pertanyaan dari seorang penggemarnya, Ayline pun sengaja berjinjit. Belum juga ia sempat melihat wajah penulis itu, keseimbangannya tiba-tiba hilang.


Ayline sudah pasti terjatuh, seandainya seorang pria yang berdiri di belakangnya tidak gerak cepat menolongnya.


Bruk! Bunyi sebuah benda yang jatuh ke lantai.


“Kamu tak apa-apa?” tanya pria itu.


Ayline menggeleng. “Po-ponsel ka-kamu?!” seru Ayline merasa bersalah. Ia segera menunduk untuk mengambil ponsel pria itu yang jatuh saat menolong Ayline.

__ADS_1


Kedua netra Ayline terbelalak. Layar ponsel milik pria itu masih dalam keadaan menyala. “Ka-kamu …?”


...——————————...


__ADS_2