Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 37 - Bertemu


__ADS_3

“Ka-kamu …“ dan akhirnya kekhawatiran Ayline benar-benar terjadi. Bertemu dengan Kevin, lagi.


Benar juga apa yang dibayangkan Ayline, jika respon Kevin saat bertemu dirinya tak akan sama seperti sebelumnya. Terkejut, sudah pasti. Namun jelas dari kedua sorot mata Kevin, Ayline bisa melihat ada kekecewaan di sana.


“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Kevin lagi. Jujur saja, ia masih tak yakin jika sosok yang ada di hadapannya adalah sosok wanita yang sudah membuatnya galau beberapa minggu terakhir.


Andai saja tak ada orang berlalu lalang, mungkin Kevin akan menampar wajahnya sendiri untuk meyakinkan jika apa yang terjadi saat ini nyata dan bukanlah mimpi. “Kamu sengaja mengikutiku?”


Tolong jawab iya, pinta Kevin dalam hati. Ia sungguh berharap Ayline memang datang untuk menemuinya.


“Ti-tidak, mana mungkin aku mengikutimu ke sini,” jawab Ayline jujur. Jawaban yang cukup mengecewakan hati Kevin.


Bukan Kevin jika tak memiliki tingkat kepercayaan diri yang melewati batas. “Berhentilah berpura-pura, Ayline. Aku tahu kamu kemari untuk menemuiku, bukan? Tolong jujurlah, jangan ada kebohongan lagi.”


Terdengar helaan napas Ayline. “Bohong? Kurasa aku tak pernah berbohong pada kamu,” ucap Ayline lirih.


“Aku memang kemari bukan karena ingin menemui kamu. Aku sedang menghadiri acara pembukaan salah satu outlet baru di sini,” lanjutnya menjelaskan.


Decakan dari bibir Kevin terdengar. Ia ingat, hari ini kan di pusat perbelanjaan itu sedang ramai karena acara pembukaan outlet baru Pallas Tekstil. Tentu saja sebagai istri dari pemilik perusahaan, Ayline harus hadir di sana.


Terlanjur kecewa pada Ayline, Kevin tak ingin berlama-lama bersama wanita itu. Usahanya berhari-hati untuk menata hati setelah dikecewakan oleh Ayline bisa-bisa gagal.


“Oh, baguslah. Anggap saja pertemuan kita saat ini tidak pernah terjadi. Permisi, Nyonya.” Kevin sengaja menekankan kata Nyonya, agar Ayline paham alasan mengapa ia menyebut wanita itu telah berbohong padanya.


Ayline menunduk, ia tahu kesalahannya pada Kevin. Entah dari mana keberanian itu datang, Ayline yang melihat punggung Kevin perlahan menjauh darinya segera mengejar.


“Kevin, tunggu!” pekiknya sembari menahan salah satu lengan pria itu.


Ayline bersyukur respon Kevin tak buruk atau kasar padanya. Bisa malu dirinya, seandainya Kevin terang-terangan menolaknya.


Kevin memandangi lengannya yang di tahan oleh Ayline. Tatapan Kevin menyadarkan Ayline, perlahan ia menjauhkan tangannya dari lengan pria itu. “Maaf, Kevin. Tapi … karena kita sudah bertemu, kupikir ada yang harus kita bicarakan,” ucap Ayline.


Beberapa detik Kevin bungkam. “Baiklah, ayo ikut aku!” Kevin berniat mengajak Ayline bicara di restoran tempat Andra dan Septi menunggu.


Ayline menggeleng untuk menolak. “Maaf, tapi bisakah kita bicara di sini saja,” pintanya. “Kumohon. Acara yang kuhadiri belum selesai, aku masih harus kembali ke sana segera.”

__ADS_1


Kevin berjalan menepi, ia terpaksa mengikuti keinginan Ayline. Walau sedikit tak nyaman, sebab banyak pengunjung lain yang berlalu lalang di sekitar mereka. “Apa yang ingin kamu katakan?”


“Bukankah kamu yang seharusnya menjelaskan padaku, mengapa tiba-tiba saja kamu menghilang? Kamu tak menghubungiku dan tak bisa kuhubungi,” jawab Ayline.


Kevin tertawa. “Ini benar, kamu menanyakan hal itu? Bukankah kamu yang paling tahu mengapa aku tiba-tiba menghilang begitu saja?!”


“Kamu sudah membohongiku, Ayline!” tegas Kevin.


Ayline menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Ia butuh oksigen untuk mengisi paru-parunya, napasnya terasa sesak.


“Aku tak pernah membohongimu. Apa sebelumnya kamu pernah bertanya apa statusku?!”


Entah itu sebuah jawaban atau pertanyaan balasan dari Ayline, namun hal itu berhasil membungkam Kevin. “Aku tak bertanya sebab kamu bersikap seolah-olah kesempatan untuk aku memilikimu memang ada. Kamu sengaja mempermainkan aku,” balas Kevin membela diri.


“Maaf telah membuatmu salah paham, Kevin. Maaf juga, jika karena sikapku kamu merasa dipermainkan. Tetapi jika aku boleh jujur, aku tak menyesal dan menghargai setiap waktu yang kulalui bersamamu,” ucap Ayline.


“Aku berterima kasih atas semua kebaikanmu. Bersamamu, aku akhirnya bisa tertawa dan merasa bebas walau hanya sesaat,” lanjut Ayline.


Kening Kevin mengernyit. Apa kecurigaanku benar? Dia memang tidak bahagia bersama suaminya! batin Kevin.


Pertanyaan Kevin membungkam Ayline. Keraguan bersarang di benaknya. Apakah dia memang menginginkan hal itu? Seandainya Kevin mau memperjuangkan dirinya, apakah dia berani meninggalkan Oswald. Bagaimana dengan ancaman suaminya untuk menghancurkan kehidupan kedua orang tuanya, apakah Ayline sudah sanggup menghadapi itu semua?


Ayline dilema. Pertanyaan di benaknya kini, apakah memang dia ingin Kevin memperjuangkan dirinya atau dia hanya ingin Kevin membantunya untuk memenuhi keinginan Oswald?


“Jawab aku, Ayline?!” desak Kevin.


“Apa kamu yakin mampu memperjuangkan aku? Dengan segala risikonya?” jawab Ayline dengan pertanyaan pula.


Pertanyaan yang berbalik membungkan Kevin. Peringatan dari Kakak iparnya sudah jelas. Jika berani mengusik rumah tangga Ayline dan Oswald, sama saja Kevin akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kakaknya sendiri.


“Beri aku satu alasan, Ayline?” pinta Kevin masih berharap bisa memiliki wanita itu.


Ayline hanya menggeleng. Tak mungkin dia membuka rahasia mengapa semua ini bisa terjadi. Oswald akan murka jika apa yang mereka tutupi selama ini sampai diketahui orang lain.


Kevin menghela napasnya. Ia usap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. “Apa kamu berjanji akan bertahan di sisiku jika aku berjuang untukmu?!” desak Kevin.

__ADS_1


Ayline masih bertahan bergeming. Pertanyaan yang dia sendiri tak tahu apa jawabannya. Jika mengikuti keinginan Oswald, maka tak ada jalan bagi mereka. Mengenai perasaan pada Kevin, Ayline pun baru merasakan sebatas nyaman bersama pria itu. Bagaimana mungkin dia bisa berjanji hal sepenting itu.


Kevin menyesal telah bertemu dan setuju bicara dengan Ayline. Hatinya yang sebelumnya patah, mulai membaik. Namun, pertemuan dan pembicaraan bersama Ayline kembali mematahkan hati itu.


“Jika kamu bungkam, maka pembicaraan kita cukup sampai di sini. Kuharap kamu jangan pernah lagi menampakkan wajahmu di hadapanku,” peringat Kevin.


Air mata menggenangi pelupuk mata Ayline. Ia tahu, perbuatannya pada Kevin sungguh jahat. Kevin, pria itu sungguh pria yang baik. Bahkan dari yang Ayline tangkap, Kevin bersedia berjuang untuknya seandainya ia berani meminta pria itu melakukannya.


“Maafkan aku, Kevin. Kamu adalah pria baik. Aku yakin kamu akan bertemu dengan wanita yang baik juga.” Kalimat itu adalah kalimat perpisahan dari Ayline. Wanita itu berbalik badan lalu perlahan berjalan menjauh.


Walau sangat ingin, namun Kevin menahan kepalanya agar tak menoleh dan melihat wanita yang ia dambakan pergi menjauh. Kevin memejamkan kedua netranya, berusaha menormalkan gejolak hatinya. Hingga ia merasakan tepukan di bahunya.


“Vin!”


Andra dan Septi tampak bingung melihat raut wajah Kevin yang kembali berubah murung. Dari kejauhan keduanya sempat melihat Kevin bicara dengan seorang wanita. Keduanya pun berniat menghampiri, namun saat mereka tiba wanita itu sudah beranjak menjauh.


“Ada apa?” tanya Andra dan dijawab gelengan kepala oleh Kevin.


“Siapa dia?” tanya Septi sembari menunjuk dengan dagu ke arah Ayline yang terus berjalan semakin jauh dari mereka.


“Dia … dia adalah wanita itu,” jawab Kevin tak bersemangat.


“Wanita itu …? Maksudmu wanita bernama Ayline itu?” tanya Septi lagi dan dijawab Kevin dengan dehaman saja.


Andra mulai membaca situasi, melihat raut wajah sedih Kevin ia yakin pertemuan sahabatnya dengan wanita itu tak sesuai harapan. Andra merangkul Kevin, “Sudah … sudah … jangan sedih lagi! Ayo pergi, bukankah hari ini kita berjanji untuk senang-senang?!”


Septi yang paham maksud Andra pun melakukan hal yang sama. “Sudah, jangan dipikirkan lagi. Wanita lain masih banyak kok. Apa kamu mau aku bantu cariin juga lewat aplikasi Teju? Tuh, Andra aja udah nemu,” ucap Septi membuat Andra berdecak sebal.


Ketiga pria itu pun segera meninggalkan pusat perbelanjaan. Baik Andra dan Septi tak ingin sahabatnya semakin sedih, seandainya mereka masih di sana dan kemungkinan akan bertemu lagi dengan wanita bernama Ayline itu.


Sementara, tanpa Kevin ataupun Ayline sadari, dari kejauhan Oswald pun melihat saat istrinya bicara dengan Kevin. Dalam hati Oswald semakin yakin jika Ayline masih berhubungan dengan pria itu. Oswald berharap Ayline segera menyelesaikan tugasnya dan berhenti bertemu dengan pria itu.


“Denis, kirimkan pesan ke istriku jika kita menunggunya di restoran.”


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2