
“Hayo! Kamu melamun lagi,” tegur Andra.
Sontak Ayline menarik tangannya yang masih digenggam oleh Andra.
“Ma-maf, Alin. Aku tak bermaksud, hem ….“
Sungguh, Andra tak ada niat buruk pada Ayline. Sejujurnya, saat memasangkan kalung pada Ayline, pria itu sekilas melihat jika ada gelang yang desainnya sama dengan kalung pilihan Ayline. Awalnya, Andra tak berniat membeli apalagi sampai memberi pada Ayline gelang itu. Namun setelah tadi ia membuat Ayline kesal, ia merasa perlu sesuatu untuk menghibur wanita itu.
Maka jatuhlah pilihannya pada gelang itu. Gelang dengan desain yang sama seperti kalung pilihan Ayline. Benar saja, gelang yang diberikan oleh Andra melengkapi penampilan Ayline. Menurut Andra, gelang itu sangat cantik dan sangat cocok di pergelangan tangan Ayline.
Atau, mungkin memang apa pun yang dikenakan olehnya akan terlihat cantik, puji Andra hanya berani dalam hati.
“Apa ini?” tanya Ayline sembari memandangi pergelangan tangannya.
“Gelang, untuk kamu.”
“Tapi, aku tak memintanya. Aku tak ingin merepotkanmu.” Ayline merasa tak enak hati jika harus menerima barang pemberian Alan, pria yang baru dia temui dua hari terakhir.
“Kamu tak memintanya. Tapi, aku yang ingin memberinya untuk kamu,” ucap Andra.
Ayline ingin melepas gelang itu dari pergelangan tangannya, namun Andra segera mencegahnya. “Aku sudah menuruti keinginanmu. Aku sudah membawa kamu pergi dari tempat seminar tadi.”
“Walau aku tak tahu apa alasan yang sebenarnya, tapi aku yakin kamu sedang menghindar dari sesuatu di sana. Aku tak ingin tahu apa itu, Alin,” ucap Andra. Tangannya masih betah menahan kedua tangan Ayline.
“Tapi kumohon, terimalah pemberianku yang satu ini. Maaf jika hanya gelang biasa, mungkin tak begitu berharga. Tapi kuharap, setiap kali kamu melihat gelang ini kamu akan selalu mengingat tempat ini,” lanjut Andra.
Genggaman tangan Andra mulai ia longgarkan. Perlahan-lahan ia lepaskan. Andra ingin melihat reaksi Ayline. Apakah wanita itu masih tetap ingin melepaskan gelang pemberiannya atau tidak. Ayline yang bergeming, menimbulkan senyum di wajah tampan Andra.
“Terima kasih, Alan,” ucap Ayline.
__ADS_1
Masih dengan senyum yang mengembang, Andra berjalan lebih dulu. “Ayo, lanjut jalan lagi. Sebenarnya, kita belum sampai di tempat yang aku maksud,” ucap Andra.
Sadar jika Andra sudah mulai berjarak cukup jauh darinya, Ayline pun mempercepat langkahnya mengikuti pria itu. Untuk menyusul dan menyamakan langkahnya dengan Andra, Ayline bahkan harus sedikit berlari-lari kecil.
“Kenapa kamu berlari? Berhati-hatilah, kamu bisa terjatuh.”
“Siapa suruh kamu jalannya cepat banget!” Ayline akhirnya berhasil mensejajarkan langkah mereka.
Keduanya pun berjalan menyusuri jembatan. Semakin jauh masuk ke bagian terdalam objek wisata hutan mangrove. Di sepanjang jembatan, rupanya masih ada pedagang lain lagi. Kali ini yang ditemui Ayline adalah pedagang yang menjajakkan minuman dingin dan beberapa kudapan. Ada juga berbagai kudapan khas kota Gumi yang mereka jual di sana. Ayline sudah bertekad akan membeli beberapa kudapan tersebut untuk ia bawa pulang nanti sebagai buah tangan.
Sudah cukup jauh mereka berjalan. Suasana pun semakin sepi. Tak ada lagi pedagang atau pengunjung yang Ayline temui.
“Kita sebenarnya mau ke mana?” tanya Ayline.
“Sabar, sebentar lagi kita sampai.”
Mulai merasa lelah berjalan, maka Ayline memutuskan untuk diam saja guna menghemat energinya. Hingga tak lama setelah itu, langkah Andra terhenti ketika mereka akhirnya tiba di tempat yang ia ingin tuju.
Kedua netra Ayline berbinar melihat apa yang ada di hadapannya kini. Sebuah toko buku mini yang dibangun di atas jembatan pada objek wisata ini. Hal yang baru pertama kali Ayline temui.
“Inilah tempat favoritku,” ucap Andra. “Semoga kamu juga suka,” lanjutnya.
“Ya, tentu saja!” seru Ayline.
Ada kebanggaan dalam benak Andra, sebab ia berhasil membuat Ayline tersenyum. Keduanya mulai memilih-milih buku yang ingin mereka beli. Seorang pria paruh baya, pemilik toko buku itu tak kalah senangnya ketika kedatangan calon pembeli.
Pria paruh baya itu menyambut keduanya dengan penuh semangat. Setelah sekian lama, akhirnya ada lagi pengunjung yang mengunjungi toko bukunya.
“Silakan Non, Mas,” ucapnya menyambut pelanggan pertamanya hari ini.
__ADS_1
“Mencari buku apa? Jika berkenan, aku bisa membantu kalian,” lanjutnya.
“Terima kasih, Pak. Tapi, kami akan lihat-lihat dulu ya, Pak.”
Ayline menoleh, ia tersenyum menatap Andra saat mendengar pria itu menjawab si pemilik toko buku dengan sopan. Satu nilai tambah untuk pria itu selain wajahnya yang tampan.
“Alan, terima kasih ya. Aku sangat senang kamu ajak ke sini,” ucap Ayline saat mereka sedang memilih buku.
“Hem, sama-sama. Aku pun senang karena tebakanku benar. Kamu memang suka membaca buku,” ucap Andra.
“Tebakan? Bagaimana kamu bisa menebak dengan benar,” puji Ayline.
Andra tergelak. “Alin … Alin … apa kamu lupa di mana kita bertemu pertama kali?”
“Maaf, tapi aku melihat buku yang kamu beli saat itu,” lanjut Andra. “Jika bukan orang yang suka membaca, kamu tak akan mungkin membeli buku setebal itu.”
Rupanya Alan perhatian juga, batin Ayline. Padahal awalnya Ayline pikir Alan adalah pria yang cukup tak acuh. Mengingat bagaimana cara pria itu mengirim pesan padanya dulu.
“Oh, jadi karena itu,” gumam Ayline. “Dan tebakan kamu memang benar, Alan. Aku sangat suka membaca. Tempat favoritku juga adalah toko buku,” aku Ayline.
Walau tak mengakuinya, namun dalam hati Andra merasa senang dan bersyukur telah dipertemukan dengan Ayline. Akhirnya dia menemukan sosok seorang wanita yang memiliki hobi yang sama dengannya.
Cukup lama Ayline dan Andra menghabiskan waktu untuk memilih-milih buku. Ayline sungguh merasa terbantu dengan kehadiran Andra. Pria itu banyak memberinya rekomendasi buku untuk dibaca.
Setelah selesai membeli buku, Ayline dan Andra menuju ke bagian terujung jembatan. Ada meja dan bangku yang terbuat dari kayu di sana. Andra sempat meninggalkan Ayline beberapa saat untuk membeli minuman dan kudapan yang akan menemani mereka selama membaca buku.
Semakin lama, tanpa keduanya sadari suasana semakin mencair di antara mereka. Kecanggungan perlahan sirna. Ayline dan Andra mengobrol banyak hal. Tak hanya membahas mengenai isi buku yang mereka baca, namun beberapa hal pribadi juga mereka bicarakan.
Terkecuali satu hal, mengenai status Ayline yang sebenarnya. Wanita itu masih menyembunyikan statusnya. Entah ia harus bersyukur atau tidak, namun sama seperti Kevin, Andra pun tak pernah sekali pun bertanya mengenai statusnya.
__ADS_1
Bagaimana ini? Jika jujur maka aku akan kehilangan kesempatan bersama Alan saat ini juga. Namun jika berbohong, maka tinggal menunggu kapan waktunya tiba hingga Alan sendiri yang akan pergi. Seperti Kevin, batin Ayline.
...———————...