
Kedua netra Ayline masih mengamati sosok Andra yang sedang berbicara di telepon. Entah siapa lawan bicara pria itu, yang pasti siapa pun orang itu, dia akan segera bergabung dengan mereka.
“Maaf, Alin. Sahabatku baru saja menelepon. Dia akan bergabung bersama kita. Tak masalah, bukan?” tanya Andra seolah meminta persetujuan Ayline.
Ayline mengangguk saja. Jika dirinya keberatan pun sepertinya tak berguna, pikir Ayline. Seharusnya sebelum mengizinkan sahabatnya untuk bergabung bersama mereka, pria itu bertanya dulu padanya.
Andra mengamati perubahan raut wajah Ayline. “Alin, apa sungguh tak masalah sahabatku bergabung bersama kita? Jika kamu tak setuju, aku bisa bicarakan lagi dengannya,” ucap Andra.
“Tidak, tidak. Aku sungguh tak masalah, kok.” Kedua tangan Ayline bergerak ke kiri dan kanan.
“Sejujurnya, aku hanya merasa telah mengganggu waktumu bersama sahabat-sahabatmu,” aku Ayline.
“Pertemuan kita adalah sebuah kebetulan, Alin.” Andra tersenyum. Senyuman yang menurut Ayline menambah ketampanan pria itu. Jika mengingat-ingat bagaimana ketusnya isi pesan pria itu, sungguh tak sesuai dengan wajah tampan yang terkesan baby face dari Andra.
“Kita tak merencanakan pertemuan ini, bukan? Juga, kupikir semakin banyak orang, obrolan kita akan semakin seru. Bagaimana?”
Ayline mengangguk, menyetujui ucapan Andra. Mungkin keberadaan sahabat Andra, bisa lebih mencairkan suasana. Apalagi jika sahabat pria itu adalah pria yang tipe humoris, pikir Ayline.
“Sudahlah. Kita tak perlu membahas dia lagi. Kuyakin jika nanti dia tiba di sini, dia akan bicara banyak hal,” ucap Andra.
Alin menertawakan ucapan Andra baru saja. Ah, ia yakin sahabat pria itu sepertinya orang yang menyenangkan. Dia tak perlu khawatir.
“Jadi, Alin … sampai kapan kamu di kota ini?” tanya Andra.
Ayline yang merasakan getaran pada ponselnya tak memperhatikan ucapan Andra. Ada pesan masuk dari Ibunya yang sedang ia balas.
“Alin!” panggil Andra.
“Eh, ya … maaf, Ibuku mengirimkan pesan,” sesal Ayline. “Tadi kamu bertanya apa?”
Dari yang Andra lihat, kepribadian Ayline sepertinya menarik. Jika dilihat dari wajah dan penampilannya, sepertinya usia Ayline cukup matang. Namun, lucu juga sebab ia masih mau menemani kedua orang tuanya perjalanan bisnis.
“Sampai urusan bisnis orang tuaku selesai. Pastinya kapan, aku tak tahu. Memangnya ada apa?” tanya Ayline.
Drrt … Drrt …. Gantian kini ponsel Ayline di atas meja bergetar. Sekilas Andra bisa melihat, di layar ponsel wanita yang ia kenal bernama Alin itu, tertulis Ibu dengan simbol hati setelahnya.
“Silakan jawab panggilan telepon kamu,” ucap Andra saat kedua netranya bertatapan dengan netra Ayline.
Sama seperti yang Andra lakukan, Ayline pun mengambil jarak saat menerima panggilan telepon. Tak berapa lama, ia pun kembali dengam raut wajah yang sulit Andra tebak.
“Alan, maafkan aku,” ucap Ayline ragu.
__ADS_1
“Apa yang harus kumaafkan? Kamu tak berbuat kesalahan apa pun.”
“Tapi, aku akan segera membuat kesalahan,” balas Ayline.
Kedua kening Andra mengernyit. Ia menahan tawanya, Ayline semakin menarik menurutnya. Ada juga wanita yang mengaku salah bahkan sebelum ia berbuat kesalahan, pikir Andra.
“Aku harus pergi!” ucap Ayline.
“Sekarang?”
Terbersit rasa kecewa dalam benak Andra. Padahal dia mulai merasa nyaman bicara dengan Ayline atau yang dia kenal dengan nama Alin.
Ayline mengangguk. “Maafkan aku,” ucapnya lirih. ”Tak aku sangka, jika pertemuan Ayahku dengan kliennya berlangsung cepat,” lanjutnya.
“Aku sungguh tak masalah, Alin. Tapi, kamu bahkan belum makan atau minum apa pun,” ucap Andra.
Pertemuannya dengan Alin adalah suatu kebetulan yang tak pernah ia bayangkan, pikir Andra. Maka untuk pertemuan yang kedua atau yang ketiga, Andra tak ingin berharap banyak. Sampai kapan wanita itu di kotanya pun, ia tak tahu.
“Apa kita bisa bertemu lagi?” ragu Ayline bertanya pada Andra.
Mendengar permintaan wanita itu, Andra merasa senang. Kekhawatirannya menemukan jawaban. “Bisa!” seru Andra.
Sesaat setelahnya, ia merutuki dirinya yang menjawab dengan sangat bersemangat. Sikapnya sungguh menunjukkan, sebesar apa harapan Andra agar mereka bisa bertemu lagi.
“Aku pergi sekarang ya, Alan. Ayah dan Ibuku sudah menunggu,” pamit Ayline.
Andra pun mengantar Ayline hingga ke depan pintu kafe. Walau wanita itu sudah berjalan cukup jauh darinya, namun Andra masih betah berdiri di tempatnya untuk memandangi punggung wanita itu.
Hingga sebuah tepukan di bahunya berhasil mengejutkan Andra. “Woi!”
“Eh, kamu! Ngagetin saja,” protes Andra.
“Lagian, kamu ngapain berdiri melamun di sini?”
“Siapa juga yang melamun. Aku lagi ngeliatin dia,” jawab Andra sembari menunjuk ke arah Ayline yang semakin menjauh.
Septi mengikuti arah pandangan Andra. Hanya punggung seorang wanita dengan rambut panjang tergerai yang bisa dilihatnya. “Siapa dia?”
“Teman,” jawab Andra singkat.
Satu tangan Septi merangkul pundak Andra. Sementara satu tangannya lagi berkacak di pinggangnya. “Teman? Seorang wanita?!” tanyanya dengan nada tak percaya.
__ADS_1
Andra berusaha melepaskan diri dari rangkulan Septi. “Memangnya ada yang salah?”
Septi mengikuti langkah Andra kembali masuk ke dalam kafe. “Enggak salah sih. Aku hanya penasaran saja, dia wanita yang mana.”
Seingat Septi, sahabatnya itu tak memiliki banyak teman wanita. Bahkan hampir semua teman wanita Andra adalah temannya juga. Jadi, siapa wanita itu? Tanya Septi dalam hati.
Sementara Andra belum berniat untuk jujur mengenai siapa Alin dan bagaimana mereka bertemu. Ia yakin, dirinya akan menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya, jika tahu bahwa Alin adalah wanita yang ia kenal dari aplikasi Teju.
...….....
Keesokan harinya, Ayline bersama kedua orang tuanya mengunjungi sebuah Universitas di Kota Gumi. Sebagai alumni, Ayahnya diundang menjadi pembicara dalam salah satu acara seminar yang diadakan di kampus tersebut. Ayline sendiri tak pernah tahu, jika Ayahnya dulu pernah kuliah di Kota Gumi.
Berbeda dengan saat diajak mengikuti rapat bisnis, hari ini wajah Ayline berseri-seri. Salah satu acara yang disenangi Ayline adalah seminar pendidikan seperti ini. Dia pikir dirinya akan mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan jika mengikuti seminar.
Ayline dan kedua orang tuanya duduk di kursi barisan depan. Wanita itu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang belum dipadati oleh para tamu peserta seminar.
Hingga kedua netra Ayline membola saat melihat sosok pria yang tak asing baginya. Kevin! Pekiknya dalam hati.
Panik! Ayline sungguh tak ingin bertemu Kevin saat ini. Semangatnya yang tadinya berapi-api ingin mengikuti seminar ini, seketika padam saat melihat Kevin mengenakan lanyard bertuliskan panitia.
Aku harus pergi dari sini! Gumamnya dalam hati.
“Bu,” Ayline merintih selagi memegangi perutnya.
“Ada apa, Nak?”
Melihat raut wajah khawatir Ibunya, Ayline merasa bersalah. Sudah terlanjur, pikirnya. “Pe-perutku sakit,” ucap Ayline.
“Loh, kok bisa? Mendadak gini, Nak? Kamu memangnya sarapan apa tadi pagi?!”
Sungguh Bu Melanie bingung. Acara seminar akan dimulai sebentar lagi, namun melihat kondisi putrinya, ia cukup merasa khawatir.
“Aku izin ke toilet dulu ya, Bu.”
“Ke toilet? Ayo, Ibu temenin.” Bu Melanie sudah akan beranjak dari kursinya, namun Ayline menahannya.
“Aku sendiri saja, Bu,” tolak Ayline. “Ibu di sini saja, menemani Ayah,” lanjutnya.
Sempat terjadi perdebatan di antara Ibu dan Anak itu, sebelum akhirnya Ayline diizinkan pergi sendiri. Ayline berusaha untuk menghindari Kevin. Hingga akhirnya ia bisa sampai di depan pintu keluar.
Namun … bugh! Karena berjalan sembari menunduk, Ayline akhirnya menabrak tubuh seorang pria.
__ADS_1
“Ma-maafkan aku,” ucap Ayline lirih.
...———————...