
Hari berganti, pagi itu diawali dengan pancaran sinar mentari yang mulai menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar. Suasana pagi, tetap dingin. Hangatnya sinar mentari belum dapat dirasakan oleh sepasang suami istri yang masih bergelung di bawah selimut masing-masing. Suami istri yang tidur saling memunggungi dengan pikiran masing-masing yang tak sempat terucap.
Seperti pagi biasanya, meski enggan membuka mata namun Ayline tetap harus terjaga. Walau diawali dengan keheningan, namun pagi ini akan tetap jadi awal kehidupannya bermula. Pelan-pelan kedua netranya mulai terbuka. Netra itu memicing saat harus menyesuaikan pencahayaan pagi itu.
Sekelebat ingatan mengenai apa yang terjadi hari sebelumnya terputar bagai rekaman film dalam benak Ayline. Kevin?! Nama pria itu kembali diserukan oleh Ayline dalam hatinya. Tak bisa berbohong, walau seminggu lebih telah berlalu namun Ayline masih berharap pria itu menghubunginya kembali.
Ayline melirik ke sisi lain tempat tidur, ada suaminya yang tidur dengan nyenyak memunggunginya. Kadang Ayline berpikir dosa apa yang telah ia perbuat hingga Tuhan menghukumnya untuk terlibat dalam rumah tangga yang rumit seperti sekarang.
Sebelum membangunkan suaminya, entah apa yang mendorong wanita itu untuk meraih ponsel di dalam laci nakas. Perlahan ia turun dari tempat tidur, lalu keluar ke teras kamar dengan mengendap-ngendap. Ayline sendiri tak paham dengan yang ia lakukan, yang ia tahu ia sampai begini sebab apa yang hendak dilakukannya adalah hal yang salah.
Setelah tiba di teras kamarnya dengan aman, Ayline akhirnya bisa bernapas lega. Sekilas ia melirik lagi ke dalam kamar melalui kaca jendela. “Aman … Mas Oswald masih tidur,” gumamnya.
Kevin! Satu nama itu yang masih mengganjal di pikirannya. Mengapa pria yang teramat ramah tiba-tiba saja menghilang, setelah menunjukkan ketertarikan padanya secara terang-terangan. Pertanyaan itu sungguh mengusik benak Ayline.
Tut … Tut … Tut …. Ayline mencoba menelepon Kevin, namun panggilannya tak dapat terhubung. Dugaan Ayline nomor ponselnya telah diblokir oleh Kevin. Merasa tak melakukan kesalahan apa pun, Ayline yakin satu-satunya alasan yang mungkin menyebabkan semua ini terjadi adalah karena Kevin mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Ayline menghela napas berat. “Pilihan terakhir memang adalah aplikasi ini,” gumamnya seraya membuka aplikasi Teju dengan malas-malasan.
Puluhan pesan ia terima, yang sebagian besar pengirimnya adalah seorang pria. Semuanya juga bertujuan sama, memuji betapa estetiknya foto profil Ayline dan ujung-ujungnya mengajak berkenalan.
Ayline pun melakukan hal yang sama. Pertama ia akan melihat foto profil pria itu, walau ada kecurigaan jika pria itu menggunakan foto palsu. Setelah memilah berdasarkan foto, Ayline akhirnya memutuskan hanya membalas beberapa pesan.
Balasan yang sangat singkat, sebab ia hanya membalas dengan menyebutkan namanya saja. Belum ada yang membuatnya tertarik untuk mengobrol lebih jauh. Dipikirannya masih terbayang betapa kelakarnya sosok Kevin yang sering membuatnya tertawa.
“Ayline!”
Panggilan dari Oswald mengejutkan Ayline. Hampir saja ia menjatuhkan ponsel yang berada dalam genggamannya. Segera ia berlari masuk kembali ke kamar. Dilihatnya, suaminya itu sudah bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kamu sudah bangun, Mas?”
__ADS_1
Ayline meletakkan kembali ponselnya ke dalam laci nakas. Apa yang ia lakukan itu menjadi perhatian Oswald. Senyum tipis terukir di bibir pria itu. Dalam benaknya, Oswald mengira jika istrinya pasti baru saja menghubungi pria yang sedang dekat dengannya. Oswald masih memegang janjinya untuk tak mencari tahu siapa sosok pria itu, walau berkali-kali Denis ingin mengungkap identitasnya.
“Apa yang kamu lakukan di luar?” tanya Oswald basa-basi saat Ayline berusaha membantunya pindah ke kursi roda.
“Tak ada. Hanya ingin menghirup udara pagi saja,” jawab Ayline mengelak.
Oswald hanya berdeham untuk merespon istrinya. Ia sempat mendengar istrinya menarik napas panjang setelah membantunya pindah ke kursi roda, dan hal itu seperti mencubit hatinya.
Bukannya kasihan pada istrinya yang selalu bekerja keras mengurusnya sehari-hari, namun Oswald kesal pada dirinya yang sungguh lemah dengan kaki yang lumpuh. Pikiran itu yang membuatnya marah pada dirinya sendiri, lalu menjadikan Ayline sebagai pelampiasan amarahnya.
“Enak ya jadi kamu!” Masih pagi namun Oswald sudah menatap sinis istrinya. “Bisa menikmati segarnya udara pagi,” lanjutnya.
Ayline yang tak ingin berdebat di pagi hari, lebih baik berpura-pura tak tahu jika suaminya itu sedang menyindirinya. “Mas juga mau? Ayo, kita jalan-jalan di taman. Di sana pasti udaranya lebih segar lagi!”
“Cih! Tak perlu. Kamu lupa aku cacat?! Mana bisa aku berjalan-jalan!” dan pada akhirnya Ayline menjadi pelampiasan kekesalan suaminya.
Sebenarnya Ayline bisa saja membalas ucapan Oswald, namun hal itu tak ia lakukan. Ia hanya menatap ke arah lain saja agar kedua netranya yang berkaca-kaca tak terlihat oleh suaminya.
Tanpe menunggu jawaban Oswald, Ayline segera mendorong kursi roda suaminya masuk ke kamar mandi. Seperti hari-hari sebelumnya, Ayline akan memastikan suaminya selesai bersiap lebih dulu sebelum ia menyiapkan dirinya sendiri.
...…...
Hari ini, Oswald mengajak Ayline ikut serta ke pabrik. Beberapa kliennya dari Kota datang berkunjung untuk melihat situasi dan pekerjaan di pabrik. Sengaja Oswald mengajak Ayline dengan tujuan untuk membangun cerita jika dengan kondisinya yang seperti sekarang, ia masih memiliki istri cantik di sisinya. Oswald ingin membangun citra dirinya yang sempurna di mata orang-orang. Seperti dahulu, sebelum kecelakaan menimpa dirinya.
Setelah klien Oswald pergi dan merasa kehadirannya tak diperlukan lagi, Ayline pamit pada Oswald untuk berkeliling pabrik.
“Apa kamu tak lelah? Bukankah kita baru saja berkeliling pabrik!” jawab Oswald ketus saat Ayline meminta izin.
“Tentu saja aku lelah. Tapi, aku juga bosan duduk diam di sini. Atau, aku pulang ke rumah saja?” usul Ayline.
__ADS_1
Oswald berdecak. “Pergilah! Kembali sebelum jam makan siang. Aku ingin mengajakmu makan siang di luar.”
Ayline pun bergegas keluar dari ruang kerja Oswald setelah menyanggupi syarat yang diberikan suaminya itu.
...…...
Tempat yang dituju Ayline, tak lain adalah ruangan kerja Syila. Dia ingin mengobrol dengan gadis itu. Ingin bercerita bahwa ia telah menerima banyak pesan di aplikasi Teju itu.
Namun sayangnya saat Ayline tiba di ruang kerja Syila, sepertinya gadis itu sedang banyak pekerjaan. Ayline pun mengurungkan niatnya menemui Syila. Ia terus berjalan hingga menemukan area peristirahatan bagi para karyawan pabrik. Ada kolam ikan dan banyak meja dan kursi di sana.
Ayline duduk di kursi yang berada dekat dengan kolam. Dari pada bosan, ia kembali membuka aplikasi Teju. Lagi-lagi banyak pesan masuk yang menyambutnya. Pesan balasan dari pesan yang Ayline kirim tadi pagi.
Ayline scroll pesan-pesan tersebut, dari sekian banyak balasan pesan netra Ayline mendapati satu pesan yang rupanya belum ia balas. “Ah, aku ingat … ini kan pesan dari semalam. Benar, aku lupa membalasnya.”
Ayline pun segera mengetikkan pesan balasan. Hai, Alan. Salam kenal juga, isi pesan balasan Ayline.
Penasaran dengan nama mereka yang mirip, Ayline melihat foto profil pria itu yang juga menggunakan foto siluet seorang pria. Untuk pertama kalinya Ayline merasa tertarik dengan pria di aplikasi itu.
Menunggu balasan pesan yang tak kunjung tiba, Ayline kembali mengirimkan pesan pada pria bernama Alan itu.
Rupanya nama kita hampir sama, ya. Aku Alin dan kamu Alan.
Setelah pesan terkirim, Ayline menunggu beberapa saat namun pesannya tak kunjung mendapat balasan. Masih penasaran, Ayline mengirim pesan lagi.
Tak hanya nama kita, foto profil kita juga hampir sama.
Satu pesan dari Ayline terkirim lagi. Ayline masih menunggu balasan pesan yang tak kunjung tiba. “Kok enggak dibalas sih?!” gerutu Ayline. Rasa penasaran membuatnya tertarik dan kini merasa tak sabar menunggu balasan dari pria bernama Alan itu.
“Apa aku kirim pesan yang banyak saja, ya? Mungkin saja dia akan membalas jika aku mengirim banyak pesan untuknya.”
__ADS_1
...————————...