Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 34 - Ponsel Horor


__ADS_3

Alan, apa ada alasan mengapa kamu menggunakan foto siluet di profilmu?


Kutebak itu karena kamu tak ingin orang lain tahu rupamu, kan?


Alan, apa kamu menerima pesanku?


Hai Alan, aku Alin. Kamu mengirimiku pesan semalam.


Apa kabar, Alan?


Alan ….


Alan?


Alan?!


Ayline mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja. “Hem … mengapa ia tak membalas pesanku? Apa mungkin jika pesan yang kukirim tak ia baca? Atau pesannya tak terkirim?”


Ayline bertanya pada dirinya sendiri. Ia menduga-duga apa alasan mengapa dari banyaknya pesan yang telah ia kirim, tak satu pun ia mendapat balasan.


“Pria aneh!” gerutunya menyimpulkan seorang diri. “Semalam dia yang lebih dulu mengirimiku pesan. Mengajak kenalan pula!” lanjutnya mengomel.


“Apa sebaiknya pesan itu kuhapus saja, ya?” Ayline menimbang-nimbang, galau antara ia biarkan saja pesan yang telah ia kirim atau sebaiknya dia hapus saja. Jangan sampai pria bernama Alan itu besar kepala sebab Ayline terkesan berharap pesannya dibalas, pikir Ayline. Walau memang benar begitu adanya.


Jemari lentik Ayline baru saja hendak menghapus pesan tersebut, sebelum ia dibuat terkejut dengan ponselnya yang tiba-tiba bergetar dan berdering sangat nyaring.


“Astaga!” pekik Ayline terkejut.


Ponselnya tergeletak jatuh ke lantai saat tanpa sengaja Ayline melepaskan genggamannya karena terkejut. Ponsel itu masih berdering dan bergetar, yang berarti si penelepon belum berhenti menghubunginya.


“Mas Oswald?” Kening Ayline mengernyit saat membaca nama suaminya sebagai id penelepon.


Jam di layar ponselnya menampilkan angka dua belas, itu artinya Ayline sudah pergi meninggalkan suaminya lebih dari satu jam lamanya. “Makan siang!” pekiknya saat teringat janji yang ia buat bersama sang suami.


“Halo, Mas.” Ayline ragu menjawab panggilan telepon suaminya.


“Di mana kamu, Ayline? Apa kamu lupa jika kita akan makan siang bersama?!”


Benarkan? Ayline sudah menduga suaminya itu pasti akan marah padanya. Ketusnya Oswald saat bicara di telepon, membuat Ayline sudah bisa membayangkan bagaimana wajah kesal suaminya saat ini.

__ADS_1


“A-aku di ….” Ayline mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia tak tahu nama tempat itu, harus jawab apa pada suaminya.


“Kamu di …?”


“Hem, aku masih di pabrik kok. Tak begitu jauh dari ruangan kamu, Mas.” Ayline menjawab sembari melangkahkan kakinya kembali ke ruang kerja suaminya. Ia harus bergegas, sebelum kepala suaminya mengeluarkan asap karena menahan kesal padanya.


“Tak usah ke ruanganku. Aku menunggumu di depan lobi,” suruh Oswald. “Bergegaslah, Ayline. Berlari jika perlu, aku tak suka menunggu.”


Ayline menjawab dengan anggukan walau ia tahu Oswald pasti tak bisa melihatnya. Langkahnya ia perlebar dan percepat, sesuai perintah suaminya. Padahal di awal pertemuan keduanya, Oswald yang berlari untuk menemuinya. Hanya butuh beberapa bulan sebelum semuanya berubah. Kini, Ayline yang harus berlari untuk menemui Oswald.


...…...


Sementara itu di Kota Gumi, di sebuah Sekolah Menengah Atas yang disebut-sebut sebagai sekolah unggulan di Kota tersebut, Andra baru saja selesai mengajar.


Selama mengajar, biasanya anak-anak murid yang kerap kali membuat keributan dan mengganggu konsentrasi Andra. Namun hari ini berbeda, ponsel di sakunya tak henti bergetar yang menjadi pengganggu.


“Tadi siapa sih yang nelepon?!” gerutunya setelah ia meninggalkan kelas dan kembali ke ruangan guru.


Kening Pak guru muda yang diidolakan oleh banyak siswi itu mengernyit. Tak ada telepon atau pesan singkat yang ia terima. “Lalu, mengapa ponsel ini terus bergetar sejak tadi, ya?” gumamnya lirih.


Wajahnya berubah lesu, sayang sekali jika ponsel yang baru dia beli bulan lalu itu sudah rusak. Ponsel dengan merek terkenal di dunia, harganya juga lumayan mahal. Andra berhasil membelinya setelah menyisihkan gajinya beberapa bulan ditambah hadiah ketika ia menang lomba cerdas cermat antar guru se-Kota Gumi.


Kembali ke masalah ponsel milik Andra, wajah pria itu tertekuk. Sungguh ia akan sedih jika benar ponselnya rusak. Kesal juga, sebab ia pikir kualitas ponsel itu akan sebanding dengan harganya yang fantastis.


“Pak Andra yang ganteng, kok cemberut aja?!” tegur Septi, tiba-tiba datang dan duduk di depan meja Andra.


“Bawa bekal? Kalau enggak, kita ke kantin yuk!” ajak Septi setelah pertanyaan pertamanya diabaikan oleh sahabatnya itu.


Andra menggeleng. Setelah semalam pulang larut sehabis bertemu dengan Septi juga Kevin, Andra bangun kesiangan dan tak sempat menyiapkan bekal untuk dirinya. “Yuk, ke kantin! Tapi, kamu enggak mau ganti baju dulu, Pak Septi?”


Jika Andra adalah seorang guru yang mengajar di mata pelajaran matematika dan merupakan salah satu wali kelas, Septi adalah seorang guru olah raga di sekolah itu. “Nanti saja lah,” jawab Septi. “Sehabis jam istirahat aku masih ada satu jam pelajaran lagi,” lanjutnya.


Kedua guru tampan nan populer di sekolah itu berjalan bersama menuju kantin. Kantin di sekolah itu memang digabung antara kantin siswa dan kantin guru, tujuannya agar guru juga bisa berbaur dan lebih akrab dengan para murid.


Setelah duduk di salah satu meja, Andra kembali mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia pandangi ponsel itu, memikirkan akan berapa lama ponsel itu bertahan.


“Iya deh, aku tahu kok … itu ponsel keluaran terbaru kan? Enggak usah terus dipamerin gitu kali!” Septi sengaja mengejek sahabatnya itu dengan suara yang cukup keras. Ia tahu, Andra paling tak suka jika orang-orang memperhatikan dirinya.


“Sssttt! Gila ya, kamu!” tegur Andra kesal. “Bukan dipamerin, Sepeet!” Andra membalas ledekan Septi dengan menyebut nama panggilan Septi yang dibuat oleh ia dan Kevin.

__ADS_1


“Ini itu aku lagi mikirin nasib ponsel ini. Tahu enggak sih, tadi selama jam pelajaran dia itu bergetar melulu. Kupikir ada telepon atau pesan, eh pas aku cek setelah kelas selasai enggak ada sama sekali,” jelas Andra.


“Horor banget enggak sih?!” lanjutnya menambah rasa penasaran Septi.


Septi berdecak sebal sebab namanya sengaja dipelesetkan lagi oleh Andra. “Mana ada ponsel horor. Ponsel mahal gini, gila aja kalau cepat rusak!” oceh Septi yang berpikiran sama seperti Andra. Ponsel mahal ya tentu saja kualitasnya harus bagus juga dong, pikirnya.


“Siniin ponselnya! Coba aku cek dulu,” ujar Septi.


Septi pun kembali mengutak-atik ponsel Andra. Hingga pesanan makanan keduanya datang, bersamaan dengan Septi yang tertawa terbahak-bahak. “Dasar Pak Guru kampungan kamu, Ndra!” ledek Septi.


“Sialan si Sepet … berani ya kamu ngatain aku kampungan!” balas Andra tak terima.


“Ya, memang kamu begitu, Ndra.” Septi masih tetap tertawa. “Ponsel kamu itu bukannya horor atau rusak. Ini ponsel bergetar karena ada pesan masuk di aplikasi Teju,” jelas Septi.


Andra menatap Septi dengan raut wajah bingungnya. “Aplikasi Teju? Aplikasi yang kamu unduh kemarin itu? Aplikasi yang nyari-cari cewek itu?!”


Septi mengangguk dengan yakin. “Nih, kamu dapat pesan balasan dari si Alin,” ucap Septi seraya menyerahkan kembali ponsel Andra.


“Alin siapa?”


“Itu loh, yang kemarin aku kirimin pesan dari ponselmu,” jawab Septi tanpa rasa bersalah.


Andra berdecak. “Ck! Ini semua gara-gara kamu. Sudah kubilang aku enggak mau, tetap saja kamu maksain.”


Andra bersungut-sungut merebut ponselnya kembali dari tangan Septi. Jangan sampai sahabatnya membalas pesan dari wanita itu dengan balasan yang di luar nalar.


Andra lagi-lagi berdecak. Banyak pesan yang dikirimkan oleh wanita bernama Alin itu. Pantas saja tadi ponselnya terus bergetar, pikirnya.


“Ck! Apa wanita ini kurang kerjaan, ya? Apa enggak paham, jika sekali ngirim pesan dan enggak dibalas itu artinya si penerima pesan lagi sibuk. Ngapain juga harus ngirim pesan beruntun gini?!” gerutu Andra.


Dengan perasaan kesal setelah disebut kampungan oleh Septi. Ditambah rasa kesalnya sebab karena pesan dari Alin hingga ia berpikir ponselnya akan rusak. Andra segera mengetikkan pesan balasan.


Apa kamu pengangguran?! Apa kamu tak punya kesibukan?! Apa waktumu begitu luang untuk mengirim banyak pesan walau tak mendapat balasan?!!!


Pesan balasan untuk wanita bernama Alin, telah terkirim. Andra tersenyum puas, tiga tanda seru di akhir pesannya sudah menjelaskan rasa tidak sukanya dengan pesan-pesan dari wanita bernama Alin itu.


Semoga wanita itu paham dan berhenti mengirimiku pesan, ucap Andra dalam hati.


Ia pun melanjutkan menikmati makan siangnya dengan hati yang lebih tenang. Ponselnya tak jadi horor atau rusak. Lalu untuk urusan aplikasi itu, akan segera dia hapus setelah selesai makan siang.

__ADS_1


...———————— ...


__ADS_2