Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 20 - Solusi


__ADS_3

Seminggu berlalu, Oswald pikir pembicaraan mengenai anak sudah berakhir. Namun kenyataannya, sang Ibu masih saja terus membahas mengenai hal itu. Baik padanya ataupun pada Ayline. Mommy Raya bahkan mengancam akan pindah ke rumah mereka untuk memastikan sendiri bagaimana hubungan pasangan suami istri itu.


Sementara yang terjadi, bukannya membaik hubungan Ayline dan Oswald malah makin rumit. Oswald semakin menyibukkan dirinya di pabrik. Sementara Ayline lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan pribadi yang ada di rumah mereka.


Suatu hari, Oswald menolak meminum ramuan herbal yang biasanya Ayline siapkan untuk mengobati disfungsi s*ksu*l yang ia alami. Hal itu akhirnya kembali memecah pertengkaran di antara keduanya. Hubungan antara Oswald dan Ayline yang masih memanas, malah semakin panas. Oswald bahkan sengaja pergi ke Kota hanya untuk menghindari Ayline.


“Maaf Nyonya, tapi baru saja Tuan Denis mengabari jika beliau dan Tuan Oswald tak akan pulang hari ini,” ucap Pak Albert ketika Ayline sedang menikmati makan malamnya seorang diri.


Ayline memaksakan senyumnya. “Memangnya mereka ke mana?” Dalam hati Ayline menertawakan dirinya sendiri. Lucunya, dia adalah istri Oswald, namun dia sendiri tak tahu keberadaan suaminya. Kapan pria itu pergi, bersama siapa, ke mana ia pergi, Ayline tak tahu sama sekali.


“Tuan Oswald dan Tuan Denis ke Kota, Nyonya,” jawab Pak Albert.


Entah mengapa saat Pak Albert menyebut Oswald ke Kota, ingatan Ayline kembali pada saat jamuan makan siang di kediaman Walikota dulu. Bukankah Dokter Siska ada di Kota?


“Sampai kapan suamiku akan berada di Kota?” tanya Ayline. Harusnya dia bisa menanyakannya sendiri pada Oswald, tapi dengan kondisi hubungannya yang seperti saat ini, Ayline tak yakin suaminya itu akan menjawab panggilannya.


“Maaf, Nyonya. Tapi, Tuan Denis tak mengatakan kapan mereka akan kembali,” jawab Pak Albert.


“Lalu bagaimana dengan terapi dan obat-obatnya?”


“Tuan Denis sudah membawa semua obat-obatan Tuan Oswald. Untuk terapi, Tuan Oswald akan berkunjung ke klinik Dokter Siska,” jelas Pak Albert.


Mendengar nama Dokter Siska, rasa lapar Ayline sontak menghilang. Saat berada di rumahnya saja, Dokter Siska bertindak berani mendekati Oswald terang-terangan. Apalagi jika di kliniknya sendiri, Ayline tak bisa membayangkan bagaimana dokter itu akan menggila.


Ayline meletakkan sendok dan garpu tanda ia telah selesai dengan makan malamnya. Memikirkan apa yang mungkin Dokter Siska lakukan untuk menggoda suaminya, membuat Ayline merasa sesak. “Sepertinya aku butuh udara segar,” gumamnya.


Tak langsung kembali ke kamar, Ayline memilih ke taman bunga di halaman depan rumahnya. Ia duduk di kursi taman, memandang kerlap-kerlip bintang-bintang di langit. Berkali-kali Ayline menghela napas panjang, di tengah tenangnya malam itu Ayline merasa gelisah.


“Nyonya di sini?”


Ayline terkejut saat tiba-tiba Syila muncul di hadapannya. “Syila?! Sejak kapan kamu di sini?”


Syila menggaruk tengkuknya. “Hem, sebenarnya saya sudah dari tadi di sini, Nyonya. Sekitar tiga puluh menit sebelum Nyonya datang,” jawab Syila jujur.


Kening Ayline mengernyit. “Tapi tadi tak ada siapa-siapa di sini,” ucap Ayline.

__ADS_1


Tak berapa lama ia tertawa. “Pasti kamu sedang video call bersama Bagus, ya?” tebak Ayline. Syila tampak malu-malu. Ia menunduk lalu mengangguk pelan.


“Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Bagus? Apa sudah ada rencana ingin bertemu?” tanya Ayline.


Syila lagi-lagi menunduk malu. Seandainya siang hari, mungkin Ayline akan melihat rona merah di pipi Syila. “Sebenarnya aku ragu dan takut untuk percaya. Kata Bagus, dia ingin menunjukkan keseriusannya dalam hubungan kami. Secepatnya dia akan datang menemuiku.”


“Lalu kamu tolak lagi?” Kali ini Syila menggeleng untuk menjawab.


“Syukurlah,” ucap Ayline. “Kalian memang perlu kemajuan dalam hubungan kalian. Pesanku cuma satu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kenali Bagus sebelum kamu memutuskan untuk melangkah lebih jauh lagi.” Ayline memberi saran yang berasal dari lubuk hatinya.


Setidaknya, cukup aku yang membuat kesalahan seperti itu, batin Ayline.


...…...


Oswald akhirnya kembali ke rumah, setelah tiga hari ia berada di Kota. Sebenarnya ia merasa bersalah melakukan itu semua pada Ayline, namun ia sungguh butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya.


Untuk menebus waktu yang ia lewatkan tanpa Ayline, Oswald mengajak istrinya untuk makan siang bersama. Bertempat di salah satu rumah makan yang menyajikan makanan khas dari Desa Kald, sepasang suami istri itu tampak canggung ketika awal mereka bertemu lagi.


“Maaf karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Banyak hal yang harus dibenahi di perusahaan cabang,” ucap Oswald membuka pembicaraan di antara mereka.


Memangnya kapan kamu tak sibuk! balas Ayline. Sayangnya, ia hanya berani mengatakan itu di dalam hatinya saja.


“Bukannya apa, aku tak tahu harus menjawab apa saat Mommy bertanya,” lanjut Ayline.


Kening Oswald mengernyit. Ia pikir hanya dirinya yang mendapat teror dari Mommy Raya. Rupayanya, Ibunya itu juga menekan istrinya.


“Apa Mommy masih bicarakan soal anak?” tanya Oswlad langsung pada intinya.


Ayline mengedikkan bahu. “Memangnya ada hal lain lagi yang Mommy inginkan selain berita kehamilanku.”


“Jadi apa yang kamu katakan pada Mommy?”


Ayline menggeleng. “Aku hanya mengatakan jika kita akan berusaha lebih lagi.”


“Hanya itu? Dan Mommy percaya?”

__ADS_1


Ayline tertawa. “Tentu saja tidak. Kamu pasti tahu bagaimana gigihnya Mommy, Mas.”


“Coba tanyakan Pak Albert, dalam lima hari terakhir Mommy sudah dua kali mengirimkan obat herbal penyubur kandungan untukku,” ungkap Ayline.


Oswald bungkam. Ia harus segera bertindak sebelum Mommy-nya akhirnya tahu mengenai fakta yang selama ini keduanya tutupi. Sejujurnya, Oswald memiliki sebuah ide yang sangat gila. Ide gila ini terlintas begitu saja di benaknya. Namun, terus ia urungkan untuk beritahu Ayline sebab ia tahu tak akan mudah untuk membuat istrinya menerima idenya itu.


“Mommy juga menghubungiku. Jangan kira dia hanya menekanmu,” ucap Oswald.


Ayline tak membalas ucapan Oswald. Tak aneh baginya, mengingat bagaimana karakter Mommy Raya yang keinginannya selalu harus terpenuhi. Meski Oswald putranya sendiri, Mommy Raya tak akan segan untuk memaksakan kehendaknya.


“Bagaimana dengan Ayah dan Ibu mertua, apa mereka menghubungimu dan mengatakan sesuatu?”


“Maksud kamu, Ayah dan Ibuku?” tanya Ayline memperjelas pertanyaan suaminya.


Oswald tertawa. “Ay … Ay, memangnya ada Ayah dan Ibu mertuaku selain kedua orang tuamu.”


Ayline menggeleng. “Tak ada. Mereka tak menghubungiku. Memangnya ada apa?”


“Kudengar Mommy juga mulai menekan Ayah mertua di perusahaan pusat. Dari yang kudengar, Mommy meminta Ayah mertua memastikan kamu tak menunda kehamilan.”


Kedua bola mata Ayline terbelalak. Sejauh itukah Ibu mertuanya bertindak? Pikirnya. “Tapi apa hubungannya dengan kedua orang tuaku?”


“Kamu tahu kan Mas, aku tak pernah menunda kehamilan!”


Oswald menggenggam kedua tangan Ayline untuk menenangkan istrinya itu. “Aku tahu, Ay. Maafkan aku karena akhirnya kamu semakin disulitkan dengan keadaan ini,” ucapnya Oswald.


“Aku sudah memikirkannya, dan aku memiliki solusi untuk permasalahan kita. Tapi, kumohon kamu mengerti. Semua ini untuk kita, Sayang,” bujuk Oswald.


“Apa maksud kamu, Mas? Solusi apa?”


“Kita berdua tahu, masalahnya di sini ada padaku kan?” tanya Oswlad yang diangguki Ayline dengan ragu.


“Tak apa Sayang, aku mengakui itu.” Oswald tiba-tiba saja berubah lembut pada Ayline. Oleh karena itu Ayline merasa was-was.


“Berbeda denganku, kamu masih bisa hamil, Sayang. Kamu bisa. Tak ada masalah dengan kamu,” lanjut Oswald.

__ADS_1


Kening Ayline mengernyit, perasaannya mulai tak enak. “Katakan dengan jelas Mas, apa maksud kamu?!”


...———————...


__ADS_2