Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 39 - Alin dan Alan


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu ….


Hari ini sekolah tempat Andra mengajar memulangkan para muridnya lebih awal. Ada perbaikan di salah satu sisi gedung sekolah. Demi keamanan, maka seluruh murid dan guru hari ini pulang lebih awal.


Septi dan Andra, dua orang guru tampan idola banyak siswi itu bersama-sama menuju ke pusat perbelanjaan. Setibanya di sana, rupanya tujuan kedua pria itu berbeda. Jika Septi memiliki rencana untuk menghabiskan waktu dengan menonton film yang baru rilis di bioskop, lain dengan Andra yang berencana menghabiskan waktu di tempat favoritnya, yaitu toko buku.


“Kamu yakin Ndra, enggak mau ikutan nonton? Tayang perdana ini loh,” bujuk Septi.


Sebenarnya dia juga tak nyaman menonton film seorang diri. Ia sudah mengajak Kevin, namun sahabatnya itu masih harus mengajar di kampus. Sedangkan Andra, sudah bukan rahasia lagi jika untuk menonton bioskop biasanya pria itu harus dipaksa lebih dulu.


“Yakin! Yakin banget malahan,” jawab Andra. ”Aku akan ke toko buku saja. Setelah selesai kita bertemu di kafe yang biasa saja ya,” lanjutnya.


Septi berdecak, usahanya gagal lagi membujuk Andra. Sangat sulit menjauhkan Andra dari tempat favoritnya.


“Oke. Jika aku selesai lebih dulu, maka aku akan menunggumu di kafe. Kamu pun begitu, tunggu aku jika kamu selesai lebih dulu. Janji ya, jangan tinggalkan aku!”


Septi mengingatkan Andra sekali lagi sebab tadi ia menumpang mobil sahabatnya itu. Jika Andra pulang lebih dulu, itu artinya dia harus pulang naik taksi. Naik taksi saat tanggal tua seperti saat ini, sungguh membuat dompet mudah terserang penyakit, pikir Septi.


Di lantai teratas pusat perbelanjaan ini, kedua sahabat itu berpisah. Septi mengambil jalan ke arah kanan menuju bioskop, sedang Andra berbelok ke arah kiri menuju toko buku.


Setibanya di depan toko buku, Andra menghela napasnya. Hari ini sepertinya dia tidak akan bisa mencari buku dengan tenang. Toko buku sangat padat oleh pengunjung.


Pengunjung didominasi oleh para pelajar. Samar-samar Andra mendengar namanya disebut-sebut oleh salah seorang siswi yang berdiri berkelompok dengan para siswi lainnya. “Eh, eh, itu ada Pak Andra!” seru salah seorang siswi berbisik pada temannya.


“Pak Andra!” panggil seorang siswi dengan berani.


“Ya,” jawab Andra. “Kalian tidak langsung pulang ke rumah? Nanti orang tua kalian bisa khawatir mencari kalian,” lanjut Andra menasihati.


“Kami sudah minta izin, Pak,” jawab seorang siswi lainnya.


“Jika kami perginya ke toko buku, orang tua kami enggak melarang, Pak. Mereka malah makin senang,” celetuk seorang siswi yang lain dan mendapat dukungan dari rekan-rekannya.


“Oh, ya sudah. Hati-hati ya, dan jika sudah selesai membeli buku segeralah pulang.”

__ADS_1


Nasihat Andra mendapat sorakan dari sekumpulan siswi tersebut. “Ah, Pak Andra perhatian banget,” ucap seorang siswi sembari tersipu malu.


“Pak Andra, kok makin mirip calon mantu idaman orang tua aku,” celetuk seorang siswi yang lainnya lagi.


Andra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah para siswinya. Ia harus bergegas pergi dari sana, sebelum siswi itu semakin bertingkah aneh, pikir Andra.


“Silakan lanjutkan. Bapak permisi, ya!”


“Di sini saja dulu, Pak. Sebentar lagi acara bedah buku bersama penulis Shasa akan segera dimulai. Seru loh Pak acaranya. Katanya akan banyak novel karya beliau yang akan dibagikan sebagai hadiah,” jelas seorang siswi yang ingin menahan Andra. Menurutnya, acara bedah buku ini akan semakin menarik dengan kehadiran Pak Guru tampan di antara mereka.


“Eh, enggak usah. Kalian saja, Bapak masih harus mencari buku,” ucap Andra berusaha mengelak.


Saat Andra ingin pergi dari sana, bertepatan dengan si pembawa acara akhirnya memulai acara bedah buku. Semua pengunjung yang tadinya berdiri agak jauh, semakin mendekat hingga menyulitkan Andra untuk pergi dari sana. Mau tak mau, Andra yang terperangkap di antara kerumunan orang akhirnya ikut mendengarkan pembawa acara memimpin jalannya acara bedah buku siang itu.


Ponsel yang berada di sakunya terasa bergetar. Rupanya ada pesan dari Kevin yang bertanya keberadaannya. Setelah membalas pesan Kevin, tak sengaja Andra melihat aplikasi Teju di ponselnya dan berniat menghapus aplikasi tersebut.


Namun siapa sangka, tiba-tiba saja wanita yang berdiri tak jauh darinya terlihat seperti kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh. Dengan sigap, Andra bergegas menolong wanita itu. Wanita yang ditolongnya berhasil selamat, namun tidak dengan ponsel miliknya.


Bruk! Bunyi sebuah benda yang jatuh ke lantai.


Wanita yang Andra tolong menggeleng. “Ponsel kamu!” pekiknya.


Dari yang Andra lihat, raut wajah wanita itu seakan merasa bersalah dengan yang terjadi pada ponsel miliknya. Wanita itu bergegas menunduk untuk mengambil ponsel milik Andra.


“Ka-kamu …?” Kedua netra wanita itu terpaku pada layar ponsel milik Andra.


Andra merebut ponsel miliknya dari tangan si wanita. “Sudahlah, tak apa. Ponselku baik-baik saja kok,” ucap Andra seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.


Wanita di hadapan Andra tak menjawab apa pun. Sepertinya dia sangat terkejut, membuat Andra khawatir. “Jangan pikirkan ponselku. Bagaimana dengan kamu, baik-baik saja kan?”


Wanita itu mengangguk, lalu menggeleng membuat Andra bingung. “Ka-kamu …?” ulangnya lagi.


“Iya, aku …? Aku kenapa?” tanya Andra.

__ADS_1


Tak menjawab pertanyaan Andra, wanita itu malah sibuk merogoh tasnya. Ia mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan ponselnya itu pada Andra.


“Ini kamu, kan?” tanyanya.


Kini gantian Andra yang bergeming. Cukup lama ia pandangi ponsel wanita di hadapannya yang ternyata adalah wanita yang beberapa kali bertukar pesan dengannya di aplikasi Teju.


“Aku tak menyangka kita akan bertemu,” ucap wanita itu lirih.


“Kamu Alan, kan? Aku Alin.”


Wanita yang mengaku bernama Alin itu tak lain adalah Ayline. Walau ragu, akhirnya ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria yang ia tahu bernama Alan.


Sebelum akhirnya mengangguk, Andra sempat menoleh sekilas pada kerumunan siswi yang tadi menahannya di acara bedah buku ini. Ia tak ingin besok akan ada gosip di sekolah tentang dirinya.


Melihat jika para siswi itu tak ada yang memerhatikan, Andra segera menyambut uluran tangan Ayline yang ia kenal dengan nama Alin.


“Iya, aku And-“ Andra menjeda ucapannya saat ingat jika di aplikasi itu ia tak menggunakan nama asli.


“A-aku A-Alan,” lanjutnya.


Ayline dan Andra pun akhirnya saling berjabat tangan, sebagai tanda awal pertemuan keduanya yang benar-benar tanpa di rencanakan.


“Luar biasa! Daebak!” seru Ayline.


Dalam hatinya ia benar-benar takjub dengan kebetulan ini. Tak pernah ia duga mereka akan bertemu tanpa rencana seperti ini. Tak hanya itu, Ayline juga takjub dengan wajah tampan pria bernama Alan itu. Wajah tampan Alan sangat jauh dari perkiraannya.


Di bayangannya, Alan adalah sosok pria berpostur tubuh tinggi dengan rahang kokoh dan raut wajah kejam. Ayline bahkan membayangkan sosok Alan memiliki kumis tebal yang semakin membuat wajahnya tampak mengerikan. Mengingat bagaimana ketusnya pria itu saat membalas pesan-pesan darinya. Begitulah sosok Alan yang Ayline gambar dalam benaknya.


“Baiklah, Nona … karena kamu sepertinya baik-baik saja, aku permisi,” pamit Andra ingin segera pergi dari hadapan wanita bernama Alin.


Wanita yang menurut Andra sangat cantik. Jika, berlama-lama di hadapan wanita itu, bisa-bisa ia akan salah tingkah.


“Eh, kamu sudah ingin pergi? Kita sudah bertemu, bagaimana jika kita mengobrol dulu?“

__ADS_1


...------------------...


__ADS_2