
“Kamu tak punya pilihan, Ayline!” bentak Oswald.
“Kita punya, Mas. Kita punya andai saja kamu bisa menghilangkan egomu!” balas Ayline.
Oswald menggebrak dengan keras meja kerjanya. Beberapa benda seperti pulpen, ponsel, dan tumpukan kertas ikut bergetar karenanya. Ayline sampai terperanjat, marahnya Oswald lebih dari dugaannya.
“Tutup mulutmu, Ayline. Kamu pikir semua ini juga mudah bagiku? Apa susahnya kamu menuruti satu saja perintahku?!” Oswald masih berbicara dengan intonasi suara yang tinggi.
Nyali yang tadi sudah Ayline kumpulkan, menciut seketika. Namun, semuanya sudah terlanjur. Keadaan sudah memanas. Ayline sudah berhasil membuat Oswald marah.
“Mas, kita bisa mencoba banyak cara. Kenapa tidak konsultaiskan ke dokter? Atau kita bisa mengadopsi anak, Mas.”
Tanpa menghiraukan amarah Oswald, Ayline mengungkapkan solusi lain yang telah ia pikirkan sebelumnya. “Jangan sampai kita melukai orang lain untuk menjadi penyelesaian masalah kita, Mas!”
Prang!
Cangkir berisi kopi kini pecah, berserakan di lantai saat Oswald menepisnya dengan kasar dari atas meja. Beberapa percikan kopi yang masih hangat itu terkena kulit Ayline.
“Kamu itu harus kujelaskan berapa kali, huh!!!” bentak Oswald. “Di dunia ini, jangan mudah percaya pada orang lain! Dan kamu dengan bodohnya memintaku untuk percaya pada dokter? Rahasia kita bisa bocor kapan saja!”
Ayline diam membisu. Jujur saja, ia sangat takut dengan reaksi suaminya.
“Satu lagi, jangan pernah bicarakan soal anak angkat! Aku ingin anak yang kamu lahirkan. Anak yang dari rahimmu. Aku tak ingin anak yang tak jelas asal usulnya. Paham kamu!”
Sesungguhnya Ayline masih ingin menyeruakkan isi pikirannya. Masih banyak hal yang mengganjal di hatinya. Namun, sebelum ia melakukan itu Oswald sudah mengusirnya.
“Keluar! Masih banyak yang harus kukerjakan.”
Ayline bergeming. Ia tetap duduk di kursinya, tanpa berucap atau melakukan apa pun.
“Jadi kamu tak mau pergi?! Baiklah, aku yang akan pergi!!!” ucap Oswald seraya menghubungi Denis melalui telepon.
Tak lama berselang Denis masuk ke ruang kerja Oswald dengan tergesa-gesa. Ia membawa serta setumpuk berkas di tangannya yang segera ia serahkan pada Oswald.
Brak!
Lembaran-lembaran kertas itu berserakan di atas meja setelah Oswald melemparkan dengan kasar di hadapan Ayline.
__ADS_1
“Baca itu!” titahnya.
Dengan berusaha menutupi tangannya yang gemetar, Ayline melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Keningnya mengernyit saat melihat dokumen itu berisi data-data rencana proyek untuk outlet cabang Pallas Tekstil yang baru.
“Sebagai istriku, kamu juga harus bisa mengelola perusahaan. Aku ingin kamu yang memimpin outlet baru kita di Kota Gumi.”
Oswald tak sedikit pun memandang wajah sang istri saat bicara dengannya. Walau begitu, ia sudah bisa menebak betapa terkejutnya Ayline dengan keputusannya itu.
“Ta-tapi, aku tak yakin aku mampu, Mas,” tolak Ayline.
Ayline menduga Oswald mengetahui apa yang ia lakukan selama di Kota Gumi. Entah mengapa, hati Ayline merasa sakit. Ia pikir suaminya sengaja menyingkirkannya, dan memaksanya masuk ke perangkap.
“Yakin tak yakin, kamu harus tetap melakukannya. Lagi pula, ini adalah permintaan Ibu mertuaku yang tercinta. Dia meminta agar aku mulai mengajarimu berbisnis,” lanjut Oswald.
Ibu?! Ayline tertawa dalam hati. Pantas saja sang Ibu sempat membahas mengenai hal yang sama dengannya. Rupanya beliau sudah lebih dulu membicarakan hal ini dengan suaminya, pikir Ayline.
“Pelajari baik-baik selagi menyiapkan barang-barangmu. Secepatnya pergilah ke sana.”
Denis sudah mulai mendorong kursi roda Tuannya saat Oswald memberi kode dengan gerakan jarinya. Hingga tiba di ambang pintu, Oswald meminta berhenti.
“Tenanglah, jangan berpikir aku menyingkirkanmu. Kamu tak akan selamanya di sana. Hanya sampai aku menemukan orang yang pas untuk memimpin outlet baru itu. Juga, sampai saat tugasmu selesai, kamu bisa kembali.”
...…...
Oswald meminta Denis membawanya ke kantornya di pabrik. Walau Denis sudah mengingatkan jika jam makan malam hampir tiba, namun Oswald tetap pada perintahnya. Setelah pertengkarannya dengan sang istri, Oswald pikir ia tak akan bisa makan malam dalam satu meja yang sama dengan Ayline.
“Aku akan makan malam di pabrik saja. Minta Pak Albert menyiapkan makananku dan bawa ke pabrik,” titahnya.
“Baik, Tuan. Aku akan menghubungi Pak Albert segera.”
Suasana pabrik sudah sepi saat Oswald dan Denis tiba. Sebagian besar karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya beberapa petugas keamanan juga karyawan yang memang menjadwalkan untuk lembur yang masih tinggal di pabrik.
Denis mengantarkan Tuannya menuju ruang kerjanya. Sesuai permintaan Oswald, Denis meninggalkan Tuannya sendiri di sana.
Sementara Oswald kini sedang tak bisa fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di hadapannya. Ia juga merasa jika tindakannya mengirim Ayline ke Kota Gumi sedikit gegabah dan merupakan keputusan yang ia ambil secara terburu-buru.
Semuanya berawal saat beberapa hari yang lalu ia kembali dari Kota Gumi seorang diri. Ia memerintahkan Denis untuk mengirim orang mengikuti Ayline selama berada di Kota Gumi.
__ADS_1
“Tuan, saya mendapat kabar dari orang suruhan saya yang mengikuti Nyonya,” ucap Denis kala itu.
“Katakan!”
“Hari ini, setelah sarapan bersama Ayah dan Ibu mertua Anda, Nyonya terlihat bertemu dengan seorang pria di sebuah toko buku,” ucap Denis saat melaporkan pada Oswald.
Saat itu, Oswald tak begitu terkejut. Ia sudah menduga istrinya akan bertemu seorang pria. Rencanya untuk membiarkan Ayline tinggal bersama kedua mertuanya sepertinya sudah tepat.
Hari itu, laporan Denis biasa saja menurut Oswald. Istrinya hanya melakukan hal-hal biasa dengan pria itu. Hanya makan bersama dan setelahnya ia pergi.
Namun, laporan Denis keesokan harinya cukup membuat hati Oswald gusar. Istrinya bahkan berani berbohong dan meninggalkan kedua orang tuanya demi bertemu dan menghabiskan waktu bersama pria itu. Menurut Oswald, hubungan Ayline dan pria itu pasti sudah semakin dekat.
Dalam kegusarannya, Oswald berpikir untuk segera menyelesaikan semua rencana yang ia susun. Tanpa pikir panjang, keputusannya untuk mengirim Ayline ke Kota Gumi pun akhirnya muncul.
“Apakah keputusanku sudah benar?” gumam Oswald. Ia memijit keningnya sebab kepalanya mendadak terasa pusing.
Pria itu tak menyadari satu hal. Saat Denis menawarkan untuk memberitahu identitas pria itu, Oswald menolak. Pikirnya, pria yang bersama Ayline di Kota Gumi adalah pria yang sama yang ia temui saat berada di Kota Lando.
...…....
Semalaman, Oswald habiskan dengan bekerja di pabrik. Ia baru pulang saat pagi hari. Ketika tiba di kediamannya, Pak Albert memberitahu jika istrinya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.
Denis mendorong kursi roda Tuannya menuju ruang makan. Benar saja, Ayline sudah duduk dengan tenang di sana. Oswald melihat istrinya itu sudah rapi seperti hendak pergi.
“Mas, aku setuju untuk pergi ke Kota Gumi,” ucap Aylinen bahkan sebelum Oswald memulai sarapannya.
“Baguslah. Memang sudah seharusnya kamu setuju,” jawab Oswald bergaya tak acuh.
“Tapi aku punya satu permintaan,” pinta Ayline.
“Katakan!”
“Aku ingin memiliki asisten pribadi. Tapi, aku yang akan memilihnya sendiri.”
Oswald diam sejenak. Ia mencoba menebak apa rencana sang istri. “Siapa dia?”
“Dia salah satu karyawan pabrik. Dia putri dari Pak Albert,” jawab Ayline.
__ADS_1
...———————...