
Seminggu sebelumnya ….
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah kakaknya, Kevin tak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang ia rasakan. Ia akan tersenyum, tertawa, bersiul, bahkan sesekali berdendang untuk mengungkapkan betapa bahagia hatinya saat ini.
Baru saja sebentar berpisah, namun dalam benak Kevin sudah terbayang-bayang semua hal tentang Ayline. Bagaimana cantiknya senyuman Ayline. Bagiamana menggemaskannya wajah Ayline saat ia kesal. Juga bagaimana lucunya saat wanita itu bersikap ketus padanya.
“Pokoknya setiap libur aku harus datang ke sini lagi!” Kevin sudah bertekad untuk sesering mungkin datang ke Kota Lando dan menemui Ayline.
Belum juga ia meninggalkan Kota Lando, namun dia sudah merencanakan kapan waktu yang tepat baginya untuk kembali mengunjungi kota itu. Semua demi apa? tentu saja demi menemui sang pujaan hati, Ayline yang cantik, pikir Kevin.
Kevin mulai memikirkan, dalam waktu dekat ini kapan dia memiliki jadwal kosong lagi. Dia bahkan sudah berniat memesan penerbangan dari sekarang saking semangatnya.
Tanpa terasa perjalanan Kevin akhirnya berakhir. Salah satu mobil milik kakaknya yang selalu ia gunakan saat mengunjungi Kota Lando, melaju pelan memasuki halaman luas rumah kakaknya. Tak salah Kakak satu-satunya itu bekerja di perusahaan besar, walau hanya di perusahaan cabang tapi penghasilannya sungguh menjanjikan.
Kevin masuk ke dalam rumah disambut oleh salah seorang asisten rumah tangga. Dari asisten rumah tangga itu juga, ia tahu jika kakak iparnya sudah menunggu kehadirannya sejak tadi.
Tok … Tok … Tok …. Kevin mengetuk pintu kamar keponakannya sebelum membukanya. “Aku pulang, Kak,” ucap Kevin dengan suara pelan seperti sedang berbisik.
“Kevin, kemarilah!” Panggilnya. “Aku ingin bicara hal yang penting denganmu.”
Kevin melangkah masuk ke dalam kamar dengan ragu. “Bicara apa, Kak?” tanyanya. “Bagaimana jika aku nunggu Kakak ipar di ruang keluarga saja? Kita bicara di sana saja,” usulnya.
“Tidak, tidak! Di ruang keluarga ada Kakakmu kan?” Kevin mengangguk sebagai jawaban. ”Apa yang akan kita bicarakan ini hanya diantara kita berdua saja. Kakakmu pun tak boleh tahu,” ungkap Shelly.
Dengan kening yang mengernyit, Kevin akhirnya ikut duduk di karpet bulu berwarna merah muda itu. “Sepertinya ini masalah yang sangat serius,” tebak Kevin.
“Bukan lagi sangat serius, tapi sangat amat serius,” ucap Shelly menimbulkan rasa penasaran juga cemas secara bersamaan dalam benak Kevin. “Siapa wanita tadi?”
Pertanyaan gamang dari Kakak Iparnya membuat Kevin mengernyitkan kening. “Kenapa masih bertanya, Kakak ipar? Kakak ipar kan pastinya tahu siapa dia,” jawab Kevin.
Shelly terlihat menghela napasnya. Karena mereka bicara di kamar putrinya, maka Shelly pikir ia harus benar-benar memilih kata yang akan diucapkannya. Jangan sampai ada pilihan kata buruk yang tak seharusnya didengar oleh putri kecilnya.
“Tentu aku tahu jika dia Ayline. Tapi, apa hubunganmu dengannya? Kenapa kamu bisa bersama dengannya? Dan yang paling penting sejak kapan?” Shelly mencecar adik iparnya dengan pertanyaan. Raut wajah wanita itu jelas sekali memperlihatkan ketidaksukaannya.
__ADS_1
Kevin meladeni keponakannya dulu yang meminta bantuan untuk menyelesaikan puzzle. Jujur saja, Kevin merasa risih ditanyai seperti ini, sebab ia pikir dirinya sudah dewasa. Apa yang dilakukannya bersama Ayline bukanlah hal yang buruk dan masih dalam batas kewajaran. Pada intinya hari ini, apa pun yang terjadi tak ada yang salah, begitu pikiran Kevin.
“Aku dan Ayline, kami teman,” jawab Kevin singkat.
Shelly membelalakkan kedua netranya. “Please, Kevin. Jawab yang jujur!”
“Aku jujur, Kakak Ipar,” balas Kevin. “Hem, walau sebenarnya aku pribadi berharap hubungan kami tak hanya sekedar teman biasa. Hem, kami teman yang cukup dekat.”
Kevin bisa merasakan jika tak ada aura positif dari Kakak Iparnya. Entah apa yang salah dengan ucapannya, yang pasti Kakak iparnya itu terlihat semakin kesal.
“Pertemuan aku dan Ayline tadi, adalah pertemuan yang kedua. Jika Kakak bertanya sejak kapan, hem … bisa dikatakan semuanya bermula di pesta ulang tahun Kakak ipar.” Kevin bicara dengan senyum mengembang di wajahnya. Setiap menyebut nama Ayline, ingatan Kevin terbawa pada setiap detik saat ia bersama dengan wanita yang ia puja.
“Stop, Kevin! Please, stop!” Shelly sangat menekan setiap kata yang ia ucapkan.
“Apa maksud, Kakak Ipar?”
Sungguh Kevin dibuat bingung dengan permintaan Kakak Iparnya. Selama ini ada satu hal yang Kevin kagumi dari Shelly, Kakak iparnya itu jarang sekali ikut mencampuri urusan keluarga suaminya. Bahkan jika Kakaknya ingin menjodoh-jodohkannya dengan seorang wanita, biasanya Shelly yang membantunya menolak. Anehnya, kenapa sekarang wanita itu malah ikut campur dengan urusan pribadinya.
“Tentu aku tak asal menyuruhmu berhenti, Kev. Beritahu aku, seberapa jauh kamu mengenal Ayline? Seberapa banyak yang kamu tahu mengenai wanita itu?”
“Kenapa diam, Kev? Jangan bilang jika kamu tak tahu siapa Ayline sebenarnya?!” Tebak Shelly.
“Ayline ya Ayline, Kak! Cukup tebak-tebakannya. Cepat jelaskan padaku maksud Kakak Ipar.”
Shelly menggeser duduknya. “Apa kamu tahu status Ayline? Dia itu bukan wanita lajang. Dia sudah menikah. Dia adalah seorang istri,” ucap Shelly dengan suara pelan.
Tubuh Kevin sontak membeku. Apakah ini fakta? Rasanya tak mungkin Ayline berbohong dan menutupi statusnya yang sebenarnya.
“Dari ekspresimu, kutebak kamu baru tahu hal ini,” ucap Shelly.
“Jangan bertanya dari mana aku tahu, atau bertanya apakah yang aku ucapkan benar atau tidak. Ingatlah Kevin, kamu bertemu dengannya di pesta ulang tahunku. Tentu saja aku tahu siapa Ayline!”
Kevin hanya melirik pada Shelly. Ia kehilangan kata-katanya. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja terbang karena rasa bahagianya, tapi beberapa detik yang lalu ia dihempaskan begitu saja hanya karena satu fakta yang Kakak Iparnya ucapkan.
__ADS_1
“Sebelum terlambat maka berhentilah, Kev!” pinta Shelly.
Betapa terkejutnya Shelly saat Kevin menggeleng. “Tak mungkin ada asap jika tak ada api. Aku yakin Ayline pasti punya alasan mengapa ia tak jujur padaku,” bela Kevin.
Sesungguhnya saat ini ia bukan sedang membela Ayline. Wanita itu sudah bersalah. Kevin sedang membela dirinya sendiri, sebab ia juga tahu kesalahan ada padanya yang tak pernah bertanya status Ayline. Ia pikir, saat Ayline setuju untuk bertemu dengannya lagi, maka tak ada masalah sama sekali.
“Tentu saja, Kevin. Tapi apa pentingnya alasan itu?!”
“Jangan jadikan dirimu pria bodoh, Kev. Masih banyak wanita lajang di luar sana. Jika kamu tetap keras kepala ingin melanjutkan dengan Ayline, maka bukan hanya kamu saja yang hancur. Kami, keluarga kami juga akan kena imbasnya. Karir Kakakmu akan hancur,” jelas Shelly.
“Apa hubungannya dengan kalian?”
“Tentu saja ada, Kev. Ayline … wanita itu adalah istri dari Tuan Oswald Pallas. Satu-satunya pewaris Pallas Grup, perusahaan tempat Kakak kamu bekerja saat ini,” jawab Shelly.
Seketika Kevin lagi-lagi membeku. Pantas saja, Shelly yang biasanya tak acuh dengan urusan pribadinya kali ini malah ikut campur.
“Kumohon, Kev. Berhentilah, demi kebaikanmu juga demi kebaikan kita semua,” pinta Shelly.
Setelah pembicaraan dengan Shelly, keduanya sepakat untuk menyembunyikan hal ini dari Galih, Kakak Kevin. Kevin pun malam itu mengurungkan niatnya untuk memberi kabar pada Ayline. Padahal sebelumnya dia sudah berjanji akan mengabari jika sudah sampai di rumah. Pesan Ayline yang mengabari keberadaannya, sengaja ia abaikan malam itu.
Semalaman Kevin tak bisa memejamkan matanya. Apa alasan Ayline hingga membohonginya, terus menjadi pertanyaan dalam benak Kevin.
Orang-orang berkuasa seperti mereka, bisa dengan mudah melimpahkan kesalahan pada kita! Peringatan Shelly kembali terngiang dalam benaknya.
Jangan tanyakan besarnya kekecewaan Kevin saat ini. Namun, ia pun tak setega itu jika karena keegoisannya ingin memiliki Ayline hingga membuat kebahagiaan keluarga Kakaknya hancur.
Maka hingga tiba waktunya ia naik ke pesawat yang akan membawanya kembali pulang ke Kota Gumi, Kevin tak kunjung mengabari Ayline.
Sebelum pesawat lepas landas, Kevin memeriksa ponselnya kembali. Jadwal kunjungannya ke Kota Lando yang sudah ia rencanakan, pada akhirnya ia hapus. Nomor ponsel Ayline Kevin blokir sebelum ia hapus dari daftar buku telepon di ponselnya.
Kevin menghela napas, memandangi langit Kota Lando dari jendela pesawat. Akan sangat sulit baginya untuk datang kembali ke kota ini. Kunjungannya yang hanya beberapa hari, meninggalkan lubang besar di hatinya karena kekecewaan.
“Huh! Sudahlah, Kevin. Anggap saja kemarin kamu bermimpi. Sekarang saatnya kamu bangun, dunia nyata menantimu!” monolog Kevin untuk menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
...——————————...