
Setelah pembicaraan dengan suaminya di restoran, Ayline lebih banyak diam. Fakta jika Ayahnya melakukan penggelapan dana yang cukup besar di perusahaan cukup mengejutkan Ayline. Bahkan akibat perbuatan ayahnya itu, kini ia terpaksa menuruti permintaan gila suaminya.
Entah di mana lagi ada sosok suami seperti Oswald. Suami yang meminta istrinya berhubungan, hingga harus hamil dengan pria lain. Ayline tak habis pikir, kemana semua cinta dan kasih sayang yang dulu Oswald tunjukkan padanya. Demi mengamankan posisi dan harga dirinya, Oswald begitu tega mengorbankan istrinya sendiri.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah megahnya, Ayline dan Oswald tak bicara sepatah kata pun. Bahkan untuk menatap wajah satu sama lain.
Ayline terus menatap ke luar jendela. Air matanya terus luruh tanpa bisa ia cegah. Berkali-kali ia usap air mata itu agar berhenti membasahi pipinya.
“Berhentilah menangis, Ayline,” suruh Oswald tanpa memandang ke arah istrinya. “Apa kamu ingin semua orang berpikiran buruk padaku?! Mereka bisa berpikir aku telah melakukan hal yang buruk padamu.”
Ayline berdecak. “Kamu memang melakukan hal itu, Mas.”
“Menyuruhku menjalin hubungan terlarang dengan pria lain, apakah menurutmu itu perbuatan yang baik?!”
Selama ini Ayline selalu berusaha bersikap baik pada suaminya. Walau Oswald sering sengaja tak acuh padanya, bahkan terkadang pria itu bersikap dan berkata kasar padanya, Ayline tetap berusaha untuk sabar. Namun, mengapa setelah ini sangat sulit bagi Ayline utuk melakukan itu. Baginya sekarang, suaminya adalah pria paling jahat yang pernah ia kenal.
Alhasil, sepanjang perjalanan pulang ke rumah tak ada lagi perbincangan diantara keduanya. Hanya suara isak tangis Ayline yang samar-samar tendengar memecah keheningan siang itu.
...…...
Hari demi hari berlalu sangat cepat. Seperti biasa untuk saling menghindari, Oswald menyibukkan dirinya dengan bekerja di pabrik sedangkan Ayline lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.
Perubahan sikap keduanya disadari oleh Pak Albert dan para pelayan lainnya. Tak terkecuali Dokter Siska. Hal itu membuat Dokter Siska semakin gencar mendekati pasiennya itu.
Seperti yang terjadi pagi ini, untuk pertama kalinya Dokter Siska datang dengan penampilan yang berbeda. Kemeja atau blazer formal yang biasa ia gunakan tak terlihat lagi. Hari ini Dokter Siska tampil percaya diri dalam balutan mini dress berwarna sage green. Jangan lupakan riasan wajahnya yang lebih menonjol, berbeda dengan hari-hari biasanya.
“Pagi, Nyonya Ayline,” sapanya saat Ayline yang pertama kali menemuinya.
Kening Ayline mengernyit. “Kamu datang untuk sesi terapi dengan suamiku kan?” tanya Ayline.
“Ya, Nyonya. Aku datang sesuai jadwal terapi Tuan Oswald,” jawab Dokter Siska.
“Apa kamu akan nyaman melakukan terapi dengan penampilan seperti itu?” Ayline sengaja memandangi Dokter Siska mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sejujurnya, Dokter Siska sungguh tersinggung dengan sikap Ayline barusan. Namun, ia sadar jika di rumah mewah itu dia tak punya kekuatan apa pun. Lebih tepatnya belum punya, karena tekadnya sudah bulat ingin menggantikan posisi Ayline sebagai nyonya rumah.
“Tenang saja, Nyonya. Saya adalah dokter ahli yang sudah memiliki banyak pengalaman. Saya akan melakukan tugas saya dengan sangat baik,” jawab Dokter Siska sembari menahan kekesalannya.
__ADS_1
Dokter Siska semakin kesal lagi sebab Ayline hanya mengedikkan bahu kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Baru saja ia ingin menggerutu, mengutuk Ayline namun niatnya ia urungkan sebab Oswald tiba-tiba saja muncul ditemani Denis.
Dalam hati Dokter Siska bersorak sebab sepertinya hari ini dia akan bebas melakukan sesi terapi bersama Oswald. Tak sia-sia dia mempersiapkan dirinya berjam-jam. Ia optimis Oswald akan terpikat dengan penampilannya hari ini.
...…...
Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Hari di mana Oswald meminta istrinya melakukan hal gila demi menjaga nama baiknya. Ada kekhawatiran dalam benak Oswald, sebab hingga hari ini Ayline sepertinya tak melakukan apa pun. Tak ada kemajuan sama sekali yang dilakukan Ayline untuk melaksanakan perintahnya.
Tak hanya itu, Oswald juga sebenarnya khawartir dengan kondisi istrinya itu. Walaupun ia lakukan secara diam-diam, tapi dia dengan jelas bisa mengamati perubahan tubuh Ayline yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Wajah istrinya juga selalu muram, lesu, dan terlihat tak bersemangat.
Maka pagi itu, setelah sarapan Oswald meminta Pak Albert menemuinya di ruangan kerjanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Pak Albert dengan sopan.
“Bagaimana istriku akhir-akhir ini?” pertanyaan yang cukup gamang terlontar dari Oswald.
Cukup sulit untuk mengerti apa pertanyaan Tuannya. Namun jika itu menyangkut Nyonya-nya, Pak Albert sepertinya bisa menebak.
Sikap Ayline yang berubah menjadi sosok yang pendiam, memang menimbulkan banyak praduga oleh para pelayan. “Nyonya lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, Tuan,” jawab Pak Albert.
“Apa yang dia lakukan?”
Oswald berdecak. “Hal itu sudah pasti, Pak. Maksudku itu, apakah ada hal mencurigakan yang dilakukan istriku selain membaca buku di sana?” tanya Oswald dengan sedikit kekesalan di hatinya.
Pak Albert tampak berpikir sejenak. “Sebenarnya tak ada yang mencurigakan, Tuan. Tetapi yang ada malah mengkhawatirkan,” jawab Pak Albert jujur.
“Mengkhawatirkan?!” Dahi Oswald sampai mengerut mencoba mengerti maksud kepala pelayannya.
“Mengkhawatirkan sebab Nyonya sudah seminggu ini sering tak menghabiskan makan siang dan makan malamnya. Sudah syukur jika Nyonya memakannya walau sedikit. Terkadang, Nyonya bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali,” ungkap Pak Albert jujur.
“Apa?!” pekik Oswald. “Hal sepenting ini kau baru sampaikan padaku?!”
“Maaf, Tuan. Maaf jika saya sudah lancang, tapi saya pikir ada masalah antara Nyonya dan Tuan. Saya jadi sungkan ingin memberitahu Tuan,” ucap Pak Albert membela diri.
Oswald menggebrak meja kerja di hadapannya. Sakit di telapak tangannya ia hiraukan begitu saja, Oswald lebih khawatir pada nasibnya. Ya, nasibnya … jika terjadi sesuatu yang buruk pada Ayline maka rencananya tak akan berhasil.
“Kau memang sudah sangat lancang, Pak. Tidak seharusnya kau memikirkan urusan rumah tanggaku!” tegurnya.
__ADS_1
“Sekarang tugasmu, pastikan Ayline menghabiskan makanannya. Saya tidak ingin tahu bagaimana caranya, tapi saya tidak ingin kejadian ini terulang!” Tegas Oswald.
Setelah Pak Albert kembali bekerja, Oswald pun memutuskan untuk menemui Ayline. Saat tak menemukan istrinya di kamar, Oswald segera ke perpustakaan. Ia yakin Ayline berada di sana.
Benar saja, dia bisa melihat Ayline yang melamun menatap ke taman belakang rumah melalui jendela. Buku di tangannya, sepertinya hanya menjadi hiasan saja.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Oswald dengan lembut.
Ayline menggeleng. Tak menjawab dan tidak pula menoleh menatap suaminya.
“Apakah sudah ada kemajuan?”
Ayline menyeringai. “Seminggu ini sepertinya kamu tak pernah peduli padaku. Lalu sekarang tiba-tiba kamu datang dan bertanya mengenai ide gilamu itu?!”
Oswald mengepalkan kedua tangannya. Ayline sepertinya sudah berani menantangnya. “Sekarang kamu berani ya menantangku?!” bentaknya.
Dari luar Denis yang sempat melintas di depan ruang perpustakaan menghentikan langkahnya saat mendengar suara Tuannya. Ia memutuskan untuk menunggu di depan pintu saja. Denis tak ingin membuat Ayline merasa tak nyaman dengan kehadirannya.
“Memangnya boleh aku menantangmu? Memangnya aku punya pilihan itu?” tanya Ayline.
“Ayline!!! Jangan bertingkah dan ikuti saja perintahku!”
“Aku ingin, saat aku bertanya lagi kamu sudah memiliki jawaban yang sesuai dengan harapanku,” ucap Oswald sebelum dia keluar dan meninggalkan Ayline di sana.
...…...
Saat ini Oswald dan Denis dalam perjalanan menuju ke pabrik. “Tuan … hem ….” Denis tampak ragu untuk mulai pembicaraan dengan Tuannya.
“Ada apa? Apa ada masalah?”
“Bukan masalah besar, Tuan. Hanya saja menurutku, sebaiknya Anda memberi waktu dulu untuk Nyonya. Aku yakin tak mudah baginya untuk melakukan perintah Anda,” ucap Denis.
“Tak mudah? Apanya yang sulit? Dia hanya perlu mencari pria dan berhubungan dengannya,” jawab Oswald enteng tanpa beban.
“Entahlah, Tuan. Menurutku itu sulit sebab Nyonya kan mencintai Anda. Bagaimana dia bisa menjalin dengan pria yang tidak dia cintai,” ucap Denis masih membela Ayline.
Oswald berdecak. “Ck! Jika memang sesulit itu, kenapa kau tak bantu saja dia?!”
__ADS_1
“Hah? Aku?!”
...———————————...