Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 40 - Kencan?


__ADS_3

“Ma-maaf, tapi …” Andra belum menyelesaikan ucapannya namun Ayline lebih dulu menjedanya.


“Tapi apa?” tanya Ayline. “Kamu enggak penasaran kenapa kita dipertemukan di sini?”


Kening Andra mengernyit. Muncul kecurigaan dalam benaknya. Apa maksud wanita ini? Apa mungkin ini bukan suatu kebetulan.


Ayline melihat keraguan dari raut wajah pria bernama Alan di hadapannya. Dia menebak pria itu pasti mencurigainya atas pertemuan yang kebetulan ini. Apalagi seingatnya pesan-pesan Alan sebelumnya selalu saja ketus padanya. Benar, isi pesannya sangat tidak sesuai dengan wajah tampan pria ini, batin Ayline.


“Bukan begitu, Nona. Tapi, aku masih ada urusan. Ada buku yang ingin aku cari.” Andra masih berusaha untuk menghindari Ayline. Walau cantik, tapi kencan buta dengan seseorang yang dikenal dari dunia maya belum pernah terpikirkan olehnya.


Tunggu sebentar! Apa aku baru saja berpikir untuk kencan buta dengan wanita ini?! Seru Andra dalam hati.


“Aku juga sedang mencari buku. Bagaimana jika kita mencari buku bersama?” usul Ayline.


“Hem, ta-tapi …” Andra melirik ke arah sekumpulan siswi yang kini berbisik-bisik sembari menatapnya.


Pilihan untuk mencari buku bersama, sepertinya harus dicoret dari daftar. Besok, sekolah pasti akan heboh dengan gosip mengenai dirinya yang terlihat bersama seorang wanita. Belum lagi bagaimana jika nantinya wanita bernama Alin ini bisa tahu namanya yang sebenarnya.


“Ya sudah, kita mengobrol saja,” ajak Andra pada akhirnya. “Apa kamu tak masalah ikut denganku? Aku tahu ada kafe yang tempatnya nyaman, makanan dan minumannya juga enak-enak.”


Ayline mengangguk. “Baiklah, karena aku tak tahu banyak tempat di sini, maka aku akan ikut kamu saja.”


Ayline mengikuti langkah Andra, menerobos dari kerumunan para pengunjung yang masih mengikuti acara bedah buku. Kepergian keduanya, diikuti oleh beberapa pasang mata dari para siswi Andra yang terus mengawasi gerak-gerik guru idola mereka.


Masih di pusat perbelanjaan yang sama, Andra mengajak Ayline ke sebuah kafe dengan konsep minimalis bergaya vintage. Dari yang Ayline lihat, sepertinya pria itu sudah sering ke kafe tersebut. Beberapa orang pelayan menyapanya, dibalas juga dengan sapaan yang ramah oleh pria itu. Dari gerak-geriknya, pria bernama Alan itu juga sudah tak canggung lagi dengan suasana kafe.


“Kamu sering ke kafe ini?” tanya Ayline setelah Andra mempersilakan dirinya untuk duduk.


Andra mengangguk. “Biasanya sekali seminggu. Pada saat akhir pekan, aku dan sahabat-sahabatku biasanya berkumpul di sini. Apa itu termasuk sering?”


Ayline mengedikkan bahunya. “Entahlah. Tapi untuk seorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sekali seminggu itu cukup sering.” Ayline tertawa di akhir ucapannya. Sedikit merasa malu, sebab secara tak langsung ia mengakui jika dirinya adalah anak rumahan.


“Sebenarnya bukan masalah menghabiskan waktu di mana dan seberapa seringnya itu, tapi masalah nyamannya saja,” ucap Andra.


Andra melihat kening Ayline berkerut. “Maksudku, mungkin tempat ternyaman bagimu adalah rumah. Itu sebabnya kamu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Semua itu kembali pada kenyamanan diri masing-masing,” jelas Andra.

__ADS_1


“Kamu benar. Seandainya aku tinggal di kota ini dan juga memiliki sahabat di sini, mungkin aku akan menjadikan kafe ini menjadi tempat favorit kami.”


Menurut Andra ucapan Alin barusan memberikan beberapa informasi baru mengenai diri wanita itu. Pertama, wanita bernama Alin ini sudah pasti tak tinggal di kota Gumi. Itu artinya ada kemungkinan ini adalah pertemuan mereka yang pertama dan terakhir. Tergantung dari bagaimana obrolan mereka nanti. Apakah nantinya mereka bisa nyambung saat mengobrol atau tidak. Kedua, alasan wanita itu menggunakan aplikasi Teju mungkin saja karena dia tak memiliki sahabat, tempat ia berbagi cerita.


Andra masih terus menatap lekat wajah Ayline. Ditatap se-intens itu oleh pria yang baru ia temui pertama kali, membuat Ayline salah tingkah. Punggung tangannya ia letakkan di pipinya saat ia merasakan hawa panas di sekitar wajahnya.


Kumohon, jangan sampai pipi ini merona, pinta Ayline dalam hati.


Kedatangan seorang pelayan membawa buku menu menyelamatkan Ayline.


“Mas And-“


“Alan, namaku Alan!” pekik Andra tiba-tiba mengejutkan si pelayan juga Ayline, tentunya.


Si pelayan tampak bingung menatap Andra. Pelayan pria itu baru mengerti setelah Andra mengedipkan sebelah matanya sebagai kode.


“Mas Alan, tumben ke sini sendiri,” ucap si pelayan. “Mau pesan apa, Mas A-lan?” lanjutnya menahan tawa.


“Aku enggak sendiri. Memangnya kamu enggak lihat dia?!” jawab Andra dengan ketus seraya menunjuk ke arah Ayline dengan dagunya.


“Aku pesan seperti biasa ya, Vietnam Drip Coffee,” ucap Andra menyela.


Setelah mencebik karena ucapannya lagi-lagi disela oleh Andra, tapi pelayan itu pada akhirnya mulai mencatat pesanan yang disebutkan oleh Andra.


“Alin, kamu mau pesan apa?” tanya Andra pada Ayline.


Masih asing dengan nama Alin, Ayline tak menghiraukan pertanyaan Andra. Dia masih fokus membaca satu per satu nama minuman di buku menu.


Tok … tok …. Andra mengetuk meja di dekat Ayline dengan jemarinya. “Alin!” panggilnya.


“Eh, iya … kenapa?”


“Aku bertanya padamu. Kamu mau pesan apa?” tanya Andra lagi.


“Oh ya? Maaf, aku tak mendengarnya,” elak Ayline. “Aku pesan Thai Tea.”

__ADS_1


Pesanan Ayline juga beberapa cemilan rekomendasi Andra, sudah dicatat oleh si pelayan. Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya pun mulai mengobrol.


“Jadi Alin, pertemuan kita ini … hem, apa memang kebetulan?” tanya Andra.


Ayline menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menghela napas seraya melipat kedua tangannya di depan dada. “Sudah kuduga kamu pasti mencurigaiku,” ucap Ayline.


“Sama sepertimu, aku juga terkejut saat tadi melihat ponselmu. Lucu juga ya, takdir mempertemukan kita dengan cara seperti ini,” ucap Ayline disusul tawanya.


Di saat Ayline masih dengan tawanya, Andra tetap diam membisu. Ia masih sulit percaya dengan kebetulan seperti ini.


“Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?” pinta Ayline.


Andra masih saja tak menjawab. Tatapannya pada Ayline pun masih sama. “Alan, jika kamu tak suka dengan pertemuan kita, baiklah … aku akan pergi saja!”


“Tunggu! Aku tak bermaksud begitu,” ucap Andra. “Maaf jika membuatmu tersinggung.”


Andra mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan dengan Ayline. “Bagaimana jika kita berkenalan sekarang? Jujur, aku kurang nyaman dengan fakta jika kita berkenalan melalui aplikasi pertemanan seperti itu,” ucap Andra.


“Kenalkan, namaku Alan,” lanjut Andra. Setelah berpikir ia putuskan untuk tetap menggunakan nama samarannya.


Ayline tersenyum lalu menyambut uluran tangan Andra. “Hai Alan, namaku Alin. Senang bisa berkenalan dan bertemu denganmu,” ucap Ayline.


“Jadi Alin, apa yang kamu lakukan di kota ini? Urusan pekerjaan?” tanya Andra.


Ayline mengangguk. “Benar, urusan pekerjaan. Tapi, urusan pekerjaan orang tuaku. Aku hanya menemani mereka saja.”


Drrt … Drrt … ponsel Andra yang ia letakkan di atas meja bergetar. Andra pamit untuk menerima panggilan telepon itu.


Sebenarnya tak cukup jauh dari meja yang ia dan Ayline tempati hingga samar-samar suaranya masih dapat didengar oleh Ayline. “Halo,” ucap Andra menerima panggilan tersebut.


“Aku di kafe yang biasa. Kemarilah!” ucapnya yang masih bisa didengar oleh Ayline.


Apa dia baru saja mengajak seseorang untuk ikut bergabung bersama kami? Tanpa bertanya padaku dulu?! gumam Ayline dalam hati.


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2