Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 28 - Korban PHP


__ADS_3

“Bukankah itu adik iparmu yang tampan, Jeng Shelly?” tegur seorang wanita pada Shelly.


Mau tak mau, tatapan mata Shelly pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh teman sosialitanya itu. Karena keduanya berada di luar toko, maka Shelly tak bisa melihat dengan jelas. Toko yang menjual jam itu sih memang adalah toko jam favorit adik iparnya, tapi dari yang dia lihat adik iparnya itu tak sendiri. Ia terlihat bersama seorang wanita yang terasa tak asing dalam pandangan Shelly.


“Samperin yuk! Aku penasaran nih ingin lihat bagaimana tipe wanita yang disukai adik iparmu. Sama adikku saja kan kemarin dia tolak!”


Shelly menggeleng. Dia merasa tidak enak jika harus mencampuri urusan adik iparnya. Pertama, sebab adik iparnya itu sedikit tertutup di keluarga. Lalu, yang kedua dia memang tidak begitu dekat dengan adik iparnya itu. “Enggak usah deh, Jeng. Aku enggak mau disebut sebagai kakak ipar yang keti.”


“Kakak ipar yang keti? Apa itu, Jeng Shel?” tanya wanita itu penasaran.


“Kakak ipar yang kepo tingkat tinggi,” jawab Shelly diikuti tawanya.


Kedua wanita berpenampilan glamour itu tetawa bersama. Namun sesekali Shelly masih melirik ke dalam toko jam untuk memastikan kembali sosok yang tadi ia curigai sebagai adik iparmya. Suatu kebetulan, di saat yang bersamaan Kevin juga menoleh. Walau pandangan keduanya tak bertemu, namun Shelly bisa memastikan jika sosok pria itu benar adalah adik iparnya.


Jiwa keti alias kepo tingkat tingginya meronta-ronta. Tak menunggu barang sedetik lagi, Shelly segera menyusul masuk ke dalam toko. Pelayan di depan pintu masuk yang menyambutnya sampai tak ia hiraukan, karena ingin cepat-cepat memergoki adik iparnya yang sedang bersama seorang wanita.


“Kevin! Sedang apa kamu di sini?” tegurnya. “Dan kamu ….” Shelly menunjuk pada Ayline yang sangat terkejut dengan kehadirannya.


Tak kalah terkejutnya dengan Ayline, Shelly pun begitu. Bagaimana ia tidak terkejut jika melihat, istri dari bos pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja sedang bersama dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah adik iparnya. Shelly sendiri adalah istri dari Pak Galih, salah satu manajer di kantor cabang Pallas Grup yang berada di kota Lando.


Bagaimana mereka bisa berduaan seperti ini? tanya Shelly dalam hati.


“Tentu saja mau beli jam, Kakak Ipar,” jawab Kevin membuyarkan lamunan Shelly.


Shelly tak menghiraukan ucapan Kevin. Tatapannya masih terfokus pada Ayline yang menunduk. Ia menunggu respon Ayline.


“Oh, iya. Aku bersama Ayline,” ucap Kevin saat menyadari jika Kakak Iparnya itu terus menatap Ayline.


“Aku tak perlu mengenalkan kalian, bukan? Tentu saja kalian sudah saling kenal. Aku kan akhirnya bisa bertemu dengan Ayline di pesta ulang tahun Kak Shelly,” jelas Kevin panjang lebar disusul tawanya.

__ADS_1


Dalam hati Ayline merutuki Kevin. Bagaimana lagi dia bisa menghindar jika Kevin sudah menjelaskan sangat detail pada Shelly, istri dari salah satu karyawan suaminya. Dengan terpaksa juga ragu, Ayline akhirnya mengangkat wajahnya dan bersitatap dengan Shelly yang masih tercengang melihatnya.


Ayline tersenyum canggung, Shelly pun sebaliknya. “Senang bertemu dengan Anda lagi,” ucap Ayline. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Shelly.


Shelly hanya mengangguk dan menyambut uluran tangan Ayline. Entah bagaimana ia harus menyikapi kejadian ini. Dari penjelasan Kevin, sudah jelas jika pesta ulang tahunnya lah yang menjadi tempat pertemuan Ayline dan Kevin.


Bagaimana jika nanti bos suaminya tahu kejadian ini lalu menyalahkan suaminya? Bagaimana jika pada akhirnya karir suaminya akan hancur? Bagaimana jika suaminya marah dan melampiaskan semua kesalahan padanya, karena semua kejadian ini berawal dari pesta ulang tahunnya?


Shelly beberapa kali menelan salivanya, ia khawatir dengan kemungkinan buruk yang terpikirkan olehnya. Walau sebenarnya ia dan suaminya tak salah sama sekali, namun kembali pada aturan tak baku jika orang kaya dan berkuasa biasanya tak pernah salah. Kesalahan akan dengan mudahnya dilimpahkan pada mereka.


“Baiklah, silakan lanjutkan. Aku permisi,” pamit Shelly tergesa-gesa.


Sebelum pergi ia sempat berbisik pada adik iparnya. “Segera temui aku ketika kamu pulang.”


Kevin merasa tak enak hati pada Ayline dengan sikap Kakak iparnya. Ia sangat berharap Ayline tak akan tersinggung. Apalagi setelah selesai membeli jam pasangan pilihan Ayline, wanita itu lebih banyak diam. Ayline juga jadi kurang fokus. Ayline lebih banyak melamun, dan kebingungan saat Kevin tiba-tiba mengajaknya bicara.


“Tak usah, Vin,” tolak Ayline. “Aku tak tinggal di Kota ini. Rumahku berada jauh di desa,” jelas Ayline berharap Kevin bisa mengerti.


“Di desa mana? Sejauh apa pun aku dengan senang hati akan mengantarmu. Aku malah senang bisa berlama-lama lagi denganmu,” ungkap Kevin sangat jujur dengan niatnya.


“Terima kasih, Vin. Tapi sungguh tidak perlu. Sopirku menunggu.”


Sopir? Tanya Kevin dalam hatinya.


Lalu tak lama berselang, sebuah mobil mewah berhenti di depan keduanya. Seorang sopir keluar dan membuka pintu mobil untuk Ayline.


“Aku pulang ya, Kevin. Terima kasih untuk hari ini,” ucap Ayline pamit.


Saat Ayline hendak masuk ke dalam mobil, Kevin mencegahnya dengan menarik salah satu tangannya. “Ayline, tunggu!”

__ADS_1


“Ada apa?”


“Besok aku akan kembali ke Kota Gumi. Apakah aku masih boleh menghubungimu?” tanya Kevin ragu.


“Ya, tentu saja,” jawab Ayline membuat keresahan hati Kevin sedikit berkurang.


“Terima kasih, Ayline. Jangan bosan, aku pasti akan sering menghubungimu,” peringat Kevin.


Ayline mengangguk dan tersenyum membalas Kevin. “Baiklah, aku janji tak akan bosan.”


“Yes!” seru Kevin senang. “Kamu sudah berjanji, ya. Aku pun janji akan sering menghubungimu, sebab aku pasti akan sangat merindukanmu,” ungkapnya.


Ayline sampai terbatuk-batuk karena terkejut, Kevin dengan mudahnya mengucapkan kata rindu. Pria itu bahkan tak peduli dengan kehadiran Pak Sopir yang kini menunduk setelah mendengar ucapan Kevin.


Tak ingin Kevin semakin banyak bicara, Ayline menarik tangannya yang dipegang Kevin. “Baiklah Vin, aku pulang duluan ya,” ucap Ayline lalu bergegas masuk ke dalam mobil.


Kevin masih betah berdiri di tempatnya hingga mobil yang membawa Ayline menghilang dari pandangannya. “Ah, sepertinya aku sudah gila. Baru beberapa detik berpisah, aku bahkan sudah merindukannya,” gumam Kevin.


Setelah itu ia pun bergegas pulang ke rumah kakaknya. Ia ingat tadi Kakak iparnya meminta untuk segera bertemu. Memangnya hal penting apa yang ingin Kakak ipar bicarakan denganku? tanya Kevin dalam hati.


...…...


Seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Kevin terakhir kali. “Apakah begini rasanya galau?” gumam Ayline. Pasalnya sejak pertemuan mereka terakhir kali, Kevin tak pernah lagi menghubunginya.


Tak ada pesan atau panggilan telepon dari Kevin. Pria itu bagai hilang ditelan bumi. Beberapa hari yang lalu, setelah berperang dengan batinnya, Ayline bahkan mencoba untuk menghubungi Kevin lebih dulu. Namun anehnya, pesannya tak terkirim begitupun dengan panggilan teleponnya yang tak dapat terhubung.


Ayline berjalan mondar-mandir di dalam ruang perpustakaan di rumahnya. “Apakah aku sudah menjadi korban PHP?” gumam Ayline menahan kekesalannya.


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2