Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 43 - Kamu cantik!


__ADS_3

Ini bukan pertama kalinya bagi Ayline mengunjungi Hutan Mangrove. Di kota asalnya pun, objek wisata hutan mangrove cukup diminati oleh banyak pengunjung. Namun, baru kali ini Ayline dibuat takjub dengan keindahan objek wisata tersebut.


Kecemasannya saat pertama kali tiba di tempat itu sirna sudah. Entah sudah berapa kali Ayline berdecak mengagumi keindahan objek wisata itu.


Jembatan yang menjadi rute untuk mengelilingi objek wisata hutan mangrove memang sudah biasa. Namun yang berbeda, jembatan yang ia pijak saat ini dicat warna-warni hingga tampak sangat indah di pandang mata. Pegangan jembatan juga terbuat dari kayu, dilukis pemandangan matahari terbenam yang tak kalah indahnya.


“Indah kan?” tanya Andra membuyarkan kekaguman Ayline.


“Ya, sangat indah,” jawab Ayline seraya berjalan semakin mendekat ke lukisan itu.


“Itu bukan sekedar lukisan. Lukisan matahari terbenam itu, bisa kamu lihat secara nyata dari tempat ini,” jelas Andra.


Tak hanya itu yang membuat Ayline kagum. Objek wisata itu tak hanya menyuguhkan pemandangan hutan mangrove yang indah, melainkan di sana juga ada beberapa pedagang yang menjajakan pernak-pernik hasil buatan tangan masyarakat sekitar. Biasanya para pengunjung menjadikan barang-barang itu sebagai buah tangan.


“Alin, ada apa? Kenapa berhenti?” tanya Andra saat Ayline menghentikan langkahnya.


“Mereka berdagang di sini?” tanya Ayline.


Andra mengangguk menjawab pertanyaan Ayline. “Ya, dan asal kamu tahu … para pedagang itu sudah jualan di sini sejak bertahun-tahun yang lalu,” jelas Andra.


Ayline bergeming di tempatnya. Ia amati para pedagang itu yang tetap tampak riang saat saling bercengkerama sesama para pedangang.


“Ada apa, Alin? Ada yang salah dengan mereka?” tanya Andra penasaran.


Andra cukup dibuat bingung. Wanita yang bersamanya ini tampak sedang berpikir sembari menatap ke arah para pedagang. Entahlah, apakah dia berniat membeli atau ada yang salah dengan para pedagang tersebut.


“Enggak ada yang salah sih. Tapi, menurut kamu … apa dagangan mereka ada yang beli?” Ayline memutar tubuhnya. Ia mencari pengunjung lain selain mereka berdua.


Andra tergelak. Sungguh, ia tak bisa menebak jalan pikiran Ayline. Rupanya dia memikirkan nasib para pedagang itu. Dia wanita yang baik, batin Andra.


“Soal rezeki, tak ada yang bisa tahu. Tuhan pasti sudah mengatur rezeki untuk mereka. Itulah alasannya mengapa mereka masih bertahan berdagang di sana,” ucap Andra berkomentar.


Ayline hanya menoleh sekilas pada Andra sebelum ia melangkah mendekat pada para pedagang tersebut. Masih dari tempatnya berdiri, Andra mengamati Ayline.


Wanita itu terlihat berbincang dengan seorang pedangan wanita paruh baya. Entah apa yang dibicarakannya, Andra tak terlalu mendengarkan. Perhatiannya teralihkan oleh wajah cantik Ayline. Apalagi saat wanita itu tertawa.

__ADS_1


“Dia sangat cantik saat tersenyum,” gumam Andra.


Dilihatnya, Ayline memilih-milih aksesoris. Raut wajahnya berubah bingung, namun malah terlihat menggemaskan di mata Andra. Tolong sadarkan Andra, tapi mengapa ia merasa nyaman dan senang melihat berbagai macam perubahan raut wajah wanita yang baru ia temui kemarin.


Setelah kebingungan memilih mana kalung yang cantik dan cocok untuknya. Pilihan Ayline jatuh pada sebuah kalung manik-manik putih, di mana bagian tengahnya dibuat menyerupai bentuk bunga kecil.


“Menurut Mbok, yang ini cocok enggak untuk aku?” tanya Ayline pada pedagang wanita paruh baya itu.


“Hem … wanita secantik Non, pakai apa saja pasti cocok,” pujinya.


“Mbok ini, memujiku terlalu berlebihan,” elak Ayline.


Dengan menggunakan cermin kecil berbentuk lingkaran, Ayline ingin melihat apakah kalung pilihannya itu memang benar cocok untuknya atau tidak.


“Cantik sih,” gumamnya memuji saat ia melihat pantulan kalung itu ketika didekatkan ke lehernya.


“Dicoba saja dulu, Non!” saran si Mbok.


Mengikuti saran dari si Mbok, Ayline pun berniat mencoba untuk mengenakan kalung yang hendak ia beli. Kecilnya cermin di hadapannya, membuatnya kesulitan untuk memasang kalung tersebut.


Ayline mengangguk. “Tolong ya, Mbok!” balas Ayline.


Si Mbok pedagang aksesoris yang terbuat dari manik-manik itu, akhirnya berusaha membantu Ayline. Namun, tingginya tubuh Ayline dan matanya yang sudah rabun menyulitkan si Mbok untuk memakaikan kalung itu.


Andra yang melihat apa yang terjadi, tentunya tak hanya tinggal diam. Ia bergegas mendekat dan sontak membantu memasangkan kalung tersebut.


“Biar aku saja, Mbok,” ucapnya.


Untuk kedua kalinya di pagi itu, Ayline dikejutkan dengan sikap Andra. Ayline menahan napasnya ketika dari pantulan cermin kecil yang ia pegang, tampak wajah tampan Andra dengan raut wajah serius sedang memasangkan kalung ke lehernya. Ayline gugup bukan main, jantungnya seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.


“Cantik,” gumam Andra memuji.


Seakan belum cukup mengejutkan Ayline dengan sikapnya, Andra semakin membuat Ayline salah tingkah dengan pujiannya barusan.


“Eh, kenapa? A-apa kata kamu?” tanya Ayline.

__ADS_1


“Cantik …” puji Andra sekali lagi.


Rona merah muda perlahan terlihat di kedua pipi Ayline. Rasanya ada hawa panas di sekitaran wajahnya setelah mendengar pujian Andra. Ayline sontak menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


“Kalung itu sangat cantik. Cocok untuk kamu, Alin.”


Gubrak!!! Antara malu dan kesal. Ayline sudah salah paham dengan pujian pria di hadapannya. Rupanya yang cantik itu kalung ini. Huh … kupikir dia memujiku, gerutu Ayline dalam hati.


Rona merah muda di pipinya yang tadinya hanya samar-samar terlihat, kini semakin jelas. Tak ingin semakin malu di hadapan pria bernama Alan itu, Ayline bergegas mengeluarkan beberapa lembar uang dan membayar kalung pada si Mbok. Tanpa berkata-kata lagi, ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Andra yang sedang berusaha menahan tawanya.


“Alin!” panggil Andra seraya mempercepat langkahnya menyusul Ayline.


Setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ayline, Andra menahan pergelangan tangan wanita itu.


“Kamu kenapa? Marah padaku?” tanya Andra pura-pura tak paham mengapa Ayline merajuk.


“Enggak, kok. Memangnya kamu merasa telah berbuat salah?”


Andra mengedikkan bahunya. “Entahlah, aku tak tahu. Itulah mengapa aku bertanya pada kamu,” jawab Andra.


“Oh, aku tahu!” seru Andra. “Apa kamu marah karena aku memuji kalung itu cantik?” tebak Andra seraya menahan tawanya.


Ayline membelalak, pria di hadapannya ini benar-benar tak berperasaan. Sebelumnya Ayline sudah sangat malu karena telah salah paham. Bukannya pura-pura tak menyadari hal itu, Andra malah semakin memperjelasnya. Dilengkapi tawa yang tertahan pula. Ayline kan semakin malu jadinya.


“Kamu meledekku?!” protes Ayline.


“Enggak … mana berani aku. Entar kamu malah semakin merajuk,” balas Andra.


Ayline melipat kedua tangannya di depan dada. Masih dengan wajah cemberut dan bibir yang mencebik, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.


Andra merasa semakin terhibur dengan merajuknya Ayline. Wanita di hadapannya ini, dari segi usia mungkin tak lagi muda. Namun ketika merajuk seperti sekarang, ia tak kalah menggemaskannya dengan murid-muridnya.


Walau awalnya takut jika Ayline akan menilainya bersikap lancang, namun setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Andra melakukannya. Ia raih pergelangan tangan kanan Ayline dan memasangkan sebuah gelang dengan model yang sama seperti kalung yang dibeli oleh Ayline.


“Nah, sekarang sudah lengkap!” serunya. “Kamu semakin cantik mengenakan kalung dan gelang itu,” pujinya membuat Ayline lagi-lagi membeku di tempatnya.

__ADS_1


...———————————...


__ADS_2