Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 23 - Memulai


__ADS_3

“Hah! Saya?!” Antara yakin dan tidak dengan pendengarannya, namun Denis tetap saja terkejut dengan ucapan Oswald.


“Ma-maksudnya, Tuan ingin saya yang men-“


Belum selesai ucapan Denis, Oswald kembali menyela. “Memangnya kau mau, hah?!”


Denis segera menggeleng. Tak perlu berpikir, seratus persen dia yakin jika dia tak mau menjadi calon orang ketiga di rumah tangga Tuannya sendiri. “Tentu saja tidak, Tuan,” jawabnya yakin.


“Bagus!” balas Oswald.


“Bukankah Tuan juga tak ingin tahu siapa pria itu? Tapi, apakah Anda yakin bisa menutup mata jika semua benar-benar terjadi?”


Oswald tak bisa berbohong, tentu saja akan sulit baginya. Tapi sekali lagi, ada hal lebih penting dari sekedar perasaannya, pikir Oswald.


“Itulah sebabnya kuberi Ayline kebebasan untuk memilih sendiri siapa pria itu,” ucap Oswald.


“Bukankah aku suami yang baik? Kubiarkan istriku berselingkuh!” Tawa Oswald menggema di dalam mobil. Bukan tawa bahagia melainkan tawa yang menyembunyikan banyak kepedihan.


...…...


Selama lima hari, Oswald tak pulang ke rumah. Ia dan Denis memiliki pekerjaan di perusahaan cabang yang berada di Kota. Alhasil selama itu pula Ayline dan Oswald tak bertemu.


Hubungan keduanya semakin renggang dari hari ke harinya. Jika Ayline sama sekali tak tahu apa saja yang dilakukan suaminya di kota, berbeda dengan Oswald yang mendapatkan kabar Ayline setiap dua jam sekali dari Pak Albert. Apa yang istrinya lakukan, apakah istrinya sudah makan, pukul berapa Ayline bangun serta pukul berapa ia tidur, semua dilaporkan dengan detail oleh Pak Albert.


Oswald memang sengaja memerintahkan Pak Albert untun mengawasi Ayline. Betapa kecewanya Oswald, dari laporan Pak Albert sepertinya istrinya itu masih belum melakukan apa pun.


Makan malam kali ini terasa sangat canggung bagi keduanya. “Bagaimana Ayline? Apa sudah ada kemajuan?” tanya Oswald memulai pembicaraan.


“Aku sedang mengupayakannya,” jawab Ayline singkat.


Sama seperti Oswald yang bertanya dengan santai, Ayline pun menjawab dengan santai pula. Seolah apa yang sedang mereka bahas ini adalah hal yang biasa.

__ADS_1


“Mengupayakan katamu? Apa yang kamu sudah lakukan, hah?!” Oswald tampak geram saat melihat Ayline memasang raut wajah tak acuh dengan ucapannya.


“Kamu pikir, dengan duduk diam di dalam perpustakaan kamu bisa melakukan semua yang aku suruh?! Kamu pikir dengan duduk diam di dalam sana kamu akan hamil?”


Kedua bola mata Ayline membelalak. “Kamu mengawasi aku, Mas?!”


“Cih! Aku bebas melakukan apa pun. Ini rumahku, Ayline!”


Air mata sudah menggenangi kedua pelupuk mata Ayline dan siap untuk ditumpahkan kapan saja. Namun, sekuat tenaga wanita itu menahannya. Tangannya menggenggam erat sendok dan garpu yang di pegang.


“Kenapa hanya aku yang harus berupaya, Mas? Apakah kamu tak ingin mencobanya bersamaku? Kita tak pernah tahu jika kita tidak mencobanya,” ucap Ayline berubah lembut. Ia sedang berusaha membujuk suaminya.


Ia tahu di dalam hati suaminya sedang berkobar api amarah. Oleh karena itu, ia berusaha bersikap tenang. Menjadi air yang akan memadamkan api itu.


“Kamu sungguh ingin menyiksaku, Ay?” Jawab Oswald dengan pertanyaan pula.


“Kamu pikir selama ini, aku sendiri tak pernah mencoba? Aku selalu tersiksa saat hasilnya tak seperti harapanku. Aku tersiksa dengan rasa takut Ayline. Aku takut gagal, aku takut mengecewakan orang lain,” keluh Oswald.


Ayline menggenggam salah satu tangan Oswald. “Aku mohon, Mas. Jangan mengorbankan aku, jangan mengorbankan kesucian rumah tangga kita,” pinta Ayline.


Oswald kembali melanjutkan makan malamnya dengan tenang seolah baru saja tak terjadi ketegangan diantara mereka. Oswald meletakkan sebuah undangan ke atas meja.


“Besok aku tidak ingin kamu tinggal di rumah. Pergilah ke kota, hadiri undangan ulang tahun itu. Aku ingin besok ada sudah ada kemajuan untuk rencana kita.”


...…...


Keesokan harinya, Ayline benar-benar berangkat ke kota sesuai instruksi suaminya. Ia pergi di antar oleh seorang sopir. Lagi-lagi sepanjang perjalanan air mata Ayline terus berlinang.


Pak Sopir yang mendengar isakan majikannya, melihat ke kursi belakang melalui spion tengah mobil. Benar, Nyonya-nya itu sedang menangis membuat ia merasa khawatir.


“Maaf, apa Nyonya baik-baik saja?” tanya Pak Sopir.

__ADS_1


Ayline segera mengusap air matanya. “Iya, Pak. Saya baik-baik saja kok,”


Walau merasa tak percaya dengan ucapan majikannya, namun apa daya Pak Sopir itu. Ia hanya mengangguk. Tak bisa bertanya lagi lebih lanjut atau menawarakan bantuan. Ia tahu kapasitas dan tugasnya sebagai seorang sopir. Maka ia biarkan saja Ayline terus menangis tanpa henti.


Waktu berlalu begitu lambat, belum juga Ayline jalan mengelilingi pusat perbelanjaan, baru membayangkannya saja rasanya ia sudah sangat lelah. Tenaganya habis terkuras setelah berjam-jam ia menangis.


“Nyonya, kita sudah sampai,” ucap Pak Sopir.


Beliau bergegas keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Ayline. “Silakan, Nyonya.”


“Mungkin aku akan lama di sini. Bapak boleh berjalan-jalan juga atau pergilah mencari makanan yang enak dan nikmatilah,” ucap Ayline seraya menyerahkan beberapa lembar uang. Awalnya Pak Sopir itu menolak, namun karena Ayline memaksa beliau akhirnya menerima dan berterima kasih atas kebaikan majikannya itu.


Ayline menghela napas sebelum mulai melangkahkan kakinya ke dalam pusat perbelanjaan. Siang ini ia akan menghadiri pesta ulang tahun istri dari salah satu petinggi di kantor cabang Pallas.


Ayline merasa gugup, dirinya tak terbiasa menghadiri pesta ataupun berkumpul dengan banyak orang. Dirinya dahulu terlalu fokus untuk menyelesaikan pendidikannya hingga lupa untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.


Pesta ulang tahun yang akan Ayline hadiri bertempat di restoran termewah yang berada di Kota Lando. Baru selangkah Ayline memasuki restoran, namun ia sudah disambut berlebihan oleh si empunya acara.


“Nyonya Pallas, sungguh suatu kehormatan Anda menghadiri pesta sederhanaku ini,” ucap istri dari Pak Galih, manajer di kantor cabang Pallas Grup.


“Anda berlebihan, Nyonya. Aku yang berterima kasih karena telah diundang ke acara Anda,” balas Ayline.


“Selamat ulang tahun, Nyonya. Semoga Anda suka dengan hadiahnya.” Kedua netra Istri Pak Galih berbinar menerima papper bag warna jingga dari brand ternama yang diberikan Ayline.


“Terima kasih, Nyonya. Anda sudah repot-repot membawakan saya hadiah.” Ayline hanya mengangguk. Dalam hati ia janji akan menyampaika ucapan terima kasih itu pada Denis. Pasalnya hadiah itu disiapkan oleh pria itu.


Istri dari Pak Galih terlihat begitu bersemangat dan bangga saat memperkenalkan Ayline pada teman-teman sosialitanya. Kebanggaan tersendiri baginya, sebab istri dari pemilik perusahaan terbesar di Kota Lando hadir di acara ulang tahunnya.


Sesungguhnya Ayline merasa tak nyaman, sebab setelah diperkenalkan dirinya menjadi pusat perhatian. Hampir semua orang menatapnya. Ayline merasa seperti sedang di awasi. Orang-orang di sana seperti ingin tahu apa yang dia lakukan atau kemana kakinya melangkah.


Ayline pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke salah satu meja yang ada di sudut ruang restoran. Meja yang cukup jauh dari pusat keramaian. Belum lama Ayline merasa bisa bernapas lega, ia dikejutkan dengan sosok seorang pria yang berdiri di depan mejanya.

__ADS_1


“Permisi, Nona. Apakah masih ada kursi kosong di meja ini?”


...————————...


__ADS_2