Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 26 - Level Pasrah


__ADS_3

“Hem … sepertinya dia pria yang baik, Tuan.” Pak Sopir itu terlihat gugup, pasalnya wajah Oswald menunjukkan sepertinya dia tak puas dengan jawaban yang ia terima.


Dalam benak si sopir, ia sedang merangkai kata. Pak Sopir itu sedang menggali ingatannya mengenai pria yang tadi dia lihat bersama majikannya.


“Pria itu terlihat bersikap sopan, Tuan. Nyonya juga terlihat nyaman-nyaman saja. Beberapa kali kulihat Nyonya dan pria itu tertawa.” Pak Sopir itu mencoba mengungkap semua yang dilihatnya. Ia tak ingin dianggap gagal mendapatkan informasi yang diinginkan Tuannya.


Sementara Oswald, yang awalnya kurang puas dengan jawaban yang ia terima akhirnya merasa sedikit tertarik. Ini jawaban yang dia tunggu. Jika Ayline terlihat nyaman-nyaman saja, itu artinya ada harapan bagi istrinya itu untuk melakukan apa yang dia perintahkan. Masalahnya pun akan segera selesai, pikirnya.


“Baiklah. Kau boleh pergi!”


...…...


Tiga hari telah berlalu, tak ada lagi pesan dari Kevin yang masuk ke ponsel Ayline. Ia pikir, pria itu mungkin sudah menyerah sebab pesannya tak kunjung Ayline balas. Sempat ada kekhawatiran dalam benaknya, bagaimana jika Oswald kembali bertanya. Haruskah ia jujur jika pria yang ia kenal di pesta sudah tak menghubunginya lagi.


Pagi ini, sembari merias wajahnya di depan cermin, Ayline mengamati dirinya. Apa mungkin dia tak begitu menarik, hingga Kevin berhenti menghubunginya. Mungkin saja Kevin mendekatinya hari itu hanya agar pria itu tak bosan selama di pesta.


Entah mengapa Ayline merasa kesal, apa mungkin memang dirinya membosankan? Faktanya, bahkan suaminya sendiri memaksa dirinya untuk berselingkuh. Semua pertanyaan itu memenuhi benak Ayline. Hatinya bahkan sudah hancur sebelum ia mulai bermain hati.


Benar saja, semua kekhawatiran Ayline terjadi. Saat sarapan, walau tak bertanya secara gamblang namun Oswald sempat menyinggung soal Kevin.


“Bagaimana pesta kemarin?” tanya Oswald tiba-tiba.


“Pestanya tiga hari yang lalu dan kamu baru bertanya hari ini,” jawab Ayline mencoba mengelak.


Oswald tersenyum. Senyum yang Ayline dulu selalu kagumi.


“Aku bertanya pada kamu malam itu, Ay,” ucap Oswald. Walau bicaranya sangat lembut, namun tak sedikit pun ia menatap istrinya saat bicara. “Tapi katamu, kamu lelah dan ingin istirahat,” lanjutnya.


Ah … Ayline ingat, malam itu memang ia coba menghindari Oswald. “Kamu ingin aku menjawab apa, Mas?”


Oswald mengernyitkan keningnya, rupanya istrinya masih mencoba untuk menghindar.


“Apa kamu masih perlu bertanya lagi, Mas? Kupikir kamu pastinya tahu apa yang terjadi di pesta itu,” ucap Ayline menghindar agar tak perlu menjawab suaminya.


Oswald menyeringai. “Aku hanya ingin tahu perkembangannya, Ayline. Jangan membuang-buang waktumu,” peringat Oswald.


“Waktu terus berjalan. Mommy dan Daddy terus mendesak. Maafkan jika akhirnya aku terpaksa harus mendesakmu juga.”

__ADS_1


“Saran dariku, jangan libatkan perasaan, Ay. Itu tak perlu dan hanya membuang waktumu saja,” ucap Oswald teramat santai tanpa rasa bersalah.


Ayline meletakkan sendok dan garpu ke atas meja. Dia sudah kehilangan selera makannya. “Mudah sekali kamu berkata seperti itu, Mas!”


“Ah … aku lupa, kamu memang sudah berubah menjadi pria tak berperasaan. Buktinya, demi sebuah nama baik kamu rela mengorbankan istrimu!”


Ayline tak menunggu lagi respon Oswald. Tanpa pamit dan menyelesaikan sarapannya, Ayline beranjak dari meja makan meninggalkan Oswald seorang diri.


Untuk menenangkan dirinya, Ayline memilih menyendiri duduk bersandar pada kursi taman di taman bunga yang ada di depan rumahnya. Ia pandangi bunga-bunga yang bermekaran, sangat indah pikirnya. Sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangganya yang begitu suram.


Duduk di tempat itu mengingatkan Ayline pada Syila. Sempat terlintas di benaknya untuk membagi bebannya ini pada Syila. Tapi, Ayline masih ragu apakah Syila bisa ia percaya sepenuhnya atau tidak. Ayline pun terpaksa harus memendam semua bebannya sendiri. Membuatnya menderita tekanan batin luar biasa.


Masih di tempat yang sama, sudah empat kali Ayline mencoba menghubungi ponsel Kevin. Namun, bagaimana bisa panggilannya dijawab jika ia telah memutuskan sambungan tersebut bahkan sebelum panggilan mulai terhubung.


“Apa tak masalah jika kuhubungi lebih dulu?” gumam Ayline bermonolog.


Keraguannya semakin bertambah. Ia tekan layar ponselnya untuk menghubungi Kevin lagi, lalu ia tekan lagi untuk membatalkan. Begitu ia lakukan beberapa kali, hingga tak lama berselang Ayline dibuat terkejut. Ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya saat tiba-tiba ponselnya itu bergetar dan di layarnya menampilkan nama Kevin.


“Ini dia yang menelepon kan?” tanya Ayline pada dirinya sendiri saking terkejutnya.


“Astaga, apa yang kulakuan!” serunya kecewa.


Namun beberapa saat kemudian, kembali masuk panggilan dari Kevin. “Halo.” Tak ingin membuang kesempatan, Ayline menjawab panggilan itu dengan cepat.


“Ayline,” balas Kevin. “Aku senang akhirnya aku bisa menghubungimu,” lanjutnya.


“Ada apa meneleponku?” tanya Ayline.


“Apa kita bisa bertemu hari ini? Maksudku, sekarang?” Pinta Kevin.


“Hari ini?! Sekarang?!” ulang Ayline.


“Iya. Besok pagi aku akan meninggalkan Kota Lando. Aku ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi,” jawab Kevin.


Ada senyum yang terukir tanpa bisa Ayline cegah. Bukan karena ia akan bertemu Kevin, tapi ada harapan baginya untuk melakukan apa yang diperintahkan Oswald.


“Baiklah,” jawab Ayline singkat setelah cukup lama ia diam.

__ADS_1


“Berikan alamatmu, akan kujemput.”


“Ja-jangan!” pekik Ayline cukup mengejutkan bagi Kevin.


“Maksudku, tak perlu. Bagaimana jika kita bertemu di restoran tempat kita bertemu sebelumnya,” usul Ayline.


Terdengar helaan napas Kevin. “Tapi … aku sangat ingin menjemputmu,” ia bahkan merengek meminta izin Ayline.


“Aku merasa kadar kerenku akan berkurang jika tak menjemputmu,” lanjutnya berkelakar.


Ayline tergelak. Dia sudah tak heran lagi dengan sikap percaya diri yang berlebih dari seorang Kevin. “Aku tetap tak akan mudah terpesona hanya karena kamu menjemputku.”


“Kita bertemu tepat saat jam makan siang. Hem, aku harap kamu bisa datang tepat waktu,” ucap Ayline sebelum ia mengakhiri panggilan teleponnya.


Tanpa Ayline sadari, tak jauh dari kursi taman tempatnya duduk, sejak tadi Oswald sudah berada di sana. Ayline terkejut bukan main, sebab sedikit pun ia tak mendengar suara kursi roda suaminya.


“Ma-Mas.”


Wajah datar Oswald yang pertama kali menyambut Ayline. Jauh di lubuk hatinya ia berharap sedikit saja Oswald menunjukkan ketidaksukaannya. Bukankah cemburu adalah respon yang wajar dari seorang suami saat tahu istrinya bicara dengan pria lain. Apalagi dalam kasus ini, Ayline tak hanya bicara bahkan ia berjanji untuk bertemu dengan pria lain.


Beberapa detik Oswald menatap istrinya dengan wajah datar. Lalu tidak Ayline duga sesaat kemudian suaminya mengembangkan senyumnya. Lagi-lagi Ayline kecewa, ia semakin yakin jika cinta dan kasih sayang Oswald untuknya telah tiada.


“Kamu akan pergi ke kota?” tanya Oswald.


Ayline hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Kamu akan pergi sekarang?” Lagi-lagi Ayline menjawab dengan anggukan saja.


Oswald tersenyum sekali lagi. Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. “Baiklah, akan kuminta Denis menyiapkan sopir untuk mengantarmu ke Kota,” ucapnya.


Walau saat ini hatinya menangis, namun Ayline berusaha untuk tetap tersenyum. Rumah tangga apa yang sedang ia jalani kini, menjadi pertanyaan yang sulit Ayline jawab.


Bagi Ayline, kini ia sudah berada pada level pasrah dalam menjalani hidupnya. Pasrah melakukan apa pun yang bisa membuat dia dan kedua orang tuanya bertahan dalam kehidupan ini.


“Terima kasih atas kemurahan hatimu. Mas. Permisi, aku akan bersiap dahulu,” ucap Ayline kemudian beranjak pergi meninggalkan Oswald sendiri, lagi.


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2