
Tawa Syila terdengar nyaring, menggema di ruangan yang sangat luas. Ayline melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir yang sudah mengerucut.
“Maaf, maafkan saya Nyonya,” ucap Syila ketika melihat raut wajah sebal Ayline.”
“Tak apa, tertawalah dulu. Tertawa sampai kamu puas. Tapi, setelahnya awas saja jika kamu tidak menceritakan apa pun padaku!” ancam Ayline.
Syila pun otomatis menghentikan tawanya. Ia bahkan menggunakan kedua tangan untuk melakukan itu. “Baik, baik, Nyonya. Aku akan berhenti tertawa dan mulai bercerita. Sepertinya Anda sangat pensaran,” goda Syila.
Sedikit banyak mengobrol bersama Ayline, Syila merasa jika Nyonya-nya itu memang berbeda dengan para istri konglomerat yang terkenal sombong pada novel-novel yang biasa dibacanya. Ayline bukan saja ramah dan tak angkuh, wanita itu bahkan terlihat sangat tulus dan asyik untuk diajak mengobrol. Syila merasa jika sosok Ayline yang berdiri di hadapannya kini, adalah sosok Ayline yang sesungguhnya. Bukan pencitraan atau karena memiliki maksud lain.
“Aku akan jujur, sejujur-jujurnya pada Anda. Tapi, Anda harus berjanji padaku untuk tak mengatakan hal ini pada Ayah,” pinta Syila.
Ayline mengangguk untuk menyanggupi. “Baiklah Nyonya, ikut aku.”
Syila berjalan lebih dulu, ia membawa Ayline menuju ruang loker tempat biasanya para buruh menyimpan barang bawaannya juga beristirahat saat jam istirahat tiba. Jarak antara ruang pengepakan barang dan loker cukup jauh, ada beberapa ruangan pabrik lagi yang mereka lewati. Syila menjadikan perjalan mereka kali ini sebagai tur pabrik dadakan. Dia dengan sabar menjelaskan pada Ayline ruangan-ruangan apa saja yang mereka lewati.
Setibanya di ruang loker, Syila mempersilakan Ayline duduk di sebuah bangku tunggu yang terbuat dari besi. Ia lantas menuju lokernya untuk mengambil ponsel.
“Hei, masih jam kerja! Bukannya kamu tak boleh menggunakan ponsel?!” tegur Ayline.
“Tapi, katanya Nyonya ingin tahu tentang Bagus?”
“Oh, benar juga ya. Baiklah, kemari! Untuk hari ini aku akan berikan pengecualian, ya.” Syila terkekeh mendengar Nyonya-nya yang menurutnya sangat lucu.
Syila duduk di samping Ayline. Ayline bisa melihat, wanita itu membuat sebuah pola pada layar ponselnya untuk membuka kunci pengaman pada ponselnya.
“Sebenarnya, saat mengatakan jika Bagus itu tak nyata, aku asal saja, Nyonya.”
“Apa?! Kamu membodohiku?” Ayline berubah sebal. Bagaimana mungkin sejak semalam ternyata yang dia pikirkan hanya sebuah lelucon.
Syila segera menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya pun sontak bergerak ke kiri dan kanan. “Tidak, Nyonya.”
__ADS_1
“Ampun, Nyonya. Bukan maksudku membodohi Nyonya, tapi memang menurutku Bagus itu tak nyata. Selama hampir dua bulan berkenalan dengannya, kami belum pernah bertemu langsung. Dia tinggal di Kota yang cukup jauh,” jelas Syila.
“Jika seperti itu, bagaimana kalian bisa saling mengenal? Bagaimana kalian bisa saling bertukar nomor telepon?” tanya Ayline penasaran.
Syila menekan-nekan sesuatu pada ponselnya. Ia membuka satu aplikasi yang Ayline baru pertama kali lihat. “Ini adalah aplikasi pencarian jodoh nomor satu saat ini. Aku dan Bagus berkenalan melalui aplikasi ini,” aku Syila.
“Ini namanya aplikasi Teju, aplikasi Temu Jodoh,” imbuhnya.
Ayline terperangah. Aplikasi pencari jodoh? Ayline baru pertama kali mendengar mengenai hal ini. “Apakah memang ada aplikasi semacam itu?” gumamnya lirih.
“Ada, Nyonya. Ini …” Syila kembali menunjukkan ponselnya. “Aku dan Bagus buktinya,” lanjutnya.
“Aplikasi ini sangat populer loh, Nyonya. Di TV bahkan ada sebuah program yang bekerja sama dengan aplikasi ini untuk mempertemukan secara langsung pasangan yang sebelumnya sudah berkenalan melalui aplikasi ini,” jelas Syila terlihat sangat antusias.
Sementara Ayline bingung harus merespon seperti apa. Fakta yang baru ia ketahui ini, membuatnya bertanya-tanya dari mana saja dirinya selama ini. Bukankah dia dan Oswald sebelum menikah juga kesulitan mencari pasangan? Bahkan untuk menikah, campur tangan dua keluarga yang menjodohkan diperlukan.
“Kenapa kamu tak bertemu saja dengannya langsung? Dua bulan itu waktu yang cukup lama loh.”
“Minta saja Bagus kemari. Jika dia benar serius denganmu, dia akan berusaha untuk datang menemuimu.” Benarkan? Ayline pikir kenapa Syila yang harus bersusah payah, dengan cara itu bukankah dia juga jadi bisa menilai keseriusan Bagus.
Syila menggeleng. “Tak semudah itu, Nyonya.”
“Bisa saja jika aku meminta Bagus datang menemuiku. Pria itu juga beberapa kali mengusulkannya tapi selalu kutolak,” lanjut Syila.
Syila diam sejenak. Ia mengamati raut wajah Ayline yang sedang menanti penjelasannya. Syila ragu, apakah boleh dia menceritakan hal ini dengan istri Bosnya. Apakah Nyonya-nya ini tak akan mengatakan apa pun pada Bapaknya?
“Kenapa diam? Kamu masih tak percaya padaku?” tanya Ayline. Terdengar helaan napasnya, padahal dia sudah sangat penasaran. “Jangan lanjutkan ceritamu jika kamu ragu,” ucap Ayline.
“Tidak … tidak! Bukan begitu, Nyonya. Aku hanya ragu, apa boleh aku bercerita pada Nyonya?”
“Mengapa tak boleh? Kita kan berteman, dan teman selalu saling berbagi cerita,” ucap Ayline dengan yakin.
__ADS_1
Teman? Sejak kapan aku berteman dengan Anda, Nyonya. Mana berani, Aku. Syila bergidik memikirkan ucapan Ayline
“Nyonya, Anda berlebihan. Mana berani orang rendahan seperti saya berharap bisa berteman dengan Nyonya.” Syila menggeleng-geleng dengan tawa yang tertahan.
“Kamu tidak mau berteman denganku? Aku kecewa,” aku Ayline.
“Dengar ya, Syila … bagiku tak ada apa pun yang bisa melarang seseorang untuk berteman. Selama kamu tulus untuk, kenapa tidak? Aku tak pernah melihat seseorang dari status sosialnya. Bagiku, kita semua sama.”
Syila dibuat semakin terpukau dengan Nyonya-nya ini. Dari sorot kedua netranya, Syila bisa yakin jika Nyonya-nya itu tidak sedang membual. Menurut Syila, Ayline memang mengatakan itu tulus, jujur dari hatinya.
“Terimakasih, Nyonya. Aku sangat senang dan terharu sebab Nyonya bersedia berteman denganku,” ucap Syila.
“Hem, sudah … jangan dibahas lagi. Sekarang beritahu aku kenapa kamu tidak meminta Bagus kemari untuk menemuimu?”
Kembali ke topik, Syila menghela napas panjang untuk mulai menjelaskan alasannya. “Karena aku tak ingin asal bertemu. Apa lagi sampai asal mengenalkan sosok pria pada Bapak.”
“Karena kita tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan pria di aplikasi ini. Mereka bisa saja berbohong.”
“Aku berniat … sebelum bertemu Bagus secara langsung, aku ingin menyelidikinya lebih dulu. Aku ingin mencari tahu tentangnya. Apa benar jika dia masih single? Apa benar dia bekerja di perusahaan yang dia sebutkan? Dan banyak hal penting lain yang harus aku verifikasi dulu kebenarannya,” jelas Syila.
Ayline mengangguk-angguk, tanda ia setuju dengan semua ucapan Syila. “Wah, kamu hebat Syila. Bisa memikirkan itu semua,” pujinya.
“Tapi, jika memang banyak orang sengaja memberi informasi yang tidak benar, mengapa masih banyak saja orang yang menggunakan aplikasi itu?” tanya Ayline.
“Karena seru, Nyonya. Aplikasi ini kan tidak selalu untuk mencari jodoh. Kita bisa memiliki banyak teman mengobrol dari aplikasi ini,” jawab Syila. “Coba saja, Nyonya! Pasti seru.”
“Oh, tidak Syila. Terima kasih,” tolak Ayline. “Jika suamiku tahu, dia pasti akan marah.”
Syila menepuk dahinya. “Oh iya, maaf Nyonya. Aku lupa jika Anda telah menikah,” ucap Syila sembari tertawa. Ayline pun ikut menertawai tingkah Syila.
Hingga dering suara ponsel Ayline menghentikan tawa keduanya. Wajah Ayline mendadak berubah murung saat tahu siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
...———————...