
Rasa lelah setelah tiga jam mengemudi sirna seketika, membayangkan akhirnya kekhawatirannya akan segera berakhir. Sebentar lagi dia bisa mengetahui kondisi suaminya.
Setelah menerima berita mengejutkan itu, Ayline tak terpikirkan apa pun selain memacu kendaraannya dengan cepat menuju rumah sakit. Setelah ia tiba di parkiran rumah sakit, barulah ia teringat jika telah melupakan hal yang terpenting, yaitu mengabari keluarga besar Pallas. Menghubungi Ayah dan Ibu mertuanya. Ayline merutuki kecerobohannya.
Bunyi derap langkah Ayline saling bersahut-sahutan saat ia berlari di koridor rumah sakit. Ada rasa bersalah juga penyesalan yang kini membayangi langkahnya. Air mata tiada henti berlinang membasahi pipinya. Bersamaan dengan doa yang tak pernah henti ia panjatkan dalam hati.
Ya Tuhan, semoga Mas Oswald baik-baik saja. Selamatkan dia, Ya Tuhan. Ayline terus merapalkan doa itu dalam hatinya.
Salah satu kecerobohannya, dia lupa menanyakan di mana Oswald dirawat. Maka untuk itu ia harus membuang waktu lagi untuk menyambangi bagian informasi dan mencari tahu di mana ia bisa menemui suaminya.
“Permisi … saya Ayline Pallas, istri dari Oswald Pallas. Saya dihubungi jika suami saya mengalami kecelakaan. Boleh saya tahu di mana saya bisa menemui suami saya?” tanya Ayline pada salah satu petugas rumah sakit.
“Baik, Nyonya. Mohon tunggu sebentar, akan saya periksa.” Petugas berseragam putih-putih itu tampak mengetikkan sesuatu pada komputer di hadapannya.
“Maaf Nyonya, apakah Anda tahu kapan suami Anda mengalami kecelakaan dan dibawa ke sini?”
Ayline mencoba mengingat-ingat lagi. Dia benar-benar panik saat menerima kabar itu. Dia bahkan lupa menanyakan nama karyawan yang menghubunginya. Tapi, seingatnya kata karyawan tersebut suaminya baru saja mengalami kecelakaan. Ayline pun menyimpulkan jika Oswald mengalami kecelakaan hari ini.
“Hari ini. Mungkin tiga atau empat jam yang lalu,” jawabnya.
Petugas kembali memeriksa data pada komputernya. “Maaf, Nyonya. Hari ini kami belum menerima pasien kecelakaan. Tapi dari data kami, kemarin ada pasien kecelakaan bernama Oswald Pallas,” jelasnya.
“Kemarin?!” ulang Ayline. Lalu mengapa mereka baru menghubungiku pagi tadi?
“Lalu di mana suami saya sekarang?”
Ayline tampak kesal. Dia akan cari tahu siapa karyawan yang menghubunginya itu dan menegurnya. Hal sepenting ini seharusnya ia kabari secepat mungkin.
“Tuan Oswald sudah berada pada ruang VVIP di lantai delapan. Beliau baru saja dipindahkan dari ruangan pemulihan pasca operasi,” jelas petugas tersebut.
__ADS_1
“Apa? Operasi?!” Ayline menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang tadi sempat mengering kembali mulai menggenangi kedua netranya. Separah apa kondisi suaminya. Mengapa sampai harus menjalani operasi, pikir Ayline.
“Iya, Nyonya. Untuk lebih jelasnya Nyonya bisa langsung menanyakan pada dokter yang menangani beliau.”
Ayline mengangguk setuju. Ia pun bergegas menuju lantai delapan rumah sakit dengan lift, setelah berterima kasih pada petugas tersebut.
“Kenapa lama sekali sih!” Ayline sempat-sempatnya menggerutu saat merasa lift yang membawanya ke lantai delapan berjalan sangat lambat.
Ting.
Saat pintu lift terbuka, Ayline mempercepat langkahnya menuju ruang perawatan Oswald. Tak sulit untuk menemukan ruangan yang ia cari. Di lantai delapan rumah sakit itu, hanya ada beberapa ruangan VVIP yang Ayline taksir berukuran luas.
Hingga ia tiba di depan salah satu ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat. Tak ada suara yang terdengar dari ruangan itu, namun dari celah pintu Ayline bisa melihat jika ada beberapa orang yang berada di dalam sana.
Perlahan Ayline mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Orang pertama yang menyadari kehadirannya adalah Denis, asisten Oswald. Ayline berusaha menahan keterkejutannya saat melihat kondisi Denis. Kepalanya dibalut perban dan banyak lebam di wajahnya. Salah satu tangannya bahkan memakai gips. Pakaiannya bukan lagi setelan jas rapi seperti yang biasa ia kenakan, melainkan setelan khas rumah sakit.
“Nyonya, Anda sudah tiba,” sapanya lirih seperti orang yang berbisik.
“Ka-kau baik-baik saja kan?” Sebenarnya maksud pertanyaan Ayline adalah, jika kau baik-baik saja maka seharusnya Oswald pun begitu. Lantas mengapa petugas rumah sakit mengatakan jika suaminya telah dioperasi.
Denis tak menjawab, ia hanya mengangguk dan mengarahkan tangannya ke arah ranjang pasien. Lihatlah sendiri, Nyonya, begitu kira-kira maksud dari gerakan Denis.
Ayline pun memutar bola matanya di hadapan Denis seraya mengehela napas. Dari awal mengenal Oswald, dia tak pernah suka pada asisten suaminya ini. Terlalu kaku, pendiam, dan tak ramah, menurut Ayline.
Saat Ayline berjalan masuk dan semakin mendekat pada ranjang pasien, Denis berdeham hingga tiga orang yang berada di sisi ranjang pasien menoleh.
“Maaf, Nyonya Ayline sudah tiba,” ucap Denis.
Ayline menghentikan langkahnya. Tubuhnya membeku saat menyadari jika ketiga orang itu adalah Ayah dan Ibu mertuanya juga seorang dokter jika dilihat dari pakaiannya.
__ADS_1
“Ayline … Sayang,” sapa Raya Pallas, Ibu mertua Ayline.
Wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tak lagi muda, berhambur memeluk Ayline yang mematung. “Sayang, kamu yang kuat ya. Demi Oswald,” bisiknya. Dari suaranya yang bergetar, Ayline menebak jika Ibu mertuanya itu sedang menahan tangisannya.
Tak ada yang bisa Ayline katakan. Apa yang telah terjadi pada suaminya, dia pun tak tahu. Mengapa aku diminta harus kuat? Separah apa kondisi Mas Oswald? Denis saja masih bisa berdiri dan berjalan. Lantas Mas Oswald? Tanya Ayline dalam hati.
Dia baru saja dikabari pagi ini. Sedangkan kecelakaan itu terjadi pada suaminya kemarin. Bahkan mungkin saja dirinya adalah orang terakhir yang dikabari mengenai kejadian ini, dan itu sangat melukai hati Ayline sebagai seorang istri. Maka, sebagai respon Ayline hanya membalas pelukan Ibu Mertuanya dan mengusap lembut punggungnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Temui suamimu, dia sangat membutuhkanmu,” ucap wanita yang disapa Mommy Raya.
Ayline mengangguk lalu mendekat ke ranjang pasien setelah menyapa Ayah mertuanya. Anehnya, Ayah mertuanya pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh istrinya. Ia memeluk Ayline seraya berkata, “Kalian pasti bisa melewati ini. Jadilah kuat, agar suamimu pun begitu,” nasihat pria yang Ayline panggil dengan sebutan Daddy Jay.
Lalu ketiga orang itu serempak menjauh dari sisi ranjang pasien. Ketiganya memberi ruang pada sepasang suami istri itu untuk bertemu. Namun, bukan berarti mereka meninggalkan ruangan, mereka hanya berpindah posisi dan duduk pada sofa besar yang ada di ruangan itu. Tatapan ketiga orang itu juga Denis tentunya, masih tertuju pada ranjang pasien. Jujur, Ayline merasa tak nyaman sebab merasa seperti sedang diawasi.
Namun, pikiran Ayline itu segera digantikan dengan keterkejutannya saat melihat kondisi tubuh suaminya. Suaminya terbaring lemah di ranjang pasien. Kepalanya tak dililit perban, hanya ada satu perban kecil di dahinya. Lebam di wajahnya pun tak sebanyak lebam di wajah Denis. Salah satu tangannya dipasangi infus, Ayline amati sepertinya tangannya baik-baik saja. Hanya ada beberapa luka lecet di lengannya. Namun, saat Ayline menatap ke arah kaki suaminya, di sanalah ia temukan perban yang melilit hampir di sepanjang kaki hingga pahanya.
Ayline semakin mendekat ke ranjang pasien. Air matanya entah mengapa luruh begitu saja. Ia anggap ini adalah air mata sebagai wujud rasa syukurnya sebab suaminya selamat dari kecelaan yang menimpanya. Namun, saat Ayline menggenggam salah satu tangan Oswald, pria itu tetap bergeming. Bahkan ia tak menolehkan wajahnya untuk menyambut istrinya.
“Ma-Mas Oswald, aku sudah datang,” ucap Ayline semakin mendekatkan dirinya. Ia bahkan memeluk tubuh Oswald yang terbaring dan bisa merasakan tubuh itu sontak menegang.
“Ma-maafkan Aku baru datang sekarang, Mas. Aku baru dikabari pagi tadi,” akunya.
Ayline masih menangis, entah kenapa rasa syukurnya tadi seakan menghilang digantikan dengan sakit hati sebab suaminya mengabaikan kehadirannya. “A-aku, aku merindukanmu, Mas. Kamu harus kuat dan cepat sembuh, ya,” ucap Ayline.
“Cih!” Oswald berdecih. Hal itu mengejutkan Ayline hingga ia melerai pelukannya.
“Sudahlah! Sebaiknya sekarang kamu pergi saja. Pergi yang jauh, jangan pedulikan aku. Selagi aku masih mengizinkanmu pergi,” ucap Oswald tanpa memandang Ayline.
“A-apa, Mas? Apa maksudmu mengatakan itu, Mas?”
__ADS_1
...----------------...