
Bab 10.
“Ba-baik….!” Kardi mengambil kuitansi dan menulis sebuah pernyataan seperti yang dikatakan oleh Dirga.
Sesudah semua selesai, Diana membawa minum ke meja mereka dan meletakkan minumnya. Diana melirik terus ke Sangga yang sekarang sudah kaya dan ganteng. Beda dengan dirinya saat itu.
“Mari diminum!” Ucap Diana.
“Eh iya, nak, ini nak Sangga kawanmu di SMA, masih ingat?” Pak Kardi sengaja memberitahukan kepada Diana agar Sangga tertarik kepada anaknya.
“Eh, iya Pak. Apa kabar Sangga? Kamu sekarang ganteng…Kaya lagi!” Sangga tak menggubrisnya dan mengambil minumnya tanpa menjawab pertanyaan Diana. Melihat dia dicuekin oleh Sangga, dia lari masuk ke dalam dengan nampannya.
“Nak Sangga, maaf dulu Diana sering mengganggu nak Sangga!” Sangga tidak menjawabnya dan asik minum.
“Gimana nak Sangga?” tanya Kardi lagi.
“Ya dilupakan saja, Pak.” Sangga hanya membalas seadanya saja. Dirga yang melihat sikap cuek Sangga merasakan perasaan Sangga terhadap Diana, anaknya Kardi.
Sesudah selesai, Kardi langsung menyiapkan pindahan rumah. Sangga, Dirga dan lek Kamto ke sekolah Sangga untuk mengambil Ijazah Sangga yang belum diambil. Sangga memberikan bantuan uang kepada sekolah sebagai bentuk baktinya kepada sekolahnya.
Lek Sangga diajak makan sore itu. Dan diantar pulang ke rumahnya. Lek Kamto diberikan uang dan disuruh sama Sangga untuk menempati rumahnya. Lek Kamto menerimanya. Sangga juga tak lupa untuk ke makam ibu dan bapaknya. Setelah itu mereka berdua pulang. Di dalam perjalanan pulang ke Jakarta, AKP Dirga mendapatkan kabar bahwa oknum polisi yang dia tangkap membeking kasus narkoba, sudah melarikan diri dari selnya dengan bantuan dari orang dalam kepolisian. Hal ini membuat AKP Dirga memperketat penjagaan Sangga. Sangga ditempatkan kembali di sebuah hotel yang berbeda. Semua barang Sangga sebagian dibawa ke rumah Rajasa, karena keamanan yang kurang baik.
“Mas Sangga, nanti kita menginap di hotel yang berbeda, semua barang kamu sudah sebagian dipindahkan ke hotel baru dan sebagian dibawa ke rumah pak Rajasa. Bagaimana?” tanya Dirga.
“Loh, emang kenapa mas Dirga?” tanya Sangga.
“Kamu ingat Siswoko? Oknum polisi yang membeking kasus narkoba kemarin?” tanya Dirga.
“Iya, memang kenapa dia?” tanya Sangga heran dan penasaran.
“Dia sudah melarikan diri dari sel, baru saja. Dia dibantu sama temannya, yang ternyata mengelabui petugas!”
“Ya Allah, ya sudah tak apa-apa mas! Mana foto si Siswoko, saya akan kasih tau posisinya sekarang!”
“Sebentar.” Dirga memperlihatkan sebuah foto di ponsel miliknya.
“Ini, coba kasih tau!” Sangga merapalkan bacaan doa, dia melihat gambaran.
“Hm, dia ada di rumah orangtuanya di Bogor.” Sangga menyebutkan alamat dan posisi lokasinya.
“Baik, terima kasih!” Dirga langsung menelpon tim untuk bergerak menuju ke rumah pelaku. Sejam kemudian mereka mendapatkan kabar bahwa Siswoko sudah tertangkap kembali.
“Mas Sangga, sebelum ke hotel saya mau mampir dulu ke kantor, boleh?” tanyanya.
“Boleh mas, silahkan saja. Saya juga kangen sama pak Bromo.!”
“Beliau akan pindah dan mengisi sebuah jabatan di Polda, mas. Mungkin minggu depan beliau sudah digantikan oleh Kombes. Danang. Beliau dari Bandung.”
“Wah, naik jabatan ya?” tanya Sangga senang.
“Iya, berkat mas Sangga, dia bisa naik jabatan! Sekarang sudah bintang satu!”
“Wah,keren, makanya saya mau ketemu dengan beliau, sudah lama tak bertemu beliau!”
“Oke, kita meluncur yak ke kantor.”
“Iya, mas..” Sejam kemudian mereka sampai di kantor AKP Dirga. Begitu mereka berjalan melewati Siswoko yang sedang tertunduk lemas. Tapi begitu melihat Sangga dia seperti marah. Karena Siswoko tak diborgol, hanya dijaga oleh dua orang polisi bersenjata, dia langsung mencabut sebuah senjata dari seorang polisi yang berdiri di dekatnya dan menembakkannya ke badan Sanggabuana.
__ADS_1
DOR
AARGGGHHHH
Sangga memegang dada atas kanannya dan jatuh berlutut.
“Hei!!” Teriak dua polisi dan merebut pistolnya dari Siswoko. Siswoko tertawa senang karena Sangga bisa dia tembak. Tapi dia langsung dihajar oleh beberapa orang polisi disampingnya dan diborgol.
Sangga yang sudah berlumuran darah langsung dibopong oleh Dirga ke dalam mobil.
“Bertahan Sangga! Tahan!” Segera dia langsung melarikan mobilnya ke rumah sakit yang tak jauh dari kantornya.
Sangga langsung dimasukkan ke IGD dan langsung dioperasi pengangkatan pelurunya.
Dirga dan beberapa orang kawannya, menjaga ketat di sekitar ruang operasi. Sangga masih tak sadarkan diri begitu dia dipindahkan ke ruang rawat inap. Sesudah sejam kemudian, Sangga sadar.
“Mas…..” lirih Sangga.
“Mas Sangga, jangan banyak bergerak dulu, mas Sangga mau apa?” tanya Dirga mendekat ke samping brankar.
“Saya dimana mas…?” tanya Sangga yangmasih bingung melihat sekelilingnya berwarna putih. Di lengan kirinya ada selang infus.
“Kamu di rumah sakit, kamu sudah baik-baik aja kok, sekarang.” Dirga memberikan semangat kepada sangga.
“Oh, iya saya ingat, kalau saya ditembak tadi. Kenapa dia menembak saya, mas??” Dirga bingung jawabnya.
“Ya, mungkin dia kesal karena kamu, dia akhirnya masuk penjara!”
“Hm, kenapa ya, sudah berbuat salah tak mau menanggung resikonya. Apakah saya aman sekarang, mas Dirga?” Sangga merasa dirinya sedang dicari banyak orang.
“Hmmmm…Nasib…Nasib…” Sangga mendengus.
“Hihihihi, kan sudah aku bhilang kamu, mas Sanggabuana sekarang sudah jadi artis!” Dirga meledek sambil tertawa kecil.
“Nah itu dia, akukan tidak mau terkenal!” Jawab Sangga.
“Ya, mau gimana lagi dong?” tanya Dirga.
“Ya tidak gimana-gimanalah. Aku ini hanya orang biasa, mas Dirga.”Sangga meratapi nasibnya.
Tak lama kemudian, datang Jendral Prana, pak Rajasa dan seorang gadis yang menemaninya.”
Pak Rajasa dan Jenderal Prana langsung menemui Sanggabuana yang sedang menonton berita di TV mengenai penembakan dirinya.
“Halo, malam mas Sangga.”
“Eh pak, selamat malam.” Mereka bersalaman. Gadis tadi duduk di kursi tamu.
“Bagaimana mas Sangga? Sakit ditembak?” canda pak Prana.
“Ya, begitulah pak,kayak digigit semut aja kok.”
“Hahahahaha, aja nih mas Sangga becandanya. Oh iya, mas Sangga disini saja dulu, mas Sangga aman disini.” Pak Prana meyakinkan Sangga.
“Iya pak, terima kasih.!”
“Paman, ini makanannya taroh dimana?” tanya gadis yang bersama dengan pak Rajasa tadi.
__ADS_1
“Oh, sini taroh di nakas saja, sisanya yang minuman taroh di kulkas, ya,” sahut pak Rajasa.“
Sangga yang merasa pernah melihat gadis itu, mengeryitkan dahinya.
“Eh sebentar, kamu….Istikah, ya?” tanya Sanggabuana ke gadis yang sedang memasukkan minuman ke kulkas. Dia menengok.
“Eh, Sanggabuana?” Gadis itu menunjuk ke arah Sangga.
“Eh, bener kamu Istikah?” tanya Sangga.
“Iya.” Dia mendekat ke brankar dan salaman dengan Sangga.
“Kalian sudah kenal? Dimana?” tanya pak Rajasa kaget.
“Kami ketemu di kereta api, paman. Waktu saya ke Jakarta, kami duduk sebangku sebelahan. Cuma di stasiun kami pisah.”
“Oh, yang kalian saling melambaikan tangan itu?” Istikah mengangguk.
“Masya Allah, kalian memang ditakdirkan ketemu lagi. Istikah, ini nak Sanggabuana, yang memberitahukan kepada paman, dimana lokasi mbak Dira!” ucap pak Rajasa.
“Wah, hebat kamu Sanggabuana. Kata paman kamu melihat langsung lewat foto, begitu?” Istikah kagum dengan kemampuan Sangga.
“Eh, iya, sudahlah jangan dibesar-besarkan, memang kita jodoh kali, ya?” Sangga menggoda Istikah. Wajah Istikah merah merona.
“Hmmm…Ada yang jodoh, nihhh” goda AKP Dirga dari jauh.
Sangga tersenyum mendengar ledekan Dirga.
“Sudah biasa pak, mas Dirga memang ember mulutnya!” Sangga mencebikkan bibirnya.
HAHAHAHAHA. Mereka tertawa.
“Ehem, ehem…” Dirga kembali menggoda Sangga.
“Bodo ah!” Sangga kembali kesel dan cemberut.
“Mas Sangga, saya mau menawarkan sesuatu kepada nak Sangga. Saya dengar, mas Sangga mau kuliah?” tanya pak Rajasa.
“Iya pak, tapi uang saya sudah habis. Kemarin di kampung saya menebus tanah warosan ibu yang disita sama rentenir di sana. Kayaknya uang saya jadi tidak cukup untuk kuliah.” Sangga terus terang kepada pak Rajasa.
“Kalau itu, tenang saja. Makanya, saya menawarkan kepada nak Sangga, saya akan membiayai kuliah nak Sangga sampai selesai. Bagaimana?”
“Beneran pak?” tanya Sangga senang mendapatkan tawaran menarik dari pak Rajasa.
“Iya benar. Kamu bisa kuliah bareng Istikah, satu kampus dengan Istikah.” Pak Prana tersenyum mendengar permintaan pak Rajasa.
“Oh, baik pak Rajasa. Saya senang bisa kuliah. Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya ini?” tanya Sanggabuana.
“Tenang kalau masalah itu. Karena kamu menjadi informan kepolisian, kamu lebih baik tinggal bersama dengan AKP Dirga. Tapi kalau kamu mau tinggal di rumah Pak Rajasa juga tak apa-apa. Malahan bisa ketemu terus sama Istikah.” Pak Prana tersenyum menggoda. Istikah ikutan tersenyum karena gembira hatinya, nanti bisa bertemu terus dengan Sanggabuana.
“Ah, bapak bisa aja. Saya kan masih belum aman pak, sebaiknya saya akan tinggal dengan mas Dirga saja dulu, sampai semuanya aman!” Sangga memberikan pendapatnya.
.......
.......
BERSAMBUNG
__ADS_1