LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 23


__ADS_3

Bab 23.


"Hm, tidak tau, tidak jelas. Wong kak Dira aja sekarang pergi sama cowoknya. Tidak tau jadi atau tidak perginya."


"Ya sudah kita pergi saja abis Magrib, mau? Aku mau beli pakaian untuk kuliah!"


"Mau dong, makan malam dimana, sayang?" tanya Istikah yang sudah mengelendot di lengan atas Sangga.


"Hm, ya sudah, gampang nanti, kita liat saja nanti. Yuk, aku mau mandi dulu, sebentar lagi mau Magrib."


"Yuk masuk, aku juga mau mandi dulu." Mereka berdiri dan saling bergandengan tangan.


Di dalam mereka bertemu dengan pak Rajasa.


"Katanya mau pergi sama Dira?" tanya Pak Rajasa.


"Diranya kan pergi, pak," jawab Sangga.


"Loh, gimana sih?"


"Ya tidak apa-apa pak, saya abis maghrib mau pergi sama Istikah, mau cari pakaian juga saya untuk kuliah."


"Ya sudah, jalanlah, Saya juga ada pertemuan dengan klien. Hati-hati di jalan! Eh iya Sangga, sebentar!" Pak Rajasa masuk lagi ke dalam kamarnya dan kembali lagi keluar.


"Ini pegang, kartu kredit saya. Ini kartu kredit Platinum, hanya ada sepuluh di Indonesia. Biasa dinamakan Black card oleh orang bank. Tapi sebenernya sama dengan platinum. kamu mau beli apa saja, bisa. Nanti pinnya akan paman kasih ke kamu!" Pak Rajasa memberikan kartu itu ke Sangga.


"Waduh, saya tidak pernah pakai kartu kredit pak. Uang saya masih ada kok, pak!"


"Sudahlah, bawa ini, pakailah. Kalau kamu tidak pakai malah saya marah!" Pak Rajasa merenggut.


"Baiklah pak, terima kasih lagi pak."


"Sama-sama, kamu nanti ke Mall atau ke mana?" tanya pak Rajasa lagi.


"Hm, kayaknya cuma ke mall dekat sini saja, sekalian makan malam."


"Ya sudah, hati-hati di jalan."


"Baik, pak." Sangga berjalan ke kamarnya dan mandi.


Sesudah mandi, Sangga dan Istikah berjalan ke mobil Rubiconnya. Mereka langsung ke mall. Pergi ke Mall, Sangga hanya memakai training lusuh dan kaos seadanya. Mereka berjalan berdua dan Sangga masuk ke sebuah galery yang lengkap. Di sana harganya mahal-mahal, Sangga memilih beberapa kaos dan kemeja


untuk kuliah. Mereka berdua didatangi oleh seorang SPG yang melayani pelanggannya. Sangga sedang memilih baju yang harganya lebih dari 500 ribu, dia akhirnya mengambil lima buah dengan corak dan warna yang berbeda.

__ADS_1


"Sayang, kalau kamu mau beli baju atau aksesoris, pilih saja, nanti sekalian saja bayarnya." Sangga menyuruh kepada Istikah yang daritadi hanya diam melihat Sangga belanja dengan membawa dua tas belanja yang sudah


penuh.


"Iya mas, aku ke sana dulu ya," Istikah menunjuk ke arah aksesoris perempuan dari perak.


"Oke." Sangga kembali melihat jam tangan yang harganya diatas sepuluh juta. SPG yang daritadi memperhatikan Sangga, makin jengkel, karena dia melihat penampilan Sangga yang kayak gembel, walaupun wajahnya dia suka.


Akhirnya SPG itu datang mendekat ke Sangga.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya dia.


"Maaf mbak, saya ingin yang itu, bisa diambilkan?" tanya Sangga.


"Ini harganya lima belas juta rupiah, pak." SPGnya diam saja.


"Iya, tidak apa-apa, saya mau lihat, kalau memang cocok saya akan membelinya!" jawab Sangga. SPG itu masih diam saja.


"Loh, kok mbak tidak mengambilkan? Saya kan pelanggan, saya hanya minta diambilkan dari etalase, kan tidak susah." Sangga menatap si SPG nya dengan tatapan aneh.


"Maaf mas. Mas sudah belanja banyak, apakah mas punya uang untuk membayarnya? Saya perkirakan belanjaan mas sudah mencapai dua puluh juta. Apakah mas punya uang sebanyak itu?" tanya SPG.


 cukup." Sangga menjawab dengan tenang.


"Ya ada, dari paman saya, tadi dia memberikannya. Pakai debit juga saya ada uangnya di ATM. Memang kenapa begitu rumit ya belanja disini. Ini galery terkenal, barangnya mewah,dan harganya juga mahal-mahal. Kalau saya ke sini, saya sudah bisa mengukur uang saya. Kenapa mbak harus repot?" tanya Sangga yang merasa sedang direndahkan.Sangga geleng-gelelng kepalanya saja.


SPG nya diam saja sambil mengernyitkan dahinya. Dia membuka etalase dan menaroh jam tangan yang Sangga mau lihat di atas kaca etalasenya. Sangga mengambilnya dan memakai jam tangan itu. Dia merasa cocok dengan warna dan modelnya.


"Ya sudah, saya ambil ini satu dan yang warna merah itu satu. Bisa lihat yang warna merah mbak?" tanya Sangga.


"Yang merah itu limited edition, mas. Jadi harganya limapuluh juta. Saya kok jadi ragu dengan penampilan anda yang sok kaya begini??!" SPG nya melipat tangannya di depan dada.


"Bisa dengan warna merah itu? Saya ingin mencobanya."Sangga mengulangi perkataannya.


"Hm, baiklah, kalau kamu tidak bisa bayar, saya akan laporkan ke bos saya! Galery ini dia yang miliki, seorang jenderal bintang tiga.Kamu berani?" tanyanya sombong dan sinis.


"Loh, saya kan pelanggan. Mana coba lihat. Jadi atau tidak jadi bukan urusanmu, dan kalau saya uangnya kurang juga, saya akan kembalikan saja barangnya, msudah kan? Kenapa mesti mbak yang repot?" Sangga mulai kesal dengan tingkah SPG yang menurutnya angkuh dan sombong.


"Ini, silahkan!"Jawabnya dengan ketus dan meletakkan jam tangannya dengan kasar.


Sangga tak habis pikir, dia mengambil jam tangannya dan memakainya. Istikah datang membawa beberapa bros, dan menyerahkan ke Sangga. Istikah melihat Sangga sedang mencoba jam tangan.


"Bagus tidak sayang?" tanya Sangga.

__ADS_1


"Bagus mas. Mahal ya harganya?" tanya Istikah.


"Lima puluh Juta!" ucap Sangga.


"Hm, cocok sih, tapi mahal mas, mending satu saja yang itu. Kan bisa dipakai untuk keperluan yang lain uangnya. Istikah memandang Sangga.


"Oke, maaf mbak ini tidak jadi!" Sangga meletakkan kembali jam tangannya ke atas etalase,


"Tdak bisa pak, jam tangan ini sudah bapak pakai, dan harus dibeli!" ucap SPG itu dan menolak untuk menerima.


"Loh, kan saya tidak jadi beli?" Sangga bingung.


"Hm, ya tetap harus bapak beli! Karena kami tidak menjual barang bekas pakai! Silahkan bayar dikasir, beserta dengan semua barang-barang yang lain!" jawab SPG iu dengan nada kasar.


"Hm, baiklah, saya akan bayar. Tidak papa ya, sayang. Kita pakai kartu kredit saja dari pak Rajasa tadi."


"Ya sudah, tapi kamu harus jaga semua itu, barangnya mahal-mahal. Oh iya, ini saja aku, lima bros untuk hijab. Itu saja harganya tiga ratu ribu satu. Kamu ada uangnya?" tanya Istikah.


"Ada, tenang saja." Sangga tertarik melihat wajah si SPG. Dia tatap lekat-lekat sampai SPG itu salah tingkah.


"Hmmm..."


"Kenapa bapak melihat saya seperti itu? Itu namanya pelecehan!" SPG itu mencak-mencak, membuat beberapa pelanggan yang ada di sana  melihat ke arah Sangga dan Yunmna.


"Tidak apa-apa. Mbak sedang ada masalah keluarga ya? Suami selingkuh?" tanya Sangga.


SPG itu langsung heran dan bingung, bagaimana Sangga mengetahui masalahnya di  rumah dan dia alami saat ini dengan suaminya.


"Sok tau!" Itu saja yang dia ucapkan dengan nada ketus.


"Suamimu itu tidak selingkuh, dia memberikan sebagian uangnya ke Ibunya. Ibunya sedang sakit. Kamu sebagai menantu harusnya mengerti, jangan ingin membeli barang yang bermerk terus!" SPG nya diam dan mengernyitkan dahinya kembali.


"Bagaimana kamu tau masalah saya? Sudah sana bayar! Kalau bapak tidak bisa bayar, akan saya panggil bos saya! Kebetulan dia sedang ada disini dengan istrinya!" Ancam SPG di depannya.


"Hm, ya sudah, mana kasirnya?" Sangga dan Istikah jalan menuju ke kasir. Di kasir, Sangga meletakkan belanjaannya di atas meja. Semua discan dengan menggunakan mesin kasir barcode.


"Semuanya Sembilan puluh tiga juta, pak. Mau menggunakan debit atau kredit card pak?" Kasirnya melihat ke awah,Sangga.


"Saya tidak punya uang segitu di dalam ATM saya. Kayaknya saya bayar dengan kartu kredt saja!" Sangga mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada kasir itu. Kasir menerima, dia melihat kartu tersebut yang dia pegang.


........


........

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2