
Bab 31.
Sampai di dalam dealer, mereka berjalan-jalan untuk melihat mobil-mobil yang berkelas. Akhirnya Sangga memiliih Mobil Porsche dan Dirga memilih mobil BMW Z3. Keduanya memilih mobil sport.
Sesudah membayarnya, mereka bertiga pulang langung ke rumah.
Dirga mendapatkan telpon dari Jenderal Bromo di tengah jalan.
"Halo, siap Jenderal!"
"Baik, siap laksanakan! Segera meluncur!"
"Ada apa AKP?" tanya Rajasa.
"Mohon maaf pak, kalau berkenan, bapak ikut kami ke suatu tempat! Ada bom lagi dan bomnya meledak di sebuah Mall!"
"Hm, boleh, ayo kita kesana!"
"Siap!"Dirga langsung mengarahkan mobil ke lokasi pemboman. Sampai di sana, mereka langsung turun dan menuju ke lokasi pemboman. Banyak korban bergeletakan dan mereka semua langsung memakai sarung tangan dan masker.
Sangga dan Dirga masuk ke dalam, sedangkan pak Rajasa menunggu di suatu tempat yang agak jauh dari lokasi bom meledak. Letkol Jerico yang pernah mengenal dan bertemu di lokasi bom bunuh diri sebelumnya, menemui Sangga dan Dirga.
"Siang Komandan!" Dirga sikap hormat kepada Jerico.
"Siap. Eh mas Sanggabuana, ya?" Jerico bersalaman dengan Sangga.
"Iya pak. Apa kabar?" tanyaSangga.
"Baik mas. Bagaimana mas Sanggabuana? Ini juga merupakan Bom bunuh diri. Dia sengaja membeli makanan di rumah makan cepat saji itu, terus duduk makan. Pada saat tadi banyak pembeli, dia meledakkan bomnya. Sehingga banyak korban!"
"Hm, coba cek KTPnya!"
"Belum ketemu mas Sangga. Untuk sementara ini, kami juga belum bisa identifikasi mayatnya, karena sepertinya hancur bersama dengan bom di badannya!"
"Hm." Sangga memejamkan mata sebentar dan merapalkan bacaan doanya.
"Pelaku sebenernya berdua, tapi yang satu bomnya tidak meledak, dia melarikan diri saat bom pertama meledak, dan dia juga sempat berusaha meledakkannya. Tapi karena dia takut, maka dia melarikan diri!"
"Terus bagaimana dengan pelaku yang sudah meledak?" tanya Jerico penasaran.
"Hm, ya, dia hancur, tapi ada potongan kakinya di sana!" Sangga menunjukkan ke sebuah meja dan di bawah,meja itulah salah satu kakinya berada. Dirga dan Jerico langsung berlari dan menuju ke meja tersebut.
Dirga dan Jerico langsung berlari dan menuju ke meja tersebut. Dibawah,meja mereka menemukan sebuah kaki yang terputus di bawah,dengkul dengan banyak lumuran darah. kaki itu adalah kaki seorang laki-laki yang hanya memakai sendal karet.
Dirga melihat dan mengeluarkan HP nya dan mengarahkan kamera HPnya. Kemudian Jerico memanggil anak buahnya dan membatasi lokasi tersebut karena ada potongan kaki.
Dirga dan Jerico kembali ke Sangga yang sedang duduk dan merokok.
"Sang, ini fotonya." Dirga memberikan HPnya.
"Hm, kita ke tempat lain!" Sangga berdiri mengajak Dirga dan Jerico pergi dari situ. Mereka ketemu dengan Pak Rajasa dan kemudian masuk ke dalam sebuah bioskop. Dirga dan Baunaji mengeluarkan lencana mereka.
"Saya butuh ruangan kosong!" ucap Baunaji kepada manager bioskopnya.
"Mari pak, ikut saya!" Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan teatre.
__ADS_1
"Jaga disini, jangan ada yang masuk!" Perintah Baunaji.
"Baik pak!" Mereka langsung masuk ke dalam sebuah Teatre yang memang karena ada pengeboman itu, langsung tutup. Mereka duduk. Sangga membuka fotonya lagi.
"Bisa direkam pak Rajasa?" tanya Dirga.
"Ya."
"Kita berdua mas!"ucap Sangga.
"Oke." Mereka berdua duduk. Sangga merapalkan doa dan sukmanya mulai keluar sukmanya dari raganya. Dia menarik sukma Dirga.
"Buka mas!" Dirga membuka matanya. Sangga memanggil Leon dan Wewe. Mereka berdua langsung melompat ke arah Sangga dan Dirga.
"Leon, Wewe! Antarkan kami ke rumah orang ini!" Sangga mempelihatkan foto kakinya.
AAUUMMMM
AAAUUUMMM
"Ayo mas, naik!" Sangga naik ke punggung Leon, Dirga naik ke punggung Wewe.
"Hm.."
"Lompat Leon!!" Leon langsung menembus sebuah lorong waktu yang bercahaya. Cahaya putih dan biru yang seakan mengarah kepada mereka. Sangga sudah biasa tapi Dirga seperti tertusuk jarum. Begitu mereka sampai di sebuah bangunan tua, mereka turun.
"Hm, bener ini tempatnya?" Dirga melihat pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan pengab yang sangat gelap itu karena sudah malam tak ada sinar sama sekali. Dirga mengeluarkan HP nya dan menyalakan senter di HPnya.
"Sang, ini tempat apa?" tanya Dirga yang mengikuti Sangga keluar dari ruang gelap dan pengab itu.
"Sang, pakai dulu sarung tangan!" Sangga dan Dirga memakai sarung tangan agar tidak meninggalkan jejak sidik jari.
"Hm, terkunci Sang!" Dirga mencari alat dan ada balok kayu dan langsung dia hantamkan ke pintunya dan ke handel pntunya.
BRAAKK
BRAAAKK
Pintu terpukul dan terbuka.
"Gelap Sang!" Sangga mengarahkan senter Hpnya dan melihat ke dalam ruangan. Terlihat ruangan itu penuh dengan peralatan dan perlengkapan membuat bom. Ada mesiu, kabel-kabel, detonator dan beberapa kaleng bekas.
"Mas, bawa laptopnya!" Dirga mengambil laptop dan beberapa dokumen yang penting.
"Ayo kita balik lagi!"
"Siap!" Mereka berdua naik ke atas punggung Leon dan Wewe. Keduanya melompat dan sesudah sampe tempat semula, mereka masuk ke dalam raganya. Tiba-tiba Dirga sudah memegang sebuah laptop dan beberapa dokumen di dalam kantung plastik.
"Ayo kita ke kantor dulu. Ini pak Jerico, bisa diselidiki dari dokumen dan laptop ini!" Dirga menyerahkan semua barangnya. Jerico menerimanya.
"Ayo kita pulang dulu. Nanti hubungi kita lagi!" sahut Dirga.
"Siap."
Mereka berpisah dengan Baunaji dan kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tadi kemana mas? Kok tiba-tiba bawa barang!" Rajasa bingung.
"Hm ke dimensi lain pak sama Sangga!"
"Kayak waktu kita ke gudang?" tanya Rajasa penasaran.
"Iya pak, malahan waktu sama bapak menembus lorong waktu. Keren kan??."
"Kapan kita nembus dimensi lain lagi??!"
"Oh boleh pak. Besok sekalian kalau bapak mau tau mengenai Dito dan pengakuannya. Jadi bapak bisa memberikan pandangan kepada Dira nanti!" Jawab Sangga.
"Hmm, jadi ingat masalah Dira lagi!"
Tiba-tiba Sangga merasa sesak napas dan tercekik.
"AAGGHHH...!" Sangga matanya mendelik.
"Sangga! Sangga!!" Dirga menghentikan mobilnya ke pinggir. Dirga menggugah Sangga yang sedang memegang lehernya. Sangga menyadari bahwa ada yang mencekiknya dari makhluk tak kasat mata dari belakang badannya.
Sangga merapalkan doa dan menarik makhluk itu ke dimensi lain. Mereka berhadapan, Sangga masih memegang lehernya yang terasa masih sakit.
"Hahahahaha, Kauuuu.....Mati kau! Hahahaha." Makhluk yang jelek, dan berjubah hitam. Matanya ada tiga dan merah warnanya. Dia memegang sebuah kapak.
"Siapa kau! Kenapa curang menyerang saat tak siap!" Sangga terbata-bata karena masih sakit bekas cekikannya.
"Kau Sanggabuana!!"
"Ya, saya Sanggabuana!!"
"Aku mau membalaskan dendamku, karena kau membunuh murid kesayanganku!"
"Siapa yang kau maksud?" Sangga merasakan udara mulai panas yang membuat badannya terasa seperti dipanggang.
"Jangkrik!!"
"Hm, Ki Jangkrik? Ada apa dengan dia? Dia sama seperti kau! Main curang!"
"Dikemanakan tubuhnya?" tanya dia.
"Sudah menjadi abu!" Jawab Sangga.
"Kurang ajar! Kau bunuh murid terbaikku!"
"Hah? Murid terbaik? Tidak bisa apa-apa juga! kamu salah cari murid! Hahahaha." Sangga sengaja membuat makhluk itu marah dan mengeluarkan ilmunya.
"Kurang Ajar! Terima serangan dariku anak kurang ajar!! Ciaattt!!"
Sangga merapalkan bacaan doa, tiba tiba muncul dua macan yang selalu membantunya, Leon dan Wewe. Leon langsung menerkam makhluk itu dari belakang, sehingga makhluk itu jatuh terjerembab ke depan. Ilmunya hilang.
........
........
BERSAMBUNG
__ADS_1