LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 25.


__ADS_3

BAB 25.


Setiba di sana, Sangga langsung masuk dengan Istikah yang bergandengan tangan. Ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua, siapa ya? Kayaknya orang jahat atau tidak?


Sangga dan Istikah duduk di kursi dengan meja yang khusus untuk dua orang. Seorang pelayan datang dan tersenyum ke arah Sangga. Sangga yang sedang melihat HPnya, tidak memperhatikan pelayan tersebut yang melayani mereka berdua. Istikah langsung mengambil buku menunya dan memilih beberapa makanan dan minuman.


"Sudah semua pesannya, mbak?" tanya Pelayannya.


"Ya, itu saja dulu."


"Oh baik, kalau mas Sanggabuana ada yang mau dipesan lagi?" tanya pelayan itu sambil tersenyum melihat ke arah wajah Sanggabuana yang masih fokus pada HPnya. Istikah heran kok pelayannya kenal dengan kekasihnya.


"Loh, mbak kenal dengan pacar saya?" tanya Istikah. Sangga melihat ke arah pelayannya yang sudah tersenyum kepadanya.


"Eh, mbak Syanum, apa kabar?" Sangga mengulurkan tangannya. Disambut oleh Syanum uluran tangan Sangga.


"Hm, baik mas," jawab Syanum malu-malu.


"Oh iya, maaf Syanum, ini kenalkan Istikah, pacar saya." Syanum menyembunyikan perasaan kecewanya. Dan mengulurkan tangannya ke Istikah.


"Saya, Istikah."


"Syanum."


"Bagaimana kabar pak Bustomi?" tanya Sangga.


"Baik, pak Bustomi ada kok, sebentar saya panggil beliau!" ucap Syanum.


"Hm, ndak usah kalau beliau sibuk."


"Ya sudah, saya minta disiapkan pesanannya. "


"Iya, kok mbak Syanum menjadi pelayan? Bukannya mbak Syanum jadi kasir, dulu?" tanya Sangga memandang wajah Syanum yang makin cantik.


"Hm, iya tadi saya lihat kalian berdua, jadi saya sengaja melayani kalian berdua." Syanum juga memandang terus Sanggabuana yang makin dewasa.


"EHEM...!" Istikah berdehem dan melihat ke arah mereka berdua.


"Eh, sebentar ya, aku pesankan segera! Permisi." Syanum langsung pergi dan Sangga tersenyum melihat ke arah Istikah yang masih cemberut.


"Apa liat-liat! Sana liat aja di Syanum yang cantik! Bosen liat mukaku yang jelek??" Istikah makin cemberut, bibirnya manyun lima puluh senti, hahahaha (Kalau cewek itu manyun bisa satu meter).


"Hehehehe, begitu aja marah, ish, kamu kan yang tercantik di hatiku!" Sangga tertawa kecil.


"Huh! Gombal gombal preketek!" Istikah jengkel melihat mata jelalatannya Sangga ke Syanum.


"Hahahaha." Sangga mencubit pipi Istikah yang gembul dan masih cemberut.


"Mas minta maaf ya..." Sangga memandang Istikah lekat-lekat.

__ADS_1


"Apa sih, kalau suka dan cinta kirim surat aja!" Istikah cemberut tapi kemudian dia terkekeh karena Sangga terkekeh melihat ke Istikah. Mereka berpegangan tangan sambil tertawa.


"Selamat malam Mas Sangga!" Pak Bustomi sudah di samping meja mereka. Sangga berdiri dan bersalaman dengan pak Bustomi.


"Apa kabar mas Sangga?" tanya pak Bustomi.


"Baik, bapak bagaimana kabarnya?" tanya Sangga.


"Baik mas Sangga." Pak Bustomi menarik meja single dan mengambil kursi kemudian duduk di samping Sangga.


"Sedang berdua saja? AKP Dirga mana?" tanya Bustomi.


"Hm, beliau lagi pulang kampung, Ibunya sakit. Besok sudah di Jakarta lagi kok, pak!" Sahut Sangga.


"Oh begitu, eh, sudah pesan belum?" tanya Bustomi karena masih melihat meja Sangga kosong.


"Sudah pak. Tadi sudah pesan sama mbak Syanum."


"Hm, kenalkan pak, Istikah, pacar saya." Sangga menunjuk ke arah Istikah.


"Oh, hai, saya Bustomi." Mereka bersalaman.


"Kalian pacaran, nih?" tanya Bustomi sambil tersenyum.


"Iya pak," jawab Istikah sambil tersenyum dengan wajah merah merona.


"Oh iya mas Sangga, saya minta bantuan boleh. Tapi silahkan kalian makan dulu. Biar enak nanti saya ceritanya," ucap Bustomi.


"Silahkan pak, ini pesanannya!" Seorang pelayan datang dengan membawa semua pesanan Sangga dan Istikah.


Sesudah diletakkan, Bustomi juga memesan Jus kepada pelayannya.


"Ya, silahkan makan dulu, nanti saja saya ceritakan." Bustomi tersenyum. Sesudah mereka selesai makan dan Sangga meneguk teh panasnya. Sangga menanyakan masalah ke pak Bustomi.


"Jadi begini mas Sangga. Saya kan baru buka cafe baru di daerah Blok M. Tapi kafe saya sepi, ini juga mulai sepi kafenya. Biasanya jam segini membludak pelanggan. Kenapa ya mas Sangga?" tanya Bustomi.


"Hm, besok saja saya dengan AKP Dirga ke tempat bapak, siang atau sore, soalnya malam saya kuliah."


"Hm, mas Sangga kuliah?" tanya Bustomi.


"Iya, saya satu kampus dengan Istikah. Tapi saya kuliah malam, kalau Istikah pagi. Jadi abis dari Istikah selesai kuliah, saya bisa ke sana. Kasih saja besok shareloknya!" jawab Sangga sambi menyedot jus nya.


"Baiklah mas Sangga, besok saya kasih tau shareloknya."


"Baik pak, kami pulang dulu, karena sudah malam. Biar saya bayar dulu ke kasir pak."Sangga berdiri dengan Istikah.


"Eh,tidak usah, tidak usah. Kalian langsung pulang saja. Sudah saya bilang ke mas Sangga, kalau mas Sangga makan dan minum disini gratis!" ucap Bustomi yang ikutan berdiri.


"Loh kok, gratis lagi?" Sangga tekejut.

__ADS_1


"Iya, silahkan langsung saja, tidak usah bayar." Bustomi menarik pelan lengan Sangga sambil berjalan.


"Terima kasih ya mas Sangga, atas kunjungannya."


"Saya yang terima kasih sudah makan gratis!"


"Ah, sudahlah," Bustomi tersenyum.


"Ya sudah, saya pamit dulu pak Bustomi," ucap Sangga dan menyalami pak Bustomi.


"Hati-hati mas Sangga, mbak Istikah." Bustomi juga menyalami Istikah.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Sangga langsung mengarahkan mobil menuju ke rumah pak Rajasa. Sampai di sana, mereka masuk dan bertemu dengan Dira yang sedang menonton TV bersama pak Rajasa.


Sangga masuk ke kamar dan menaroh semua belanjaannya di dalam kamar. Dia kembali ke luar dan duduk bersama pak Rajasa dan Dira menonton Film.


"Gimana tadi jalan-jalannya?" taya pak Rajasa.


"Saya tadi ketemu pak Prana di galery miliknya."


"Oh iya, saya lupa kasih tau kamu kalau mas Prana punya galery di Mall."


"Oh iya maaf, pak. Tadi saya pakai kartu kreditnya."


"Iya pakai saja, wong itu untuk kamu pakai. Nanti biar saya yang membayar tagihannya."


Dira sangat kesal kepada papanya, sudah memberikan kartu kredit ke Sangga. Dia sendiri tak pernah diberikan kartu kredit oleh papanya, karena memang jatah bulanannya langsung ditransfer ke rekening pribadinya.


'Kenapa papa bisa percaya banget ya, ke mas Sangga?? Maksud papa apa coba? Sudah dikasih mobil kesayangan papa, dikasih kartu kredit lagi? Kayaknya sudah pilih kasih nih papa ke mas Sangga!'


Tak lama kemudian Sangga pamit masuk ke kamarnya untuk istirahat. Besok paginya Sangga keluar kamar sesudah sholat subuh. Dia bertemu dengan pak Rajasa yang sedang duduk di gazebo.


"Rencana hari ini mau kemana Sangga?" tanya Rajasa yang sudah menikmati teh panas dan kue brownnis.


"Saya mau antar Istikah kuliah, terus ke kafe milik pak Bustomi di Blok. M. Dia kemarin minta bantuan melihat kafenya, katanya sepi pengunjung."


"Mas ini kopinya." Istikah datang mendekat dengan membawa secangkir kopi.


"Terima kasih sayang."


"Iya mas, aku masuk dulu, mau masak buat sarapan." Istikah langsung masuk kedalamrumah kembali.


"Sangga, paman ada kasus di kantor, bisa kamu mampir ke kantor saya?" tanyanya.


"Kasus apa pak?"


"Ada penggelapan uang, cuma kok saya belum bisa mengungkapnya. Beberapa kali gudang di tanSangg priok juga kebobolan, saya memang tidak lapor ke polisi, karena saya yakin ini ada orang dalam yang bermain."


.......

__ADS_1


.......


BERSAMBUNG


__ADS_2