LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 42.


__ADS_3

Bab 42.


Istikah tersenyum kepada Sangga dan meletakkan tangannya di pipi Sangga.


"Mas Sangga...!"


"HAH??" Bustomi kaget.


"Alhamdulillah," ucap Dirga melihat ke Istikah yang wajahnya sudah berwarna merah dan tidak pucat lagi.


"Sayang. Yuk pulang!" Sangga memeluk Istikah. Sangat mengharukan menyaksikan pertemuan mereka yang sudah enam bulan terpisah, di sebuah kamar di rumah sakit jiwa.


Tangis mereka berdua membuat pak Bustomi dan Dirga menitikkan air mata. Perjuangan Sangga untuk kembali pastinya tidak sedikit. Rasa rindu dua sejoli itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Sangga membantu Istikah untuk duduk. Dirga memberikan sapu tangan ke Sangga. Sangga mengambilnya. Dia hapus air mata yang memenuhi kedua pipi Istikah. Istikah melihat ke Dirga.


"AKP Dirga?" Istikah tersenyum.


"Iya, Istikah, ini AKP Dirga Kampret!" Dirga kembali menitikkan airnatanya tanda bahagianya melihat Istikah sudah ingat kepadanya.


"Hihihihi...Kok masih pake kampret? Katanya sudah berubah jadi batmen??" Istikah tersenyum dan kembali melihat ke wajah pangerannya yang sedang menatapnya dengan kerinduan.


"Yuk, pulang!" Sangga mencium pipinya.


"Iya mas. Aku dimana mas sekarang?" tanya Yuma bingung. Dia turunkan kedua kakinya dan hendak menapak.


"Kuat sayang?" tanya Sangga.


"Aku lemas mas. Kenapa aku lemas kayak gini sih, mas?" tanya Istikah sedih.


"Sebentar, saya ambilkan dulu kursi roda, ya?" Bustomi keluar mengambil kursi roda yang tak jauh dari ruangan itu. Istikah dibantu Sangga naik ke atas kursi roda.


"Sudah siap?" tanya Sangga dengan senyumnya menatap Istikah yang senyum ke pangerannya.


"Sudah siap pangeranku!" Istikah mencium kening sang kekasih.


"Terima kasih, sayang." Sangga langsung berdiri dan mendorong ke dekat pintu. Dirga melempar kunci mobil ke Sangga. Sangga langsung menangkapnya dan mendorong Istikah keluar menuju ke parkir mobil Dirga. Sampai di


sana, Sangga mengangkat Istikah masuk ke jok belakang mobil Dirga. Sangga langsung mendorong kursi rodanya ke pinggir dan dia naik ke jok belakang kembali di samping Istikah. Istikah langsung memeluk Sangga kembali.


"Aku rindu kamu mas. Kamu kemana saja sih? Aku tak mau kehhilanganmu." Sangga terharu mendengar Istikah yang sangat dia sayangi.


"Iya sayang. Mas janji tidak akan meninggalkan kamu lagi.  Kalau kamu sehat, kita menikah ya, sayang."


"Beneran mas?" Istikah senang sekali mendengar ungkapan hati Sangga.


"Bener dong, masa aku bohong sama kamu!" Istikah kembali ke pelukan Sangga.

__ADS_1


"Makasih masku!"


"Iya sayang." Dirga masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi.


"Bagaimana, mas? Sudah semuanya diselesaikan?" tanya Sangga.


"Sudah beres. Kita kemana Sang?" tanya Dirga.


"Hm, sebaiknya kemana mas?" tanya Sangga lagi.


"Hm, kita beli pakaian Istikah dan makan dulu, bagaimana?" tanya Dirga yang menengok ke belakang sambil senyum dan memainkan alisnya.


"Okeh boss!" Dirga langsung melajukan mobilnya dan mampir di sebuah warung untuk membeli Istikah sendal jepit. Karena Istikah tak memakai alas. Sesudah itu dia langsung mengarahkan ke Mall. Sesampainya di Mall Dirga memberhentikan mobilnya di lobby. Mereka berdua turun dan langsung menuju ke sebuah kursi panjang. Dirga tak lama kemudian datang. Mereka bertiga berjalan menyusuri ramainya mall, banyak pengunjung mall yang melihat ke arah Sangga yang berpakaian lusuh dan Istikah yang kelihatan seperti orang sakit.


Mereka teringat galery milik Jenderal Prana dan langsung menuju ke sana atas arahan dari Sangga. Istikah sudah mulai lelah karena belum makan dari siang.


Sesudah sampai di galery mereka masuk ke dalam galery dan Istikah duduk di sebuah tempat duduk. Yanti, SPG yang pernah bertemu dengan Istikah dan Sangga datang mendekat dan menundukkan kepalanya.


"Selamat malam Mas. Ada yang bisa saya bantu?"


"Mas, Tolong kau belikan makan Istikah dulu, beli saja kue kue dan nasi ayam saja!" Suruh Sangga ke Dirga.


"Oke Sang!" Dirga langsung pergi.


"Mbak, masih kenal saya kan?" tanya Sangga.


"Ada apa dengan mbak Istikah?" tanyanya lagi.


"Mbak, Jenderal Prana ada?" tanya Sangga.


"Ada di dalam, ada apa?"


"Tolong bantu saya memapah Istikah ke dalam. Saya mau bertemu dengannya!" ucap Sangga.


"Baik mas." Yanti membantu Istikah ke dalam dan masuk ke ruangan Jenderal Prana yang sedang bersama istrinya.


"Malam, pak!"


"Malam...Masya Allah Sanggaaa!!!' Prana yang melihat Sangga langsung membantu menidurkan Istikah di sofa.


"Masya Allah, Istikah kenapa nak Sangga?" tanya istrinya. Sangga yang baru berdiri langsung dipeluk oleh Jenderal Prana. Sangga membalas pelukannya. Tak berapa lama kemudian Jenderal Prana melepas pelukan Sangga, dan menghapus air matanya begitu juga dengan Sangga.


Dirga datang dengan membawa banyak makanan dan narohnya di atas meja.


"Istikah tidak sadar lagi, Sang?" tanya Dirga.


"Iya mas, tenang saja, saya pegang dia dulu!" Sangga duduk di samping Istikah dan menempelkan tangannya di perutnya dan membuang energi buruknya yang berwarna hitam ke atas.

__ADS_1


"Hmm..Mas Sangga...!" Istikah membuka matanya.


"Kita makan yuk. Ini mas Dirga sudah membelikannya!" Istikah duduk. Sangga mencuci tangannya dengan hand sanitizer dan tisue basah.


"Bismillahirohmannirohim." Sangga mengambil nasi sedikit dan sepotong kecil daging ayam dan menyuapi Istikah. Istikah makan dengan lahap. Sesudah menghabiskan makannya Istikah minum air putih yang banyak.


"Bagaimana, sudah enakan?" tanya Sangga.


"Terima kasih masku!" Dia tersenyum kembali. Wajahnya kembali segar dan merona.


"Sangga, kamu bawa saja Istikah ke rumah sakit!" ucap Prana.


"Tidak perlu pak. Biar saya yang merawatnya." Sangga merapikan rambut Istikah.


"Kalau begitu, kamu buka kamar di hotel saja, biar saya yang bayar!" Prana melihat ke Dirga.


"Baik, komandan!"Sangga langsung setuju dengan itu.


"Pak, jangan dulu kasih tau pak Rajasa ya pak!" ucap Sangga ke Prana.


"Baiklah kalau itu maumu. Nanti kita bicara lagi. Oh iya, saya lihat kalian belum punya pakaian lagi? Ambil saja disini!" Sangga tersenyum. Kemudian Sangga dan Dirga ke toko dan memilih pakaian untuk Sangga dan Istikah. Istikah masih di dalam ruangan dan mulai bisa bergerak lagi. Istikah menyusul ke toko ditemani oleh istri Jenderal Prana. Istikah memilih beberapa kaos dan celana panjang.


Mereka akhirnya pulang dan menuju ke hotel yang biasa mereka gunakan untuk menginap kalau ada tugas dari kepolisian Dirga memberikan pesan kepada manager hotel untuk merahasiakan identitas mereka dan menolak tamu tanpa seijin dirinya.


Sampai dikamar, Istikah langsung mandi air hangat. Tak berapa lama kemudian dia langsung istirahat di tempat tidur. Dirga dan Sangga bergantian Dirga tidur di sofa dan Sangga tidur di  kasur yang satunya lagi.


Mereka bangun pagi dan Istikah tampak sangat segar. Sarapan dibelikan oleh Dirga, dan mereka makan bertiga dengan lahap.


"Sang. Kamu masih mau membantu kepolisian?" tanya Dirga.


"Hmm, belum tau mas, aku juga masih bingung. Tunggu seminggu lah, aku akan memikirkannya."


"Baiklah, kalau begitu, aku ijin ke kantor dulu. Nanti aku balik sore, ya! Jangan diapa-apain si Istikah! Hahahaha."  Dirga tertawa.


"Asem kau. Mas, aku minta tasku. Dulu apakah tas kecilku ditemukan?" tanya Sangga.


"Hm, susah Sang. Ada di bagian barang bukti. Tapi tas mu aman kok! Nanti aku tanya dulu sama Jenderal Prana, mudah-mudahan bisa dibantu!"


"Ya bantulah mas. Tapi semua utuh mas? Ada dompetku dan semua uangku di sana."


"Hm kita telpon saja sekarang. Kamu yang bicara ya!"


......


......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2