LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 8.


__ADS_3

Bab 8.


“Pimpin langsung penggerebekan untuk mengamankan sodara Dira!” Perintah Bromo. Langsung saja AKP Dirga bergerak dan menuju kelokasi yang dituju.


“Terima kasih nak Sangga. Ya Allah, saya senang sekali, kalau nanti Dira bisa ditemukan. Dia anak baik, dan dia anak yang cantik.” Prana masih berdoa untuk keselamatan dan dimtelahkan pencarian Dira.


Setengah jam kemudian, ada telpon ke Kolonel Bromo dari AKP Dirga.


[“Halo, siap komandan!”]


[“Ya halo AKP! Bagaimana sudah ketemu?”]


[“Sudah AKP, telah sesuai dengan lokasi dan foto yang saya punya, mereka telah ditemukan!”]


[“Alhamdulilllah! Terima kasih AKP! Amankan segera ke markas kita!”]


[“Siap komandan!”]


Kemudian Kombes. Bromo memberitahukan.


“Hm, telah ketemu!”


“Alhamdulillah Ya Allah! Terima kasih nak Sangga!” Jenderal Prana memeluk Sangga sambil menangis. Kombes. Bromo pun merasa terharu.


“Terima kasih nak Sangga. Kamu penolong kami!” Setelah menghapus airmatanya, Jenderal Prana langsung menelpon kakak kandungnya.


[“Halo, mas Rajasa! Ada kabar baik!”]


[“Apa dek? Kabar apa?”]


[“Dira ditemukan!”]


[“Apa?? Anakku dimana??”]


[“Kamu kesini saja, nanti saya kasih shareloknya!”]


[“Ya saya segera kesana.”] Telepon ditutup.


“Ya Allah, akhirnya kamu ditemukan juga Dira.” Prana memandang foto Dira dan tersenyum.


“Nak Sanggabuana, nanti kamu ungkap semua pelakunya!”


“Baik pak!”


Sejam kemudian, mereka kedatangan seorang wsyanum yang dijaga oleh AKP Dirga dan Briptu. Doni.


“Lapor komandan! Ibu Dira telah datang!”


“Ya Allah, Dira…..” Jenderal Prana langsung memeluknya.


“Hm, paman. Kok paman ada disini?” Dira langsung mengenal pamannya.


“Sini nak, ayo duduk. Kamu darimana saja, sayang, kamu kok menghhilang telah lama, kamana saja, nak??” Jenderal Prana masih terosak.


“Paman, saya tidak tau paman, saya tidak ingat. Saya tidak ingat kejadian pada waktu itu!” Jawab Dira.


“Tenanglah, nak. Papamu sedang mengarah ke sini, kamu telah makan nak?” tanya Jenderal Prana.

__ADS_1


“Belum paman!”


Briptu. Dirga langsung membeli makanan yang banyak dan ruang besar itu menjadi saksi bertemunya kembali sang paman dengan keponakannya.


“Assalamualaikum.” Seorang laki-laki bersama Briptu. Joko masuk.


“Dira!!” Pak Rajasa lari dan memeluk dan mencium pipi Dira berkali-kali.


“Papa….!” Dira masih terdiam dan bingung dengan kejadian itu.


Mereka akhirnya kembali duduk. Pak Rajasa masih memeluk Dira, anak semata wayangnya yang selalu dia cari telah 1 tahun ini menghhilang.


“Prana, bagaimana Dira bisa ditemukan?” tanya pak Rajasa.


“Ini, nak Sangga yang menemukan! Dia yang bisa melihat keberadaan Dira tadi pagi, melalui fotonya.” Pak Rajasa memandang Sangga, dan Sangga tersenyum.


“Nak Sangga, terima kasih nak Sangga!


“Iya pak, saya hanya membantu pak Prana saja.” Sangga kembali menundukkan kepalanya.


“Nak Sangga. Kami sangat berterima kasih. Nanti kamu ke rumah saya, ya. Saya mau berterima kasih kepadamu. Prana, ajaklah Sanggabuana!” ucap pak Rajasa.


“Ya, nanti aku ajak dia. Sekarang masih belum bisa, karena dia sedang membantu Kombes. Bromo mengungkap beberapa kasus yang masih belum diselesaikan!”


“Baik, terima kasih nak Sangga!” Pak Rajasa memeluk Sangga.


“Sama-sama pak.” Sangga tak banyak menjawab.


Mereka berdua pulang ke rumah, dan kembali semua bubar. Masih berkumpul di ruangan itu, AKP Dirga kembali memberikan tiga kasus kepada Sangga. Semua personel untuk bergerak menangkap sang pelaku kejahatan telah siap.


“Kasus ketiga ini, agak aneh mas Bromo. Ini adalah kasus pembunuhan seorang PSK. Kami telah mempunyai dua tersangka karena mereka terbukti bersama dengan PSK tersebut sebelum terbunuh. Tapi mereka masih belum mengaku. Kami hanya ingin kebenaran saja. Apakah benar mereka yang membunuh atau ada pelaku lain yang tidak kami ketahui!” Dirga memberikan foto PSKnya.


“Hm, dia dibunuh oleh Mucikarinya. Dia telah meracun dengan menggunakan sianida. Tapi sayangnya kedua orang itu sengaja dimasukin sianida di kantong  plastik di tasnya. Benar?” tanya Sangga.


 “Wah, hebat mas Sangga. Saya sengaja tidak memberitahukan mengenai sianida tersebut, tapi mas Sangga telah mengungkapnya! Jadi kedua orang itu hanya korban?” tanya AKP Dirga.


“Berarti mas Dirga sedang mengetes saya,ya?”


“Hahaha, tidak, Cuma kadang orang perlu penegasan saja, mas Sangga. Jadi bagaimana?”


“Tangkap mucikarinya, karena nanti malam dia akan kabur!” Perintah Sangga.


“Baik. Briptu. Doni! Siapkan personel! Tangkap!!” Perintah AKP Dirga.


“Baik, siap laksanakan!” jawab Briptu. Doni.


Mereka langsung bergerak untuk menangkap mucikarinya.


Sangga mengambil gelas minumnya, setelah meneguk dia menyenderkan punggungnya.


“Mas Sangga tidak merokok?” tanya AKP Dirga.


“Tidak, mas. Bagaimana kasus selanjutnya??” tanya Sangga.


“Untuk kasus yang keempat ini, mengenai Narkoba, dia pengedar Narkoba. Cuma dia tak bisa dianangkap, licin! Pengedar kelas bawah, tapi dia sangat punya peranan penting dalam menentukan distribusi. Ini fotonya!”


Setelah melihat foto itu, kembali Sangga merapalkan bacaan doa.

__ADS_1


“Hm, mas…Saya mohon maaf, orang ini ada dekingan dari seorang oknum polisi!” Sangga melihat penjahatnya sedang berada di sebuah rumah seorang polisi.


“Hah!! Bener?” tanya Dirga kaget.


“Iya, dia dari kantor ini juga.”


“Siapa?” Sanggabuana memberikan sebuah nama.


“Ada nama itu?” tanya Sangga.


“Ya ada. Saya tangkap sekarang juga! Tunggu disini!” Karena marah, AKP Dirga langsung keluar dan turun ke bawah,menemui seorang polisi dan menangkapnya. Kombes. Bromo ikut turun bersama Sangga, hanya Sangga tak mau terlihat, jadi dia melihat dari jauh saja.


“Brengsek lo!! Jadi kamu yang melindunginya? Bawa dia ke sel!!” AKP Dirga telah memborgol oknum polisi itu. Dia tidak melawan karena sebelum diborgol telah dikepung oleh lima orang serse dan langsung dilumpuhkan.


“Segera tangkap pelaku, dirumahnya!!” AKP Dirga menunjuk ke oknum polisi tersebut.


Kombes. Bromo langsung mengajak Sangga kembali ke ruangannya lagi, karena telah aman.


Setengah jam kemudian, AKP Dirga masuk ke dalam ruangan lagi dan melaporkan kalau mucikarinya telah dia tangkap. Satu kasus lagi telah terungkap, jadi telah ada empat kasus terungkap. Hal ini menjadi perhatian dari beberapa atasan Bromo yang melihat hasil luar biasa karena diselesaikan 4 kasus hanya dalam 2 hari, bahkan satu kasus seorang Jenderal bintang satu, terungkap dengan cepat.


Beberapa media mulai mencium adanya pihak ketiga yang membantu kepolisian dalam mengungkap kasus-kasus tersebut dengan cepat. Bahkan beberapa media luar negeri juga telah grasak-grusuk. Hal ini membuat Kombes. Bromo mengatur siasat dengan Irjen Prana untuk meneruskan pengungkapan banyak kasus di sebuah hotel.  Sehingga suatu hari, pak Rajasa, kakak Irjen Prana bermaksud menemui Sanggabuana di hotel dimana Sangga berada.


Pak Rajasa datang bersama dengan Dira, membawa beberapa potong pakaian dan makanan. Di hotel, Sangga hanya ditemani oleh AKP Dirga dan Briptu. Joko, kadang-kadang Briptu. Doni. Mereka bertiga bergantian menjaga Sangga. Sangga dijadikan asset oleh mereka karena telah enam kasus diungkap dengan cepat.


“Selamat pagi, mas Sangga,” ucap pak Rajasa sambil memeluk Sangga. Sangga yang baru selesai mandi menyambut pelukan pak Rajasa. Dira mencium tangan Sangga, tapi dia cepat Tarik. Sangga merasa usia mereka sama, jadi tak pantas kalau Dira mencium tangannya.


“Mas Sangga,”ucap Dira.


“Ya Dira, gimana kabarnya?”


“Baik mas. Mas tambah ganteng aja, hihihihi,” balas Dira.


“Ah, bisa aja kamu.”


“Nak Sangga, ini saya bawa beberapa kaos dan celana Jeans, mtelah-mtelahan muat,” ucap pak Rajasa.


“Wah,merepotkan bapak saja, saya masih banyak baju dan celana. Tapi terima kasih ya, pak.”


“Nak Sangga, saya belum sempat berterima kasih kepada nak Sangga. Ini juga ada uang untuk keperluan nak Sangga sehari-hari. Terimalah!” Pak Rajasa meletakkannya di tangan Sangga.


“Ya, terima kasih pak, saya bingung kalau mau menerima uang, karena saya telah cukup sehari-hari. Tapi terima kasih pak.”


“Oh iya nak, pak AKP. Saya masih penasaran dengan kasus anak saya, Dira. Dia diapakan oleh temannya itu, dan apakah nak Sangga bisa membantu juga?” tanya Pak Rajasa dengan nada meminta.


“Ya, Insya Allah pak,” balas Sangga.


Dia merapalkan bacaan doa sambil memegang pundak Dira.


“Dulu, Dira sedang bermain ke mall, dan bertemu seorang teman wsyanumnya yang bersama dengan pacarnya. Terus….Hmm…Dira mengikuti mereka ke sebuah rumah dan dia…Dikasih obat tidur.” Sangga terdiam dulu.


“Hm, pacar temannya memperkosa Dira….!” Sangga terdiam dan melihat Dira menutup mulutnya dan menangis.


“Papa Huuuuhuuuu…Aku telah tidak suci lagi….Huuuuuhuuuu…” Dira tersedu-sedu menangis di pelukan pak Rajasa.


.......


.......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2