LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 29.


__ADS_3

Bab 29.


"Kalau begitu, jangan disini! Kita di kamar saja!" ucap pak Rajasa.


"Oke." Mereka langsung berjalan ke dalam kamar pak Rajasa. Karpet digelar dan mereka bertiga duduk bersila dan berpegangan tangan.


"Siap?"


"Siap!"


"Oke.sekarag pejamkan matanya!" Mereka memejamkan mata, Sangga merapalkan doa dan mulai meraga sukma Sangga tarik sukma Dirga dan sukma pak Rajasa.


Sesudah sudah berada di dimensi lain, Sangga memberikan instruksi.


"Sekarang buka mata kalian!"Dirga dan Rajasa membuka matanya.


"Gelap nak Sangga!" ucap pak Rajasa.


"Kita dimana nak Sangga?" tanya pak Rajasa lagi.


"Kita ada di dimensi lain. Kalian akan aku ajak menjelajah waktu pada saat perampokan barangnya. Siap?" tanya Sangga.


"Oke siap." Sangga merapalkan doanya dan mereka masuk ke lorong waktu dengan cepat, tubuh mereka semua bergetardan masuk menembus cahaya yang menyilaukan mata. Mereka bertiga menundukkan kepala dan menutup matakarena silau.


WUSSS


Tampak sunyi dan gelap, mereka bertiga kembali membuka mata mereka.


"Hm bagaimana pak Rajasa? Bisa lanjut?" tanya Sangga.


"Wow, pengalaman meneggangkan." Pak Rajasa terkekeh dan mengelus dadanya.


"Oke sekarang kalian tutup matanya, hitungan ke tiga kalian buka matanya dan jangan mengeluarkan suara apapun!"Sangga mengingatkan.


"Oke!" Jawab mereka berdua. Sangga merapalkan bacaan doa.


"Satu...Dua...Tiga!" Mereka bersmaan membuka matanya. Sangga menaroh jari telunjuknya di depan bibir.


Mereka diam. Mereka sudah ada di dalam gudang dan banyak sekali tumpukan kain-kain di sekeliling mereka. Ada suara orang berbicara dan tertawa. Sangga mengambil HP nya dan mulai memvideokan kegiatan mereka.


Ada sebuah mobil box yang terbuka pintu belakangnya dan satu orang ada di dalam box. Dua orang mengangkut gulungan kain ke atas mobil box. Ada tiga orang lagi yang dimana dua orang berbaju seragam, dan stunya makai kaos. Mereka lagi minum kopi bersama.


Yang pakai kaos sedang menghtung uang dan dua orang karyawan gudang sedang melihat dua orang angkut kain ke dalam mobil box. Sepuluh menitkemudian, mereka menutup boxnya, dua orang ada di dlaam box belakang dan satulagi menutup pintu boxnya dari luar. Dia langsung menuju ke belakang kemudi.


"Ini pak, pembayarannya!" ucap pemakai kaos.


"Oke, terima kasih. Semoga lancar!" ucap salah satu yangmemakai seragam.


"Oke, aku pamit dulu!" Mereka bersalaman dan yang memakai kaos masuk ke mobil depan sebelah kiri. Pegawai satunya membukakan pintu gudang. Sesudahmobil itu keluar dari gudang, pintu ditutup lagi.


"Jang, mana bagian gue?"


"Ini Han, sudah gue bagi dua!"


"Siplah. Kita kerja sudah sepuluh tahun, tapi baru kali ini kita punya duit banyak, Biasanya pas-pasan aja tiap bulan. Gue mau beli motor buat anak gue!" Sahut si botak memakai seragam.


"Jang, gue gue kok jadi takut ya?" tanya si Han.

__ADS_1


"Kenapa Han, halah jangan dipikirkan lagi, disini pekerjaan kita kadang tidak dihargai! Pimpinan kita pada mau enaknya sendiri. Lihat aja di Joko! Baru jadi Manager sudah banyak tingkah. Mobilnya dipamerin terus ke kita,


padahal dia dulu bareng-bareng kita kere!"


"Ya jangan begitulah. Tapi pak Rajasa baik sama kita. Kalau hari raya dan bonus, beliau pasti melebihkan untuk kita berdua. Sudahlah Jang. Minggu depan kita off dulu ya, aku kok kayak bersalah kepada perusahaan, terutama pak Rajasa yang sudah baik kepada kita! Kalau kita tertangkap, anak bini kita makan apa, Jang?"


"Ya sudah, kalau itu mau loe, tapi jangan ada yang bocorin ya!"


"Iya dong, kita mau cari mati apa?"


"Ayo kita masuk saja, sebentar lagi yang sholat Jumat pada pulang!"


Mereka berdua masuk ke dalam kantor yang ada di gudang.


"Hm, jadi mereka berdua?" Pak Rajasa geram.


"Sudah lengkap Videonya?" tanya Dirga.


"Sudah ada. Ayo kita balik!" ucap Sangga.


Sangga kembali merapalkan doa dan mereka kembali menembus lorong waktu, dan sampai di raga mereka.


"Jadi, bagaimana pak Rajasa?" tanya Dirga.


"Hmmmm..."


"Kita kan sudah ada buktinya, mungkin besok aku akan segera bergerak. Malam ini juga bisa, asal sudah ada namanya dan alamatnya. Kita tangkap di rumahnya!"


"Jangan, saya akan panggil mereka dulu besok!" Pak Rajasa tampak diam.


"Kenapa pak? Kita kan sudah mempunyai bukti rekamannya!" Dirga tampak bingung dengan pak Rajasa.


"Ya sudah kalau begitu. Kita bergerak saja besok!"


"Oke, kalau begitu saya pamit dulu pak Rajasa."


"Ya sudah, kita makan malam saja dulu, yuk."


"Pak, kami sudah kenyang."


"Ya, sudah."


Besok paginya, mereka bertiga ke kantor Rajasa. Kedua orang tu langsung menghadap sekitar jam sembilan pagi. Mereka berlima sudah ada di ruang pak Rajasa. Mereka berdua datang tanpa punya beban, mereka tidak tau kalau hari ini perbuatan mereka akan ketauan dan mereka akan dipecat.


"Selamat pagi pak Han dan pak Kamto!" Mereka bersalaman.sesudah masuk ke ruangan pak Rajasa.


"Baik pak Rajasa. Apa kabarnya?" mereka menyalami Dirga dan Sangga juga.


"Hm, sudah sarapan belum?" tanya pak Rajasa.


"Sudah pak, alhamdulillah." Jawab mereka. Keduanya duduk di sofa berseberangan dengan pak Rajasa.


Rajasa memberikan kode kepada Sangga untuk mengunci pintu ruangannya. Sesudah mengunci, Sangga kembali ke kursinya. Mereka berdua mulai terlihat tegang.


"Bagaimana kondisi gudang? Ada kemajuan kasus pencurian kain di gudang?" Pak Rajasa menyenderkan punggungnya.  "Hm, hm, be-belum pak. Sampai detik ini, kami masih mengusut kasus itu!" Jawab Han yang terlihat gugup dalam menjawab.


"Begini pak Han dan Pak Kamto, mulai detik ini, kalian tidak usah bekerja lagi di perusahaan saya!" Rajasa berusaha tenang.

__ADS_1


"Loh, maksudnya bapak memecat kami berdua???" tanya Kamto kaget mendengar perkataan pak Rajasa. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi mereka.


"Ya, saya memecat kalian, kalian bertanggung-jawab atas pencurian kain-kain itu, kalian kan berdua pemimpinnya!" ucap Rajasa yang masih berusaha tenang. Padahal, Rajasa sudah sangat marah sesudah melihat tampang mereka berdua yang sudah menjadi tikus dalam perusahaannya dan merugikan hampir lima ratus juta.


"Kok, kami yang disalahkan dan dipecat pak? Kami kan tidak tau masalah pencurian itu. Kami bukan pelaku utamanya! Kami tidak mau disalahkan!!" balas Han dengan suara agak tinggi.


"Kenalkan ini, AKP Dirga, kasus ini sudah saya limpahkan ke kepolisian! Jadi kalian berdua harus menjawab semua pertanyaannya!" Rajasa makin geregetan dengan sikap Han.


"Selamat Pagi, saya AKP Dirga!" Dia memperlihatkan lencana kepolisiannya.


"Eh, hmm,si-siang pak Dirga." Han dan Kamto akhirnya menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian berdua jadi mengkeret begitu? Emang kalian punya salah apa? Katanya kalian tidak melakukan pencurian?" tanya Dirga sambil menatap tajam mereka berdua.


"Hm,ma-maaf pak Dirga. Kami memang tidak melakukan apa-apa di gudang. Saya cuma kaget saja, kenapa pak Rajasa sudah menuduh kami melakukan pencurian dan memecat kami berdua! Dan melimpahkan kasus ini ke kepolisian???" Han kembali menjawab pertanyaan Dirga.


"Ya, kami juga tidak mungkin memanggil kalian tanpa adanya bukti! Kalian sudah melakukan aksi saat seluruh karyawan gudang pergi untuk sholat Jumat! Benar tidak?" Dirga mulai ngegas.


"Ehh..Hm..Tidak pak! Beneran saya tidak melakukannya! Kalau kami yang angkut, tak mungkin, pasti ketauan dengan yang lain!!"


'Kok mereka tau apa yang aku lakukan, wah,bahaya nih!'


"Ya, memang bukan kalian yang membawakain-kain itu, tapi kalian menjualnya! Bener??" Dirga pura-pura melakukan gertakan.


"Eh, hmm, maaf pak saya tidak bersalah. Kalian tidak ada buktinya!"


"Bener tidak kalian sudah bersekongkol dengan orang lain dan menjual semua kain itu????" Kembali lagi ke pertanyaan semula.


"Tidak pak, mana buktinya?" Jawab Kamto yang mulai buka suara karena tekanan Dirga.


"Saya tanya sama kalian, kalian memang tidak mengambil kain-kain itu, tapi kalian bersekongkol dengan orang dan mengangkutnya keluar dengan  mobil. Kalian dibayar oleh mereka. Pastinya kalian itu menjual dengan harga lebih murah. Berapa harga segulung kain? Kalian discount berapa persen?" Dirga menjebak dengan pertanyaan panjang.


"Ya, tergantung pak!..Eh, maaf pak..Salah,kami tidak menjualnya. Kami hanya jual yang rusak aja!" Kamto salah menjawab. Dirga dan pak Rajasa tersenyum.


Sangga geregetan dan memegang atas kepala Kamto dan merapalkan sebuah doa. Kamto diam dan lima menit kemudian, Sangga melepaskan tanganya dari atas kepala Kamto.


"Bagaimana? Kamu sudah tau kalau kami sudah melihat semuanya!" Sangga kembali duduk.


"Huuuuhuuu...Maafkan saya pak...Kami saaalaaahhh...." Kamto menangis dan memegang tangan pak Rajasa.


"Heh, Jang! Kenapa sih lo!?? Katanya tidak mau ngaku??" Han kesal melihat Kamto menangis sesegukan.


"Haannn...Jangan berbohong lagi sama mereka Han!" Han tertegun.


"Apa yang kamu lihat tadi?" tanya Han.


"Jangan ngaco kamu, Jang! Kok elo jadi ngaku sih,Jang!" Han menoyor kepala Kamto yang sedang terosak.


"Han, kita sudah diketahui aksinya!" Jawab kamto. Han terkejut dan bengong.


"Bagimana mereka tau? Mereka tak pernah bisa membuktikan Jang! jangan Takut! Kalau kita dituduh dan dipecat kita laporkan mereka, takut amat!"


"Laporkan ke saya saja, pak Han!" sahut Dirga. Pak Rajasa dan Sangga tersenyum kecut.


"Kamu masih tidak mengakui perbuatanmu yang sudah membuat kerugian perusahaan?" tanya Dirga mendekat dengan mengambil borgolnya.


........

__ADS_1


........


BERSAMBUNG


__ADS_2