
Bab 12.
Dirga membawa Sangga masuk ke dalam gedung. Mereka melihat sebuah mayat yang terbujur kaku di sebuah kamar karaoke. Tampak orang itu sudah terbujur kaku dengan posisi tengkurap.
Sangga melihat ke arah mayat itu. Dirga memeriksa tubuh mayat itu. Dirga berdiri dan menghampiri Sangga.
"Sangga, gimana menurut kamu?" tanya Dirga.
"Hm, tolong saya minta fotonya. Sangga berjalan keluar ruangan dan Dirga mengambi foto mayat itu dan mendekat ke Sangga.
"Yuk, kita ke sana saja!" Dirga mengajak ke sebuah tempat. Mereka duduk.
"Nih fotonya!" Ucap Dirga sambil menyerahkan HPnya ke Sangga. Sangga mengambil HPnya. Dan melihat ke arah layar.
"Hm, mas, ini pembunuhan dia yang ketiga, sebelumnya ada dua lagi yang dibunuh oleh pembunuhnya. Pembunuhnya seorang perempuan. Dia sakit hati. Coba cek ke CCTV, mungkin ada pelakunya!"
"Terus sekarang pembunuhnya ada dimana?'" tanya Dirga.
"Dia...Hm, saya masih belum bisa lihat mas.Kayaknya dia punya ilmu, jadi menghalangi saya melihatnya."
"Kalau gitu, sebentar aku ke ruang CCTV dulu." Dirga melangkahkan kakinya ke ruang CCTV. Sepuluh menit kemudian dia datang ke Sangga lagi.
"Ini benar orangnya?" tanya Dirga dan menyerahkan print hasil foto dari CCTV.
"Iya!" Jawab Sangga.
"Terus gimana caranya kamu bisa menembus?" tanya Dirga penasaran.
"Sebentar." Sangga mengambil kayu yang dia temukan di lemari. Sangga memejamkan matanya dan memanggil penunggu kayu dan Leon juga. Sangga sudah melihat dua macan di hadapannya. Satu macan putih dan satu macan hitam. Sangga berbicara dengan mereka denga bathin.
"Tolong cari orang yang ada di foto ini, seret dia ke hadapan saya!" Sangga memberikan perintah kepada dua macannya. Mereka berdua pergi. Sangga minta ke Dirga untuk ke sebuah ruangan privat. Dirga mengajak ke sebuah ruangan sepi yang diantar oleh petugas sana. Sesudah mereka duduk, ruangan dikunci.
"Mas Dirga, nanti tolong saya dijaga ya, saya akan hilang dulu. Nanti kalau saya terdesak, tepok badan saya supaya saya bisa balik.
"Oke, Sang." Dirga mengiyakan.
Sangga diam dan memanggil Leon, Leon datang, Sangga melepas sukmanya mengikuti Leon.
"Leon, kamu sudah menemukan lokasinya? Kemana temanmu yang satunya??" Kemudian Sangga mellihat seekor macan putih penunggu kayu datang dengan menarik seorang perempuan yang meronta-ronta.
"Hei, sini, aku disini!" teriak Sangga. Kemudian si macan putih datang mendekat ke Sangga dan melepas gigitannya di depan Sangga.
"Hei, sudah. Kamu di sini saja!" Perempuan itu duduk dan berdiri. Mukanya sudah luka-luka penuh sayatan dua macan miliknya.
"Hm, kamu siapa?" tanyanya.
"Tak perlu, kamu tau siapa saya!" Jawab Sangga.
"Ada urusan apa kamu sama saya??" ucapnya sombong.
__ADS_1
"Kamu yang membunuh orang di club malam itu?" tanya Sangga.
"Iya. Apa urusanmu??" '
"Kamu segera lapor ke polisi dan serahkan dirimu sekarang!"
"Saya tidak mau! Mereka sudah melecehkan saya!" Dia menggelengkan kepalanya.
"Melecehkan, bagaimana?" tanya Sangga.
"Ya dia sudah melecehkan saya, memperkosa saya tanpa mau membayarnya! Emang saya binatang yang harus melayani mereka? Saya juga mencari uang! Mereka semua menggilir saya!" Jawab perempuan tadi dengan marah.
"Hm, tapi kamu tidak boleh membalas dendam dengan membunuh mereka!" Sangga memberikan nasehat.
"Tak bisa! Sekarang kamu mau apa??" jawab perempuan itu menantang.
"Saya tidak mau apa-apa, cuma kamu harus ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Kamu tidak boleh asal membunuh orang dengan cara kamu sendiri!"
"Kalau saya tidak mau?" tanyanya sinis.
"Saya pastikan kamu tidak akan selamat dari macan saya!! Leon, Wewe, terkam dia!!" perintah Sangga. Leon dan Wewe langsung menerkam dia dan mencakar wajah dan tubuhnya.
"Aaampuunnn...Iya, iya, ampuunn..." Teriak perempuan itu.
"Sudah-sudah. Balik!" Leon dan Wewe melepas perempuan itu.
"Ya sudah, saya kasih waktu 2 jam dari sekarang, kamu harus datang ke kantor polisi dan menyerahkan dirimu!"
"Awas, kalau kamu tidak menyerahkan diri ke Polisi, kamu akan saya habiskan dengan dua macan saya!" Ancem Sangga.
"Ya, saya akan menyerahkan diri saya ke polisi sekarang!" Sesudah perempuan itu pergi, Sangga kembali lagi ke raganya.
"Hmmm...'
"Bagaimana Sang hasilnya?" tanya Dirga penasaran.
"Dia akan menyerahkan ke polisi dalam dua jam, tenang saja. Dia sakit hati dan balas dendam karena dia dipakai jasanya tapi tidak dibayar sama mereka yang dia bunuh!"
"Oh begitu, ya sudah kita tunggu saja hasilnya. Ayo kita kembali ke hotel sekarang!"
Mereka berjalan keluar dan Dirga melapor kepada komandan yang ada disitu.
Mereka langsung ke mobil dan menuju ke hotel. Di hotel, Sangga dan Dirga mandi bergantian dan mereka berdua makan malam di kafe hotel sambil menikmati live musik di sana.
Tiba-tiba Dirga mendapatkan telpon yang mengabarkan kalau perempuan yang membunuh itu sudah menyerahkan diri ke kepolisian di daerah tangerang.
"Sang, sudah menyerahkan diri pembunuhnya. Kata kawanku, dia mukanya penuh dengan luka goresan. Apa macanmu yang melakukannya?" tanya Dirga sesudah menutup telponnya.
"Iya mas. Mereka yang melakukan, karena dia ngotot tak mau menyerahkan diri ke polisi!" jawab Sangga.
__ADS_1
"Hmmm...Baguslah. Saya yakin sekarang orang juga mau jahat kayak apapun, akan berpikir kembali dengan adanya kamu!"
"Nah itu dia, saya jadi malah takut mas. Saya jadi inceran para penjahat!" Sangga sangat takut dan dia hanya ingin menjadi orang biasa saja.
"Ya tenanglah, kamu aman, untuk sekarang ini dan seterusnya, kami tidak akan memberitahukan siapapun keberadaan kamu!" Jawab Dirga.
"Tapi, aku mau hidup normal mas."
"Ya, tenang saja!" Sesudah makan mereka kembali ke kamar.
Selama satu minggu, mereka berdua tidak kemana-mana dari hotel. Sampai satu hari, Pak Rajasa datang ke kamar hotel bersama dengan Istikah.
"Selamat Siang mas Sanggabuana." Pak Rajasa masuk bersama Istikah.
"Eh, siang pak. Apa kabarnya?" tany Sangga dan Dirga bersamaan.
"Baik, gimana kabarnya, mas?" tanya pak Rajasa ke Dirga dan Sangga.
"Baik pak, sama Istikah lagi?" tanya Dirga.
"Iya, dia katanya mau ketemu pujaan hatinya!"
"Apa sih paman! Aku cuma mau kasih makanan buat Sanggabuana saja kok...." Istikah tertawa malu tapi dia cemberut juga karena diledekin oleh pak Rajasa.
"Masa sih? Sini aku coba? Memang buat masakan apa Istikah?" tanya Sangga sambil melirik ke Dirga yang tersenyum pahit.
"Hmmm...Ini loh Sanggabuana, aku buat macaroni schutel, enak deh."
"Suapin donk mas Sangganya..." Dirga meledek Istikah lagi.
"Oh, mau disuapin mas?" tanya Istikah senang.
"Eh, ndak ndak, kamu itu mau aja diboongin sama AKP kampret itu!"
"HAHAHAHA." Mereka tertawa, begitupun Dirga yang terpingkal-pingkal.
"Ayo mas Dirga, ini aku taroh ya disini," sahut Istikah.
"Iya, makasih. Kok belum disuapi mas Sangganya?" Dirga kembali meledek.
"Sudah mas! Jangan godain anak orang terus, kenapa??!!" Sangga ngambek.
"Cieee...Tuh kan, mukanya jadi kusut kayak benang layangan abis tarik-tarikan! hahahaha."
"Beneran mau disuapin sama aku, mas Sangga?" tanya Istikah sekali lagi. Dia menatap sendu ke mata Sangga. Sangga terpana akan kecantikan wajah Istikah yang masih alami seperti orang desa kebanyakan.
"Istikah, kamu kok tambah cantik aja sih?" Sangga terkesima dengan pancaran cahaya yang dipancarkan oleh wajah Istikah.
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG