
Bab 9.
“Tenanglah nak, kamu yang sabar ya…Semua memang harus kita ketahui, walaupun pahit. Jangan menangis sayang. Kita harus menangkap pelakunya!” balas pak Rajasa. Sangga melihat ke arah AKP Dirga.
“Agak susah pak, tapi kita bisa menjebaknya dengan menggunakan Dira lagi. Nanti Dira akan kita arahkan! Tapi…Barang buktinya kita susah mengumpulkannya!” AKP Dirga menjelaskan.
“Hm, ya kita akan usahakan AKP. Terus bagaimana kelanjutannya?” Pak Rajasa menunggunya. Sangga kembali memegang pundak Dira.
“Hmm…Setelah itu Dira diberikan sebuah obat dan dilakukan…Pencucian otak dengan berbagai cara. Sepertinya ini sebuah komplotan penjualan manusia pak. Telah banyak yang menjadi korbannya!” Sangga terdiam kembali.
“Kalau begitu kita akan siapkan personelnya, mas Sangga. Ungkap lokasi keberadaannya dan berikan sebuah nama, nanti saya buatkan dulu surat ijin penggeledahannya!” AKP Dirga sangat antusias dalam kasus ini,
“Tolong AKP, tangkap mereka!” Pak Rajasa memberikan support kepada AKP Dirga.
“Baik pak, akan saya laporkan dulu kepada Jendral Prana, dan mohon maaf, bapak dan nak Dira nanti segera ke kantor dulu untuk melakukan pengaduan dan pelaporan, sehingga mereka bisa segera diringkus!” Saran AKP Dirga.
“Baik, saya dan anak saya ke sana dulu. Abis ini saya akan kembali lagi ke sini!” Jelas Rajasa.
“Baik, saya akan kordinasikan juga dengan Briptu. Doni di lapangan. Kasih info saya kalau telah selesai pengaduannya dan akan saya lanjutkan untuk surat penangkapannya! Nama dan lokasi nanti saya update lagi!”
“Baik AKP. Hm, ayo nak kita ke kantor polisi dulu!” tutur Rajasa.
“Baik.” Mereka berdua ke kantor polisi. Sangga dan AKP Dirga makan pagi di kamar.
“Gimana menurutmu mas Sangga. Tadi menurut penglihatanmu, apakah ini telah skala besar?” tanya Dirga mencari tambahan data.
“Telah, mereka juga telah mempunyai jaringan prostitusi online dan penjualan organ tubuh manusia.” Sangga menjelaskan dengan rinci.
“Waduh, kita akan mengungkap kasus besar lagi Sangga. Bisa terkenal kamu nanti!”Dirga tertawa.
“Nah saya tidak mau terkenal malahan!” Sangga mencebikkan bibirnya.
“Ya itulah kenapa kita berusaha untuk menyembunyikan identitasmu dan kamu juga harus bisa menahan diri untuk keluar dari sarangmu ini!”
“Oh ya telah. Mas Dirga, saya ada rencana mau pulang ke kampung dulu. Saya mau urus dokumen penduduk saya dan mengambil ijazah SMA saya. Rencananya, saya akan mendaftar kuliah mas. Saya ingin kuliah, kali saja nasib saya bisa berubah.” Sangga ingat kalau ijazahnya belum diambil.
“Oh, baik, saya akan melaporkannya dulu kepada komandan. Dan akan saya antar kesana!”
“Wah, terima kasih mas. Mas Dirga kayak pengawal saya saja. Saya telah menganggap mas Dirga ini kakak saya.” Sangga mengungkapkan semuanya kepada Dirga.
“Ah, santai saja mas Sangga. Mas Sangga juga telah saya anggap sodara sendiri.” Pembicaraan mereka tertunda karena ada informasi, semua surat telah dibuat dan akan dilakukan proses penggerebekan.
Dalam sejam, semua telah beres, jaringan prostitusi online yang diketuai oleh seorang artis juga telah terbongkar dan semua orang yang terlibat dianangkap. Pak Rajasa sangat puas dengan hasil kerjasama Sangga dan kepolisian.
*
Hari itu, Sangga bersama dengan AKP Dirga mengarah ke Cirebon, kampung halaman Sangga. Sampai di sana, Sangga langsung menuju ke rumahnya yang ternyata telah ada bangunan rumah yang telah jadi. Melihat rumah itu, Sangga sempat bingung dengan posisi tanah rumahnya. Kebetulan Sangga mendatangi rumah lek Kamto yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah turun dari mobil, dia melihat seorang wsyanum yang dia kenal. Ya benar, dia Anindiana, kawannya di SMA, anak pak Kardi, rentenir yang membakar rumahnya.
Sanggabuana dan Diana saling menatap, tapi Sangga bersama AKP Dirga menuju ke rumah lek Kamto.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam..Eh Sangga!” Lek Kamto kaget dengan kehadiran Sanggabuana yang telah berbeda. Dia terlihat keren dan sangat rapi.
“Gimana kabanya, lek?” Sangga bersalaman dengan Kamto.
“Baik, ayo masuk Sangga. Kamu kemana saja? Kamu sekarang telah sukses, ya?” Lek Kamto senang melihat perubahan pada diri Sangga.
“Saya di Jakarta lek, sekarang jadi penjual cilok dan batagor di Jakarta.”
“Oh, ya tidak apa-apa yang penting halal. Oh iya masuk, kita ngobrol di dalam saja.” Lek Kamto mengajak Sangga dan AKP Dirga ke dalam rumahnya yang kecil. Mereka duduk lesehan dibawah.
“Eh, mas Sanggabuana, kapan datang?” tanya istri lek Kamto.
“Barusan, bagaimana kabarnya teh? Si kecil mana?” tanya Kamto.
“Tuh, lagi tidur,” jawab istri lek Kamto.
“Lek, itu kenapa ada rumah baru di atas tanah saya?” tanya Sangga heran.
“Nah, itu dia. Itu rumah dibangun sama pak Kardi, kan dia merasa telah memiliki tanahmu karena hutang emakmu!”
“Ya, kan dia juga tak memberitahukan kuitansi emak pinjam uang. Saya akan ambil rumah itu! Kalau tidak mau akan saya bayar saja semuanya!”
“Wah, kamu sudah kaya, Sang!”
“Bukan kaya, tapi mungkin cukup untuk membayar semua biayanya!” Jawab Sangga merasa tak enak dikatakan orang kaya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pak Kardi keluar diikuti oleh Diana yang menatap Sangga dengan mata berbinar. Sangga cuek saja, karena tak tertarik dengan wsyanum sombong yang telah mencari masalah terus dengan dia sejak di sekolah.
“Ada apa kalian kemari? Mau ambil tanah ini? Hahahaha, tidak bisa, tanah ini telah menjadi milik saya!” Pak Kardi dengan sombong menjawab dari teras rumahnya. Sedangkan Sangga dan yang lain masih ada diluar rumahnya yang berbatas pagar kayu pendek.
“Kapan saya menyerahkan tanah saya ke bapak?” tanya Sangga.
“Emakmu kan hutang ke saya! Dan kamu telah saya suruh bayar, tapi tak mau? Jadi ya telah tanah ini telah saya sita! Mau apa kamu?” Kardi menantang Sangga.
“Saya mau merebut tanah ini! Berapa hutang emak dan berapa yang harus saya bayar ke bapak?? Saya tidak butuh bangunan yang telah bapak dirikan, tapi tanahnya saja milik saya! Kalau bapak tak mau bongkar rumah bapak, ya terserah!!” Sangga tak mau kalah memperjuangkan tanah milik orangtuanya, karena itu adalah satu-satunya warisan ibunya.
“Tidak bisa, kalau ditotal utang ibumu saja sepuluh juta, bangunan ini saya bangun dengan uang lima puluh juta! Kamu sanggup bayar enam puluh juta? Saya akan keluar dari sini sekarang, kalau kamu sanggup bayar semuanya!” Sangga mangkel dengan lecehan pak Kardi. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan uang enam puluh juta, sambil memegangnya diperlihatkan kepada pak Kardi.
“Ini da uang enam puluh juta, Cash!! Bapak keluar dari rumah ini sekarang! Saya kasih waktu dua jam untuk mengosongkan rumah ini!! Cepat!!” Kamto telah marah dengan sikap pak Kardi yang selalu cari masalah dengannya.
“Hahahaha, uang haram atau uang halal itu? Saya tidak mau menerima uang haram! Gak jadi saya jual saja rumah ini, sayang, hahahaha…!!” Pak Kardi merasa menang.
“Oh oke, saya akan mengambil hak saya melalui jalur hukum!” Ancam Sangga.
“Halah, jalur hukum. Bukan jalur hukum saja kamu tidak bisa!??”
__ADS_1
“Maksudnya tidak bisa, apa? Saya kan telah mau membayar semuanya! Kenapa bapak tidak jadi??” Sangga sangat kesal.
“Hm, baiklah, saya akan jual dengan 75 juta, saya akan keluar dari sini sekarang!” Kardi merasa kalau Sangga tak mampu membayar dengan harga segitu.
“Baik, akan saya bayar semuanya. Ini uang 75 juta, cash. Kita selesaikan di dalam saja!” Karena beberapa tetangganya telah banyak yang keluar mendengar pertengkaran antara Sangga dan pak Kardi.
“Ya sudah, silahkan masuk!” Sangga, lek Kamto dan AKP Dirga masuk. AKP Dirga telah merasa ada sesuatu yang janggal dari transaksi ini, karena tidak ada bukti apa-apa yang menyebutkan hutang emaknya Sangga dan bukti kepemilikan tanah ini.
Mereka duduk di ruang tamu. Walaupun tampak diluar sederhana, batu batanya tidak diplester, tapi di dalamnya cukup mewah.
“Ya sudah, mana uangnya!” Kardi meminta uang kepada Sangga.
“Tunggu!” Mereka semua melihat ke arah Dirga.
“Saya minta bapak keluarkan kuitansi kalau emaknya mas Sangga telah meminjam uang ke bapak, beserta perjanjian hutang piutang bapak dengan emaknya mas Sangga!” Dirga segera mengeluarkan lencana polisinya.
“Eh, hmm, eh…” Kardi kaget karena dia melihat lencaa Dirga telah perwira menengah.
“Kenapa? Tidak ada? Jadi batal, ya!! Mas Sangga, tolong ambil uang sepuluh juta nya, karena dia tidak mempunyai bukti apapun mengenai perjanjian hutang piutang antara emak mas Sangga dengan dia!!” Dirga memerintahkan kepada Sangga.
“Eh, jangan dong…Beneran kok, emaknya Sangga telah meminjam uang ke saya!” ketus pak Kardi dengan nada agak lebih lembut.
“Tidak bisa, mas Sangga akan membayar kalau ada buktinya!”
“Ya sudahh, tidak apa-apa.” Kardi lemes mendengarnya. Sangga kembali memasukkan uang sepuluh juta ke dalam tasnya.
“Terus apakah bapak punya surat tanahnya?” tanya Dirga.
“Ti-tidak ada!”
“Ini pelanggaran hukum, bapak telah mengambil alih tanah orang dengan paksa!” Dirga pura-pura bicara dengan nada sedikit kasar.
“Eh, maaf kalau begitu! Bapak emang dari kepolisian mana?” tanya Kardi kepada Dirga.
“Saya dari Polda!”
“Hah…Emmmzzzz…!” Kardi menelan ludahnya.
“Bapak kalau masih mau menempati tanah ini, maka rumah ini akan saya segel! Karena bukan milik bapak!! Paham!!” Dirga membentak Kardi Sangga tertawa dalam hati merutuki Kardi.
“Hm, baiklah nak Sangga, saya hanya minta ganti setengah dari harga bangunannya saja!” Pinta Kardi.
“Beneran? Jadi Cuma 30 Juta?” tanya Sangga senang.
“Iya!”
“Sekarang buat kuitansi di atas materai, dan buat surat perjanjian bahwa hutang emaknya Sangga telah lunas dan rumah ini milik Sangga seutuhnya!” Kardi kaget, tapi dia takut dengan melihat Dirga yang terkesan sangar.
......
......
__ADS_1
BERSAMBUNG