
BAB 17.
Mereka semua ke kantin dan makan siang bersama di sana.
"Mas Sangga, nanti kamu belajar setir mobil ya, saya mau kasih kamu mobil buat ke kampus."
"Wah, pak Rajasa ini, sudahlah pak, jangan repot-repot. Aku kan kuliah bisa diantar sama AKP Dirga."
"Hm, kasian AKP Dirga antar kamu terus. Dia kan juga mau pacaran itu! Nanti kamu kalau mau janjian sama Istikah juga bisa nyetir sendiri."
"Menurut saya terlalu wah,deh pak," sahut Sangga.
"Sudahlah nak Sangga, Saya hanya ingin kamu itu aman dan tidak susah kalau mau kemana-mana!" Pak Rajasa memaksa.
"Baiklah, kalau bapak memaksa." Sangga senyum kepada Dirga.
"Siplah, tapi ingat ya Sangga! Saya tetep masih harus menjaga kselamatan kamu! Kamu ini asset kepolisian!" Sahut Dirga.
"Iya mas." HP Dirga berbunyi, dan dia angkat.
"Halo, ya siap komandan!"
"Baik, segera meluncur!" Dirga mematikan HP nya dan mengajak Sangga pergi.
"Sang! Ayo....Ada bom meledak, kita harus ke sana!" ucap Dirga.
"Hah? Bom?"
"Iya, Yuk!" Sesampai di sana, Sangga dan Dirga masuk ke dalam lokasi ledakan bom.
Banyak sudah aparat polisi dan juga karyawan kedutaan yang mau pulang dari kantornya. Ada saksi mata yang menyebutkan bahwa ada korban bunuh diri. Mereka berdua langsung menuju ke lokai. Sangga tak mau ikut mendekat ke jasad korban bunuh diri tesebut, dia hanya menunggu saja di sebuah tempat duduk yang berjarak 40 meter. Dirga mengambil beberapa foto dan kembali mendekat ke Sangga. Dia duduk dan memberikan hasil foto di Hp nya ke Sangga.
"Sang, gimana?" tanya Dirga.
"Sebentar!" Dirga langsung membaca doa dan tampak penglihatan.
"Gimana Sang?" tanya Dirga.
"Hm, dia punya keluarga di daerah selatan, dan anaknya dua. Orang ini sedang butuh uang dan mereka ditumbalkan oleh sebuah asosiasi atau perkumpulan!" Sangga menjelaskan apa yang dia lihat.
"Terus, dimana lokasi organisasi atau perkumpulan itu?" Dirga penasaran.
"Di jawa Tengah!"
"Kalau begitu kamu bantu berikan lokasinya!"
"Bukannya kamu harus punya bukti dulu keterlibatan mereka?" tanya Sangga.
"Oh iya. Kita harus geledah dulu rumahnya. Kasih petunjuk, Sangga!" Dirga akhirnya diberikan sebuah alamat. Dirga langsung menghadap kepada komandan anti *******. Komandan Anti ******* yang bernama Jordan itu datang kepada Sangga.
"Selamat siang mas Sanggabuana!"
"Siang pak!" Mereka bersalaman. Saya Jordan yang memimpin untuk mengungkap jaringan ******* yang
__ADS_1
meledakkan bom ini. Kira-kita benar alamat yang diberikan oleh anda?" tanya Jordan penasaran.
"Ya cek saja dengan kartu penduduknya yang ada dianas di korban!" jawab Sangga.
"Baik, saya akan cek dulu." Dia langsung membawa tas yang ditemukan tak jauh dari ledakan bom itu.
"Pak, dia berarti bunuh diri dengan mobil?" tanya Sangga.
"Ya, ini bom bunuh diri!" jawab Jordan.
"Sudah cek KTP nya? Bandingkan dengan alamat yang saya kasih tadi kepada AKP Dirga!" Sahut Sangga.
Jordan mengambil Karrtu itu dianangan kanan dan kertas berisi alamat aa di tangan kiri. Jordan mengeryitkan dahinya dan memandang Sangga dan Dirga bergantian.
"Hm, iya sama. Bagaimana kamu tau?" tanyanya ke Sangga.
"Ya saya bisa melihat semuanya!" Sangga menjawab sekenanya.
"Hm, kalau begitu, kamu masuk ke anti terorisme!" Ucap Jordan.
"Hahahaha, tidak segampang itu kawan. Ada prosedurnya, untuk sementara ini dia masih dalam pengawalanku!" sahu Dirga.
"Hm, baiklah, hal itu kita bicarakan nanti" Jordan berdiri dan memerintahkan anak buahnya untuk mengerebek rumah sang korban.
"Siang mas Sangga!" Jenderal Bromo datang.
"Eh pak Bromo. Apa kabar?" Mereka bersalaman dan berpelukan.
"Ya begitulah pak! Saya sekarang juga sudah tidak di kantor bapak, saya sudah dibawah,pantauan Jenderal Prana!" jawab Sangga.
"Ya sama saja, bagaimana dengan kejadian ini, Sangga?" tanya Jenderal Prana.
"Siap Komandan! Apakabar?" tanya Dirga.
"Baik AKP! Kamu saya promosikan menjadi Ajudan komisaris polisi."
"Siap Jenderal! Saya laksanakan!"
"Wah,naik pangkat nih??" Ejek Sangga.
"Hahahaha, alhamdulillah," jawab Dirga.
"Jadi nanti kamu tetap dalam pantauan dan pengeawalan AKP Dirga, mas Sanggabuana. Sepertinya kalian berdua akan masuk di anti terorisme!" Jenderal Prana senyu kearah mereka berdua.
"Dibawah,lansug jenderal?" tanya Joid.
"Iya, di bawah,saya langsung! Jadi kalian sudah mulai kerja dibawa komando saya!"
"Siap Jendral!" Jawab Dirga.
"Siap Komandan!" jawab Sangga. Mereka dalam sikap hormat.
"Hahahaha, jangan formal gitu dong!" Bromo menepuk Sangga. Sangga dan Jody terkekeh.
__ADS_1
"Oh iya, saya bisa minta nomerHP mu mas Sangga?" tanya Bromo.
"Baik pak. Saya misscall saja!" Kemudian mereka bertukar nomer Hp.
"Sekarang, kalian berdua bisa tinggal di apartemen saya, dan kalian sudah akan menetap di sana!" Bromo memberikan perintah.
"Tapi pak Bromo, saya ini sudah daftar kuliah. Apa apartemennya dekat dengan kampus saya?" tanya Sangga.
"Oh ya, dekat, lumayan dekat. Kamu bisa dengan naik mobil hanya 15-20 menit perjalanan."
"Baik pak, kalau begitu saya dan Dirga akan segera pindah hari ini ke sana!"
"Ya nanti kita bertiga ke Apartemen saya,"
Dirga dan Sangga langsung pergi ke hotel dan menuju ke apartemen milik Jenderal Bromo. Mereka sampai di sana berkumpul bertiga.
"Sangga, saya akan memberikan kamu laptop dan kamu bisa menggunakannya untuk bekerja dan kuliah. Semua saya dan Jenderal Prana yang menanggungnya. Kamu belajar nyetir ya, di bawah,kan ada sekolah kursus mengemudi, kamu mulai besok belajar. Kalau sudah bisa, ambil simnya!"
"Baik pak. Besok saya ke sana daftar belajar mengemudi!" jawab Sangga.
"AKP Dirga, saya minta kamu ungkap kasus bom tadi. Dan bisa membongkar semua jaringan yang ada. Saya paling benci dengan terorisme. Mereka harus dibongkar sampai akar-akarnya!"
"Baik komandan!, saya akan terus mencari semua informasi yang berhubungan dengan korban bunuh diri itu!" jawab Dirga.
"Baiklah, besok kita harus segera bekerja. Besok pagi akan saya kirim semua alat-alatnya!" Jenderal Bromo langsung pulang dan meninggalkan mereka berdua.
"Mas Dirga, sini saya lihat lagi foto yang tadi...!" Sangga meminta fotonya.
"Sebentar, aku kirim saja ke HPmu!" Dirga mengirimkan fotonya dengan aplikasi chatting.
"Sudah, kamu cek saja sendiri!" ucap Dirga.
Sangga membuka Hpnya dan memberhatikan semua foto-foto yang dikirim olehDirga.
"Hm...."
"Kenapa Sang?"
"Wah,bahaya mas, ini sekte banyak melakukan pencucian otak, dengan faham yang salah!"
"Kenapa kok bisa begitu?" tanya Dirga heran.
"Ya, untuk mencapai tujuan merekalah mas!"
"Hm, mau memporak porandakan semua nya, begitu?"
"Ya merekakan pasti punya pandangan dan ideologi sendiri mengenai hidup beragama dan bernegara. Menurut mereka apa yang mereka lakukan adalah benar!"
.......
.......
BERSAMBUNG
__ADS_1