LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 38.


__ADS_3

Bab 38.


Rajasa menceritakan kejadiannya. Dirga yang ikutan panik, lapor ke Baunaji untuk pamit mencari Sangga. Dirga menghubungi Jenderal Jery dan Jenderal Bromo. Mereka langsung berkordinasi dengan kepolisian setempat. Dan dalam setengah jam beberapa kantor kepolisian di sana bergerak mencari keberadaaan Sangga.


Dirga yang sangat kalut karena Sangga hhilang, langsung difasilitasi Helikopter dan dia terbang ke villa pak Rajasa.


Sampai di sana, villa sudah tampak penuh dengan banyak aparat kepolisian dari berbagai kantor. Dirga menuju ke dalam villa dan langsung mencari Dito. Begitu melihat Dito, Dirga langsung menghajarnya dengan membabi buta!


"Mas Ditoooo!!" Timbul kepanikan dari Dira, dia menjerit karena Dito dipukul dan ditendang habis-habisan oleh Dirga. Beberapa orang polisi langsung menarik Dirga, takut Dito tewas.


"Tangkap DIA!! Amankan sampai Sangga ketemu! Orang itu biangnya! Tangkap semua teman dia


yang pergi ke Stasiun!! Cepat!!" Dirga naik pitam dan mengamuk karena dia tau Ditolah dalang semua ini. Dito yang terluka parah di sekujur tubuhnya langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.


Dira yang tak terima kalau suaminya dituduh yang melakukan, marah kepada Dirga.


"Hei, kenapa suami saya yang kamu tuduh! Hah! Brengsek lo, awas kalau Dito mati, gue akan tuntut lo!!" Dira marah-marah sambil berteriak mengancam Dirga.


"Silahkan! Saya yakin suamimu yang melakukan semuanya,saya pastikan kalau suamimu membusuk di penjara!!" Dirga membalas kebencian Dira.


"Bangsat lo! Mentang-mentang polisi bisa seenaknya menuduh orang!!" Dira masih tak percaya kalau Dito yang merncanakan semua ini.


"Kamu tidak tau?? Kami pernah beberapa kali mergokin Dito bersama perempuan lain, dan itu semua karena kami ingin dia bersama kamu, tau! Dia benci kepada Sangga dan saya yang dua kali menangkap basah dia sedang mengumbar janji ingin menikahi cewek-cewek yang dia gombali! Padahal beberapa hari lagi menikah denganmu! Saya punya buktinya! Saya punya rekaman pada saat Sangga membelamu dari cowok buaya


itu!" Dirga mengambil HPnya dan memperlihatkan rekaman pada saat mereka di kafe Bustomi.


"Bangsat! Tukang selingkuh! Buaya buduk!!" Dira kesal dan dia mengembalikan HP Dirga. Dira menangis sejadi-jadinya. Pak Rajasa yang menyaksikan daritadi pertengkaran Dirga dan Dira berjalan dan memeluk Dira.


"Nak semua itu benar.  Apa yang dikatakan oleh AKP Dirga itu benar! Jangan kau marah sama Sangga, marahlah kepada dirimu sendiri!! Sangga sudah banyak membantu papa, membatumu, membantu banyak orang. Sekarang kamu lebih baik temani Istikah, dia sedang sedih!" Rajasa mengecup kening anaknya. Dira kemudian berjalan mencari Istikah. Mereka berpelukan sambil menangis.


Sejam kemudian, Dirga yang masih bingung mendapatkan kabar bahwa bangkai mobil Sangga ditemukan di Jurang. Mereka semua langsung menuju ke lokasi tempat kecelakaan.


Istikah menangis histeris sesudah melihat bangkai mobil Sangga yang masih mengepulkan asap. Mobil berwarna merah menyala. Mobil Porsche baru yang juga baru sekali dipakai oleh Sangga sedang hancur terbakar.


"Mas Sanggaaaa....!! Mas Sanggaaaaaaaaaaaa.....!!" Berkali-kali Istikah ingin melompat ke jurang, dia ingin mati bersama Sangga di jurang sana. Tapi keberadaanSangga masih belum jelas, apakah masih hdidup atau sudah tiada.


Jenderal Prana dan Jenderal Bromo juga datang ke lokasi. Prana segera memeluk Istikah yang sedang pingsan dan ditunggu oleh Dira dan pak Rajasa.


Malam itu, tim sar gabungan langsung diturunkan ke jurang dan mereka tidak menemukan apa-apa. Tidak ada sisa yang ada, hanya bangkai mobil porsche yang masih menyala membakar bodinya. Jasad Sangga pun belum ditemukan.


\====

__ADS_1


Kita akan menceritakan kondisi Sangga saat ini.


Sesudah mobil masuk ke jurang, mobil itu sempat terbaik beberapa kali, karena pintu mobil terbuka, maka Sangga terlempar keluar dan berakhir disebuah sungai. Sangga terlempar ke beda arah. Dia pingsan selama dua hari dua malam. Anehnya dia dijaga oleh dua macan sungguhan yang rebahan di samping Sangga. Selama 2 hari itu, Sangga sempat beberapa kali ingin dimangsa oleh ular di hutan itu, tapi diusir oleh dua macan tadi


Sampaiseorang nenek datang dan melihat kedua macan tadi.  Nenek mendekat ke Sangga yang sebagian kakinya ada di atas air, walaupun tubuhnya ada dipinggir sungai. Nenek itu berjongkok dan mendeteksi nafas Sangga yang masih ada. Dia menaikkan Sangga ke atas punggung salah satu macan tadi.


Merekaberjalan menyusuri jalan setapak sejauh dua kilometer. Sampai dirumahnya, Sangga langsung diturunkan oleh sang nenek dan digendongnya ke atas kasur. Nenek itu membuat ramuan khusus dari bahan-bahan alami di hutan. Nenek membuka baju Sangga yang sudah terkoyak. Dia gunting semua dan tampak ssebuah kalung dilehernya.


Nenek mengambil Liontin dan kayu yang menggantung. Nenek menganggukkan kepalanya.


"Anak ini yang aku  cari selama ini. Sudah berpuluh-puluh tahun, akhirnya Liontin itu akan bersatu."


Nenek mengelap sekujur badan Sangga yang penuh luka. Semua luka disekujur tubuhnya diobati dengan menggunakan ramuan obat-obatan.


Sudah satu minggu lamanya, Sangga tak sadar-sadar dan sang nenek masih setia mengobati Sangga. Setiap hari lukanya diberikan ramuan obat yang dibuatnya sendiri, selain itu, Sangga selalu dibersihkan dengan mentransfers energi positif ke beberapa tempat yang mengalami luka dalam.


Hari ke sepuluh, Sangga tiba-tiba bangun, dia merasakan sakit yang tidak terhingga di sekujur tubuhnya. Tapi anehnya sakitnya berangsur hilang dan dia bisa bangun duduk memandangi seluruh ruangan. Dia tak sadar kalau dia sudah ditolong oleh seorang nenek. Sangga merasa aneh, liontinnya dipegang masih ada. Tetapi dia dalam keadaan telanjang tak memakai baju dan celana. Selimut yang ada diatas tubuhnya tadi dililitkan ke pinggangnya untuk menutupi auratnya.


Sangga menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan pelan menuju ke luar dari rumah yang terbuat dari bilik bambu. Rumah itu walaupun kecil, tapi dipenuhi oleh kotak dan toples yang berisi banyak ramuan.


"Rumah siapa ini? Aku ada dimana?" Sangga melanjutkan jalannya ke luar dan dia duduk di dipan teras. Tampak samar di kejauhan ada seorang nenek tua yang masih berjalan dengan tegak, walaupun rambutnya sudah beruban semua dan panjang sebahu. Ada iketan kepala di dahinya. Tapi yang membuat dia terkejut, disamping kanan dan kirinya ada macan yang berjalan menjaganya.


"Macan?" gumamnya.


"Selamat jumpa. Saya Sanggabuana, apakah nenek yang menolong saya?" Sangga membungkukkan badannya setengah.


"Angkatlah badanmu! Benar, sayalah yang menolongmu. Selamat datang, anak muda. Saya senang kalau kamu datang ke gubuk saya!" Nenek itu penuh misteri, Sangga sampai heran dan banyak pertanyaan di pikirannya.


Nenek mendekat ke Sangga. "Ayo kita masuk ke dalam."


Nenek berjalan dan Sangga mengikutinya dari belakang.


Sangga duduk di dipan, tempat tadi dia bangun. Nenek melihat ke semua luka di tubuh Sangga. Dia menganggukan kepalanya. Terlihat semua luka Sangga sebagian sudah mengering.


"Kamu luar biasa, fisikmu sangat baik. Kamu memiliki semangat hidup yang tinggi!"


"Terima kasih nek, maaf kalau saya lancang kepada nenek. Dimana letak rumah nenek ini? Dan bagaimana saya bisa ada di rumah nenek?"


"Kamu, nenek temukan di pinggir sungai, dua kilometer dari sini. Sepertinya kamu mengalami kecelakaan mobil. Karena kamarin aku melihat sisa bangkai sebuah mobil yang tidak nenek kenal!"


Sangga langsung sakit kepalanya dan ingat terakhir kali dia sedang ada di mobilnya bersama dengan Dito dan kawan-kawannya.

__ADS_1


"Jangan kau paksakan dulu untuk berpikir. Istrahatlah!"


"Iya nek, aku tak apa-apa. Aku hanya ingat, kalau terakhir aku bersama teman-teman saudaraku di mobilku dan aku dicekik dari belakang menggunakan tali tambang dan aku pingsan!"


"Ya sudah, kamu jangan memaksakan dulu berpikir!" Sangga terlihat memegang kepala belakangnya yang sakit.


"Nenek hanya mau bertanya kepadamu? Bagaimana kau mendapatkan Lontin itu?"t anya nenek.


"Aku bertemu dengan seorang bapak-bapak tua. Aku menolongnya pada saat dia mengalami kecelakaan. Aku tinggal bersamanya, hanya dia akhirnya meninggal dunia karena disantet oleh dukun jahat!"


"Hm, harusnya dia melawan, untuk apa dia mempunyai Liontin sakti tapi tidak dipergunakan?"


"Kakek Kresna memang tidak memperlhatkan kemampuannya, hanya saya merasa ada yang janggal dengan kematiannya. Aku diberikan Liontin ini, seminggu sebelum beliau meninggal dunia. Sejak itu, aku banyak bekerja untuk kepolisian dalam mengungkap kejahatan dan menangkap para penjahat!" Nenek menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan kayu itu?" tanya nenek lagi.


"Kayu ini diberikan kepadaku, dua minggu dari Lionin ini kupakai!! Kakek guru datang kepadaku dan menyuruh aku memakainya!" Sangga menceritaan semuana.


"Ya, kalau begitu semua ceritamu benar!" Sangga ingat mengenai pesan kekek guru mengenai seorang nenek yang akan memberikan sebuah keris, yang bernama nenek Mangok.


"Apa nenek ini....??" Sebelum Sangga mennyelesaikannya.


"Ya saya NENEK LAMPIR!!"


"Masya Allah, berarti nenek yang sedang menunggu Liontin ini?" tanya Sangga.


"Bukan saya menunggu liontin itu, tapi saya menunggu KAMU!"


"Ampun nek, saya tidak berusaha untuk mencari nenek!" Sangga menundukkan kepalanya.


"Sudahlah nek, memang jalan seperti inilah yang seharusnya terjadi. Kamu juga tidak bisa menerima langsung keris tulang sapi itu, kalau kau tidak menguasai semua ilmuku!" Sangga melongo. Bagaimana dia bisa menguasai Ilmu nenek dalam keadaan dia seperti ini. Dan dia sama sekali belum pernah berlatih ilmu beladiri macam apapun.


"Hm, tenang saja nak. Kamu memang sudah dianakdirkan untuk bertemu denganku, pastinya kamu juga bisa menerima dan menguasai ilmuku. Ilmu yang kumiiki hanya tiga, yaitu ilmu ramuan obat alami, ilmu racun dan ilmu penyerap energi!"


"Apakah saya bisa menguasai semuanya nek?? Saya belum pernah belajar ilmu apapun. Dan berapa lama aku bisa menguasai semua ilmu nenek?" tanya Sangga, karena khawatir dirinya tidak bisa memenuhi semua semua ekspektasi nenek.


"Kamu pasti bisa, sekarang istirahatlah, lukamu belum sembuh benar. Masih harus menunggu seminggu lagi, semua lukamu baru sembuh total. Itu juga kamu harus berlatih tenaga dalam dulu, baru kau bisa menguasai semua ilmuku.Tapi bertahap,tidak bisa kamu langsung belajar semua ilmuku dalam sekali latihan! Tapi ingat, yang saya butuhkan hanya semangat dan tekadmu! Karena kita sudah ditakdirkan untuk bertemu!"


"Terima kasih nek!"


.......

__ADS_1


.......


BERSAMBUNG


__ADS_2