
Bab 18.
"Iya juga sih. Terus apalagi yang kamu dapatkan?" tanya Dirga.
"Hm, mereka sering melakukan penyesatan dalam memberikan pengertian ke dalam otak mereka. Jadi mereka sengaja membuat semua yang dia anggap salah dan benar itu adalah tidak ada. Jadi yang bener itu adalah mereka!"
"Oh begitu, kalau begitu mereka sama sekali diubah dong???" tanya Dirga.
"Iya, mereka menjadi sosok antek-antek perkumpulan. Jadi semacam robotlah!" Jawab sangga.
"Kamu bisa masuk ke dalam perkumpulannya?" tanya Dirga.
"Bisa saja. Tapi nanti ya agak maleman!"
"Tidak sekarang saja?" tanya Dirga.
"Terus apa yang harus saya perbuat?" tanya Sangga.
"Kamu cukup masuk saja ke sana dan memperhatikan kegiatan mereka dan kasih informasinya ke saya!"
"Hanya itu?" tanya Sangga.
"Hm, ya. Ya sudah, saya tidak mau memberikan informasi palsu. Kamu bisa pergi sama saya nanti. Jam dua pagi kita meluncur ke sana.Nanti kamu akan bisa melihat semuanya sendiri!"
"Hah? Bagaimana caranya?"
"Ya ikut aku meraga sukma! Nanti saja, kita belum sholat Isya dan makan malam! Laper tau!!" Sangga melempar bantal sofa kecil ke arah Dirga.
"Aduhh...! Hahahaha, iya ya...Aku juga sebenernya laper, tapi stress aku melihat korban tadi! Hancur tidak ada sisa! Namanya juga kena bom, ya!"
"Iyalah, pasti dagingnya kemana-mana itu!" Jawab Sangga lagi.
"He eh. Masih kebayang sampai sekarang!"
"Ya sudah, yuk kita cari makan saja dibawah. Mumpung masih belum malem banget, mungkin masiha ada yang buka."
"Oke, yuk. Kita cari seafood yuk! Sudah lama tidak makan Seafood!"
"Oke, Ajudan komisaris besar! Hahahaha," Sangga meledek pangkat baru Dirga.
"ASEM KAU!!"
"HAHAHAHAHA." Sangga kembali tertawa.
Mereka makan malam ddi seberang Apartemen dan kembali ke dalam kamar. Mereka sholat Isya dan beristirahat. Jam dua pagi mereka bangun. Sangga sholat malam dulu, kemudian Sangga duduk berhadapan dengan Dirga bersila.
"Ayo mas, pegang tangan saya! Jangan dilepas ya! Atau kita saling menggenggam saja! Sudah siap!"
"Sudah. Tapi aku kok deg-degan ya?" Dirga berkeringat dingin.
"Hm, takut ketemu Leon dan Wewe?" Sangga terkekeh.
"Iya, gue takut banget sama macan lo! Buset itu macan gedenya setengah kamar kita di rumah kontrakanmu!" Dirga sampai merinding.
"Iya, santai mas Dirga."
__ADS_1
"Oke deh. Siap ya!"
"Oke."
Sangga merapalkan bacaan doa dan mulai melepas sukma dari raganya. Dirga memejamkan mata sampai mereka berdua berada di dimensi lain.
"Mas, buka matanya dong. Cemen banget sih!" Sangga melepaskan tangannya.
Dirga membuka matanya.
"Eh, kok kita sudah melayang begini?" Dirga melihat raganya yang sedang duduk sambil memegang tangan Sangga.
"Hm, sudah di dimensi lain, Sang?" Dia masih keringetan.
"Sudah yuk, aku panggil dulu Leon dan Wewe!" Sangga memanggil mereka berdua, dan mereka sudah ada di hadapan mereka secepat mata berkedip.
"Aaaummmmmm..."
"Waduh, gede banget Sang! Buset, gigit kagak nih??" Dirga memegang pundakSangga.
"Hm, ayo naik ke atas punggung mereka! Elo naik si Wewe aja, ya!" Sangga menyuruh semua macannya untuk rebahan.
"Wah, takut gue Sang!"
"Hahahaha, cemen kau mas!! Wewe rebah!" Wewe merebahkan tubuhnya sehingga Dirga bisa naik ke atas tubuh Wewe.
"Ayo cepat! Nanti keburu pagi, kita tidak enak kalau pagi! Sebelum subuh kita harus sudah pulang!"Sangga memaksa Dirga dan dia akhirnya naik ke punggung Wewe. Dia memegang leher wewe yang beberapa kali mengaum.
"Hei, jangan kekerasan megangnya mas! Tidak akan lepas kok!" Dirga mulai melepaskan genggamannya kepada leher Wewe dan dia duduk dengan tenang di punggungnya.Sangga naik ke atas punggung Leon. Mereka berdiri dan mulai berjalan.
kedua macan tersebut.
"Hm, Mas, lihat kegiatan mereka!" Mereka melihat beberapa oraang sedang menjerit kesakitan memegang kepalanya dan pingsan. Mereka juga yang pingsan digotong kesebuah ruangan dan dijejerkan.
"Sang, ayo kita mendekat. Apa yang mereka lakukan sebenernya?" Dirga melangkah mendekat ke arah lima orang yang sedang berkumpul.
Dua orang menjerit dan memegang kepalanya, dua orang menjaga di belakangnya.
"Apa yang mereka lakukan Sang?"
"Mencuci otaknya mas!"
"Astaga! Kayaknya mereka ini sekte ya?" tanya Dirga.
"Ya semacam itulah, sekte yang bernaung dan ada dibalik sebuah keyakinan yang salah!"
"Kamu bawa ponsel?"
"Bawa nih! Mau apa?" tanya Sangga.
"Ya videokanlah kegiatan mereka!" jawab Dirga.
"Oke." Sangga memvideokan kegiatan merekadan mereka juga berkeliling ke semua ruangan yang ada di bangunan tempat markas sekte tersebut.
"Oke, kita sudah punya bukti kegiatan mereka. Kalau ada perkembangan, kita akan cari ketua atau pimpinannya!"
__ADS_1
"Pimpinannya tidak ada di sini mas! Mereka ada di luar negeri!"
"Moso? Kok tau?" tanya Dirga.
"Tuh lihat foto itu, ambil gambarnya saja, sekaligus di bawahnya ada namanya juga!"
"Bangsat! Mereka kayak tidak punya hati saja! Orang kok digituin!”
"Ya, namanya juga mereka berusaha untuk mencapai tujuan mereka. Semua cara dihalalkan oleh mereka!" Sangga masih melihat ke sekeliling bangunan sekte tersebut.
"Ayo Sang, kita balik, kayaknya sudah mau subuh." Dirga mengajak Sangga untuk kembali ke alam nyata.
"Oke, kita naik lagi ke atas mereka!" Sangga naik duluan. Dirga sudah naik, tapi mereka seperti mendengar suara teriakan berupa panggilan.
"Hei! Jangan lari kalian!" Panggilan itu membuat mereka berdua berhenti. Leon dan Wewe berbalik arah. Tampak seorang berjanggut putih, bergamis dan bersorban memegang sebuah pecut duduk di seekor kuda berwarna
hitam.
"Aummmm...!" Leon Mengaum.
"Hmm, ada apa kalian masuk ke sini? Apakah kalian mencari mati? Penyusup!!" Bentak si pengendara kuda.
"Siapa kamu??" tanya Sangga memandangnya dengan pandangan penuh tanya.
"Saya pemimpin di sekte ini. Ini adalah daerah kekuasaanku! Kalian sudah melanggar dengan masuk ke dalam wilayah kekuasaanku!"
"Oh, kamu pemimpin sekte inI??"
"Ya, kenapa kalian berdua tidak ijin kepada kami, kalian seperti pencuri! Penyusup!!" Kemarahan mulai muncul di wajah pengendara kuda tadi.
"Wah, kalau itu saya tidak tau, kalau kamu adalah pemimpin disini. Kami berdua minta maaf sebelumnya. Kami hanya ingin melihat aktifitas sektemu yang sudah melanggar nilai kemanusiaan dan nilai keagamaan!" Sangga
menepuk pipi Leon, karena Leon sepertinya sudah tidak sabar untuk menerkam si pengendara kuda.
"AAAUUUUMMMM....!!"
"Hm, itu urusanku! Sekte ini adalah Sekte Bahagia. Semua anggota sekte ini akan merasa bahagia. Tanpa terkecuali! Dan kalau mereka meninggal karena tugas, mereka akan meninggal syahid! Hahahaha...!" Dia tertawa karena merasa hebat dan sombong.
"Kalau begitu kalian memang harus diberantas! Tak boleh di negara ini ada sekte seperti itu! Melakukan pencucian otak dan mungkin bahagia yang salah yang kamu berikan!" Dirga naik pitam karena merasa direndahkan.
"Apa kalian mau ikut kami? Menjadi anggota kami??" Dia meledek Dirga.
"Sekte kami sudah banyak pengikutnya, tenang saja. Kau akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Tapi kalau tidak, kalian akan kuhabisi dengantanganku sendiri!!" Dia tampak kembali marah.
Sangga merapalkan sebuah bacaan doa dan mereka seperti dibentengi dan tidak akan ditembus oleh senjata apapun.
"Hahahaha, kita lihat apakah bentengmu itu kuat?? Kalian anak ingusan!!!" Pengendara kuda langsung mengangkat tangannya dan mengarahkan pecutnya ke arah benteng mereka.
CETAR
CETAR
......
......
__ADS_1
BERSAMBUNG