
Bab 14.
"Leon, Wewe, Jaga mereka disini. Aku akan melacak keberadaan mereka."
"Auuummmm..." Jawab mereka. Sangga kembali ke jasadnya.
"Mereka mengubah jalur. Mereka ke pesisir di bekasi!"
"Sudah tau lokasinya?"
"Ya di sekitar pelabuhan kecil di sana, ada pasar ikan di sana!" Briptu. Doni langsung kembali melajukan mobil ke lokasi. Sesudah satu jam lebih mereka sampai di lokasi dan menemukan ciri-ciri kapal yang sedang akan menepi di dermaga kecil, tempat nelayan menurunkan hasil lautnya. Mereka mengepung dari dua arah, dua boat Polair sudah terlihat mendekat ke kapal mereka. Sangga dan AKP Dirga turun dan berjalan mengendap pura-pura melihat dan manawar ikan, tapi mata mereka menuju ke kapal itu. Kapal boat nelayan yang menjadi incaran mereka terlihat sudah menepi. Ada dua awak kapal yang menambatkan tali.
Mereka masuk kembali ke kapal dan mengeluarkan dua box yang seharusnya berisi ikan segar. Mereka tak banyak menurunkan.box ikan, hanya ada lima box ikan yang mereka turunkan.
Dua orang tadi menunggu di dermaga kayu depan kapal tadi. Sementara ada satu orang berkulit putih dengan topi merah keluar dari dalam kapal dan berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Briptu. Doni terlihat menyamar sebagai pengemis yang membawa karung goni. Dia melwati kapal tersebut sambil mengambil puntung rokok yang tersebar.
Matanya sekali-kali melirik ke kapal tersebut. Orang kulit putih tadi masuk kembali ke dalam kapal. Sangga yang membeli cilok dan batagor dan Dirga yang membeli minuman kemasan. Matanya sambil melihat ke arah kapal tersebut.
"Sang, coba kamu cek lewat foto."
"Oke, aku cek..!!"
Sangga dikasih HP oleh Dirga, dan dia mendapatkan gambaran dua orang yang bertemu pada saat meraga sukma masih ada kamar sedang tergeletak di atas kasur. Mereka sudah dalam keadaan tidak sadar..
"Gimana Sang?" tanya Dirga.
"Hm, masuk sekarang mas, aman, mereka masih tergeletak tidak sadar! Sekarang masuk, jangan sampai mereka kabur!"
"Oke, Dirga memberikan tanda suitan dan banyak polisi yang menyerbu masuk ke dalam kapal dikepalai oleh Briptu. Doni.
"TIARAP!!"
"ANGKAT TANGAN! SEMUA TIARAP!!" Sangga dan Dirga langsung berlari menuju kapal. Mereka masuk dilindungi oleh Briptu. Doni dan mendobrak pintu kamar kedua oang berkulit putih tersebut.
"BANGUN!!" Mereka langsung memborgol kedua laki-laki tersebut. Mereka tampak masih lemas dan ketakutan.
"YOU!" Salah satu laki-laki itu melihat Sanggabuana dan kaget.
"Yes!" jawab Sangga sambil tersenyum sinis.
Mereka langsung dibawa keluar kapal. Di dalam box ikan sudah dibongkar dan tidak ditemukan narkoba didalamnya. Tapi sesudah di geledah, mereka menyimpannya di dalam kamar itu dibawah,kasur. Narkoba yang dbungkus dalam 5 kantung plastik. Semua beratnya 11 Kg, berapa milyar itu harganya?
Kemudian banyak polisi yang datang, sehingga dermaga itu penuh, Sangga masih menunggu Dirga dan kawan kawan mengadakan penelusuran di kapal itu. Sesudah setengah jam kemudian, Sangga dan Dirga kembali ke hotel. Sebelum itu dia masuk ke dalam sebuah cafe untuk makan siang. Di sana mereka makan sambil ngobrol
"CEPAT BERIKAN SEMUA UANG YANG ADA DI MESIN KASIR, CEPAT!!!!" Ada dua orang di sebelah kasir, sedang menodong seorang kasir cafe. Belati menempel di lehernya dan satu lagi menempelkan sebuah senjata api ke perut kasirnya.
__ADS_1
Dirga melihat ke arah kasir, Sangga kaget dan khawatir dengan nasib si kasir. Sang kasir langsung membuka mesin kasirnya. Orang yang memakai topeng dan membawa pistol itu mengarahkan pistolnya ke depan untuk menghalau beberapa pengunjung kafe yang ingin menolongnya.
"AWAS KALIAN, MENDEKAT AKU TEMBAK!!!" Senjatanya mengarah ke tiga orang pengunjung yang berusaha mendekat. Otomatis mereka langsung mundur dan kembali ke mejanya.
"Mas, itu gimana?" tanya Sangga melihat Dirga yang sedikit tenang tapi matanya tajam memperhatikan ke arah perampok yang megang senjata api.
Sangga akhirnya maju dan berjalan menuju ke arah perampoknya.
"Sangga!!" Dirga kaget dan tak sempat menarik Sangga yang sudah berjalan cepat ke arah perampoknya.
"Heh!! Lepaskan dia, kalau kamu mau ambil uangnya, silahkan! Tapi lepaskan orang itu!" Sangga menunjuk ke arah kedua perampok bertopeng itu.
"HEH! Kamu awas, mundur! Kalau tidak mau mundur aku tembak kamu!!"
"Saya tidak takut ditembak! Silahkan tembak kalau berani!" Sanggamerapalkan bacaan doa yang membuat dia tiba tiba menghilang tak terlihat. Si perampok itu melihat ke kanan ke kiri. Ketakutan.
"Jon, hilang Jon! Kemana dia??" Bingung si pemegang senjatanya. Si Joni yang sedang memasukkan uang ke tasnya dari mesin kasir bingung.
"Hah! Kenapa broo??" si Joni tidak begitu memperhatikan ke arah Sangga.
"Itu, orang yang tadi kemana? Kok hhilang??"
"HEI!! Jangan becanda kamu!! Tunjukin batang hidung lo!! Bangsat!!!" Kedua perampok itu merasa was-was. Pistol masih digerakan ke kanan dan ke kiri oleh si perampok. Sangga berjalan ke dekat mereka, walaupun dia tak kelihatan, tapi kalau dia memukul pasti si perampok akan terSanggkal.
Dirga berjalan dengan pelan ke arah si pemegang senjata api sambil mengarahkan pistolnya juga di tangan kanan dan maju terus mendekat, berhenti jarak tiga meter dengan perampoknya.
"Heh! Siapa lagi kau??Polisi??"
"Ya saya polisi, Dirga mengeluarkan lencananya.
"Kuitung sampai tiga! Kalau tidak diturunkan akan kutembak kau!" Ancam Dirga.
DOR
Perampok itu menembakkan sekali ke arah Dirga tapi tak kena dan mengenai tembok.
DOR
Tembakan Dirga pun meleset. Sangga melihat hal ini langsung menghantam pistolnya dan menendang si pemegang belati. Pistol terlepas dan ditendang menjauh oleh Sangga. Kaki Sangga pun melayangken tendangan ke arah pemegang sejata. Dirga langsung mengambil pistol yang terlempar. Dirga langsung meringkus dan memborgol perampok yang megang pistol tadi yang sudah tersungkur di lantai. Sangga menendang belati yang masih dianangan perampok satunya.
Si Kasir langsung kabur dan ditolong oleh beberapa pengunjung. Dua pengunjung langsung meringkus si perampok yang megang belati tadi dan dibantu oleh satu orang lagi yang menginjak tubuh si perampok. Uang yang ada di tas si Joni terlempar dan berhamburan.
Dirga langsung memborgol juga perampok yang tadi yang megang belati.
"Sudah, Alhamdulillah,"Sahut beberapa pengunjung kafe dan sebagian besar pengunjung kafe bertepuk tangan.
__ADS_1
"Bravo."
"Hebat pak, untung ada sampeyan!"
"Untung ada polisi disini, kalau tidak akan berabe deh!"
"Alhamdulilah ketangkep juga itu perampok!"
"Hajar, yuk!!" Beberapa orang sudah maju mendekat ke Dirga mau menghajar si perampok tapi dianahan oleh Dirga, yang masih ada di dekat para perampok.
"Jangan-jangan!" cegah Dirga.
"Biar saja kita akan proses secara hukum, jangan main hakim sendiri!" Dirga melarang mereka yang sudah ancang-ancang memukul kedua perampok tersebut. Sangga tiba-tiba muncul dari luar kafe dan masuk.
PROK PROK PROK
"Nah ini dia nih orangnya. Pahlawan kita! Wah, mas hebat bisa menghhilang!" Ucap seorang bapak.
Sangga hanya tersenyum saja. Sangga mendekat ke Dirga.
"Bagaimana mas? Tertangkap?" tanya Sangga.
"Terimakasih Sang! Hero sampeyan!" Ledek Dirga.
"Awas ledekin lagi! Yang penting tidak ada korban!" Sangga langsung mendekat ke kedua perampok itu.
"Heh! Kalau mau dapat duit kerja!" Sangga menoyor kepala mereka yang sedang dalam posisi tiarap dan diborgol tangannya di pinggang belakangnya.Kedua perampoknya marah dan teriak. Dirga menelpon kantor polisi terdekat. Beberapa menit kemudian banyak polisi yang datang dan membawa kedua perampok itu ke mobil. Pemilik kafenya pun baru saja datang dan menanyakan kejadian yang terjadi bersama sang kasir. Kasir dan Dirga menjelaskan keseluruhan kejadiannya.
"Wah, saya mau berterima kasih juga kepada teman pak AKP!" ucap Bustomi, pemilik kafe.
"Ada pak, itu dia!" Sangga menunjuk ke Sangga yang sedang duduk di kursi menghabiskan minumannya.
Bustomi berjalan bersama Dirga ke meja Sangga.
"Selamat siang mas, saya Bustomi pemilik kafe ini, saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan mas.."
"Sangga." Sangga mengulurkan tangannya dan disambut oleh Bustomi.
"Iya mas Sangga, terima kasih sekali lagi!" Ucap Bustomi.
"Ya sama-sama pak, saya hanya bisa menolong sedikit saja."
......
......
__ADS_1
BERSAMBUNG