
Bab 11.
“Setuju, kalau begitu, kamu harus selalu didamping oleh AKP Dirga.”
“Eh, tapi mas Dirga itu punya pacar tidak sih? Kayaknya jomblo ya?” tanya Sangga sengaja mengeraskan suaranya agar Dirga mendengar.
“Iya, saya jomblo akut, jomblo tidak laku!” sahut Dirga dari jauh.
“Malu atuh sama pangkat!” timpal Sangga.
HAHAHAHA. Mereka tertawa lagi, kali ini tertawa meledek Dirga.
“Wah, kalian emang sudah cocok! Saya tidak salah kalau Sangga dijadikan satu tim dengan AKP Dirga!”
“Siap komandan!”
"Hehehehe, cepet bener jawabnya,” ledek Sangga lagi.
AKP Dirga terkekeh.
"Kalau begitu, kami pulang dulu ya, kamu istirahat saja di sini dulu," tukas Jenderal Prana.
"Iya pak, saya mengucapkan terima kasih."
"Sama-sama Sangga, kamu kan korban. Sesudah kamu sehat, kita atur tempat yang aman. Nanti kalau kamu mau pergi-pergi bisa dengan AKP Dirga saja!" Ucap Jenderal Prana.
"Baik pak."
"Mas Sangga, kami pulang dulu, ya. Semoga cepat pulih." Pak Rajasa bersalaman dengan Sangga.
"Iya pak, terima kasih."
"Sanggabuana, saya pulang ya. Aku...Padamu!" Istikah terkekeh dan disambut tertawa semuanya.
"Cuit...Cuit...!" AKP Dirga menggoda sambil terkekeh. Sangga ikutan tertawa.
"Aku juga.....Padamu!" Sangga tergelak.
"Adduhh...Sakiitt....huuuhhh...!"
"Makanya jangan godain anak orang dulu!" Dirga mengingatkan.
"Hihihihi....Sudahlah, kami pulang dulu ya."
"Dah Sanggabuana...!" Istikah melambaikan tangan sambil tertawa menggoda. Sangga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hei Sangga, siapa jadi yang kau suka?? Banyak sekali cewek kau!" Dirga masih terkekeh.
"Sudahah mas! Aku kan bhilang, tidak mau punya cewek dulu. Nanti keganggu aja, keteteran deh kerjaanku!" Sangga cemberut.
"Ya sudahlah. Mau anaknya pak Rajasa atau keponakannya? Atau yang di kampungmu?? Hmmm Siapa tuh, anaknya pak rentenir?" Dirga kembali terkekeh.
"Sudahlah mas! Aku mau tidur aja, tidak penting juga ahh!"
"HEHEHEHEHE"
Tiga hari kemudian, Sangga keluar dari rumah sakit dan minta diantar oleh Dirga ke rumahnya dulu sebelum ke hotel. Sampai di sana, seperti biasa, Dira melihat Sangga yang datang dengan Dirga, berlari ke arah Sangga.
"Mas Sangga!" Panggil Dira.
"Eh Dira, gimana kabarnya?" tanya Sangga.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu tau tidak mas, kalau orang yang di rumah putih itu meninggal dunia, dia ditemukan oleh orangtuanya sudah berimbah darah dan jantungnya pecah. Dia juga ditemukan bersama seorang kakek tua yang badannya semua sudah membiru!"
"Masa sih?" tanya Sangga.
"Iya mas, kayaknya dia mati tidak wajar."
"Ya sudah, aku mau masuk dulu ya, mau ambil baju dulu ke dalam."
"Iya mas. Mas Sangga kok jarang pulang?" tanya Dira.
"Mas lagi ada tugas khusus, Dira."
"Tugas apa mas?" tanya Dira penasaran.
"Maaf Dira, aku tidak bisa kasih tau. Sorry ya, Dira."
"Oh ya sudah. Mas Sangga sudah makan?"
"Sudah Dira. Mas masuk dulu, ya!" ucap Sangga.
"Iya mas." Dira kembali berlari menuju ke rumahnya. Mereka masuk ke dalam rumah kontrakan. Sangga membuat kopi buat mereka berdua.
"Mas Sangga, saya tau itu yang meninggal di rumah putih itu. Memang anak muda itu hancur jantungnya!" Dirga membuka obrolan.
"Oh ya?? Sampai sekarang kita menyelidikinya juga susah. Soalnya dia mati tak meninggalkan jejak. Orang tua itu juga seperti terkena goresan di seluruh badannya. Kayak dicakar gitu!" Sanggabuana diam saja mendengar penjelasan Dirga.
"Masa sih, mas?"
"Iya, kayaknya mereka kalah adu ilmu deh!"
"Ilmu apa mas Dirga?" tanya Sangga.
"Hm, ya dosa mereka yang tanggung mas Dirga, kalau bener dia main ilmu hitam!"
Kemudian, Sangga membereskan beberapa bajunya. Gerobak cilok dan batagor kakek sudah ada dipepetin ke tembok kontrakan Sangga.
"Mas Sangga, kenapa kamu pindah saja dari sini?" tanya Dirga.
"Ingin sih mas, tapi barang kakek mau dikemanain?" tanya Sangga.
"Ya dipindahkan saja, kalau yang tidak dibutuhkan bisa dikasihkan ke orang lain. Gerobaknya juga bisa dijual."
"Hmmm...Ya mas, bantuin ya nanti. Kalau kita sudah menetap saja mas, aku masih sering ingat kenangan dengan kakek!"
"Ya sudah, aman saja mas!"
Tiba-tiba Dirga melihat sesuatu, sosoknya itu berupa kakek-kakek yang berjubah putih. Dia didampingi oleh dua ekor macan puth.
"Sangga! Sang!" Dirga terdiam seperti patung.
"Kenapa?"
"Itu, siapa yang datang?" Dirga pucat mukanya.
"Mana?" Sangga melihat ke arah yang ditunjuk Dirga.
"Eh, Assalamualakum kakek guru!" Sangga bicara dengan batinnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Salam hormat, kakek guru."
__ADS_1
"Ya. Bagaimana kabar kamu, ***?" tanyanya.
"Baik kakek guru. Ada apa gerangan mengunjungi saya yang sangat tidak sopan ini kakek guru?" tanya Sangga sambil tetap menunduk takdzim.
"Hm, kamu sudah menggunakan kekuatan Liontin itu dengan baik. Nanti ikuti saja kata hatimu, liontin itu akan mengantarkan kamu ke Nenek Mangok. Tapi masih lama, karena sebenernya kamu memang sudah ditunggu oleh beliau. Ikuti saja takdirmu, dan hiduplah normal!"
"Baik kakek guru, terima kasih atas bimbingannya."
"Ya. Ini saya titip pendamping tambahan untukmu. Untuk menemani Leon. Dia nanti akan menjelma sebuah kayu, yang ada di dalam lemari Kresna. Kamu ambil di sana, kalungkan supaya bisa menemani Leon!"
"Baik kakek guru, terima kasih atas kepercayaannya!"
"Ya. Kakek pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Tak lama bayangan wujud kakek menghhilang. Sangga kembali duduk menghadap Dirga.
"Siapa Sang?" tanya Dirga penasaran.
"Itu tadi kakek guru. Gurunya kakek kresna."
"Oh, terus macannya?"
"Ntah, aku juga bingung dia kasih aku macan lagi yang warna putih."
"Hm, kamu jadi punya banyak macan dong!"
"Sebentar."Sangga berdiri dan mendekat ke lemari kakek Kresna dan membongkar isi lemari. Dia membuka sebuah kotak dan menemukan sebuah kayu kecil 10 cm. Sangga ambil dan mengembalikan kotaknya lagi ke tempatnya semula. Dia tutup lemarinya.
"Apa itu Sangga?" tanya Dirga.
"Kayu mas, ini yang kakek guru berikan. Katanya penjaganya macan tadi." Sangga duduk dan masih melihat-lihat kayunya. Dia mencium kayunya.
"Wangi, cendana mas. Kayu cendana!"
"Coba aku lihat!" Dirga mengambil kayu dari tangan Sangga.
"Hm iya mas. Ini cendana!" Kemudian Dirga mengembalikan lagi ke Sangga.
"Bagaimana mas?" tanya Sangga.
"Mau dipake?"
"Iya, aku mau kalungkan. Nantilah, aku cari tali dulu untuk kalung."
"Ya sudah. Kita segera ke hotel?" tanya Dirga.
"Boleh mas."
Tiba-tiba Dirga ada telpon dan tak lama menutupnya.
"Sangga, kita ke klub malam dulu. Ada pembunuhan di sana. Bisa ikut?" tanya Dirga.
"Ya, boleh." Kemudian mereka kembali ke mobil dengan membawa satu tas baju.
Mereka langsung menuju ke sebuah club malam. Sampai di sana mereka turun dan masuk ke dalam lokasi. Di sana sudah banyak mobil polisi dan banyak sekali personel polisi yang menjaga.
......
......
BERSAMBUNG
__ADS_1