LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 41.


__ADS_3

Bab 41.


"Hmmmm...Baiklah, saya akan ke sana sekarang! Yuk, kita segera obati dan sembuhkan Istikah!


Karena aku, dia sampai seperti ini!" Sangga berdiri dan diikuti oleh semuanya. Sangga bersalaman dengan Syanum dan Bustomi.


"Pak Bustomi menetap disini?" tanya Sangga.


"Hm, tidak juga, ini kan memang kampung halaman Syanum, jadi saya kadang-kadang saja disini. Syanum semuanya yang mengurus semuanya disini!" Bustomi berjalan bersama Sangga.


"Hm, baguslah. Pak Bustomi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, saya harap kita bertemu kembali." Mereka berdua kembali bersalaman dan berpelukan.


Dirga dan Sangga masuk ke dalam mobil. Terlihat Syanum dan Bustomi melambaikan tangannya ke arah


mobil. Sesudah tiga jam kemudian, Sangga dan Dirga sampai di halaman rumah sakit jiwadi Jakarta. Mereka masuk, Sangga mengambil tasnya dan mengalungkan ke pundaknya.


"Ayo Sang! Kamu tenang saja, nanti saya yang minta tempat kalau kamu butuh tempat untuk berdua." Dirga menatap ke Sangga yang terlihat masih sedih. Sangga tak bisa membayangkan kondisi Istikah saat itu.


"Ayo mas, kita masuk!"


Mereka berdua masuk. Hari sudah malam, jadi tak banyak terlihat orang di rumah sakit itu. Dirga dan Sangga berjalan menyusuri lorong yang sempit. Dan bertemu dengan seorang petugas yang menjaga sebuah kamar yang isinya ada empat orang. Satunya sedang duduk sambil mengacak-acak rambutnya, dan yang tidga sedang rebahan diatas kasur mereka.


"Selamat malam pak! Saya AKP Dirga,ingin bertemu dengan pasien bernama Istikah!" Dirga menunjukkan lencananya.


"Hm, jam berkunjung sudah habis pak, bapak tidak bisa masuk."


"Baik, saya kalau begitu, ingin bertemu dengan pimpinan kalian!"


"Kebanyakan sudah pada pulang pak,hanya ada kepala piket disini!" Jawab petugasnya.


"Baik, dimana tempatnya?" tanya Sangga.


"Mari saya antar, nanti akan saya antar pasiennya ke ruangan dekat ruangan kepala piket!" Sahut petugasnya.

__ADS_1


"Baik, terima kasih." Sangga panasaran dan melongok ke pintu kaca yang ada disitu. Dia tidak melihat Istikah.


"Sang, ayo kita kesana dulu, nanti biar Istikah diantar ke sana!"


"Oke bos!" Sangga dan Dirga mengikuti petugas tersebut.


Sampailah mereka di ruangan ketua piket dan mereka berdua masuk menghadap.


"Begini pak, saya AKP Dirga, saya mau ketemu dengan pasien bernama Istikah Lestari. Dia pasien disini, dan saya kesini juga mau mempertemukan dia dengan kekasihnya ini, yang baru saja saya juga bertemu tadi sore!"


"Berarti mas...Yang bernama Sanggabuana?" tanya kepala piketnya.


"Hm, ya pak, saya Sanggabuana. Memang kenapa pak?"


"Ya , memang Istikah itu depresi karena merasa kehhilangan, dia sangat kehhilangan Sanggabuana yang dia selalu sebutkan. Tapi...Apakah ini bisa membantu menyembuhkanya?" Ketua piket itu menyangsikan keinginan Dirga.


"Saya hanya ingin mempertemukan mereka berdua pak, dan saya juga ingin Istikah dibawa ke sebuah ruangan, agar mereka berdua bisa bertemu!" Dirga memohon.


"Bisa pak, sebentar akan saya perintahkan petugas sana untuk membawa Istikah ke ruangan isolasi di sebelah ruangan saya!" jawab ketua piket itu.


"Siap Sang?" tanya Dirga.


"Siap mas!"


Mereka berjalan menuju ke ruangan itu dan berhenti di depan pintu.


"Mas, tolong disini, pintu jangan ditutup dulu!" Pesan Sangga.


"Hm, baiklah! Masuk saja dulu!" Sangga masuk sesudah mengucapkan basmallah.


Dia masuk dan melihat Istikah tampak kurus dan duduk berdiam diri. Tatapannya kosong seperti tak ada jiwa di dalamnya.


"Istikah...!" Istikah seperti kaget dan melihat ke arah Sangga.

__ADS_1


"Istikah...!" Tanpa disadari Sangga sudah menitikkan air matanya, Sangga yang sakti sedang dilanda penyesalan, karena dia, Istikah sang kekasih mengamali depresi mental dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


Istikah menitikkan air matanya. Dia berusaha berdiri.


"Mas Sanggabuana..."


"Iya sayang, ini mas Sanggabuana!" Istikah menitikkan airmatanya yang bertambah banyak. Tapi sebelum dia melangkah, dirinya sudah ambruk pingsan. Sangga menangkap tubuh Istikah yang kurus, pucat, dan sangat mengenaskan, jauh dari Istikah yang sangat cantik dan menawan hati.


Sangga mengangkat Istikah dan meletakkan Istikah diatas sebuah kasur di ruangan itu. Dirga dan kepala piket itu mendekat ke Sangga.


"Bagaimana Sang? Sepertinya dia mengenalimu tadi!" ucap Dirga.


"Iya mas, bisa saya minta tolong ke mas dan bapak, untuk menyiapkan air panas dan beberapa gelas dan piring, pisau dan sendok. Saya akan membuat ramuan buat Istikah!" Sangga melihat ke arah mereka berdua bergantian.


"Hm, baiklah, sebentar saya akan siapkan!" Jawab pak Ardian, ketua piket. Sangga merapikan rambut Istikah dan menutup badan Istikah dengan selimut.


"Kamu cantik sayang, mas akan menikahimu kalau kamu sudah sehat! Itu janji mas!" Sangga mencium kening Istikah. Sesudah semua siap, Sangga memulai mengambil beberaa bahan yang dia bawa dari rumah gurunya. Dia dengan telaten menggerus beberapa bahan sendiri dan merarik dengan beberapa bahan lainnya. Kemudian bahan yang jadi dia masukkan ke daam gelas dan mencampurnya dengan air panas. Sesudah diaduknya beberapa menit, dia masukan ke sebuah kain yang ada diatas sebuah gelas kosong dituangkan ke atas kain tersebut dan memerasnya.


Sangga melihat ke dalam gelas yang nampak berwarna hijau, kekuningan. Sangga duduk di samping tubuh Istikah dan mengambil sendok. Sangga buka mulut Istikah dan memasukkan air perasan ramuan yang dia buat ke dalam mulut Istikah dengan sendok. Sedikit demi sedikit sampai akhirnya habis.


Sangga kembali membetulkan selimut Istikah dan mencium kening Istikah. Sangga berdiri dan membereskan semua alat yang dia pinjam yang dibantu oleh Dirga.


"Terima kasih pak Ardian. Kita tunggu Istikah sampai dia sadar!"


"Sama-sama mas Sangga, saya juga senang, mas Sangga bisa datang ke sini." Mereka saling tersenyum.


Sangga kembali lagi dan duduk dipinggir dipan Istikah. Dia konsentrasi dan memegang kening Istikah. Beberapa saat kemudian, tangan Sangga mengeluarkan sebuah sinar hitam yang muncul dari kepala Istikah, kemudian dia buang keudara. Begitu terus beberapa kali. Sangga.


Sangga meletakkan telapak tangan Sangga sejauh 2 cm diatas di dada Istikah dan mentransfers sedikit energi untuk membantu penyebaran obat yang dimasukkan ke dalam mulut Istikah tadi. Dari telapak tangan Sangga kembali mengeluarkan sinar putih yang terang dan menyilaukan mata Dirga dan B


"Astaga, apa itu?" Ardian meletakkan tangannya di depan matanya  yang masih melihat sinar putih menyilaukan. Sesudah beberapa menit, sinar itu menghhilang dan Sangga tersenyum ke arah wajah Istikah yang ternyata sudah membuka matanya.


.......

__ADS_1


.......


BERSAMBUNG


__ADS_2