LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 21.


__ADS_3

Bab 21.


"Ada, mungkin masih tidur. Kalau hari libur dia sering gebluk. Tadi malam pulang jam 3 pagi, katanya dia jalan sama pacarnya." Jelas pak Rajasa.


"Oh ya sudah, jangan dibangunin. Mungkin dia capek," ucap Sangga.


"Ayo Istikah, sana ambilkan makanan kecil buat mas mu!" ucap pak Rajasa.


"Iya paman, mau kopi pak Briptu.?" tanya Istikah dengan polos.


"Hahaha, mau dong. Jangan manis-manis ya."


"Sedang saja atau pahit?" tanya Istikah.


"Sedikit saja gulanya. Ngeliat kamu sudah manis...Hahahaha!"


"Gombal! Mas Sangga,Briptu. ini lebih gombal dari AKP Dirga!" Istikah menggerutu. Sangga tersenyum dan menyuruh Istikah membuat kopi untuk Briptu. Doni.


"Ya sudah sana anak manis."  Istikah melepas rangkulannya dan berjalan ke dalam rumah.


Setengah jam kemudian dia datang kembali dengan membawa banyak makanan dan minuman. Dia datang bersama dengan Dira yang hanya memakai Kaos yang panjangnya selutut tapi tidak memakai celana.


Otomatis membuat Sangga dan Briptu. Doni blingsatan melihat ke tubuh Dira yang tampak menerawang dari jauh. Tampak cantik walaupun habis bangun tidur.


"Eh mas Sangga. Kapan datang?" tanya Dira yang langsung mencium pipi kanan dan kiri Sangga. Sangga yang tak biasa, kaget. Kemudian dia menormalkan kekagetannya dengan mengambil minum di sebelahnya.


"Hm, sudah lumayan lama kok. Baru bangun tidur?" tanya Sangga.


"Iya mas, masih ngantuk. Tadi aku bangun karena pengen ke belakang saja. Ketemu Istikah di dapur waktu minum, eh ada mas Sangga katanya diluar."


"Dira, mulai hari ini, mas Sangga tinggal disini sementara, sampai Dirga pulang dari kampungnya. Sangga juga kuliah malam di kampusmu," ucap pak Rajasa.


"Wah,asik dong, nanti malam kita jalan yuk mas! Ajak juga nih, si kuper, kalau diajak tidak mau mulu!" Ledek Dira ke Istikah.


"Hehehe, males ahh, kalau cuma ke supermarket, aku mau mbak. Kalau kemana itu? Dugem? Ah pusing, lagi pula aku lebih baik tidur daripada aku denger musik keras-keras!" Istikah mencebikkan bibirya.


"HAHAHAHA."


"Ya atur saja." Sangga kembali minum kopinya.


"Oh iya, Dira, nanti mobil Rubiconnya dipakai Sangga. Papah sudah memberikannya untuk dipakai sama Sangga! Jadi Rubicon sudah milik Sangga. Kamu tetap saja pakai mercedes putihmu itu!"


"Iya pah.!"

__ADS_1


'Kok papah sudah memberikan mobil mahal kesayangannya ke Sangga, aku mau pakai saja tidak pernah dibolehin! Wah,ada apa nih, Kok mas Sangga lebih diistimewakan daripada aku?' Bathin Dira.


"Sangga, ayo kamu dianter dulu sama pacarmu ini ke kamarmu!"


"Apa? Pacar? Siapa pacarnya mas Sangga?" tanya Dira kaget ke papanya.


"Itu, Istikah, mereka sudah jadian beberapa hari yang lalu dihotel!" Jelas Rajasa.


"Kok bisa? Merekakan baru saja ketemu dua kali kalau tidak salah?? Kok sudah bisa jadian segala sih? Papa yang comblangin?" Dira cemburu kepada Istikah karena sudah menjadi pacar Sangga.


"Hm, kakak cemburu ya?" tanya Rajasa menggoda.


"Eh, tidak kok! Aku kan sudah punya pacar sendiri, pa. Dito namanya."


"Hm, ajaklah Dito ke rumah, jangan ketemuan di luar aja."


"Hm, oke. Jadi nanti sore kita jalan ya mas Sangga! Kalau pacarmu itu tidak mau ikut, terserah, EGP!" Dira mendelik ke arah Istikah yangsedang kesal karena Dira merangkul Sangga dan meletakkan pipinya manja di lengan atas Sangga yang kekar.


"Hm, iya. Sudah sana mbak! Mandi sana, bangun tidur sudahmepet-mepet terus mas ku!" Istikah marah kepada Dira yang kemudian melepaslengan Sangga dengan kesal.


"Noh, ambil mas mu!" Dira kembali masuk ke dalam rumah dengan kesal.


"Hahahaha, marah dia. Kamu sih sayang, nanti minta maaf ya sama kakDira!" Sangga memberikan nasehat kepada Istikah. Istikah menganggukkankepalanya. Dia kemudian masuk mengikuti Dira.


"Hm, pemimpinnya sudah tertangkap, tinggal penelusuran dandibongkarnya sekte-sekte itu sampai ke akarnya!" Sangga kembali menyesap kopinya.


"Emang kalau semua selalu mengatasnamakan surga, ya susah.Rata-ratakan semua orang ingin masuk surga. Diiming-imingi surga ya semua pastibanyak yang ikut! Padahal mereka menjerumuskan demi uang!" ucap Rajasa.


"Ya begitulah pak, semua itu kalau tidak didasari oleh kuatnya imandan pengetahuan mengenai dasar agama, ya susah pak Rajasa!" Briptu. Dirga kembali menjawab.


"Terus bagaimana kelanjutan sektenya?" tanya pak Rajasa penasaran.


"Hm, ya sekarang sedang ditelusuri semua cabang-cabangnya. Tapi memang sekte-sekte seperti itu sekarang ini sudah ada beberapa di negara ini. Ada yang ideologinya kebahagiaan, ada yang tujuan surga, ada yang didasarkan kebebasan, dan ada juga yang sengaja menghalalkan berbagai cara!" Jawab Briptu.


Doni.


"Hm, susah juga ya, tugas kepolisian sangat berat!"


"Ya pak, makanya diharapkan dengan adanya mas Sanggabuana ini, semua sekte bisa dibasmi dan dibubarkan! Paham-paham Atheis juga sudah mulai masuk di negara ini!"


"Ya kalau saya hanya membantu kepolisian. Selama ada tugas, ya akansaya laksanakan baik.


"Iyalah. Oh, iya, bagaimana kabar ibunya AKP Dirga?" tanya pak Rajasa.

__ADS_1


"Aku belum telpon nih, aku juga kangetn. Kita telpon saja, ya. Kita dengarkan bareng-bareng.


"Oke." Sangga menelpon Dirga yang diangkat pada dering kedua.


["Halo, apakabar kang AKP!"]


["Halo, bos nya Leon!"]


["Hahahaha, dasar. Gimana Ibu kondisinya?"]


["Makin memburuk Sangga. Kayaknya Ibuku ada yang ngerjain deh, Sang."]


["Ah mas sih? Kenapa kamu merasa Ibu ada yang ngerjain?"]


["Ya kondisinya itu loh. Beliau sakit tiba-tiba abis pulang dari kebun. Entah kenapa di rumah langsung sakit dan tidak bisa bangun!"]


["Hm, coba saya cek sekarang ya. Nanti aku kirim si Leon saja ke rumahmu, untuk menyeret yang melakukannya, kalau memang ada kiriman!"]


["Nah, kenapa kita tidak mengeceknya ya, pas di Jakarta?"]


["Hm, ya kalau tidak begitu kan, elo tidak pulang ketemu ibu!"]


["Oh iya, hahahaha. Tolong ya Sang!"]


["Oke, nanti aku kabari!"]


["Siap. Eh,elo ada dimana sekarang? Kok berisik?"]


["Aku sama Briptu. Doni ada di rumah pak Rajasa. Aku tinggal di rumah pak Rajasa dulu sementara ini. Sampeyan nanti ke sini aja tinggal sama aku. Aku sudah diberi mobil sama pak Rajasa, jadi aman kalau mau kemana-mana, tidak rebutan sama yang lain!"]


["Hahahaha, oke, semua bisa diaturlah! Sekarang cek ya Sang, tolonglah!"


["Oke. sudah dulu, ya."]]


Panggilan telepon diakhiri. Kemudian, Sangga duduk bersila dengan menegakkan badannya. Briptu. Doni dan Pak Rajasa memperhatikan dari seberangnya.


Sangga memanggil Leon dengan bathinnya. Tiba-tiba Leon hadir. Di datang dengan aumannya.


"AAUUUMMM..."


"Leon, tolong kamu ke rumah AKP Dirga, bawa semua makhluk yang membuat Ibunya sakit!!!"


"AUUMMM..." Leon langsung melesat berlari dan menghilang dari pandangannya. Dalam sekejab mata, dia sudah kembali ke hadapan Sangga.dan melemparkan seorang nenek-nenek yang sudah tua. Kepalanya dipenuhi oleh rambut beruban. Mukanya sudah banyak yang berkerut. Dia memakai kebaya lusuh dan mengunyah sirih.

__ADS_1


"AAUUMM.."


__ADS_2