LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 44.


__ADS_3

Bab 44.


"Hm, baguslah Sang. Jalanin saja takdir. Kita pasti akan diarahkan oleh Yang Kuasa!"


"Iya mas!"


Mereka sampai di hotel dan langsung masuk ke kamar. Istikah sedang tidur akhirnya bangun dan memeluk Sangga.


"Bagaimana sayang? Masih ada yang sakit dan masih lemas?" tanya Sangga.


"Hm, sudah enakan mas, tapi masih kadang pusing," jawab Istikah.


"Ya sudah. Aku akan mulai buat Pil kekuatan Ksatria buat kamu dan mas Dirga!" ucap Sangga sambil mengelus pipi Istikah.


"Apa Sang? Pil Kekuatan Ksatria? Wowww...Mantap!" Dirga seneng sekali dengan namanya, karena pastinya bisa membuat dia lebih tangguh.


"Tenang mas, elo nanti bakalan jago deh berkelahi! Soalnya gue juga tidak bisa berkelahi! Nanti kita makan sama-sama pilnya, dan pastinya berbeda hasil!" jawab Sangga.


"Iya pastilah, karena kan sesuai kemampuan badan kita juga!"


"Oke gue buat dulu ya!"


"Siap!' Sangga dan Dirga meletakkan meja kecil yang baru dia beli. Di atasnya dianaroh kompor kecil dan dikeluarkan loyang kecil. Sangga langsung mengeluarkan bahan-bahan dari tas besarnya. Sangga membawa lengkap semua jenis tanaman yang sudah dihaluskan dari rumah nenek Lampir. Juga banyak ramuan


khusus yang sudah jadi dalam botol-botol kecil. Dirga yang melihat isi tas Sangga terbelalak matanya.


"Sang, itu semua ramuan?"


"Iya mas, ada yang sudah jadi, ada yang extract dan ada yang masih bahan alaminya saja!" Sangga menutup tasnya dan menaroh semua bahan yang dia butuhkan di atas meja. Gelas ukuran diambil, timbangan untuk obat juga dia naroh diatas meja. Dia mulai menimbang dan memasukkan semuanya di dalam gelas ukuran.


Sangga mulai menggerus beberapa bahan dan menggabungkannya juga di gelas ukuran.


Sesudah diaduk-aduk beberapa menit, Sangga menyalakan kompor dengan api yang sangat kecil, agar loyang yang diatas nya mulai panas.


Begitu sudah ada asap sedikit, Sangga memasukkan semua racikan dari gelas ukuran ke loyang tadi. Loyang dia tutup dan api diatur ulang dengan membesarkannya sedikit. Sangga menunggu dengan harap-harap cemas, seakan menunggu cairnya dana bantuan dari presiden! (Hahahaha, becanda ahhh...!)


"Sang, berapa lama?" tanya Dirga.


"Hm, berapa ya,kira-kira 10 menitan kok. ini buat banyak dan mau aku masukkan di kapsul."


"Oh, begitu?"Dirga manggut-manggut saja.


Sesudah beberapa menit kemudian, udara di dalam ruangan makin dingin.


DUAR DUAR...

__ADS_1


Suara dari loyang menimbulkan suara lumayan kencang. Tutup loyang mental ke samping. Kompor cepat dimatikan oleh Sangga dan mengangkat loyang tersebut ke sampingnya. Tampak 10 butir pil yang berwarna hijau kebiruan. Wangi ramuan tercium di ruangan. Bau daun-daun alami menyeruak.


"Hmm, enak wanginya mas Sangga. Wangi daun dan bunga. Hmmmm...." Istikah senang dengan wanginya.


Sangga langsung mengambil semua pil yang ada di atas loyang dan menarohnya di piring kecil. Sangga ambil satu pil.


"Ini PIL KEKUATAN KSATRIA!"


"Ini satu buat kamu sayang, kamu tiga hari ini harus minum pil ini satu buah satu hari. Pil Kekuatan Ksatria!" Sangga memberikan pilnya satu ke Istikah dan Istikah langsung memasukkan pil itu ke dalam mulutnya didorong dengan air minum Sangga mengajak Istikah duduk di sofa.


Beberapa detik sesudah itu, Istikah wajahnya memerah, tangannya seperti menahan sesuatu. Mulutnya menganga seperti ada yang ingin dimuntahkan. Sangga ambil kantung plastik yang ada di dekatnya dan memegangnya dibawah,mulut Istikah. Istikah tidak muntah malah mengerang seperti ada aliran listrik yang membuat semua badannya menegang dan kemudian terdorong ke belakang.


Sangga menahan punggung Istikah dengan tangan kirinya dan menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Sang, Istikah bagaimana? Wah, gue takut jadinya mau nelen pil ini. Bagaimana reaksi di badan gua, ya?" tanya Dirga yang terlihat keringatan di seluruh wajahnya.


"Kita liat saja reaksi di badan Istikah. Istikah belum sadar, sebentar lagi juga dia sadar mas.."


"Hm oke..."


Tak lama kemudian seluruh badan Istikah merah merona, wajahnya tampak berseri. Wajahnya bersinar dan Istikah membuka matanya.


"Bagaimana sayang?" tanya Sangga memegang belakang leher Istikah.


"Mas, aku merasa segar sekali, kekuatanku bertambah. Apa aku sudah menjadi jago silat? Hahahaha." Istikah sudah bisa tertawa lepas.


"Iya mas!" Istikah merasakan kekuatan dahsyat yang membuat tenaganya naik berpuluh-puluh kali lipat.


"Wah, mau gue Sang!" Dirga langsung menelan Pil Kekuatan Ksatria tanpa diaba-aba. Terlihat Dirga masih menunggu reaksinya. Dan tiba-tiba matanya melotot.


"Sang! Aaaarrrggghh....Kepalaku!!" Dirga memegang kepalanya dengan kedua tangan dan menahan reaksi keseluruh badannya seperti terkena aliran listrik ribuan volt. Dirga memegang dudukan kursi dengan menegang seperti dia menerima siksa kubur( ngayal aja deh).


Tak lama, Dirga lemas dan nafasnya memburu. Tubuh Dirga kembali tenang. Dan timbul dorongan tenaga ke seluruh badannya.


"Bagaimana mas?" Sangga masih menunggu jawaban Dirga yang masih memejamkan matanya.


"Aneh Sang! Badanku seperti ringan sekali! Lihat ini...!"


"WUSSSS...." Dirga berlari secepat kilat mengambil minum di atas nakas deket kasurnya Sangga dan balik lagi dalam dua detik saja.


"Wiihhhh...Ente sekarang jadi pendekar nih! Hahahaha," Sangga tertawa melihat ulah Dirga.


"Wah, kalau aku minum pil ini terus bagaimana kekuatanku Sang?" Dirga sangat senang dan bersemangat.


"Kamu hanya boleh seperti Istikah, minum satu hari satu pil dan jamnya sama. Nah besok malam baru boleh minum. Oke?" tanya Sangga mengingatkan.

__ADS_1


"Oke Sang, hmm elo bisa buat pil apa lagi?" tanya Dirga.


"Banyak, nanti saja sesuai dengan kebutuhan saja!" Sangga menelan satu pil kekuatan ksatria. Dia duduk tenang sambil menyalurkan tenaga dalamnya.Seluruh tubuhnya rileks, Sangga merasakan aliran dingin dari kepalanya


turun ke seluruh badannya dan sengatan listrik timbul di seluruh titik akupunturnya. Sangga merasakan sengatan listrik itu makin menguat. Tubuhnya menegang, dia alirkan lagi dari kepala energi dingin agar bisa menetralisir setruman listriknya, malah makin kuat dan tidak bisa menyatu.


'Hm kok beradu?' Dia narik kembali energi dinginnya dan menambah energi Yang. Badannya mulai berasa panas terbakar, Sangga berteriak kecil menahan panas yang membakar seluruh tubuhnya sehinga dia lari ke dalam kamar mandi dan mengguyur semua badannya yang masih pakaian lengkap. Lima menit kemudian panas itu berangsur-angsur hhilang dan berganti dengan dingin yang menyerang badannya sampai dia merasakan badannya sedang dilapisi oleh es batu.


Sangga berlari keatas kasur dan mengambil selimut dan selimut diangkat menutupi seluruh badannya yang sedang dilanda kedinginan. Menggigil sampai wajahnya membiru. Sepuh menit kemudian, tubuhnya kembali hangat dan dia turun dari kasur, mengambil pakaian untuk mengganti pakaiannya yang basah di dalam kamar mandi.


Sangga keluar dengan wajah sumringah, segar.


"Gimana Sang. Elo kok aneh tadi?" Sangga duduk dan mengambil sebatang rokok dari atas meja. Sesudah membakarnya, Sangga menjelaskan. Istikah mengambil handuk dari dalam kamar mandi dan mengeringkan rambut Sangga yang masih basah.


"Makasih sayang."


"Iya masku." Istikah senang dibhilang sayang oleh Sangga.


"Jadi tadi itu, badanku panas seperti terbakar di Neraka, makanya aku ke kamar mandi menguyur seluruh badanku. Abis itu malah dingin seperti di dalam freezer!"


"Wah, reaksinya beda-beda, ya?" tanya Dirga yang ikutan menghisap rokoknya.


Istikah duduk di sebelah Sangga.


"Mas, sudah enakan badannya?" tanya Istikah sambil menggenggam tangan kiri Sangga.


"Sudah sayang. Kamu bagaimana?" tanya Sangga.


"Yuk nikah!" Istikah tersenyum.


"Hahahaha." Dirga dan Sangga tertawa.


"Wah,langsung nyosor aja, Istikah Istikah, aku kok jadi pengen yoo...!" Dirga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Carilah AKP, moso AKP jomblo!" ledek Istikah.


"Iyo, apes!"


"HAHAHA." Tertawa mereka kembali lepas.


"Sang, makan yuk di luar!"


"Mau kemana?" Sangga bingung.


......

__ADS_1


......


BERSAMBUNG


__ADS_2