LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 33.


__ADS_3

Bab 33.


"Hm, wah,tambah hebat lo! Langka deh kepolisian punya elo! Harusnya elo dilindungi sama mereka dan tidak boleh turun ke lapangan!" Ucap Dirga.


"Gitu seharusnya?"


"Iyalah. Elo itu asset kepolisian dan elo harus berada di dalam terus!"


"Ya mending gue keluar, mas. Gue kan hanya orang biasa aja!" Sahut Sangga.


"Ya jangan gitu dong! Gue akan kehhilangan! Hehehe."


"Eh, sudah pada diluar. Sang kenapa ban mobil kamu kempes lagi? Masya Allah, dua lagi, kanan dan kiri!"


"Iya pak, disini ada hantunya yang doyan ngempesin mobil!"


"Masa sih?? Kayak hantu bisa wujud aja, kan itu kudu diteken pentilnya! Kalau hantu ya molos..Hahaha."


"Iya Juga sih pak, aku juga kurang paham pak, kenapa bisa kempes lagi."


"Ya sudah, nanti dibenerin saja sama supir saya. Kalian pake mobil yang lain saja! Itu masih ada Ferrari!"


"Eh, buset pak, mau ke kampus saja pake Ferrari?" Sahut Sangga.


"Ya atau yang lain itu? Kamu mau pakai BMW saya?" tanya Rajasa.


"Ya bolehlah pak, terserah saja."


"Hm, ya nanti minta saja sama supir saya. Sekarang kita sarapan dulu, yuk."


"Boleh pak." Mereka masukĀ  ke dalam menuju meja makan.


"Mas Sangga, ayo makan nasi goreng buatanku. Spesial pakai cinta! Hahaha!"


"Loh kok, tidak dipisah nasi gorengnya?" tanya Sangga.


"Kok dipisah?" Istikah mengernyitkan dahinya.


"Kalau kamu gabung, AKP Dirga merasakan cinta kamu juga dong dalam nasi gorengnya!"


HAAHAHAHA


"Ah ya tidak, kan buat mas Sangga saja!" Istikah manyun.


"Kalau begitu dipisah dong, jangan disatuin goreng nasinya!"


"Pegel ahh, masa aku masak satu-satu, emang Istikah tukang nasi goreng!!" Dia mencebikkan bibirnya.


"Iya deh. Ini telornya pake cinta juga tidak gorengnya?" goda Sangga lagi.


"Hm, kalau telornya pakai minyak goreng mas! Kalau pakai cinta tidak mateng dong!" jawab Istikah tersenyum.


"Hahahaha." Sangga dan Dirga ikut tertawa.

__ADS_1


"Pinter!" timpal Dirga.


Mereka sarapan bersama. Muncul Dira dari kamarnya, dan dia menuju ke dapur untuk minum. Dia kembali ke meja makan dan ikut makan tanpa suara.


"Kamu sakit, Des?" tanya pak Rajasa.


"Hm, iya cuma agak pusing!"


"Dito kapan mau ke sini?" tanya pak Rajasa.


"Tadi malam ada kok, papa sudah di dalam kamar." Sangga mengaktifkan mata bathinnya dan mendengarkan pikiran Dira.


'Apa papa tau ya kalau aku hamil?'


'Wah,bahaya deh, nanti pasti papa marah, dan bisa-bisa si Sangga bakalan makin ngelunjak!'


"Pak Rajasa, nanti kita akan tunggu saja bannya yang kempes diisi anginnya. Kami tidak mau makai yang lain."


"Oh ya sudah. Tapi nanti jadinya agak siang lo! Jauh dari sini tukang isi bannya!"


"Iya, pak. nanti biar kamu tunggu saja! Sekalian menunggu itu kita bisa main-main dulu, kan?" tanya Sangga.


"Oke deh, iya tugas yang satu itu kita lakukan sebelum saya berangkat kerja saja!"


"Iya pak, soalnya nanti kita pulang agak malam! Istikah, nanti kamu kuliah jam berapa?" tanya Sangga.


"Hm, jam 10 mas," jawabnya.


"Ya sudah, nanti diusahakan tidak telat. Sampai jam berapa?" tanya Sangga lagi.


"Aku sama mas Dirga mau ke Polda dulu, ketemu sama Jenderal Prana. Kamu tunggu saja, ya."


"Iya mas, nanti aku tunggu."


Sesudah makan pagi, mereka bertiga masuk ke dalam kamar pak Rajasa dan menggelar karpet lagi. Pintu kamar dikunci dan mereka duduk bersila kembali.


"Hm, saya akan ajak kalian berdua lagi! Soalnya saya akan menarik sukmanya Dito!"


"Baiklah, aku siap!" Mereka bertiga saling berpegangan tangan.


Sangga mulai merapal bacaan doanya dan melepas sukma dari raganya. Kemudian sukma Dirga dan pak Rajasa ikut terlepas dari raganya.


"Buka mata kalian!"


Mereka berdua membuka matanya dan mereka sudah melihat Dito yang sedang tidur di kamarnya. Sangga menarik sukma Dito masuk ke dimensi mereka sekarang.


Dito terbangun dan melihat tiga orang yang berdiri di depannya.


"Hm, kalian siapa? Sa-saya ada dimana?" Dito berdiri dan memandang ketiga orang di depannya.


"Kalian siapa? Apa ini mimpi??' tanyanya.


"Hm, kamu Dito?" tanya pak Rajasa.

__ADS_1


"Ya, kalian siapa? Kok kenal saya?" Dito melihat ke arah pak Rajasa.


"Kamu masih tidak kenal saya?" tanya Rajasa tersenyum kecut.


"Hmmm...Oh ya, bapaknya Dira? Apa kabar pak?" Dito mau mencium tangan pak Rajasa.


"Hmm Tidak usah. Kamu ini mempermainkan anak saya, ya?" tanya Rajasa lagi.


"Tidak pak, saya serius kok!"


"Jangan boong kamu, Dito!"


"Beneran pak, saya mencintai Dira!"


"Jangan bohong kamu!!!!" Bentak pak Rajasa.


"Me-memang bapak tau darimana kalau saya bohong?" tanyanya. Sangga mendekat.


"Diam!" Sangga membentak. Dan memegang atas kepala Dito. Sekitar 3 menit kemudian dia tersadar kembali.


"Hm, siapa kalian berdua?" tanyanya bingung.


"Saya bukan siapa-siapa. Kami berdua hanya ingin membantu pak Rajasa saja! Kami sudah tau semuanya. Jadi janganlah berbohong kepada kami!" Sangga mulai ngegas.


"Baiklah, saya memang menghamili Dira, saya juga bingung, apakah saya bisa mencintai Dira. Sedang saya sebenernya mencintai seseorang." Dito menundukkan kepalanya.


"Kamu harus bertanggung-jawab. Nanti sesudah bayinya lahir, silahkan kamu bercerai dengan Dira! Saya tidak butuh kamu untuk merawat anaknya Dira!" Sahut pak Rajasa.


"Hmmm...Saya mengaku salah pak!"


"Tanganmu juga iseng, ya!" timpal Dirga.


"Iseng kenapa?" Dito bingung.


"Kamu kan yang mengempesi dua ban mobil kami!" Dirga kesal melihat tampang Dito yang biasa saja menanggapi masalah ini.


"Oh, itu mobil kalian! Hahaha,maaf, saya hanya disuruh oleh Dira aja!"


PLAK PLAK


"Kurang ajar lo!! Kurang kerjaan banget ngempesin mobil orang!!" Dirga sengaja menampar Dito melampiaskan amarahnya.


"Hei! Jangan main kasar dong!" Dito masih memegang pipinya yang merah terkena tamparan Dirga.


"Oh, masih kurang!!??" Dirga sudah bersiap-siap untuk menamparnya lagi.


"Maaf maaf, saya tidak sopan ke kalian!" Kali ini dia diam ketakutan.


"Besok kamu datang ke rumah saya, dan bawa kedua orangtuamu! Langsung kalian menikah, saya tidak mau menanggung malu keluarga kami!!" Ancam pak Rajasa.


.......


.......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2