LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
BAB 28.


__ADS_3

Bab 28.


"Itu lihat!" Dia menunjuk Bustomi.


"Kau..!!"


"Iya, saya! Kenapa kamu melakukan hal yang tidak pantas ke kafe saya! Jawab! Atau kau akan mati di tangan kedua macan itu!!!" Sangga diamsaja melihat ke arah Bustomi yang kembali naik pitam.


"Kamu curang Bustomi! Kamu sudah mengambil sebagian hak Patricia!" Dia marah.


"Hak yang mana?? Semua sudah aku kasihkan ke Patricia! Kamu saja yang malas bekerja! Kamu hanya bisanya merongrong Patricia dan menghabiskan uangnya!!" timpal Bustomi kesal.


"Hahahahaha, apa urusanmu! Kami sudah sah menjadi suami istri!" Sangga kesal dengan kesombongan suami Patricia.


"Leon, tindih!" Leon langsung mengangkat kedua kaki depannya dan menerkam suami Patricia.


"Aarrrgghhh....Angkat! Sakitttt!! Lepaskan akuuu!!" Tindihan Leon makin kuat dan dia makin tidak berdaya.


"Heh! Kalo bicara jangan pakai emosi dan nafsumu! Aku tau orang macam kamu itu cuma menjadi penghasut! Paham!" sahut Sangga.


"Kamu mau mengakuinya tidak, kalau kamu sudah membuat kafeku semua sepi pengunjung!" Bustomi berdiri dan berjalan mendekat ke kedua orang itu.


"Ampun, iya saya yang menyuruh dukun bego itu untuk menghancurkanmu!" sahut suami Patricia.


Tiba-tiba dukunnya mengerang kesakitan dan ingin bangun, tapi tak bisa, dua kaki depannya Wewe masih ada di atas punggungnya.


"Wewe, lepaskan!!" Wewe mengangkat kedua kakinya. Dan si dukun berdiri dengan susah payah.


"Siapa kamu, beraninya kamu pakai peliharaanmu! Hadapi saya sekarang! Keluarkan semua ilmumu!" Dukun itu melompat sekitar satu meter ke depan, dia berdiri tegak berjarak dua meter dari Sangga. Sangga berjalan ke sejajar sang dukun dengan jarak tiga meter.


"Nah, kamu mau apa? Silahkan serang duluan!" Sangga merapalkan bacaan doa. Sinar putih langsung membentenginya.


"Hahahaha, Ilmu si Kresna!!" Teriak sang dukun. Sangga mengerutkan dahinya.


"Siapa kamu! Kenapa kamu kenal dengan kakek Kresna??" tanya Sangga heran.


"Kamu tidak tau siapa saya?" tanyanya.


"Saya tidak kenal!" Sangga masih dengan kuda-kudanya untuk bersiap-siap menerima serangan dukun itu.


"Saya Ki Jangrik! Saya sudah berkali-kali bertemu dengan Kresna. Saya tau, kamu pasti memiliki Liontin hijau milik gurunya!" ucap sang dukun sinis.


"Hm apalagi yang kau ketahui mengenai kakekku??!"

__ADS_1


"Aku tak kenal kau! Kamu pasti bukan cucuk kandungnya!" timpal si dukun.


"Ya, saya memang bukan cucuk kandungnya. Saya hanya disuruh untuk melanjutkan tugasnya!"


"Hahahaha, siap melawanku anak bau kencur?? Jangan salahkan aku menghancurkanmu!"


"Silahkan kalau kau jual, saya beli!!" ucap Sangga Mantap.


Sangga merapalkan lagi sebuah doa. Tekanan udara di sekitar tempat mereka berdiri tiba-tiba dingin dan angin ****** beliung muncul dari telapak kanan Sangga, makin lama makin besar. Angin menyapu semua yang ada di sana dan Sangga melemparkan angin tadi dianambah dengan sinar hijau dari telapak kirinya. Angin ****** beliung tadi berputar dengan kencang terus mengarah ke Ki Jangkrik.


Bustomi langsung memegang badan Leon yang tidak terpengaruh sama sekali dengan angin tersebut. Patricia dan suaminya saling berpelukan. Angin bertambah kuat, putaran semakin kencang. Bustomi memeluk leher Leon. Sangga merapalkan kembali sebuah doa. Angin ****** beliung tadi bertambah aliran listrik yang sangat kuat di dalamnya.


'Luar biasa, Kresna tak memiliki ilmu ini...Kenapa dia tampak kuat seperti ini??' Sang dukun ketakutan, badannya bergetar hebat, tangannya mengepal, dia mengeluarkan sebuah benteng berwarna hijau muda yang menyelimuti seluruh badannya.


"HAIYAAAAA....!!


BRUK BRUK BRUK


Sangga menapakkan kakinya keras ke atas tanah tiga kali. Angin berubah menjadi mengecil tapi punya daya hisap yang kuat. Benteng Ki Jangkrik hancur. Tak sempat mengeluarkan ilmu untuk melawan angin tersebut, Ki Jangrik langsung tersedot oleh angin itu, hilang lenyap dimakan angin itu.


"AAAGGGHHHH..." Tak ada bekas, angin diarahkan Sangga kepada sepasang suami istri yang sudah mengerjai Bustomi. Mereka ikut termakan karena tak sempat melarikan diri. Dengan termakan mereka berdua, angin tersebut langsung hhilang dan dan meninggalkan sebuah keris kecil.


"Sang, ada keris!" sahut pak Bustomi.


"Sangga...! Terima kasih, semoga mereka mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah." Sangga menganggukan kepalanya.


"Hei Leon. Terima kasih!"


"AUUMMM..." Leon menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, mari kita kembali!" Sangga naik Wewe, Bustomi naik ke atas punggung Leon. Mereka langsung melompat. Sangga dan Bustomi langsung masuk kembali ke raga mereka masing-masing.


"Alhamdulillah, pegel aku pegangin ini HP. Sejam lebih kalian tak kembali. Sampai takut saya!!" Dirga melirik ke Sangga.


"Mas Sangga, tadi kemana sih? Aneh ya mas Dirga, mereka berdua banyak sekali gerakannya!" Ucap Istikah.


"Iya, nih, kalau mau nonton Videonya!" Sangga memberikan kepada Sangga. Sangga langsung menghapus videonya.


"Loh, kok malah dihapus!?? Tadi kalau begitu tidak usah divideoin lah!" Dirga marah-marah.


"Hahahaha, sudahlah, mau nambah makan dan minumnya lagi?" tanya Bustomi.


"Sudah kenyang pak!" Dirga masih kesal ke Sangga.

__ADS_1


"Jangan ngambek lah AKP, aku hapus itu karena sudah selesai urusannya! Kita harus segera ke kantornya pak Rajasa!" ucap Sangga.


"Oh, kalian ada kerjaan lagi?" tanya Rajasa.


"Iya pak, aada kasus perampokan dan penggelapan uang di kantornya pak Rajasa!"


"Wah,itu mah bagian polisi Sang!" Dirga menepuk dadanya.


"Hahahaha, iya, biar bisa kalau menbak orang kena, abis cuma bisanya nembak cewek doang!" Sangga meledek Dirga yang kemudian mencebikkan bibirnya.


"Hahahaha, oh yang di kafe saya itu?" tanya Bustomi.


"Iya, masa nembak dari jarak 3 meter kagak kena! Payah loh mas!" Sangga meledek Dirga lagi.


"Asem kau, kebanyakan masuk ke dimensi lain kali Sang!"


"Disalahin masuk dimensi lain! Tidak aku ajak lagi deh!" Sangga kesel.


"Yeee...Jangan, iye iye maap...Hahaha!" Dirga memukul lengan Sangga. Mereka semua berdiri. dan keluar kafe menuju ke parkir mobil mereka.


"Sangga sekali lagi terima kasih. Ini ada tanda terima kasih buatmu!" Bustomi memberikan amplop tebal ke tangan Sangga.


"Sudahlah, tidak usah pak. Simpan saja buat nambah modal! Saya bukan tidak mau menerima, semoga kita bisa saling bantu saja pak!" Sangga menolak amplopnya.


"Jangan dong Sangga. Saya kan jadi punya pengalaman baru dan masalah juga sudah selesai.” Tapi Sangga tetap tak mau terima, mereka bersalaman dan mereka masuk ke dalam mobil menuju ke kantor pak Rajasa.


Sampai sana, sudah agak sore.  Sampai di depan lobi sudah ditunggu oleh pak Rajasa. Mereka bertiga turun dan bersalaman dengan pak Rajasa. Pak Rajasa dan beberapa managernya menyambut kedatangan Sangga, Dirga dan Istikah.


"Mari masuk mas Sangga, AKP Dirga, Istikah!" Pak Rajasa sengaja memperkenalkan mereka berasal dari kepolisian. Mereka masuk ke dalam sebuah ruang rapat. Mereka pun dijamu dengan berbagai makanan dan  minuman.


"Ayo, mas Sangga, mas Dirga, makan dulu ya, baru kita membicarakan masalah kantor kami!" Ucap pak Rajasa.


"Baik pak," jawab Dirga dan Sangga.


Mereka semua makan dulu bersama, Sangga dan Dirga mengobrol bertiga dengan pak Rajasa.


"Sang, kasusnya disini seperti apa?" tanya Dirga.


"Begini, di salah satu gudang kantor pak Rajasa ada tikusnya. Ada kawanan perampok yang berkomplot dengan penjaga gudang di sana. Sudah beberapa minggu ini, mereka beraksi pada saat Sholat Jum’at. Jadi mereka memindahkan barang ke sebuah mobil box dan jamnya sama. Sholat Jum’at!"


.......


.......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2