
Bab 35.
Di tengah jalan, Dirga mendapatkan telpon dari AKBP Baunaji untuk datang ke Polda bersama
Sangga.
"Sang, ada panggilan ke Polda!"
"Ya sudah, lanjut saja, mas!"
"Oke." Dirga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan sudah mulai
sepi.
"Gila lo! Mentang-mentang jalanan sepi langsung ngebut! Nanti dithilang mas!" Dirga bukannya pelankan mobil malah tambah ditancap gasnya.
"Woi! Gue masih belum kawin ini!" Sangga tidak takut, hanya dia sedang tak mau saja mati konyol.
"Tuh lihat, kita kerjain yuk!" Sangga melihat dua motor gede polisi sedang berjaga di bundaran, karena melihat Dirga ngebut, mereka langsung mengejar mobil Dirga. Dirga tambah ugal-ugalan karena masuk ke jalan protokol yang besar, sehingga kedua motor polisi tadi menyalakan sirine dan mengontak temannya di Polda untuk menghadangnya.
Dirga tambah tertawa, begitu dia mau masuk ke gerbang Polda, Dirga sengaja memperlambat laju mobilnya dan berhenti. Satu motor berhenti di depan mobil dan satunya di belakang mobil. Sehingga Dirga tidak bisa memajukan atau memundurkan mobilnya.
Mereka berdua turun. Yang di belakang langsung ke samping jendela mobil dan mengetok dua kali. Sama Dirga tak dibukain jendelanya. Diketok kembali tapi tak mau dibukakan juga oleh Dirga. Yang didepan mulai menyenter ke dalam mobil melalui kaca depan mobil.
Sangga dan Dirga tertawa dan menunduk. Karena tiga kali sudah diketok jendela mobilnya. Dirga membuka kaca jendelanya.
"Berisik ahh, itu lampu kenapa dinyalain!" Dirga pur-pura marah.
"Dasar kunyuk!!" Polisi yang di samping jendelanya langsung menendang mobil Dirga bagian bawahnya.
"Wei mobil baru nih! Awas kalau lecet! Belum ada asuransinya!" Dirga kesal.
"Elo sih tidak kasih kode tadi pas lewat! Kunyuk kau!"
"Hahahaha, lupa bro! Sorry yee!" Polisi tadi langsung ngeloyor dan meninggalkan mobil Dirga.
"Elo sih mas! Pake ngerjain petugas. Iseng amat!" celetuk Sangga.
"Hahaha, berarti mereka kerja, Sang!"
"Iye ye," jawab Sangga.
Kemudian mereka masuk ke gerbang dan masuk ke bangunan Divisi Anti Teror. Mereka langsung disambut oleh AKBP. Baunaji. Jendera Bromo masih di ruangannya, jadi mereka hanya bertemu dengan AKBP. Baunaji yang sedang kusut mukanya.
"Gimana sudah ketemu belum lokasi laptop itu dan orang yang kabur dari mall?" tanya Dirga.
"Belum, makanya kalian kami panggil!"
"Siap komandan!" Sangga menghormat.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo kita duduk di sana, ada karpet dan banyak makanan!" Sahut Baunaji.
"Okey! Itulah yang ditunggu, laper nih!"
"Siap!!"
Mereka berjalan ke sebuah ruangan sesudah bersalaman dengan beberapa anggota yang bertugas. Mereka duduk di atas karpet yang ditengahnya banyak makanan dan minuman kemasan.
"Mana laptopnya! Ada informasi apa yang didapat, pak?" tanya Sangga.
"Banyak informasi yang kami dapat. Ada beberapa jaringan yang bekerjasama dengan mereka dan juga aliran dana mereka. Tapi komplotan yang punya laptop tidak ada informasi sama sekali!"
"Ah,masa? Saya belum ngecek ke dalamnya sih, langsung kami bawa aja kemarin itu"
"Iya, ada beberapa cuma, nama mereka pake alias!"
"Ya sudah. Sebentar saya merokok dan ngopi dulu. Ada nasi tidak?" tanya Sangga.
"Hm, ada, tuh nasi!"
"Oh iya, makan dulu ya pak! Abis dibawa ngebut sama AKP jadi lapar!" Sangga dan Dirga langsung membuka nasi goreng bungkus yang sengaja mereka beli untuk yang dinas malam.
Sangga makan dan merokok dulu kemudian dia duduk bersila dan merapalkan bacaan doa, dan mulai melepas sukma dari raganya. Sangga masuk ke dimensi lain. Dia memanggil Leon. Sesudah Leon datang, Sangga langsung melompat ke punggung Leon dan memegang kepala atas Leon untuk mentransfer informasi yang menjadi tugasnya.
AUUUMM
ada di pinggir sawah. Dia merekam dan menfotonya yang tertera nama desa dan kecamatannya.
"Leon, lokasi kedua!"
Leon kembali melompat beberapa kali dan akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan rumah yang agak luas. Sangga melihat dulu ke semua sisi rumah, kemudian dia masuk ke sebuah ruangan yang agak luas di belakang rumah. Ternyata ada 4 orang laki-laki yang sedang merakit bom. Mereka sibuk, tampak mereka sudah jadi 5 rangkaian yang tinnggal dihubungkan dengan detonatornya.
Leon kembali berjalan ke ruangan lain, nampak 2 orang wanita dan empat orang anak kecil sedang tidur.
Sangga keluar bersama Leon dan menyusuri jalan tanah berbatu dan terlihat beberapa rumah yang berjauhan letaknya. Dia menemukan sebuah gapura yang ada nama desa dan kecamatannya.
Sangga kembali menepuk-nepuk Leon dan kembali ke raganya.
"Hm, nih,semua rekaman lengkap." Hp diberikan ke Baunaji dan dia langsung memerintahkan kepada pasukan di lapangan untuk melakukan penggerebekan ke alamat dua rumah tadi.
"Alhamdulillah, semoga ketemu."
"Aamiin."
"Eh, Sangga sudah datang!" Bromo masuk ke dalam ruangan itu dan duduk diatas karpet sesudah bersalaman dengan Dirga dan Sangga.
"Bagaimana sudah dibantu mas Sangga?" tanya Bromo.
"Sudah pak, saya tadi sudah mengecek sendiri ke sana!" Jawab Sangga.
__ADS_1
"Bagus, sudah beberapa hari ini kami kesulitan sekali, apakah memang susah atau mereka berpindah-pindah?" tanya Bromo sambil menyeduh kopi.
"Sudah saya kasih tau alamat keduanya! Kalau rumah laptop itumemang ada di hutan belantara, tapi sudah saya kasih tau juga nama desa dan kecamatannya!" jawab Sangga.
"Bagus. Kalian sebaiknya disini saja dulu sampai semua tertangkap!" Ucap Bromo.
"Hm, boleh saja pak, tapi saya tidak bawa baju," jawab Sangga.
"Hm, ya kalian pulang dulu lah sekarang, kalau sudah semua selesai untuk hari ini, saya minta bantuan untuk mengungkap jaringannya. Sudah ada beberapa yang kami buru, tapi hasilnya masih nihil!"
"Hm, kalau menurut saya, sebaiknya nanti sesudah tertangkap yang di sana, saya akan bantu interogasi!" Sahut Sangga.
"Maksud saya juga begitu. Mereka harus segera diinterogasi!" Balas Bromo.
"AKBP Baunaji!"
"Siap, jenderal!" jawab Baunaji.
"Sudah kirim pasukan dua rumah tadi sesuai yang diinfo Sangga?"
"Siap Jenderal! Sudah meluncur ke target!"
"Oke, gudjob!"
Sesudah dua jam, rumah pertama ditemukan dan semua barang bukti juga sudah diamankan. Sesudah itu, sejam kemudian, rumah kedua juga sudah ditemukan dan terjadi tembak menembak, sehingga ada 2 orang yang tewas dalam peristiwa itu. Sisanya dibawa ke suatu lokasi kepolisian yang tidak diketahui oleh yang tidak berkepentingan.
"Alhamdulillah, semua sudah berhasil ditemukan. Sudah pagi, apakah kalian mau pulang atau mau tidur disini?" tanya Jenderal Bromo.
"Kami istirahat dulu, pak. Nanti siang kami baru pulang ke rumah."
"Kaliansekarang tinggal dimana?"
"Dirumah pak Rajasa!" jawab Sangga.
"Oh, oke. Kalian naik apa?"
"Naik mobil barunya mas Dirga, pak!" jawab Sangga.
"Wah, sudah punya mobil nih!"
"Alhamdulillah, sudah komandan! DIkasih oleh pak Rajasa,ndan!"
"Hm baguslah!"
........
........
BERSAMBUNG
__ADS_1