
BAB 16.
"Sang, gimana tadi si Syanum? Kayaknya suka tuh sama kamu!" Dirga membuka suara.
"Wah, kalau itu aku belum nanya. Cuma dia tadi nanya, apa aku sudah punya pacar? Ya aku jawab sudahlah. Dia telat datangnya!"
"Hahahaha, keren kamu Sang. Jujur juga, lain kali kalau ada yang suka sama kamu, bhilang aja kamu jomblo!"
"Ah, tidak mau! Jujurlah mas! Aku tidak suka bohong. Lagi pula, kan berarti sudah melukai hati mereka berdua. Ya kita jalani takdir kita saja dulu. Aku dan Istikah juga baru saja jadian dua hari lalu. Masa langsung aku khianati!" Sangga menjelaskan mengenai hatinya yang tidak mau melakukan pengkhianatan
"Hm, hebat. Kamu memang orang desa yang lugu." Dirga kembali menyetir mobilnya ke hotel yang dia tuju.
Sampai di hotel, mereka langsung mandi dan beristirahat.
"Sang, mau aku pintain tidak sama pak Rajasa,nomer HP Istikah?" tanya Dirga.
"Eh, mau dong mauuu...Mintain ya!"
"Wani piro? Hahahahaha." Dirga tertawa dan kemudian menelpon ke HP pak Rajasa.
["Halo, pak Rajasa."]
["Ya, halo AKP Dirga. Ada kabar apa ini?"]
["Hm, begini pak. Boleh saya minta nomer Hp Istikah? Sangga sudah punya HP baru, nih!"]
["Wah,iya, aku lupa kemarin membelikan HP untuk Sangga. Padahal aku mau mampir dulu sebelum ke hotel."]
["Iya tenang pak, sekarag sudah punya HPnya!"] Dirga mengabari.
['Ya kalau begitu Sangga misscall saja ke nomer saya, biar Istikah nanti yang telpon ke Sangga. Bagaimana?"]
["Hm boleh pak Rajasa. Memang bapak lagi dimana?"]
["Saya lagi di jalan mas, jadi tidak bisa main HP, saya lagi menyetir mobil."]
["Ya sudah. Dilanjutkan pak, nanti biar Sangga telpon pak Rajasa. Suwun pak!"]
["Ya mas, nanti saya tunggu."]
AKP Dirga mematikan telponnya.
"Sang, telpon pak Rajasa, nih nomernya!" Dirga memberikan hpnya dan Sangga menelpon ke nomer pak Rajasa.
["Halo, Assalamualaikum."]
["Wa'alaikumsalam."]
["Pak Rajasa, ini Sanggabuana."]
["Eh, iya Sangga. Wah, maaf ya, saya kemarin mau kasih kamu Hp baru, sebelum ke hotel mau beli dulu dii dekat sana, eh lupa..!"]
["Iya tidak apa-apa pak, alhamdulillah ada yang memberikan aku Hp tadi."]
["Ya sudah, nanti nomer ini akan saya kasih ke Istikah, biar dia nanti telpon ke kamu."]
["Iya, pak. Hati-hati di jalan."]
__ADS_1
["Iya."]
Sangga menyimpan Hp nya dan kembali menonton TV. Sekitar lima belas menit kemudian, HP sangga berdering dan diangkat oleh Sangga.
["Halo, Assalamualaikum."]
["Waalaikum salam."]
["Ini Istikah mas. Wah, punya Hp baru nih. Tadi paman baru saja memberikan nomer mas Sangga ke aku."]
["Iya, baru aja dikasih tadi siang. Kamu bagaimana kabarnya Istikah."]
["Baik mas. Minggu depan mas Sangga sudah masuk kuliah loh."]
["Oh ya? Minggu depan?"]
["Iya, kamu nanti mending tinggal disini saja mas Sangga. Kalau ke kampus bareng aku."]
["Ya, lihat nanti saja, Istikah. Aku masih belum tau tugas masih ada atau tidak. Kalau sibuk, mas juga tidak bisa kuliah dulu."]
["Hm, ya sudah. Istikah sudah kuliah jalan sebulan, nanti mas Sangga ketinggalan pelajaran loh!"
["Ya, kan ada Istikah. Pasti kamu mau membantuku."]
["Hihihihi...Ya pasti dong. Aku kan maunya bareng mas Sangga kalau kuliah. Aku merasa aman saja kalau sama kamu, mas."]
["Ya sudah. Lihat nanti saja. Aku juga belum bisa nyetir mobil Istikah, aku palingan diantar oleh AKP Dirga.]
["Ya, tidak papa. Kalau aku kadang ikut dengan kak Dira, kadang juga sama paman diantar."]
["Oh begitu. Kalau kamu jurusannya apa? Eh, aku apa ya?"]
["Oh kita sekelas dong."]
["Iya masku sayang....Hihihihihi."]
["Kamu bandel ya, sudah sayang-sayangan segala."]
["Emang aku sudah sayang sama kamu mas. Kamu itu memang idolaku. Sejak di kereta aku juga sudah suka sama kamu. Kamu itu ganteng, kayak artis korea. Tampan, hiihihihi..."]
["Ah, mas sih? Aku biasa aja kok!"]
Mereka masih mengobrol di Hp selama setengah jam. Kemudian diakhiri.
*
Seminggu kemudian Sangga diantar oleh Dirga ke Kampusnya, sesudah mereka pulang dari semarang. Ada kasus pembunuhan yang lumayan ribet, tapi pelaku bisa tertangkap dalam dua hari. Di sana Sangga bertemu dengan Pak Rajasa, mereka langsung bertemu dengan Rektor universitas dan Dekan fakultasnya. Mereka bertemu di ruang kerja rektor.
"Selamat Siang pak Hermawan," Ucap pak Rajasa.
"Eh, ya mari masuk, sudah saya tunggu dari tadi." Mereka langsung duduk sesudah bersalaman.
"Wah, macet tidak di jalan?" tanya pak Rektor.
"Tidak kok, aman, lumayan lancar."
"Iya masalahnya kampusnya ini ada diagak pinggiran kota, hahahaha."
__ADS_1
"Iya sih, lumayan jauh dari tempat kami," ucap Sangga.
"Oh iya pak Hermawan, kenalkan ini mas Sanggabuana, keponakan saya juga, yang sampingnya kawan saya. Nah, nak Sanggabuana ini bermaksud kuliah di kampus ini. Sudah saya daftarkan ke bagian pendaftaran mahasiswa baru. Dia mau di Fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen."
"Oh iya, kami welcome saja. Kalau memang sudah didaftarkan, saya panggil dulu ya, pak Dekan Fakultas Ekonomi.
"Baik pak." Pak Rajasa dan semuanya menunggu kedatangan Dekan Fakultas Ekonomi yang tak lama datang.
"Nah ini dia, pak Jarwo, beliau sudah datang."
"Jarwo." Mereka saling bersalaman dan akhirnya pak Jarwo duduk di sebelah pak rektor.
"Begini pak Jarwo, pak Rajasa ini kawan saya, dia mau masukkan keponakannya kuliah di Manajemen. Itu, nak Sanggabuana yang mau kuliah. Dia sama siapa pak Rajasa? Hm..Oh iya, Istikah ya?"
"Iya Istikah, dia juga keponakan saya. Nanti sekelas saja dengan Istikah."
"Baik pak rektor. Sebentar akan saya ambil jadwal kuliahnya dan semua akan kami urus yang lainnya."
"Baik pak Jarwo."
"Sama satu lagi. Keponakan saya ini akan jarang masuk kuliah, karena ada banyak tugas dari sebuah institusi. Tapi diusahakan Sangga akan masuk seperti biasa kalau dia tidak ada tugas."
"Kalau begitu nak Sangga sebaiknya ikut kelas karyawan saja pak.Dia bisa agak sedikit bebas, dan kuliahnya pun hanya sabtu dan minggu saja."
"Oh, ada kelas karyawan?"
"Ada pak, bagaimana?" tanya pak Jarwo.
"Gimana mas Sangga?" tanya pak Rajasa.
"Boleh, atur saja pak, saya yang penting kuliah!" jawab Sangga.
"Baiklah kalau begitu, kita pindahkan saja ya untuk pendaftarannya ke kelas karyawan," ucap pak Hermawan.
"Baik, kalau begitu selesai ya urusan kita." Kemudian mereka pamit dari ruang Rektor. Istikah yang melihat Sanggabuana keluar dari ruangan pak Rektor, segera berlari mendekat ke Sanggabuana.
"Mas Sanggabuana!" Mereka semua menengok. Istikah sedikit berlari menuju ke mereka.
"Eh, Istikah," sahut Sanggabuana.Istikah bersalaman dan mencium tangan pak Rajasa.
"Bagaimana? Jadi kan mas Sangga kuliah di sini?" tanya Istikah kepada pak Rajasa.
"Jadi, cuma kayaknya Sangga kuliah di kelas karyawan. Jadi kalian tidak bisa bareng, Istikah."
"Yaaaaaa....." Istikah kecewa mendengar jawaban pak Rajasa.
"Yang pentingkan, kalian kuliah di kampus yang sama Istikah. Kamu bisa janjian sama Sangga nanti. Hmm...Kangen ya?" Goda pak Rajasa.
"Ahhh paman, iya dong..." Istikah cemberut. Dirga dan Sangga tertawa. Istikah langsung merangkul lengan Sangga dan mengajak Sangga ke kantin.
"Paman, aku dan mas Sangga mau ke kantin dulu. Mau ikut tidak?" tanya Istikah.
"Iya yuk, paman juga lapar."
.......
.......
__ADS_1
BERSAMBUNG