
Bab 6.
“Bagaimana anda tau semua?Aneh juga ya, bagaimana saya percaya dengan anda??” tanya Polisi tadi masih terheran-heran.
“Ya sudah, buktikan saja! Apa salahnya membuktikannya?? Kalau mas tangkap mereka sekarang, belum tentu barangnya ada sama mereka. Mas buktikan saja dulu!”
“Baiklah, terima kasih informasinya! Kalau berhasil atau tidaknya, besok aku akan ke sini lagi!!” Kemudian polisi tadi berdiri dan langsung berjalan menuju sebuah mobil kijang dan dua orang temannya pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Sesudah beres, Sangga pulang ke rumahnya yang tak begitu jauh. Setelah sholat, Sangga menccoba mengaktifkan kalungnya agar tak terlihat dan bisa berlari dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, Sangga sudah sampai di lokasi penggerebekan yang disebutkan tadi ke polisi gadungan itu, yang sedang memata-matai transaksi narkoba.
“Hm, itu dia keliatan mobilnya!” Sangga berjalan menuju samping mobil hitam yang dia lihat. Sangga melihat dua orang Negro ada di dalam mobil tersebut. Dia tak melihat orang Asia yang ada dalam penglihatannya. Sepuluh menit kemudian, datanglah sebuah mobil BMW yang berhenti di samping persis mbil hitam tadi dan turunlah seorang berwajah Asia masuk ke dalam mobil hitam itu, kemudian dikunci.
Sangga bingung, tak ada polisi yang mengintai mobil itu. Tak terlihat sama sekali polisi yang ada di dekat mobil itu. Lantai parkiran itu suasananya sepi.
“Ah, mungkin saja nanti mereka akan gerebeknya!” pikir Sangga. Sanggabuwana berkeliling di area lantai parkir tersebut untuk memastikan ada polisi yang mengintai. Benar saja, dia melihat polisi gadungan tadi sedang berada mengintai mobil hitam yang dikasihkan ciri-cirinya kepadanya tadi.
“Hm bagus, sepertinya mereka sudah siap. Baiklah, aku akan menunggu di sekitar mobil hitam itu saja!” Sanggabuwana berjalan ke samping mobil tadi dan berdiri di samping pintu depan kiri. Tiba-tiba dari mobil hitam tadi, keluar duluan satu orang Negro dari mobil hitam tadi dengan membawa sebuah kardus berukuran sedang. Dia hendak memasukkan kardus itu ke dalam bagasi BMW yang sudah terbuka bagasinya. Begitu melihat hal ini, Sanggabuwana langsung menutup pintu pintu Bagasi BMW tadi dengan cepat.
BRAK
“Hai, Apa ini? What’s that?” Orang Negro kaget melihat pintu bagasi menutup sendiri.
“Why?”
“What?”
Sanggabuwana langsung menutup pintu penumpang BMW lagi, setelah terbuka karena orang asianya tampak akan turun dari mobil hitam itu. Melihat keanehan tersebut, orang Negro yang membawa kardus tadi langsung melempar kardusnya ke dalam mobil hitam itu dan menarik orang asia itu keluar. Otomatis orang asia itu terjerembab dan membentur bodi mobil dengan keras dan terjatuh di samping mobil BMW itu.
BUGHH
“Ahhhhh…!”
Mobil hitam langsung tancap gas ke arah kiri, tapi tak bisa karena terhalang oleh BMW yang masih berhenti di sana. Sanggabuwana menendang kepala orang asia yang hendak bangun dan jatuh lagi tak sadarkan diri.
TIN
TIN
Dua mobil sedan dari depan dan dua mobil dari belakang langsung menghadangnya. Semua polisi yang berpakaian preman semua keluar yang berjumlah puluhan.
“ANGKAT TANGAN!!” Seluruh sudah mengacungkan pistol ke arah mobil hitam yang tak bisa bergerak, karena terjepit.
“KELUAR KALIAN!!”
Puluhan anggota polisi langsung mengepung dari segala arah. Termasuk yang berada disamping kanan Alphard tadi.
DOR DOR,
seorang polisi menembak ke arah kaca mobil hitam itu dan pecah.
PRANG
PRANG
__ADS_1
“Wah, kayaknya Seru, nonton dulu ah! Hihihihi.” Sangga masih berdiri disamping jendela kiri mobil hitam itu, orang asia itu masih tergeletak di samping mobil BMW itu..
Salah satu orang Negro yang duduk di kursi belakang langsung mengangkat tangannya dan keluar dari mobil. Sanggabuana yang berdiri disampingnya langsung menendang orang itu dan dia tersungkur ke sebelah kiri mobil BMW dekat dengan orang Asia yang masih pingsan.
“TIARAP!!” Perintah polisi. Dia langsung tengkurap dan seorang lagi yang ada di balik kemudi, ikutan turun dan tiarap di lantai. Sanggabuana yang iseng berjalan ke samping dua orang Negro tadi dan berdiri di atas punggung keduanya. Kaki kiri dan kaki kanan ada di atas punggung masing-masing orang Negro. Sehingga mereka seperti ditindih oleh badan manusia dan tak bisa bergerak.
Polisi langsung bergerak memborgol dua orang Negro yang masih tiarap di lantai tadi dan orang asia yang masih pingsan. Mereka semua diringkus bersama sedus barang bukti berupa narkoba.
Sanggabuana melihat semua telah aman, langsung menghhilang kembali ke rumahnya. Dia kembali mengucapkan bacaan Doa untuk kalungnya. Dan wujud Sanggabuana kembali terlihat.
*
Besok paginya, dia menyiapkan kembali bahan dagangan cilok dan batagornya. Dia berangkat ke tempat biasa dia jualan.
Sampai di sana telah banyak pelanggan yang menunggu cilok dan batagornya. Sangga dengan telaten melayani mereka. Cilok dan batagornya sangat enak jadi Sangga selalu menambah terus jumlahnya, tapi tetapsaja habis karena selain enak, tidak ada yang jualan cilok dan batagor selain dia.
Siang hari, sewaktu Sangga menggoreng tahu isi, datang seorang anak muda yang duduk di kursi dan memesan cilok dan batagornya. Sanggabuana yang telah tau wajah sang polisi itu menyapa.
“Eh, mas, gimana? Sukses kan? Terbukti apa kata saya??" tanya Sangga sambil mengoreng.
“Alhamdulillah. Semua berjalan lancar dan semua tertangkap! Mas, bisa ikut saya sekarang ke kantor kami? Atasan kami ingin bertemu dengan mas. Beliau ingin mengcapkan terima kasih, bagaimana??” tanya Polisinya.
“Eh, cilok dan batagor saya belum habis mas. Bagaimana dong?”
“Ya mas, kita borong saja semua, dan gerobaknya nanti diurus oleh pihak kami. Bagaimana?”
“Hm, okelah. Tapi gerobak saya jangan dirusak!!” Sanggabuana langsung beberes. Cilok dan batagor yang telah jadi langsung dimasukkan ke dalam plastik. Begitu juga semua bahannya langsung diangkut ke sebuah mobil yang langsung dinaiki oleh Sanggabuana. Banyak yang melihat ke arah Sangga, sambil bingung.
“Tak apa-apa mas, hanya masalah pribadi saja. Mas jualan saja disini, aman kok!” Sangga meyakinkan pedagang itu. Di dalam mobil polisi, mas Polisi tadi mengulurkan tangannya.
“Dirga! Saya komandan lapangan divisi Narkoba di kantor saya!”
“Saya Sangga, Sanggabuana. Penjual cilok dan batagor yang ganteng pisan, ahahaha…!” Mereka berdua tertawa. Mereka sampai di Kantor Polisi. Mereka berdua berjalan menuju sebuah ruangan. Dirga mengetok pintu.
“Masuk,” jawaban dari dalam ruangan.
“Lapor komandan, saya telah bersama dengan tamu!” Sambil memberi hormat kepada komandannya.
“Siap, bawa masuk tamunya!” Dia berdiri dan Sangga masuk ke dalam ruangan setelah dipersilahkan
oleh komandan Dirga.
“Selamat Siang, pak!” Sangga menyapa dengan sopan.
“Selamat siang, selamat siang! Maaf dengan siapa ini anak muda?” tanya pak Bromo.
“Saya Sanggabuana pak.” Sanggabuana menyambut tangan yang diarahkan kepadanya.
“Saya Kombes. Bromo. Selamat datang di Kantor kami. Ayo silahkan duduk. Enakin saja ya mas Sangga. AKP Dirga, silahkan pesan makanan untuk kita makan siang!” Sahut Kombes. Bromo.
“Siap komandan.” Dirga langsung keluar dari ruangan dan menutup kembali pintu ruangan.
“Bagaimana kabarnya mas Sangga?”
__ADS_1
“Baik pak.” Sangga agak canggung dan hanya menjawab sekenanya saja.
“Saya sengaja mengundang mas Sanggabuana ke Kantor saya. Kami sangat berterima kasih atas informasi yang telah diberikan. Berkat informasi mas Sanggabuana, kami dapat menggagalkan transaksi Narkoba dan mengamankan semua barang bukti dengan nilai yang cukup fantastis, 10 milyar rupiah!”
Sangga hanya tersenyum dengan omongan Kombes. Bromo.
“Ya, oleh karena itu, saya secara pribadi dan dari pihak kepolisian mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, nanti kami akan memberikan hadiah kepada mas Sanggabuana berupa uang sebesar lima puluh juta rupiah.” Sanggabuana senang dan tersenyum.
“Terima kasih pak Bromo, saya hanya bisa membantu sekedarnya saja. Menurut saya uang sebesar itu, tidak sebanding dengan apa yang telah saya berikan!” sahut Sangga dengan sopan.
“Walah, itu transaksi terbesar dalam dua tahun terakhir. Saya sangat salut dengan informasi mas Sanggabuana. Jadi ini memang luar biasa, mas!” Kombes. Bromo senang dengan sikap rendah hati Sanggabuana.
Pintu terbuka, dan AKP Dirga membawa beberapa makanan dan minuman dibantu oleh dua kawannya.
“Siap komandan, ini makanannya telah saya siapkan!”
“Ya kamu sekalian ikut makan bersama kita. Karena ada yang harus kita siapkan. Panggilan sekalian letnan Doni dan anak buahnya setelah kita makan!”
“Baik komandan.”
“Ayo mas Sanggabuana, kita makan siang dulu. Ini telah dibelikan oleh AKP Dirga. Hayo kita habiskan semuanya. Jangan ada yang sisa.” Mereka bertiga makan bersama.
Setelah makan, ada tiga orang lagi datang dengan membawa beberapa file kasus yang belum terungkap karena banyak kendala di lapangan.
“Begini rekan-rekan semua, saya sebagai komandan kalian disini, ingin menyampaikan bahwa mulai detik ini, mas Sanggabuana saya angkat menjadi informan dalam kantor ini di dvisi criminal umum dan narkoba. Selamat mas Sanggabuana!” Kombes. Bromo memberikan selamat kepada Sanggabuana yang tidak mengetahui apa-apa dan planga-plongo.
Sanggabuana menerima sambutan dari Kombes. Bromo.
“Selamat ya, mas Sanggabuana.” Semua yang hadir memberi selamat kepada Sanggabuana.
“Terima kasih.” Itu saja yang bisa dilakukan oleh Sanggabuana.
“Nah, karena mas Sanggabuana telah kami angkat menjadi informan dalam, maka kami mau mas Sanggabuana memberikan informasi dalam memberikan keterangan sehubungan dengan beberapa kasus yang belum kami ungkap.”
“Baik pak,” Jawab Sanggabuana.
“Nah, AKP Dirga, kita bisa mulai dengan kasus yang pertama. Berapa kasus yang belum terungkap karena kendala lapangan?” tanya Kombes. Bromo.
“Ada 8 kasus, komandan.”
“Hm, kalau begitu kasus pertama apa?” tanya Kombes. Bromo.
“Kasus pertama, pembunuhan terhadap pengusaha terkenal, yang terbunuh 3 bulan lalu. Kami telah punya tersangkanya, yaitu menantunya, ini fotonya. Bisa mas Sangga lihat keberadaannya?” AKP Dirga memberikan sebuah foto kepada Sangga.
Sangga memegangnya dan merapalkan bacaan doa, kemudian tampak gambaran penglihatan jelas.
.......
.......
BERSAMBUNG
__ADS_1