LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 20.


__ADS_3

Bab 20.


"Kalian ini ngomong apa sih? Ceritakanlah yang lengkap, supaya saya bisa mengerti!" Jenderal Bromo minta penjelasan.


"Iya, kalian ngobrol sendiri. Kamikan tidak tau apa-apa berdua!" sahut Jenderal Prana yang mencebikkan bibirnya.


"Sebenarnya saya juga masih tidak percaya bisa menangkap Sangar, Jenderal. Tapi Sangga kekuatannya besar, jadi dia bisa melindungi saya dan melumpuhkan Sangar dengan sekali lemparan sinar!" Dirga sangat takjub dengan yang dilakukan Sangga dengan sinar itu.


"Sinar apa itu, AKP Dirga?" tanya Bromo dan Prana bersamaan.


"Sinar apa, ya?" tanya Dirga susah menerangkannya.


"Waduh, kok saya masih bingung ini. Nah, Sangga saja yang menjelaskan!" gerutu Bromo.


"Hehehe, kamu tuh mas, cemen ahh! Begitu doang sudah ketakutan!" sahut Sangga meledeknya.


"Asem...! Ya takutlah, gue kan belum kawin, Sang! Mana kita tadi perang di alam lain, di dimensi lain! Kalau kita tidak bisa balik piye?? Lagipula kalau kita tertangkap oleh dia, dia akan membawa ke sektenya dan kita dicuci otaknya!" tanya Dirga misah-misuh tidak jelas.


"Hahaha, ya jangan nangkep penjahatlah! Katanya mau cari informasi, kalau saya yang memberikan informasi, takutnya mengada-ada lagi! Makanya sampeyan aku ajak ke sana, sekalian cari pengalaman dong!" Sangga menyenderkan punggungnya ke belakang.


"Hm, ya sudah, ayo nak Sangga. Ceritakan!" Prana sudah tak sabar ingin mendapatkan cerita kronologis yang sebenarnya. Sangga akhirnya menceritakan semua, Dirga juga terlibat dalam menjelaskan semuanya.


"Jadi ada foto dan video nya?" tanya Bromo.


"Iya, ini ada di HPku!" ucap Sangga. Sangga memberikan HPnya kepada Bromo. Bromo menonton vieo yang menampilkan semua kegiatan yang ada di dalam sekte tersebut.


"Kirimkan ke saya. Saya akan instruksikan kepada Kepolisian sana untuk bergerak!" Ucap Bromo. Sangga mengirimkan semua video yang ada di HPnya ke HP Bromo.


Setengah jam kemudian, Bromo dan Prana pamit pulang. Dirga dan Sangga kembali berdua. Mereka seharian di apartemen. Sangga dan Dirga ke tempat sekolah setir mobil, untuk mendaftarkan Sangga sekolah menyetir. Sangga hari itu sudah mulai ikut sekolah setir mobil pada saat itu. Dan seminggu kemudian dia sudah bisa menyetir mobil dengan agak lancar.


Siang itu, Dirga tiba-tiba dapat telpon dari kakaknya yang mengabarkan bahwa Ibunya sakit keras di kampungnya. Dia akhirnya minta ijin ke Bromo dan Prana sebagai atasannya untuk pulang kampung ke Sumatera. Dirga memang orang Sumatera Utara, dan saat ini merantau di Jakarta karena tugas dari kepolisian. Karena hal itu Sangga akhirnya tinggal di rumah Rajasa.


Yang senang dengan kehadiran Sangga adalah Istikah.


Pagi itu Istikah sedang melakukan tugasnya sehari-hari, yaitu mencuci pakaian. Abis mandi, pintunya diketok oleh pak Rajasa.


"Istikah,"ucap pak Rajasa.


"Ya paman." Istikah langsung membuka pintu.


"Ada apa paman?" tanyanya.melihat pamannya tersenyum.


"Abis mandi?"


"Iya paman."


"Baguslah. Pakaian yang bener, itu ada yang cariin kamu di luar!" ucap pak Rajasa.


"Siapa paman?"


"Paman tidak kenal, katanya kamu bawa sesuatu miiliknya!" Rajasa mengarang cerita agar Istikah kaget.

__ADS_1


"Siapa paman? Aku mengambil miliknya? Ah becanda ahh paman! Aku tidak ngambil milik orang lain kok!" Istikah merasa kesal dituduh oleh pak Rajasa.


"Sudahlah, cepet pakaian!! Jangan mengecewakan dia, sudah jauh-jauh katanya dia datang!"


"Ish paman, aku tidak tau ahh!"


"Ya sudah, paman tunggu di teras ya! Jangan kelamaan, nanti orangnya bisa marah!" Pak Rajasa pasang muka cemberut agar Istikah segera berganti pakaian.


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu paman!" Istikah langsung menutup pintu lagi. Pak Rajasa kembali menemui Sangga di teras.


"Nak Sangga, kamu tinggal pilih itu di garasi. Yuk kita ke garasi, kamu liat mobil mana yang kamu mau!" ucap Pak Rajasa sambil berdiri dan mengajak Sangga ke garasi luas miliknya.


"Baik pak." Sangga mengikuti pak Rajasa ke garasi.


Pak Rajasa memencet tombol yang ada di pinggir tembok dekat pintu masuknya.


DRRRRRTTTTTTTT


Pintu terbuka sedikit-sedikit naik ke atas.Tampak beberapa mobil yang mengkilat dari mulai mobil Jeep, mobil Sport dan mobil keluarga memenuhi garasi. Ada sekitar sembilan mobil yang ada di dalam garasi.


"Wah, mobilnya keren-keren pak!" Sangga kaget dan kagum dengan semua mobil yang masih kinclong dan tampak besih semua. Briptu. Doni juga kagum melihat semua mobilnya.


"Hm, bagaimana mas Sangga? Mau pilih mana?" Pak Rajasa tersenyum.


"Ah, yang mana saja pak. Asal bisa dipakai." Sangga bingung karena tidak paham mengenai keunggulan dari masing-masing mobil tersebut.


"Oke, kalau begitu, mas Sangga saya kasih yang Jeep saja, ya."


"Yang mana pak? Warna merah itu?" tunjuk Sangga.


"Naiklah, hidupkan mobilnya." Pak Rajasa memberikan kuncinya kepada Sangga.


"Alhamdulillah, terima kasih pak Rajasa!" Jawab Sangga.


"Iya, sama-sama mas Sangga." Pak Rajasa sangat senang melihat Sangga berseri-seri dan menerima pemberian mobil darinya. Sesudah mennghidupkan mobilnya, Sangga mengeluarkan mobil itu ke pekarangan.


Sangga yang masih di dalam mobil mempelajari semua tombol-tombol fungsi mobil tersebut.


"Paman!" Panggil Istikah yang sudah berpakaian rapi. Dia datang mendekat ke pamannya yang masih berdiri di depan garasi.


"Paman mana tamunya? Katanya tadi ada yang nyariin Istikah. Mana?" tanya Istikah.


"Itu ada di dalam mobil."


"Siapa sih paman? Aku kenal tidak?" tanya Istikah penasaran.


"Harusnya ya kenal dong, wong dia juga kenal sama kamu!"


"Lah, dia ngapain di dalam mobil? Kok nyoba mobil paman yang mahal itu? Itu kan jarang paman pakai! Malah tidak pernah paman pakai!" ucap Istikah sambil menatap muka pamannya.


"Kok tau kalau paman jarang pakai mobil itu?"

__ADS_1


"Ya iya, kan aku sering nyapu disini, dan di garasi."


"Hahaha, nah kamu ke sana saja gih, kali aja kamu kenal!" Pak Rajasa menyuruh Istikah mendekat ke Sangga.


"Boleh paman?" tanya Istikah.


"Ya bolehlah. Kan paman nyuruh Istikah!"


"Ya sudah, aku ke sana dulu paman, aku penasaran siapa sih yang nyariin aku!" Istikah langsung mendekat ke samping pintu mobil supir.


TOK


TOK


Sangga yang melihat keluar tampak Istikah yang tak bisa melihat ke dalam, karena kaca mobilnya pakai riben hitam yang sangat gelap, tersenyum. Dia sengaja memajukan mobilnya menghindari Istikah. Briptu. Dirga kaget.


"Kenapa mas Sangga? Kok maju?" Sangga tersenyum saja dan memutar mobil kembali lagi ke depan garasi. Dia lakukan sekaligus untuk memperlancar parkir mundurnya.


Mobil berhenti, Istikah melipat tangannya di depan dada sambil mukanya ditekuk. Sangga turun dari mobil dan menampakkan wajahnya.


"HAH! Masss Sanggaaaa!!" Istikah lari ke Sangga dan memeluknya.


"Hahahaha., kok cemberut sih?" tanya Sangga yang masih dipeluk oleh Istikah.


"Ishh...Sebel, aku kan kaget sama mas Sangga!"


"Kok kaget? Sebel kenapa?"


"Pasti deh sengaja godain aku!" Istikah merangkul lengan Sangga dan berjalan beriringan dengan Sangga.


"Hm, kamu sih ditungguin lama banget tidak dateng-dateng!" ucap Sangga dan mendekat ke pak Rajasa.


"Paman nih, tidak kasih tau ish kalau yang nyariin Istikah itu mas Sangga! Kan kalau tau mas Sangga yang datang pasti aku siap-siapnya cepet!"


"Hahahaha, kamu mah tidak tau kalau paman godain. Makanya jangan suudzon dong sama orang!" pak Rajasa mengelus kepala Istikah.


"Ini dalam rangka apa mas Sangga kesini?" tanya Istikah.


"Mas mau tinggal disini, boleh?" tanya Sangga melirik ke arah sang pacar yang masih belum melepaskan tangannya dari lengan Sangga.


"Hm, ya boleh dong. Tapi emang beneran mas Sangga tinggal disini?" Istikah melihat ke pamannya.


"Iya, mas Sanggamu mau tinggal disini, karena AKP Dirga lagi pulang kampung! Ibunya sakit!" jawab pak Rajasa.


"Oh begitu? Mas Sangga sudah makan belum?" tanya Istikah.


"Sudah, oh iya, kenalin ini Briptu. Doni!" Mereka berdua bersalaman. Mereka kemudian berjalan kembali ke gazebo.


"Dira kemana pak Rajasa?" tanya Sangga.


.....

__ADS_1


......


BERSAMBUNG


__ADS_2