LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 40.


__ADS_3

Bab 40.


"Istikah sekarang di rumah Sakit Jiwa, Sang!" Sangga melihat ke Dirga dengan wajah yang tk percaya.


"Kenapa dia mas?" Sangga mulai menitikkan airmatanya.


"Hmmm Dia sangat terpukul dengan hilangnya kau! Dia selalu menyendiri dan tidak menerima kabar bahwa kamu menghilang dan tidak diketemukan. Semua orangjuga menyangka kamu sudah mati dengan tragis, cuma aku dan Istikah saja yang masih yakin bahwa kau belum mati!"


"Di rumah sakit jiwa mana  mas?"


"Di Jakarta! Nanti kau akan kuantar ke sana!"


"Aku sudah banyak bersalah kepada Istikah, dia memang sangat mencintaiku. Aku harus datang ke Istikah dan menikahinya mas!"


"Ya, ayo kita ke sana!" Dirga merangkul Sangga yang sangat dia rindukan selama ini.


Mereka ke mobil Dirga dan masuk ke dalam mobil.


"Mas,makin keren aja mobil loe!" Sangga tersenyum melihat Dirga. Dirga yang sudah duduk di belakang kemudi melihat senyum Sangga yang selama ini selalu dia rindukan.


"Makasih Sang! Senyum loe akhirnya kembali kulihat sesudah 6 bulan ini selalu menghantuiku!" Dirga memegang pundak Sangga.


"Hm, ogah kalau menghantuimu, emang gue casper? Hahahaha!"


"Hahahahaha." Mereka berdua tertawa.


"Kamu belum makan, Sang?"


"Belum mas, mau ajak saya makan dimana?" tanya Sangga.


"Hm, Bustomi punya resto disini, dia membuka resto disini, karena dia selalu ke tempat ini sebulan sekali, seperti aku tadi. Aku setiap sebulan sekali ke tempat dimana kau jatuh dengan mobil porschemu! Karena gue yakin elo belum mati!"


"Terima kasih mas. Aku diselamatkan oleh seorang nenek dengan dua macan pendampingnya!"


"Macan kayak Leon dan Wewe??" tanya Dirga sambil melajukan mobillnya ke restoran Bustomi.


"Hm, ini nyata mas! Aku juga sudah lama tak bertemu dengan Leon dan Wewe!"


"Nanti sajalah ceritanya di sana ya, sambil kita makan! Bustomi pasti kaget melihat kamu masih hidup!"


"Hm, ya sudahlah, ini sudah menuju ke restoran Bustomi?" tanya Sangga senang melihat kembali ramenya jalan di kota garut itu.


"Iya, dia memang tidak membuka di sini, tapi mau arah pinggiran kota ini. Dirga langsung melajukan mobilnya ke resto Bustomi. Begitu dia masuk ke dalam halaman parkir resto milik Bustomi yang terlihat luas, tampak Bustomi sedang berdiri di pinggiran restonya yang bangunannya terbuat dari bambu.Miliknya baru dibuka dua bulan lalu.


Dirga memberikan lampu kepada Bustomi. Dia melambaikan tangannya ke arah mobil. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya sambil menatap ke arah mobil Dirga.


"Sang, elo disini dulu ya, jangan keluar dulu. Gue panggiil Bustomi dulu dari sini. Baru elo keluar dari mobil!"


"Oke, dasar AKP dramatis! Hahaha!"

__ADS_1


"Asem kau Sang!"


Dirga keluar dari mobil, kaki kanannya menyentuh tanah dan berdiri. Dia melihat ke Bustomi dan melambaikan tangannya memanggil Bustomi.Dirga menutup pintu mobilnya dan berdiri tagap di samping mobilnya sambil menunggu Bustomi sampai di hadapannya.


"Hei AKP! Baru sampai?" Mereka bersalaman.


"Iya baru saja, abis dari lokasi!"


"Hm lokasi Sangga?" Bustomi kembali diam dengan wajah sedih.


"Iya. Eh jangan sedih gitu dong! Gue punya kejutan buat ente pak Bustomi!" Dirga menepuk lengan samping Bustomi.


"Kejutan apa?" Bustomi tak menanggapinya dengan heboh. Dia tetap santai.


"Kamu


pasti merindukannya!" Dirga menatap Bustomi tajam. Tangan kirinya mengetuk kaca jendela mobilnya.


TOK TOK


Sangga membuka pintu dan berdiri kemudian berbalik badan mellihat ke Bustomi.


"SANGGAAAA!!" Bustomi lari dan memeluk Sangga dengan tangisnya. Mereka saling berpelukan. Lama sekali Bustomi memeluk Sangga yang selama ini dia rindukan.


"Kau benar Sangga?" tanya Bustomi yang sudah penuh kedua pipinya dengan air mata. Sanggapun begitu.


"Ya, pak Bustomi, Aku Sangga, Sanggabuana yang kasep pisan!"


Mereka bertiga tertawa dan Dirga ikutan memeluk mereka juga. Mereka berpelukan bertiga. Banyak yang melihat ke arah mereka dan menyindir mereka. Tapi mereka tak ambil pusing dengan sindiran dari beberapa pengunjung resto tersebut.


"Yuk kita masuk, kita rayakan kehadiran Sangga diantara kita!!" Bustomi tetap merangkul Sangga dan mereka masuk ke meja privacy. Bustomi langsung menjamu Sangga dengan semua menu yang ada.


Sesudah mereka makan kenyang, Bustomi dan Dirga penasaran dengan yang terjadi dengan Sangga.


"Jadi bagaimana Sang ceritamu tadi, kau teruskanlah!" Dirga mengeluarkan rokoknya dan menawarkan ke Sangga.


"Rokokmu belum ganti, mas?"


"Belumlah, kau kan suka dengan rokok ini! Hahaha."


"Ya, boleh bantu habiskan rokokmu?"


"Kebiasaan! Sok ambil, Sangga kasep! Hahahaha." Dirga tertawa sesudah menghiap rokoknya sampai dia terbatuk-batuk.


"Hm oke, makanya kualat kau sama aku!" Sangga tersenyum mlihat Dirga melotot.


"Saya senang banget melihat lagi kalian bertengkar mesra!" Bustomi tersenyum.


"Sayang...Eh mas Sanggabuana? Ya Allah!! Masss....!" Tampak seorang Syanum yang pernah suka kepada Sangga hadir di depan Sangga.

__ADS_1


"Eh, Syanum...?" tanya Sangga terkejut.


"Mas Sangga!!" Syanum memeluk Sangga dan langsung melepasnya kembali.


Sangga bingung dengan kehadiran Syanum disini. Syanum yang masih menitikkan air matanya kemudian pindah ke samping Bustomi. Bustomi merangkul Syanum.


Sangga masih melongo, dan mulutnya sampai masih belum mingkem.


"Awas itu mulut nanti kemasukan lalat ijo!! Hahaha." Dirga tertawa melihat Sangga yang masih melongo.


"Asem kau!" Sangga langsung malu.


"Ya mas Sangga, Syanum sudah saya nikahi dua bulan lalu dan saya membuka resto ini disini!" Bustomi mencium pipi Syanum.


"Mas Sangga, kamu bener-bener Sangga kan?" Syanum juga masih tak percaya kalau Sangga masih hidup. Karena Sangga sekarang rambutnya sebahu dan mempunyai bewok dan kumis tipis.


"Iya, saya tetep Sanggabuana si Kasep thea!"


"HAHAHHAHA."


"Bagaimana Sang, kelanjutan ceritamu!" Dirga menagih sambil menghisap rokoknya kembali.


Sangga menyalakan rokoknya dan menghisapnya.


"Huuuu...Ketika aku jatuh, sepertinya aku terlempar jauh berlawanan dengan Jatuhnya mobil. Aku


ditemukan oleh seorang nenek. Kalau tidak salah, nenek bhilang sudah 10 hari aku tidak sadar. Pada waktu aku tidak sadar juga, aku memang tidak mengalami apa-apa!"


"Terus kamu luka-lukanya bagaimana?" tanya Dirga.


"Ya memang, aku terluka parah. Liat nih, tanpa bekas semua.Jadi nenek mengobatiku dengan obat ramuan daun-daunan dan bahan alami di hutan. Dia katanya sering membantu beberapa hewan yang terluka di hutan. Jadi ilmunya pun akhirnya dilimpahkan ke aku, mas!" Sangga menghiap rokoknya.


"Jadi apa yang kamu lakukan di sana?"


"Nah, sesudah aku sembuh total, aku diajarkan tiga ilmu pamungkasnya nenek! Dia mengajariku ilmu ramuan, ilmu racun dan ilmu penyerap energi!" Jelas Sangga.


"Masya Allah, Sang! Kau sekarang sudah jadi tabib dan pendekar!" Dirga menepuk punggung Sangga.


"Itulah mas,aku juta tak tahu, apakah aku ini mampu?Lagipula kemahiranku berkelah ijuga tak pernah jago juga!" Sangga menghisap kembali rokoknya.


"Mas Sangga, yang penting mas Sangga sekarang pergi menemui Istikah. Beberapa hari yang lalu, aku dan AKP Dirga ke sana. Kami sedih melihat kondisi Istikah sekarang. Dia tampak kurus dan sangat depresi! Kadang menangis sendiri, dan mengamuk!" Bustomi menitikkan airmatanya. Syanum merangkul Bustomi.


"Hmmmm...Baiklah, saya akan ke sana sekarang! Yuk, kita segera obati dan sembuhkan Istikah! Karena aku dia sampai seperti ini!"


......


CERITA DILANJUTKAN SLOW YAA...BERIKAN BINTANG LIKE NYA DAN HADIAH YANG BANYAK....BARU DEH AKU LANJUTKAN


......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2