LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 24.


__ADS_3

Bab 24.


"Maaf pak, ini kartu apa? Kartu mainan?" tanya Kasirnya sinis.


"Ah, masa mainan? Itu kartu diberikan oleh paman saya, suruh saya pakai. Kalau tak percaya ya digesek saja, repot amat anda?" Sangga tak menyangka akan mendapatkan masalah lagi dengan kasir disini.


"Ah tidak mau! Mana debit card nya!" pintanya.


"Uang saya tidak cukup!" Sangga menjawab dengan nada penegasan.


"Ya sudah, kalau tidak cukup kenapa belanja disini?" tanya kasirnya.


"Iya, orang miskin saja belagu!" SPG itu menyelak perkataan kasir.


"Hm, begini saja mbak. Bisa digesek saja kartu  kreditnya?" tanya Sangga.


"Tidak mau! Ini ambil saja kartu mainanmu!" Kasirnya melemparkan kartunya ke Sangga dengan kasar.


"Jangan kasar gitu dong mbak!" Istikah kesal dengan sikap kasir yang tidak mengindahkan Sangga sebagai pelanggannya.


"Aduh mbak, ini sudah malam. Saya masih mau makan malam, nanti tutup!" Sangga cuek saja, tidak marah dengan dilemparnya kartu tersebut.


"Sudahlah kamu kalau mau bayar sini kartu debitnya, atau kamu akan saya laporkan ke atasan saya. Dan kamu pastinya akan dimasukkan ke penjara!" Sang kasir ngotot minta kartu debit milik Sangga.


"Mas Sangga, sudahlah kasih saja kartu ATM nya!" Istikah memohon.


"Sayang, isinya cuma ada enam puluh  juta, kurang sayang." Sangga garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Begini saja mbak, saya tidak jadi beli jam tangan yang warna merah


ini, bagaimana?" tanya Sangga yang mengambil kotak jam tangan dari belanjaannya.


"Enak saja! Tidak boleh, harus dibeli!" Sangga tambah bingung dengan hal ini.


"Sudahlah, saya akan kasih tau ke bos saya saja! Tunggu kamu! PakSatpam!!" SPG tadi memanggil seorang security yang berbadan besar.


"Ada apa mbak?" tanya Security tadi.


"Ini, tolong jaga bapak ini jangan sampai kabur!" Perinth SPGnya.


"Baik mbak!" Sekuriti itu melipat kedua tangannya di dada dan dia sok galak melihat ke arahnya. Sangga balik melihat ke arah dia dan dianatapnya lekat-lekat kedua matanya. Ada gambaran di matanya.


"Bapak punya anak kecil?" tanya Sangga.


"Iya, memang kenapa?"


"Bapak obati saja dia ke orang pintar, sakitnya bukan sakit biasa!" Sangga bicara kepada sang sekuriti.


"Kok, bapak tau kalau anak saya sedang sakit?" Dia langsung melunak bicaranya.


"Itu tidak penting! Bapak kalau pulang nanti, besok bawa saja dia ke ustad atau kyai yang bisa membuang Jin yang membuat dia sakit!" Ucap Sangga.Istikah juga heran kepada Sangga dan memandang Sangga dengan bengong.


"Kamu kenapa bengong begitu sih, sayang?" tanya Sangga sambil memencet hidungnya.


"Sakittt...Kamu bagaimana bisa melihat anaknya yang sedang sakit?" tanya Istikah.


"Ya tidak tau, tapi kalau saya salah, saya dosa dong, fitnah namanya!" jawab Sangga.


Kemudian tampak SPG tadi datang bersama seorang laki-laki dan istrinya yang gagah. Dia adalah si pemilik galeri tersebut. Mereka datang dari arah belakang Sangga dan Istikah yang sedang menghadap ke badan sekuriti tadi.


"Ini pak, dia orangnya! Sudah sombong, kere! Belagu lagi!" SPG nya terdengar menghina Sangga dari belakangnya.

__ADS_1


"Mana sih? Kamu jangan menuduh orang sembarangan dong!" Suara laki-laki itu terdengar. Sangga merasa tidak asing dengan suara tersebut. Sang Pemilik dan istrinya sudah berada di belakang Sangga dan Istikah.


Sangga merasa tidak asing dengan suara tersebut. Sang Pemilik dan istrinya sudah berada di belakang Sangga dan Istikah.


"Heh mas! Ini hadapi boss saya!" Sangga berbalik badan dan melihat ke arah bos galery tersebut.


"Eh, mas Sanggabuana? Belanja di sini?"


"Loh, pak. Kok ada disini?" tanya Sangga.


"Pakde!" Istikah kaget melihatnya.


"Eh ada Istikah, kalian berdua? Bagaimana paman Rajasa?" tanya Pemilik Gelery tersebut.


"Baik Pakde. Iya, tadi mas Sanggabuana datang ke rumah paman, dan mau tinggal di rumah paman Rajasa." jawab Istikah. Istikah berjalan ke mereka dan mencium tangan pakde dan budenya. Sangga juga bersalaman dengan Jenderal Prana dan istrinya. Sangga sudah kenaldengan istri Jenderal Prana, jadi mereka saling senyum.


"Ini galery pak Prana?" tanya Sangga.


"Iya, saya punya beberapa galery yang tersebar di beberapa mall!" SPG nya langsung bengong dan badannya bergetar.


'Wah, gawat, mereka sudah kenal!' bathin si SPG. Dia terlihat pucat mukanya.


"Ada apa mas Sangga dengan SPG dan kasir saya?" Jenderal Prana pemilik Galery tersebut berjalan ke samping Sanggabuana.


"Begini pak, saya ini belanja, dan mbak SPG ini menganggap saya orang miskin! Jadi mulai di etalase jam saja, sudah dipersulit dan direndahkan oleh dia!"


"Bener itu Yanti?" tanya Prana yang sudah mulai kesal.


"Bu-bukan gitu pak, saya lihat mas ini penampilannya kayak orang miskin tapi mau beli jam tangan harga lima puluh juta....Saya kan kuatir kalau dia tidak bisa bayar!"


"Ya, tapi tidak gitu caranya dong mbak, masa jam tangan harus dibeli cuma dipakai gitu aja diliatin doang? Mbak kan sudah merendahkan kami!" Istikah tak suka dengan jawaban SPG itu.


"Bener itu Yanti?" tanya pak Prana lagi.


"Terus kenapa dengan kasirnya?" sang kasir ikutan pucat sesudah melihat kedekatan bos nya dengan Sangga dan Istikah. Apalagi Istikah adalah keponakan dari bosnya.


"Ma-maaf pak, saya tadi dikasih oleh bapak ini sebuah kartu kredit. Tapi kartu itu kayak kartu mainan bukan kartu kredt beneran! Jadi saya kembalikan ke bapak ini lagi!" Jawabnya.


"Iya, tapi balikinnya jangan dilempar juga kali!!" Istikah yang marah. Si kasir makin pucat dan badannya bergetar.


"Ma-af mbak, saya mengaku salah!" Dia langsung menundukkan kepalanya.


"Kalian ini kerja disini, bukan belagak menjadi pemilik galery ini! Kalian harus menjaga galery dan membantu pelanggan untuk membeli produk disini, bukannya malah melarang mereka membeli barang disini!" Wajah Prana


langsung merah menahan amarah karena memalukan galery ini. Kasir dan SPGnya makin ketakutan dengan bentakan dari bossnya.


"Kalian ini bukannya kerja bener, kamu tau tidak siapa perempuan ini? Dia ini keponakan saya, dia ini anak dari adik saya! Paham! Kalian mending angkat kaki dari sini! Jangan kerja lagi di sini mulai besok!!!" Marahnya membuat kedua orang itu langsung menangis.


"Jangan pecat saya pak, saya janji tidak akan melakukannya lagi! Huuuuuhuuu..." Sang SPG menangis sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat wajah Jenderal Prana yang sudah marah.


"Saya juga pak, jangan pecat saya! Huuuuhuu..." Kasirnya menangis tersedu-sedu. Sangga dan Istikah berpegangan tangan dan merasa iba juga dengan mereka berdua.


"Sekarang mana kartu kreditnya, Istikah?"


"Ini pakde." Istikah memberikan kartu keditnya ke pak Prana.


"Ini coba kamu gesek! Kalau memang dia memberikan kartu kredit palsu atau kartu kredit mainan mereka akan saya tangkap!" Jenderal Prana ingin membuktikan ke karyawannya bahwa kartu kredit itu berfungsi dan asli.


"Baik pak." Kasir langsung menggesek kartunya sesuai dengan jumlah tagihan belanjaan Sangga dan meminta pin ke Sanggabuana. Sanggabuana langsung memasukkan pinnya.


"TING"

__ADS_1


"SUCCESS" Kertas muncul dari mesin EDC yang menandakan bahwa transaksi itu sukses.


Kasir itu bengong dan tambah takut. Dia langsung memberikan kartu itu ke Sanggabuana kembali.


"Nah, ini kartu kredit asli kan! Jangan kamu suudzon sama orang! Kamu buktikan di mesin EDC baru kamu bisa bilang kalau kartu ini kartu mainan kalau tidak bisa digesek! Bodoh kalian! Kerja tidak becus!"


"Iy-ya pak, saya mohon maaf..!" Kasirnya kembali menundukkan kepalanya.


"Kamu tau tidak, Wati??" Pak prana meminta kartu kredit yang dipegang oleh Sangga. Sang Kasir melihat ke arah Jenderal Prana.


"Ini kartu hanya ada 10 buah di negara ini, dan adik saya salah satu pemegang kartunya! Kalian sudah mencoreng nama saya dihadapan mereka! Paham!!" Mereka berdua ketakutan. Sang kasir sudah basah pahanya dan merapatkan pahanya karena sudah pipis di celana.


"Maaf pak...Saya mau ijin ke toilet dulu!" Sang kasir langsung lari menuju ke toiet.


"Hmm, bau apa ini?" tanya istri Jenderal Prana yang mencium bau tak sedap dari tempat kasir itu berdiri. Sangga dan Istikah saling pandang dan tersenyum.


"Kamu Yanti! Minta maaf sama mereka!" Bentak Prana.


"Iy-ya pak. Pak, saya minta maaf, saya salah pak, bu," Yanti sang SPG menyalami Sangga dan Istikah.


"Ya, saya maafkan!" jawab Sangga.


"Lain kali kalau kamu begini lagi kamu saya pecat! Bulan ini kamu saya potong gajinya 10%, karena kamu sudah menyalahi aturan dan merugikan galeri ini!" ucap Jenderal Prana.


"Jangan pak. Jangan dipotong gaji saya!" Dia menundukkan kepalanya.


"Mau dipotong atau besok kamu tidak masuk kerja lagi disini?" tanya Prana.


"Baiklah pak, dipotong saja. Saya minta maaf karena sudah mempermalukan galery ini,' Jawab Yanti.


"Mas Sanggabuana, sudah selesai ya urusannya. Saya minta maaf sekali lagi karena sudah mempermalukan mas Sangga dan mohon maaf juga atas keteledoran dan ketidakbecusan karyawan-karyawan galeri ini."


"Iya pak. Saya maklum kok."


Wati yang sudah selesai dari toilet datang dan berdiri di samping istri Jenderal Prana.


"Wati, sini kamu! Minta maaf sama mereka!" Wati menyalami Sangga dan Istikah.


"Saya minta maaf atas sikap kami mas, mbak!"


"Iya, lain kali jangan dilakukan ya mbak!" Sangga memahami sikap mereka walaupun kesal dan tidak terima direndahkan.


"Hm, mau kemana lagi sekarang mas Sangga?" tanya Jenderal Prana.


"Saya mau makan malam, pak. Tapi kayaknya mau makan diluar saja, mall nya juga sudah mau tutup." Sangga menerima semua belanjaannya yang diberikan oleh Yanti.


"Ini pak, belanjaannya. Atau saya saja yang bawakan." Yanti akhirnya membawa semua belanjaan Sangga dan Istikah.


"Ya kamu saja yang bawa semua!" Perintah Jenderal Prana.


"Baik pak!"


Mereka semua akhirnya pergi ke luar mall, Sangga mengambil mobilnya di parkiran dan menuju ke Lobby menjemput Istikah yang sedang berdiri dengan Jenderal Prana, istrinya dan Yanti.


Sesudah Istikah naik ke dalam mobil, Sangga mengarahkan mobil ke sebuah cafe yang sempat dia bantu membekuk perampok. Ya , cafe nya pak Bustomi.


Setiba di sana, Sangga langsung masuk dengan Istikah yang bergandengan tangan. Ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua, siapa ya? Kayaknya orang jahat atau tidak?


.......


.......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2