
BAB 27.
Mereka akhirnya sampai di depan kafe milik Pak Bustomi. Mereka turun dari mobil, dan disambut oleh pak Bustomi.
"Halo, Sangga, AKP Dirga, Istikah."
"Iya pak.". Mereka bersalaman dengan pak Bustomi.
Mereka masuk ke dalam dan langsung menuju ke lantai dua. Di sana mereka duduk disebuah meja lesehan.
"Disini saja, enak tempatnya. Nah sudah saya siapkan makan dan minumnya juga, jadi langsung makan saja ya." Pak Bustomi mempersilahkan Dirga,Sangga dan Istikah makan.
"Wah, kebetulan pak, saya lapar sekali," sahut Dirga.
"Ya sudah, makan yang kenyang. Kalau kurang nanti tambah lagi.Dikenyain ya." Pak Bustomi senang melihat semua tamunya makan dengan lahap.Begitu mereka selesai makan, Dirga membuka omongan.
"Jadi ini kafe kedua?" tanya Dirga.
"Ya, yang di sana sebenernya yang kedua, tapi yang pertama sudah saya tutup sejak saya pisah dengan istri saya beberapa bulan yang lalu. Dan dengan uang sisa saya usaha dan sudah semua saya selesaikan pembagian harta gono gini, saya membuka kafe kedua di sana. Mungkin sudah jalan hidup saya ini!"
"Oh, bapak baru jadi duda ini? Hahaha," Sangga tergelak.
"Iya, mas Sangga. Saya duda. Anak saya satu, dan diasuh oleh mantan istri saya, karena masih usia 4 tahun. Saya sebenernya tidak mau cerai, tapi mantan saya ingin menikah dengan pacarnya yang pertama!" Jelas Bustomi.
"Hm, ya sudah. Bapak tidak punya musuh kan dalam berbisnis?" tanya Sangga.
"Hm, tidak mas. Saya pure buka usaha ini dengan usaha saya sendiri."
"Baiklah. Bapak ke sini, mendekat ke saya." Sesudah Bustomi mendekat ke Sangga.
"Tutup matanya!" Sangga memberikan kode kalau dia akan meraga sukma.
"Mas Sangga mau ngapain?" tanya Istikah karena melihat Sangga duduk bersila berhadapan dengan Sangga. Dia takut Sangga melakukan yang tidak-tidak.
"Kamu agak menjauh ya sayang, kamu diam saja, jangan bicara dan hanya melihat ke sini saja. Mas Dirga, tolong divideokan!"Sangga mengantungi HPnya dan merapalkan bacaan doa.
"Pak Bustomi, tolong pegang tangan saya. Jangan sampai lepas. Jangan melek ya, ikuti perintah saya!" Perintah Sangga sambil menatap tajam ke mata Bustomi.
"Baik mas Sangga." Sangga Bastina memejamkan mata.
Sukma Sangga mulai keluar dari raga dan menarik sukma Bustomi, mereka mulai masuk ke diimensi lain. Gelap sekali dan mereka masih dalam keadaan duduk bersila.
"Pak Bustomi, buka pelan-pelan matanya!" Bustomi membuka matanya dan dia kaget karena gelap.
"Mas Sangga! Hii....Dimana kita sekarang?" tanya Bustomi yang langsung pucat dan duduknya geser ke dekat Sangga.
"Hahahaha, payah nih bapak. Sama aja kayak si AKP kampret itu! Takut gelap pak?" tanya Sangga santai.
"Ah, mas Sangga jangan nakutin saya dong!" Bustomi kesal diejek Sangga.
"Hahaha, sudah yuk, kita berdiri." Tangan Bustomi masih memegang lengan kanan atas Sangga.
__ADS_1
"Mas, serem, gelap banget!" Mereka mulai berjalan, dan menyusuri sebuah lorong yang gelap. Sangga merapalkan sebuah doa dan muncullah dua macan miliknya, Leon dan Wewe.
"Masya Allah, masssss...Usirrr massss!" Bustomi memalingkan pandangannya dan meletakkan kepalanya dipundak Sangga.
"Massss...Itu apa?? Takut sayaaaa!!!" Badan Bustomi bergetar, keringat dingin mengalir deras di sekujur wajahnya.
"Tenang pak, mereka penjaga saya. Mereka sering membantu saya!" Sangga menepuk lengan atas Bustomi yang masih menaroh wajahnya di pundak Sangga.
"Massss...Takut!" Bustomi masih bergetar takut badannya.
"Leon! Wewe! Rebah!" Kedua macan tersebut merebahkan tubuhnya. Kedua macan tersebut memang besar, badannya sebesar tiga kali orang dewasa.
"Aaaummmm..."
"Mas Sanggaaaaa!!"
"Hahahahaha, ayo pak, lihat ke depan!" Sangga menarik lengannya. Bustomi memberanikan diri melihat ke kedua macan tersebut.
"Masya Allah mas...Takutt!" Sangga tersenyum melihat Bustomi yang masih memalingkan mukanya dari kedua macan tersebut.
"Ayo pak, buka matanya!"
"Takut Sang! Eh, kita ada di mana sih kita? Kok aneh gelap banget!" Bustomi menatap Sangga.
"Kita sudah ada di dimensi lain pak. Makanya kita bisa melihat kedua macan itu."
"Hm, beneran tidak gigit itu macan?? Hiii...Serem Sang!"
"Hahahaha, ayo lihat ke depan, tuh mereka aja sedang duduk. Mereka akan membantu kita kalau mereka sudah kena!" Sahut Sangga.
"Sang, yang hitam namanya siapa?" tanya Bustomi.
"Namanya Leon, dan yang putih Wewe!" jawab Sangga tenang.
"Oke, terus kita mau kemana?" tanya Bustomi sambil memperhatikan kedua macan tesebut yang masih siap siaga walaupun rebahan.
"AAuuuummm..."
"Gila, suaranya keras banget, Sang!"
"Sebentar, saya akan komunikasi dengan Leon dan Wewe! Leon! Tolong lihat dia, cari orang yang sudah membuat kafenya sepi pengunjung!"
"Aaummmm..." Leon berdiri dan jalan dan melompat kemudian menghhilang.
"Eh..hilang Sang!"
"Pak, kita naik ke Wewe, ayo!" Sangga jalan ke Wewe dan memanjat punggungnya. Bustomi masih ada di tempatnya, tak beranjak sama sekali.
"Ayo pak, kita jalan dengan Wewe!"
"Takut Sang!" Bustomi kekeuh tidak mau naik.
__ADS_1
"Ayo pak! Kita susul Leon!" Sangga menatap ke Bustomi meyakinkan kalau tidak ada apa-apa."
"Aaauummm..." Bustomi naik memanjat ke atas punggung Wewe dan duduk di belakang Sangga.
"Wewe! Jalan!" Wewe berdiri dan berjalan.
"Pak, pegang pinggang saya!"
HAP!!!
Wewe melompat melewati cahaya terang. Leon sudah menggigit seorang perempuan yang sangat cantik dan kedua kaki depannya sedang berada di atas tubuh seorang pria setengah tua, berusia sekitas 50 tahunan.
"Berhenti Wewe!" Mereka berdua turun dan jalan ke arah Leon.
"Leon, lepaskan!" Gigitan dilepaskan dan wsyanum itu jatuh ke bawah.
"Aahhhh...Sakit! Perih!" lirih si perempuan.
"Patricia!" Ternyata pak Bustomi kenal degan wsyanum itu.
"Bapak kenal?" tanya Sangga.
"Dia mantan istri saya!" Wajahnya sedih melihat ke arah perempuan itu.
"Sang, kenapa dia terluka?" tanya Bustomi dengan wajah kecewa dan sediih.
"Dia pelaku yang sudah membuat kafe bapak sepi!" Jawab Sangga dengan santai.
"Hah! Kamu Patricia, kenapa kamu mau menghancurkan bisnisku??" tanya Bustomi yang kemudian berjalan mendekat ke istrinya. Leon tetap menjaga laki-laki yang masih belum sadar dan dalam kondisi bajunya terkoyak-koyak.
"Bang! Kamu sama siapa bang?" tanya Patricia dengan wajah yang penuh gores luka. Rambutnya acak-acakan dan dia masih belum sanggup berdiri.
"Aku sama kawanku! Kamu kenapa belum jawab? Kenapa kamu mau menghancurkan bisnis abang? Hah!" Bustomi makin kesal dan meninggikan suaranya.
"Bang...Maafkan aku bang! Huuuuhuuu..."
"Kamu sudah aku beri semuanya! Tidak ada lagi sisa yang kamu kasih ke aku! Aku hanya kau sisakan uang sedikit! Kanapa kamu masih tega sih ke abang!! HAH! Jawab!!" Bustomi luruh dan berlutut.
"Abang, aku sudah gelap mata, suamiku yang minta aku untuk mengambil kafe mu yang katanya menggunakan uangku yang belum kamu kembalikan!"
"Hah! Tidak ada lagi, semua sudah kamu ambil!!! Dasar biadab kalian berdua!" Bustomi mulai naik pitam. Wajahnya bergetar, matanya merah dan kedua tangannya mengepal.
"Itu siapa?" tanya Bustomi menunjuk laki-laki yang ada dibawah,kaki Leon.
"Dia...Dia orang pintar, yang saya suruh untuk mengerjai kafemu! Huuuuhuuu..." Patricia kembali menangis. Dia menyesal atas perbuatannya.
"Leon! Bawa suaminya kemari!" Perntah Sangga.
"Aaaummm.." Leon berlari dan menghhilang. Wewe menggantikan Leon dengan kaki diatas tubuh laki-laki itu.
Tak berapa lama, Leon sudah datang dengan menggigit pakaian seorang laki-laki yang masih meronta-ronta mau lari.
__ADS_1
"AAUMMMM...!" Wewe mengaum. Leon melepaskan laki-laki itu di samping Patricia.
"Sayang! Kamu kok disini? Ada apa sayang yang sebenernya terjadi?" tanyanya.