
Bab 37.
"Kamu tau tidak kalau dia itu sudah menghamili Dira?" Sangga kembali bertanya kepada gadis itu.
"Ya Allah, Mas Dito! Bangsat lo ya!" Suasana di lantai atas itu mulai menarik perhatian para pengunjung..
"Gue bisa jelasin, sayang...!" Dito berdiri karena gadis itu langsung berdiri dan meninggalkan Dito dan lari ke bawah.
"Eh,eh, eh, mau kemana kamu!" Sangga dan Dirga menghalangi Dito untuk mengejar cewek itu.
"Kalian maunya apa sih? Ganggu saja urusan orang!" Dito makin marah sambil mundur dan melecehkan Sangga dan Dirga.
"Heh! Jangan kau membentak kami! Kamu yang salah, katanya mau menikahi Dira minggu depan! Jangan kau mempermalukan lagi Dira dan Pak Rajasa! Kutangkap kau dan kujebloskan kau ke penjara, karena kasus penipuan!" Ancam Dirga.
"Eh, maap, maksudnya, saya juga mau ketemu pacar saya itu, untuk bilang ke dia kalau saya mau menikah!" Suaranya mulai dilembutkan.
"Loh,tadi gadis itu yang bilang, kamu calon suaminya! Kau sudah membohongi kami ya!" Dirga mengeluarkan borgol yang dicantolkan di pinggangnya.
"Jangan, jangan AKP! Saya minta maaf, saya jani akan menikahi Dira dan -bertanggung-jawab.
"Inget lo ya! Sampai melukai hati Dira dan pak Rajasa, habis kau! Tidak bisa kau lihat lagi matahari!" ancam Dirga lagi.
"Iy-iya, saya pamit!"
"Dasar lo bajingan! Sudah nyetor ke Dira, langsung aja kau kau cari perempuan lain!"
"Tidak, tidak, saya tidak akan mengulanginya lagi!"
"Heh, satunya mana cewekmu!" Temuin kami dengan cewekmu yang satu lagi!" Benak Dirga.
"Cewek yang mana lagi?" tanya Dito.
"Yang pendek, putih!" timpal Sangga.
'Eh buset, mereka tau semua! mampus gue!' pikir Dito.
"Iya, kamu akan kumampusi!" Sangga ikut mengancam. Dito diam kali ini. Karena apa yang dipikirkan Dito terbaca oleh Sangga.
"Susah sana pergi! Jangan bohong kau pada hari H nanti! Kalau kau tidak datang, kupastikan kau akan tak melihat matahari lagi!" Ancam Dirga.
"I-iya...Permisi!" Dito langsung mengambil tasnya dan pergi ke bawah,ngibrit.
*
Sesudah hari pernikahan Dira dan Dito, Sangga diajak oleh Rajasa ke villanya di daerah garut, di sana mereka akan melakukan pesta dengan teman-teman Dito dan Dira. Mereka berangkat jumat malam. Dirga tak bisa ikut, karena harus menemani AKBP. Baunaji untuk menggerebek sebuah tempat yang sudah dipakai untuk merakit bom. Sangga tak enak dengan Rajasa, oleh karena Itu Sangga tanpa Dirga.
Sangga dan Melati naik mobil barunya, Porsche berwarna merah.
Sangga dan Melati meyusul Rajasa yang sudah berangkat duluan dengan Dira dan Dito. Mereka sampailah di villa yang dituju. Malam itu Rajasa, Sangga dan Melati sedang duduk bertiga misahkan diri dengan kawan-kawan Dito dan Dira.
Pada malam itu, ternyata Dito sudah berencana untuk membubuh Sangga. Dia sudah memina bantuan kepada dua temannya untuk menghabisi Sangga. Sangga duduk di samping api unggun, dia makan ikan dan ayam bakar bersama dengan Istikah dan pak Rajasa.
"Sangga, wah,Dirga sayang ya tidak bisa ikutan! Dimana dia sekarang?" tanya Rajasa.
"Tidak tau pasti pak, katanya sedang berada di Jawa Tengah, cuma tepatnya saya kurang paham!" Sangga menjawab sambil mekan ayam panggang.
__ADS_1
"Mah, ini ikannya, aku suapin, aaaa..."Sangga membuka mulutnya dan langsung makan ikan bakar dari tangan Istikah.
"Makasih sayang."
"Sama-sama, mas."
Dito tiba-tiba datang mendekat.
"Mas Sangga, bisa minta tolong?" tanya Dito.
"Hm, ada apa?" tanya Sangga.
"Begini mas, karena mobil mas Sangga paling belakang, kami mau jemput seorang teman kami di stasiun. Kalau mengeluarkan mobil dari dalam susah. Gimana kalau mas Sangga yang jemput dengan saya dan dua kawan saya?" tanya Dito.
"Hm, boleh, ya sudah sebentar!!" Tanpa curiga sedikit pun Sangga mengambil kunci mobil dan mengambil tasnya dan mengalungkan dilehernya.
"Istikah, mas pergi dulu sebentar, mau jemput temannya Dito di stasiun katanya!" Ucap Sangga.
"Kenapa mesti kamu? Kan mereka bisa?" Perasaan Istikah khawatir dan merasa ada yang aneh dan janggal.
"Tidak apa-apa. Mobilku kan paling belakang, jadi kalau mereka mengeluarkan mobilnya susah. Aku pergi dulu, ya!" Sangga pamit ke Istikah dan pak Rajasa tanpa curiga sedikitpun.
"Aneh, kan bisa saja mereka mindahkan mobilnya. Hm, aku chat aja mas Sangga!"Kemudian Istikah mengechat ke Hp Sangga. Sangga berempat. Sangga yang membawa mobillnya.
Di tengah jalan, Dito minta berhenti sebentar.
"Mas, mas bisa berhenti di depan sebentar?"
"Kenapa?" tanya Sangga dan menghentikan mobilnya. Begitu berhenti teman Dito dari belakang menggunakan tali tambang mengalungkan leher Sangga dan Sangga kalah tenaga walaupun tangannya berusaha untuk menarik dengan tangannya.
Dito langsung memukul kepala Sangga dua kali, Sangga pun pingsan.
"Bro, gimana nih sekarang?" tanya temannya yang mengeksekusi Sangga.
"Gini Bro, pindahkan Sangga dulu ke belakang. Kita jemput teman kita dulu di stasiun dengan mobil ini. Begitu di stasiun, Aku dan kau, Suneo, meenyeburkan Sangga ke Jurang, dengan mobil ini. Seakan mobil ini mengalami kecelakaan!"
"Wah,pinter lo! Elo balik ke stasiun dulu kan?" tanya Suneo.
"Ia dong bro, nanti gue akan telpon kalau sudah beres si Sangganya!!" Dito senang melihat Sangga sudah pingsan.
"Hm baguslah. Pindahkan Sangga dulu. Obat biusnya mana?" tanya Dito.
"Ini bro!" Suneo memberikan sebotol dan menuangkannya sedikit ke saputangan dan ditempelkan ke hidung Sangga selama 10 detik dan membuang saputangannya.
Sangga dipindahkan, Sangga ditidurkan di jok kiri, Dito membawa mobil Sangga ke stsasiun. Satu temannya turun. Sangga dan Suneo langsung ke tempat yang sudah direncanakan oleh Dito. Dito mengarahkan mobil Porschenya ke depan Jurang. Jurang yang sangat dalam.
Sangga dipindahkan ke belakang kemudi dan mesin mobil dihidupkan oleh Dito. Dengantongkat kayu tongkat porsenelingnya di mundurkan dengan tongkat kayu yang sudah disediakan oleh Dito dengan pintu terbuka. Sangga hanya didudukan di belakang kemudi. Mobil langsung maju pelan-pelan dan langsung masuk ke jurang.
BRAAKKK
BRUKKK
DUAAARRRR
Terlihat asap mengepul ke udara dan tampak di bawah,jurang ada api yang sedang berkobar.
__ADS_1
"Selamat tinggal Sangga!!" Dito melemparkan tongkat itu juga ke dalam jurang. Dia berjalan keluar dan naik ojek sesudah dua kilometer dari letak Sangga masuk jurang.
Dito langsung ke stasiun bersama Suneo.
Sampai di stasiun dua temannya sedang menunggu, sesudah Dito dan Suneo bertemu, mereka menunggu selama sejam dengan makan bakso dulu.
Dito pura-pura menelpon Dira menanyakan Sangga yang sedang mereka tunggu di stasiun.
["Halo sayang, Sangga ada di sana belum?"] tanya Dito dengan nada panik.
["Hah, belum ada. Bukannya dengan kamu tadi pergi?"] Dira heran kok Dito menanyakan Sangga.
["Bukan begitu sayang. Tadi pas dia menurunkan kami di stasiun, dia pergi lagi, dan sampe sekarang tidak ada kabar, belum balik lagi ke sini, sayang!"]
["Ah, masa, tunggu saja dulu sebentar!"]
["Oke sayang, aku tunggu dulu deh, msudah-msudahan cepet sampenya, karena sudah malam!"]
["Ok, kasih kabar ya, kalau Sangga masih belum datag dalam setengah jam, biar kita bisa ikut mencari Sangga. Kasian dia tidak tau daerah sini!"]
["Iya sayang!"]
Sesudah 35 menit, Dito kembali menelpon Dira yang mengabarkan kalau Sangga belum tiba. Dira yang panik langsung berlari ke papanya dan Istikah.
"Pah, Pah!"
"Ya nak?"
"Sangga, Sangga hilang!"
"Hah, Hilang?? Memangkan tadi mengantar Dito ke Stasiun kereta!"
"Iya, cuma dia begitu sampe di stasiun, Sangga pergi lagi, dan dia sampe sekarang belum balik ke stasiun!"
"Coba papa telpon HPnya!"
"Mbak, kenapa mas Sangga?" Istikah mulai panik.
"Mas Sangga hilang!" sahut Dira.
"Hah hilang? Kemana? Ya Allah...! Mas Sangga kemana sih?" tanya Istikah yang ikutan menelpon Sangga.
"Nomer Hpnya tidak aktif, Des!" Pak Rajasa khawatir dengan keadaan Sangga saat ini.
Pak Rajasa menelpon Dirga.
"Halo, mas Dirga!"
"Ya Halo pak Rajasa."
"Mas, tolong. Sangga hhilang!"
"Hah, hilang gimana?"
.......
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG