
Bab 43.
"Oke mas.!" Sangga menelpon Jenderal Jery dengan HP Dirga.
["Halo, pagi pak Prana."]
["Oh ya, pagi Sangga. Bagaimana kondisi Istikah sekarang?"]
["Alhamdulillah pak. Saya boleh minta tolong pak Prana?"]
["Apa itu Sangga?"]
["Bisa saya diberikan tas kecil saya?" ]
["Hm, oh bisa, tenang saja. Nanti saya titip Dirga ya di kantor!"]
["Hm, terima kasih banyak pak."]
["Sama-sama Sangga. Kapan mau bergabung lagi dengan kami?"]
["Hm, saya mau istirahat dulu seminggu, boleh? Karena saya mau merawat Istikah sampai sembuh dulu. Lagi pula saya ada rencana untuk menikahi Istikah."]
["Hm, baiklah. Kalau mau menikahi Istikah, sebaiknya kamu datang ke sana dan menikah di rumah Istikah saja."]
["Hm, baiklah pak. Terima kasih sebelumnya."]
["Ya sama-sama Sangga."] Telepon dimatikan, Sangga memberikan HP ke Dirga.
"Bagaimana? Bisa?"
"Bisa, kamu nanti ketemu sama Jenderal Prana di kantor!"
"Oke. Aku mandi dulu!"
"Ya."
Hari itu, beberapa kali Sangga membuat ramuan dan meminumkannya keIstikah. Istikah makin segar badannya.Sewaktu Yunma tidur, Sangga mengisi waktunya untuk membuka Kitab Pil Elixir yang diberikan oleh Nenek Lampir.
Sangga merapalkan doa dan keluarlah kitab tersebut dari badan Sangga dan langsung ada di tangannya. Sangga membaca dengan cepat dalam waktu 10 menit sudah hapal semua. Dia membalikkan Kitabnya kembali ke dalam badannya.
"Aku harus membuat pil elixir untuk Istikah. Tapi ada bahan yang tidak aku punya. DImana ada pohon bunga bangkai?" Sangga bingung dan kemudian istirahat. Sorenya Dirga pulang ke hotel dengan membawa tas Sangga.
"Nih, tas lo!" Dirga memberikannya.
"Alhamdulillah." Sangga menerimanya dan memeriksa semuanya. Sangga mengambil HP dan memencet tombol powernya, ternyata baterainya habis. Dan dia mengecasnya. Sangga kembali ke sofa.
"Makasih mas!" Sangga senyum ke Dirga.
"Iya sama-sama. Sang, banyak kerjaan sebenernya di kantor. Kalau elo turun tangan pastinya bakalan cepet!" Dirga mengambil sebatang rokok dan membakarnya.
"Hm, nantilah mas. Gue mau rawat Istikah dulu."
__ADS_1
"Istikah bagaimana sekarang?" tanya Dirga.
"Hm, sudah baikan banget, tapi dia lagi tidur, tadi abis gue kasih ramuan!"
"Hm, buatin gue ramuan dong!" pinta Dirga.
"Ramuan jamu galian singset?" Sangga terkekeh.
"Emang gue cewek!!" Dirga mencebikkan bibirnya.
"Mas, gue butuh beberapa alat dan bahan!" Sangga menatap Dirga dengan serius.
"Bahan apa? Alat apa?" Dirga balik bertanya.
"Gue butuh bunga bangkai! Elo tau dimana?" tanya Sangga.
"Ada Sang!Kalau tidak salah ada di bogor!" Dirga semangat.
"Untuk apa?" tanya Dirga lagi.
"Buat bikin Pil Elixir! Dan gue butuh alat panggang berupa loyang kecil, juga kompor kecil untuk masak kalau kita kemping!" Sangga menyebutkan salah satu alat yang dia mau.
"Hm, permintaan lo aneh juga ya!"
"Semua itu buat pil mas, katanya mau gue buatin pil ramuan?" Sangga gantian manyun.
"Hm, boleh juga, oke besok ya!"
"Hm, oke, nanti malam mending kita berdua ke pasar dekat sini. Elo kayaknya tidak usah nyamar juga tidak apa-apa kok!" Dirga menatap ke wajah Sangga.
"Hm...Elo mah mas, becanda aja bisanya!"
"Hahaha..Ok, gue mandi dulu. Itu buat makan sudah gue beliin juga..Gue mandi dulu!" Dirga berdiri menuju ke kamar mandi.
"Makasih mas. Jangan lama mandinya!"
"Iye!" Dirga mandi dan Istikah bangun sesudah itu mereka makan malam dulu bertiga.
"Sayang, aku dan mas Dirga mau ke pasar dulu, mau beli alat-alat, dan kali aja ada bahan untuk ramuan. Kamu disini sebantar ya, sayang?"
"Hm, boleh mas, aku menunggu di sini saja, kalau jalan jauh aku juga masih capek mas."
"Ya sudah, kamu nonton TV saja."
"Iya mas."
"Sang, ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu tutup pasarnya!"
"Siap bos." Sangga dan Dirga langsung berangkat ke pasar terdekat, dan sudah banyak barang yang dia beli. Sangga juga mampir ke apotik untuk membeli beberapa bahan juga. Kemudian mereka pulang ke hotel.
"Sang, elo emang bisa buat pil?" tanya Dirga yang sedang menyetir mobilnya arah pulang ke hotel.
__ADS_1
"Sudah mas, insya Allah. Gue tadi sudah baca semua isi KITAB PIL ELIXIR nya!" Jawab Sangga sambil melihat ke arah Dirga.
"Hah? Sudah semua? Kitabnya emang sedikit halamannya?" Dirga melongo, karena membayangkan kitab yang tebal.
"Ya, sekitar 3000 halaman mas!"
"Hah, Masya Allah, 3000 lembar sudah semua hapal?" Sangga menganggukkan kepalanya.
"Elo...Hapal semua?"
"Hooh mas!" Anggukan kepala Sangga dilihat sama Dirga.
"Ya ampun!" Dirga menepuk jidatnya.
"Nanti gue buatin pil buat lo! Biar elo cerdas, kuat dan tangguh!"
"Beneran? Nah itu dia..Tapi gue mau juga tuh Sang, kayak elo jadi pendekar, punya senjata canggih..Hahahaha!" Dirga tertawa membayangkan dirinya sebagai pendekar.
"Kan penampilan elo sudah pas mas, rambut panjang, kumisan, bewokan dan elo kan sudah ada pistol, kenapa pengen yang lain?" tanya Sangga.
"Hmmm, ya kadang kita kan tidak sempet nembak Sang, jadi kita bisa menggunakan kekuatan pikiran dan tenaga dalam!" Dirga ingat dengan tokoh idolanya, sang 212.
"Maksud lo kayak Wirosableng gitu??"Sangga membaca pikiran Dirga.
"Asem! Gue lupa elo bisa paca pikiran gue! Hahahaha, ada enaknya dan ada tidak enaknya lah jalan sama lo! Gue kagak bisa boong!Hahahaha....Asem asem...Tapi gue banyakan happynya sama lo, pengalaman nambah, ilmu nambah, kali aja gue jadi punyacewek, secara gue sudah 34 tahun broo!"
Sangga senyum kecut meledek Dirga.
"Ah elo aja yang tidak pede sama cewek! Syanum sudah dinikahi sama Bustomi, Dira sudah kawin, nanti deh kalau gue punya temen lagi, biar buat elo aja!" Sangga ngeledek Dirga yang terlihat mukanya kesel sama ledekan Sangga.
"Asem lo, Sang! Eh, gimana rencana elo mau nikahin Istikah?" Dirga ingat kepada rencana Sangga untuk menikah dengan Istikah.
"Hm, ya jadilah. Mungkin sesudah Istikah sehat, seminggu atau dua minggu lagi lah. Tapi mas, saran pak Prana, gue menikah saja di kampung, supaya pak Rajasa tidak tau!" Jelas Sangga ke Dirga.
"Hm, iya juga sih, kan memang orangtuanya masih ada juga...Sang!"
"Iya sih broo, karena itulah, gue harus menyiapkan semuanya! Lebih cepat lebih baik!"
"Iya, tenang aja, gue anterin. Jenderal Bromo dan Jendral Prana mau kok membantu!" Dirga memberi semangat kepada Sangga.
"Ya, kalau mereka berdua gue yakin. Tapi gue juga masih agak bingung ke depannya!"
"Bingung kenapa bro?"
"Gue harus meningkatkan ilmu gue bro, masih harus melatih kekuatan dan kamampuan ilmu gue juga. Kalau tidak ada kemajuan, akan segitu-segitu aja!" jawab Sangga dengan gamblang.
.....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1