LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 13.


__ADS_3

BAB 13.


"Hehehehe, gombal gombal! Hahahaha," sahut Dirga meledek lagi.


"Eh..Hmm...Jadi tidak disuapin?" tanya Istikah geregetan.


"Tidak usah Istikah, kamu duduk saja disitu, biar aku bisa pandangin wajah kamu yang makin lama makin cantik!" Wajah Istikah langsung memerah merona dan dia menunduk.


"Sudah ayo, dimakan. Salah saya ajak Istikah kesini!" sahut Pak Rajasa.


"Loh, kenapa pak Rajasa?" tanya Sangga.


"Kena gombal sama kalian! Hahahaha." Istikah kembali ketawa memperlihatkan giginya yang rata berbaris bagaikan biji jagung, tapi dan indah dilihat.


"Eh, mas Sangga, agaimana tawaran saya mengenai kuliah?" tanya Pak Rajasa.


"Hm, ya saya terima pak tawarannya. Kapan saya mulai kuliah?" tanya Sangga mulai serius.


"Dokumennya nanti disiapkan saja. Ada ijazah SMA nya dan rapornya? Juga dokumen penduduk?" tanya pak Rajasa.


"Ada semua pak, lengkap, kebetulan beberapa hari lalu kan saya sudah mengambil di kampung. Makanya uang saya habis, untuk menebus tanah ibu yang disita sama rentenir!" Jawab Sangga.


"Memang kenapa, kok bisa disita?"


"Ya katanya Ibu meminjam uang, akhirnya ya ssaya cuma ganti uang bangunan saja, karena dia tidak punya bukti apapun kalau Ibu meminjam uang. Soalnya di tanah ibu sudah ada bangunannya pak, jadi ya saya ganti saja uang bangunannya!"


"Terus kosong di sana?"


"Ya tidak pak, ada tetangga, saya suruh dia tinggal disitu, supaya ada tempat yang layak buat dia!"


"Baguslah. Kamu memang anak baik, Sangga. Makanya Istikah ngebet pengen ketemu kamu terus! Hahahahaha." Pak Rajasa dan Dirga tertawa kembali.


"Apa sih paman! Malu-maluin Istikah aja....!" Istikah langsung cemberut tapi pipinya merah merona kayak ubi rebus.


"Beneran nih kamu tidak suka sama Sanggabuana?" tanya pak Rajasa.


"Hhmmmm..."


"Kok, hm doang?' tanya Dirga penasaran sambil memandang wajah Istikah.


"Ya, begitulah!" Dia kembali malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Malu atau mau?" Dirga menggodanya kembali sambil makan makaroninya.


"Hahahaha." Pak Rajasa juga ikutan tertawa.


"Istikah, kalau beneran kamu suka sama saya, mau tidak kamu nanti menemani aku sampai maut memisahkan kita?" tanya Sangga iseng.


"Mauuuuu....!"


"HAHAHAHAHA."


Mereka semua tertawa, tinggal Istikah yang bengong, karena pastinya Sangga bercanda.


"Kamu becanda ya, mas Sangga?" Istikah kembali sedih.

__ADS_1


"Hm, bagaimana ya? Kalau serius bagaimana? Kalau becanda bagaimana? Coba, aku mau tau kenapa alasannya kenapa sama Istikah!"


"Aku memang suka sama kamu, mas Sangga. Tapi, kamu kan sedang banyak tugas, kalau aku ditinggal jauh terus, kamu nanti banyak yang goda!" Istikah kembali cemberut.


"Eh, tidak kok, bukan itu Istikah. Mas kan cuma nanya sama kamu. Kalau kamu memang suka sama mas Sangga, kamu mau tidak menemani mas Sangga dengan kondisi apapun?" tanya Sangga serius.


"Hmmm...Kamu mau tidak?" tanyanya malu-malu.


"Loh, kok malah balik nanya sama aku, sih? Biar disaksikan sama pak Rajasa nih, dan si kampret AKP Dirga! Hahahaha," Sangga meledek Dirga.


"Eh, sialan lo! Gini-gini sudah bukan jadi kampret lagi!"


"Terus jadi apa?"


"Batman!"


"Halah podo ae mas!" Sangga menimpuk tisue bekas ke muka Dirga.


"Hahahaha, cie cie yang ditembak sama cewek! Terima atuh...!" Dirga mesam mesem.


"Iya nih, gimana jawabannya Istikah?" Pak Rajasa masih senyummelihat Sangga dan Istikah sedang serius. Dia sampai geleng-gelengkan kepalanyadan tertawa.


"Paman ihhhh..Jangan ketawa terus dong. Istikah mau jawab nih."


"Hahahaha, Ya jawab saja, ayo Istikah mau jawab apa tuh? Sudah ditantangin sama Sangga!"


"Iya, aku mau...Apapun kondisinya, Istikah mau menemani mas Sangga!" Istikah langsung menuduk malu dan menutup wajahnya kembali.


"Cieeee...Jadian nih yee....!" Dirga tertawa tergelak melihat sikap Istikah dan Sangga yang malu-malu kucing.


"Mas Sangga beneran mau sama Istikah?" tanya pak Rajasa.


"Ohhhhhh...Jadi sudah ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih???? Hahahaha..." Dirga tertawa ngakak.


"Ya kalau begitu, paman hanya bisa merestui kalian berdua. Tapi ingat ya, pacarannya yang sehat, saling mendukung satu sama lain! Dan jangan lupa kalau kalian ini masih butuh pendidikan, jadi jangan tinggalkan pendidikan kalian!" Pak Rajasa meninggalkan pesan untuk Sangga dan Istikah.


Mereka berdua senyum bahagia. Tak lama kemudian, Pak Rajasa dan Istikah pulang. Dokumen yang dibutuhkan untuk kulah Sangga sudah dibawa oleh Pak Rajasa. Tinggal mereka berdua lagi. Sangga menonton TV, sedangkan Dirga sedang menerima telepon dari pak Bromo. Sesudah menelpon, Dirga bicara kepada Sangga.


"Mas Sangga, kamu sudah bisa nyetir mobil, belum?"


"Belum. Emang kenapa?"


"Tidak papa, mungkin ada yang mau kasih mobil ke kamu."


"Siapa?" Sangga heran karena memang seumur-umur dia tak pernah membayangkan mempunyaisebuah mobil.


"Kayaknya sih pak Rajasa dan Jenderal Prana."


"Tapi pak Rajasa tidak ngomong tuh!"


"Tadi Pak Bromo kasih tau ke saya. Oh iya, kata seorang informan, akan ada penyelundupan Narkoba ke Indonesia, kamu bisa bantu?" tanya Dirga.


"Maksudnya bantu bagaimana?"


"Ya, bantu lacak keberadaan kapalnya. Karena katanya ada penyelundupan yang datang dari laut!" sahut Dirga.

__ADS_1


"Hm, ya saya tidak bisa menerawang mas, kalau tidak ada orang yang dicurigai, saya tidak bisa bantu."


"Hm, iya ya. Kamu kan cuma bisa memberikan info lokasi ya?"


"Ya, bisa juga sih untuk masa depan dan masa lalu, tapi aku kan bingung, berdasarkan apa aku melihatnya??" tanya Sangga.


"Hm, kalau begitu aku akan coba minta data-data yang diperlukan supaya kamu bisa bantu kita untuk menggagalkannya lagi."


"Ya boleh. Tapi mas, apa saya dikasih pengawalan sama kepolisian kalau saya nanti kuliah?"


"Hm, ya nanti kita bicarakan ya...Kamu bantu dulu itu, penyelundupan narkobanya."


"Iya tenang."


Seminggu kemudian, Sangga sudah siap untuk ikut dalam penggerebekan kapal yang disinyalir akan menyelundupkan Narkoba lewat pesisir laut di utara kota Jakarta. Mereka sudah bersiap semua. Sangga tetap memantau lewat penglihatanya. Sejam sebelum waktu diperkirakan kapal itu merapat, Sangga kembali merapal bacaan doa memanggil Leon dan Wewe.


Sesudah mereka datang, Sangga memerintahkan untuk mengecek orang yang ada di dalam foto yang dia pegang. Kedua macan tersebut pergi dan kembali sesudah sepuluh menit. Mereka menarik dua orang berkulit putih. Mereka meronta-ronta karena semua tubuh mereka sudah banyak luka cakaran.


"Mas Dirga, pindah ke belakang, saya mau meraga sukma dulu."


"Oke. Sebentar saya pindah dulu." Dirga langsung pindah dari depan ke belakang dan duduk di samping kanan Sangga. Briptu. Doni tetap di belakang kemudi dan menengok ke belakang memperhatikan Sangga.


"Mau apa to?" tanya Briptu. Doni.


"Ritual!" Sahut Dirga.


"Oh..."Itulah jawaban Briptu. Doni. Dia kembali memperhatikan jalan dan lokasi yang dicurigai menjadi tempat penyelundupan.


"Sudah mas, Aku mulai ya."


"Oke." Sangga merapalkan bacaan doa. Sukmanya meninggalkan Jasadnya yang sedang duduk di dalam mobil.


"Leon, Wewe, ini kedua orangnya?" Sangga langsung merapapalkan doa supaya dia mengerti bahasa yang diucapkan oleh kedua orang itu. Mereka masih meronta dan dilepaskan oleh kedua macan tersebut. Mereka duduk sambil mengaduh.


"Kalian lagi dimana sekarang? Jasad kalian!!" Bentak Sangga.


"Saya sedang dilaut mengarah ke Bekasi!"


"Hah? Bekasi? Kamu sengaja mau lari ya?" tanya Sangga.


"Ya,kmi juga ada informan di kepolisian, kami tau kamu bisa memantau kami. Makanya kami berusaha memutus komunikasi!"


"Hm, bagaimana kamu bisa menipuku?" Sangga melipat tangannya di depan dada.


"Kami sengaja melakukannya! Kami tidak mau tertangkap!"


"Sekarang tunjukan lokasi tujuan kalian! Kamu masih kami tahan disini!"


"Jangan, lepaskan kami dari macanmu."


"Hahaha, ya nanti aku lepaskan kalau kamu sudah kembali ke jasad kalian dan sudah kami borgol!"


Mereka terdiam dan masih menunduk lemas.


......

__ADS_1


......


BERSAMBUNG


__ADS_2