LAHIRNYA SANG PENCERAH

LAHIRNYA SANG PENCERAH
Bab 34.


__ADS_3

Bab 34.


"Hm, lusa saja pak! Saya akan datang ke rumah bapak dengan kedua orangtua saya!"


"Baik, kalau kamu tidak menepati janji, jangan salahkan saya kalau masukkan kamu ke penjara! Dengar AKP??" ancam Sangga.


"Hm, Siap bos!!" sahut Dirga.


"Hm, baik-baik, saya akan ke sana!" Ketakutan Dito bertambah sesudah mengetahui Dirga adalah seorang AKP polisi. Sangga memanggil Leon dan Wewe.


Mereka berdua datang dan langsung rebahan.


"I-Itu apa? Macan? Ya Allah, besar banget!" Dito menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Kamu kalau berani bohong kepada kami, akan saya minta mereka jemput kamu dan menghabisi nyawamu! Paham!" Sangga mengancam sambil menunjuk ke Dito.


"Iy-ya,saya akan datang!" Dia merinding ketakutan sampai terkencing-kencing.


"Sudah sana pergi!"


"Bagaimana saya kembalinya?" tanya Dito bingung.


"Pejamkan matamu! Hitung satu sampai tiga!"


"Satu...Dua..Tiga!" Dito menghhilang dan masuk ke raganya lagi. Mereka bertiga naik ke punggung Wewe dan Leon. Sesudah sampai di kamar, mereka masuk kembali ke raga mereka masing-masing.


"Hm, Alhamdulillah semua lancar.."ucap Rajasa.


"Hm, ya mudah-mudahan si Dito memenuhi janjinya."


"Iya, kalau tidak datang kita tarik lagi saja, Sang!" sahut Dirga yang menyalakan rokoknya.


"Eh,lapar lagi tidak?" tanya Rajasa.


"Iya pak, kalau kita abis beginian, pasti lapar!" timpal Dirga.


"Sebentar, saya minta Istikah bikin roti sandwich dulu."


"Oke, pak!"


Rajasa berdiri dan berjalan keluar kamar, dia melihat Dira masih di meja makan sambil memegang HPnya. Dia terlihat sedang chattingan dengan Dito. Di wajahnya terlihat senyum.


Ketika Rajasa kembali lagi ke kamar melewati meja makan, Rajasa dipanggil oleh Dira.


"Pah, aku bisa bicara?" tanya Dira.


"Hm, bicara apa?" tanya Rajasa dan duduk disamping Dira.


"Hm..Pah, aku...Minta maaf,...Aku Hamil, Pa...!" Dira menitikkan airmata.


"Hm, kan sudah papa bhilang, Dito suruh ke sini! Kamu mau papa nikahin dengan Dito?" tanya Rajasa. Pak Rajasa pura-pua marah.


"Hm, iya pah. Dito akan ke sini dua hari lagi dengan kedua orangtuanya. Apakah papa bersedia menikahkan kami berdua?" tanya Dira.


"Ya, papa akan menikahi kalian.Tapi dengan satu syarat!" ucap Rajasa.


"Kamu harus keluar dari rumah ini, dan tinggal berdua dengan Dito di Apartemen saja. Dito harus mengurus kamu dan kuliah seperti biasa! Kamu juga!"


"Kenapa aku harus tinggal di apartemen? Apa papa malu?" tanya Dira sedih.

__ADS_1


"Bukan malu.Tapi papa tidak mau memberikan alasannya. Tapi papa akan tetap memberikan uang bulanan ke kamu. Kamu harus menjadi istri yang baik bagi Dito, kalau ada apa-apa segera kasih tau papa, nak!"


"Apa karena Sangga, jadi papa menyuruh aku untuk tidak tinggal disini lagi?" tanya Dira sambil menatap mata Rajasa dengan tajam.


"Bukan itu. Tapi papa ingin melihat keseriusan Dito menjadi suami. Karena papa yakin, Dito bukan cowok yang pantas buatmu! Seorang laki-laki itu harus menjaga orang yang dicintainya, bukan membuatmu hamil! Paham maksud papa!" Dira menganggukkan kepalanya.


"Kalau ada apa-apa, kamu kasih tau papa, sekecil apapun! Ini semua untuk melatih kamu menjadi lebih dewasa, bukan untuk Sangga. Sangga hanya orang lain walaupun papa juga sayang kepada Sangga. Walaupun Sangga baik tapi papa juga punya kamu, kamu yang papa sangat sayangi!" Dira menangis di dalam pelukan Rajasa.


Rajasa kembali ke kamarnya.Istikah menyusul di belakangnya, karena dia sudah selesai membuat sandwich buat Sangga dan yang lainnya.


"Nah ini sandwichnya datang." Istikah meletakkannya di atas karpet dan ikutan duduk bersimpuh di atas karpet. Sangga melihat sang kekasih dengan tatapan sayang.


"Mas...Ngapain? ayo liat Istikah kayak gitu?" Istikah menundukkan kepala karena malu. Wajahnya merah merona.


"Hm, tidak apa-apa kok. Mas bangga, kamu pinter masak. Jadinya mas kan aman nanti, makannya berasal dari masakan istri!"


"Hihihhi, makasih mas Sangga." Istikah sangat bahagia.


"Sudah makan dulu sandwichnya, nanti aja gombalnya!" Ledek Dirga.


"Apa sih, AKP Dirga pasti ngeledekin terus! Sebel tau!" Istikah cemberut.


"Biarin aja, emang mulutnya iri hati!" celetuk Sangga manyunkan bibirnya.


"Iya iya maap, beneran tidak kalau Sanggamu gombal??" tanya Dirga ke Istikah.


"Tidaklah, mas Sangga pasti jujur ngomongnya dari dalam hati!" balas Istikah membela Sangga.


"Hehehe, iya sayang, mas Sangga jujur kok!" Dirga gantian yang manyun.


Dua hari kemudian, Dito menepati janjinya untuk datang bersama keluarganya yang berasal dari keluarga biasa saja. Rajasa dan Dira menyambut keluarga Dito dengan baik.


"Ya saya ucapkan terima kasih kepada bapak dan Ibu, juga Dito yang sudah datang ke rumah ini. Kami senang melihat Dito bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan anak saya, Dira. Apalagi Dito mau segera menikah. Kalau begitu lamaran saya terima dan saya mau menikahkan putri saya secepatnya. Biarlah dengan sederhana dulu, tak usah ada resepsi yang penting mereka sah menjadi suami istri, dan mereka bisa membangun keluarganya dengan baik!" Rajasa menatap Dito dengan tajam.


Dito menundukkan kepalanya.


"Baiklah kira-kira kapan bisa segera mereka menikah?" tanya bapak Dito.


"Hm, bagaimana minggu depan saja. Mereka harus segera menikah karena kandungan anak saya makin membesar nantinya!" Ucap Rajasa dengan sengaja.


"Hah? Jadi Dira, anak bapak sudah hamil oleh Dito??"


"Ya, memang Dito tak memberitahukan kepada bapak dan ibu?" tanya Rajasa pura-pura tidak tau.


"Hm, tidak pak. Benar itu Dito?"


"Iy-iya pah, makanya saya mau bertanggung-jawab!" Dito menatap papahnya dengan rasa takut.


"Hm anak kurang ajar!"


PLAK


"Memalukan kamu!"


"Pah, sudahlah malu pah!" Ibunya menahan suaminya agar sabar.


"Maaf pak Rajasa, kalau begitu, kita segerakan saja pernikahan mereka!" ucap papahnya Dito.


"Iya, silahkan saya malah senang. Karena mereka berdua harus menanggung perbuatan mereka sendiri dan menjalani hidup berkeluarga!" timpal pak Rajasa.

__ADS_1


"Bagus, minggu depan saja, besok saya bantu urus dokumennya!" Bapak Dito menyambut baik rencana pak Rajasa. Istikah masuk dengan membawa beberapa kue. Mata Dito jelalatan ke arah Istikah yang memang


sangat cantik dengan jilbabnya.


Istikah merasa diliatin terus oleh Dito malah menantang tatapan Dito dan mencibir. Dito tersenyum.


Acara dilanjutkan makan siang. Sangga dan Dirga pun masuk ke dalam rumah dan bersalaman dengan mereka semua. Dito yang teringat dengan pertemuan mereka di dimensi lain, kaget dan hanya salaman tanpa melihat ke arah Dirga dan Sangga.


"Ayo pak bu, mari kita makan siang. Sudah siap semua. Mereka berjalan bersama. Kedua orangtua Dito dan pak Rajasa duluan, Dira berjalan bersama dengan ibunya Dito. Dito yang akan menyusul di belakang, dianahan oleh Dirga dan Sangga. Istikah yang melihat itu ikutan mendekat ke Sangga dan merangkul lengan Sangga.


"Mas, matanya Dito tadi jelalatan!" ucapnya ke Sangga sang kekasih.


"Hm, elo mau gue masukin sel?? Heh!" Dirga mengeluarkan lencananya.


"Am-ampun, tidak, maaf saya sudah mengganggu kalian.Maaf mbak!" ucap Dito yang ketakutan mendapatkan ancaman dari mereka.


"Dia ini calon istri saya. Kalau masih mengganggu nanti, kuculik kau dan kumasukkan kau ke dalam kawah!" Ancam Sangga.


"Iy-ya..maaf saya salah!" Dito menundukkan kepalanya dengan badan gemetar.


"Sudah sana masuk! Makan sana!" Dirga mendorong Dito untuk ke ruang makan.


"Mas darimana sih? Aku kan takut diliatin sama si Dito!" ucap Istikah manja.


"Aku sama mas Dirga abis jalan-jalan tadi, nyobain mobil barunya!" Sangga meledek Dirga.


"Hahaha, iya dong Istikah, kan kalau tidak dicobain nanti tidak aku perawanin!" Dirga menyahut sekenanya sambil makan risoles.


"Sudah ahh, yuk mas Sangga, kita makan! Biarin aja itu si kampret disini makan kue aja!" Istikah sudah berani meledek Dirga dengan sebutan kampret.


"Hahahaha." Dirga tertawa melihat Istikah yang kesel.


"Ayo mas, kita makan! Lapar,tadi sarapan kurang banyak!" Sangga memegang perutnya.


"Iye ah, yuk kita makan. Nanti sore anter gue ke toko aksesoris ya!"


"Iye, emang mau diapain lagi itu mobil??" tanya Sangga.


"Mau pasang sound systemlah, biar enak!" jawab Dirga.


"Okeh," jawab Sangga sambil jalan ke ruang makan.


Mereka makan siang bersama, Dito sekali-sekali masih melirik ke Istikah tapi dipelototin terus oleh Sangga.


Pada saat mereka pamit pulang, Sangga mengancam Dito sekali lagi.


"Kalau masih punya niat untuk menggoda Istikah, mata kau kusuruh macanku congkel matamu!! Paham!!"


"Paham mas, paham mas...!" Jawab Dito yang ingat Leon dan Wewe yang sangat besar dan menyeramkan.


Sore hari, Sangga mengantar Dirga ke toko aksesoris, dan malamnya Sangga kuliah.


Di kampus, Sangga kuliah sampai jam 9 malam. Abis dari kampus, mereka menuju ke rumah. Di tengah jalan, Dirga mendapatkan telpon dari Letkol Baunaji untuk datang ke Polda bersama Sangga.


......


......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2