
Bab 7.
“Dia ada di jalan merkurius nomer 2895, rumah bercat putih dan dia bersembunyi di kamar lantai atas.”
“Briptu. Doni, silahkan kirim pasukan ke rumah tersebut, segera!!” Dirga memberikan instruksi.
“Siap!! Laksanakan!!” Briptu. Doni langsung bergerak. Sangga kembali menyerahkan foto itu ke AKP Dirga.
“Nah ini satu kasus lagi, kasus pencurian dan perampokan yang menimbulkan 1 orang korban, meninggal dunia!” AKP Dirga Sangga mengambil foto itu dan kembali merapalkan bacaan doa, terlihat semua jelas gambaran nya.
“Dia ada di sebuah rumah.” Sangga memberitahukan detail alamatnya. AKP Dirga memberi perintah kepada Briptu. Joko untuk bergerak ke rumah tersebut.
Sangga dan Kombes. Bromo terlibat obrolan, terutama dengan kemampuan Sangga dalam memberikan sebuah penglihatan Sangga tak memberikan penjelasan mengenai itu, dia menutupi dengan memberikan alasan sederhana, yaitu didapat secara tiba-tiba dalam mimpi. Kombes. Bromo pun percaya dengan jawaban Sangga.
Sejam kemudian, Letnan Dirga kembali dari luar dan masuk ke dalam ruangan Kombes. Bromo yang sedang mengobrol dengan Sanggabuana.
“Siap, lapor komandan! Pembunuh telah tertangkap, sesuai dengan lokasi yang diberikan oleh mas Sangga!” Lapor AKP Dirga.
“Alhamdulillah! Benar AKP?” tanya Kombes. Bromo.
“Benar komandan! Siap!” Jawab AKP Dirga.
“Bagus, terima kasih mas Sangga, kami telah kewaahan dengan kasus ini, kami telah buntu mencari keberadaan mereka!” Kombes. Bromo sangat senang dengan hasil yang dicapai.
“Sama-sama pak.” Sangga senang bisa membantu colonel Bromo dalam menemukan pembunuh dalam kasus tersebut.
“Benar mas Sangga, kami sangat berterima kasih. Tinggal kasus kedua, pelaku perampokan sangat licin. Semoga dia bisa dianangkap kali ini
“Mereka ada 3 orang, hanya dua yang di sana, nanti dia juga akan memberikan keterangan, kalau telah tertanggkap!” Jawab Sangga.
“Semoga.” AKP Dirga ikut nimbrung dengan obrolan mereka. Setengah jam kemudian, dia mendapatkan konfirmasi kembali dari Briptu. Joko.
“Ya, halo Briptu. Joko!” “Baik, alhamdulillah. Semua telah beres?”
“Baik, saya akan sampaikan!” Telpon dimatikan.
“Ahamdulillah pak, dua orang pelaku perampokan telah tertangkap, satu lagi masih buron, berarti benar kata mas Sangga. Semua informasinya akurat!”
“Alhamdulillah, semoga semua bisa diselesaikan. Saya khawatir, karena mereka ini termasuk komplotan yang susah dan licin!” Kombes. Bromo terlihat sumringah gembira.
“Oke, mas Sangga, terima kasih, kalau hari ini cukup dua kasus saja yang bisa diungkap, besok kita bereskan sisanya. Sekarang saya mau mengajak mas Sangga ke rumah saya, untuk makan malam bersama keluarga saya!” Kombes. Bromo sangat senang hatinya kali ini dan dia akan menjamu Sanggabuana. Karena pastinya dengan dua kasus yang telah terungkap dia nambah kasus penggagalan transaksi Narkoba senilai 10 Milyar, bisa memberikannya naik pangkat menjadi Jenderal Polisi bintang satu.
“Pak, saya tidak pakai baju bagus. Boleh saya ganti baju dulu?” tanya Sangga.
“Tidak usah, Sangga. Nanti, kita mampir saja ke Mall, sekalian beli beberapa pakaian untuk kamu. AKP Dirga,
nanti tolong ditemani mas Sangga untuk beli pakaian!”
“Siap komandan! Laksanakan! Mari mas Sangga.”
__ADS_1
“Baik pak Dirga.”
Kemudian mereka berdua pergi ke mall, untuk membeli beberapa pakaian untuk Sangga. Setelah selesai, mereka berdua langsung mengarah ke rumah pak Bromo. Di sana, Sangga langsung dijamu oleh keluarga Bromo.
“Mari masuk mas Sangga. Silahkan, ini kenalkan istri saya, itu juga anak saya yang besar namanya Sangita, dia masih kelas 3 SMP dan adiknya ini si bontot, namanya Justin. Baru kelas enam SD. Ayo silahkan duduk.” Setelah bersalaman, mereka duduk bersama.
“Mah, telah siap makan malamnya?” tanya Bromo ke istrinya.
“Telah pah, ayo kita langsung makan saja. Mari nak Sanggabuana, kamu ganteng sekali sih??” Istri Kombes. Bromo memuji ketampanan Sangga. Sangga hanya senyum saja kepada istrinya.
“Terima kasih, bu.”
Mereka makan malam bersama termasuk AKP Dirga. Setelah makan malam, Bromo memberikan uang sebesar sepuluh juta kepada Sanggabuana.
“Mas Sangga, ini ada uang dari saya pribadi, beda loh dengan yang dari kantor saya nanti. Ini sebagai tanda terima kasih saya, telah membantu uncap kasus yang tadi kamu bantu. Terimalah!” Kombes. Bromo memberikan sebuah amplop yang berisi uang.
“Hmm, wah,saya kok diberi uang terus ya? Telah enak-enakan dikasih makan enak, sekarang pulang diberikan uang, saya jadi tak enak dengan bapak yang telah baik sama saya.” Sangga merasa canggung dengan perlakuan colonel Bromo.
“Ah, ini tidak seberapa dengan waktu dan biaya kami kalau mereka belum tertangkap! Bener tidak AKP??” tanya Bromo.
“Bener komandan. Dua kasus terbesar kita selesai dengan melihat foto saja oleh mas Sangga. Kita harus memberikan reward, apalagi nanti mtelah-mtelahan bisa banyak kasus yang terungkap. Pekerjaan kita jadi lebih mudah.” AKP Dirga pun memberikan sebuah kegembiraan.
“Ah, bapak-bapak ini terlalu banyak memuji saya. Saya kan hanya memberikan info apa yang saya lihat. Kebenaransemua, saya juga tidak tau,” ucap Sangga.
“Sangga, kamu memang sangat rendah hati. Baiklah, kalau begitu, karena kamu masih dalam perlindungan kami, kami akan menempatkan kamu di hotel, ditemani oleh AKP Dirga!” Ucap Kombes. Bromo.
“Ah, saya pulang saja pak. AKP Dirga bisa menginap di kontrakan saya. Kan sama saja pak!” Jawab Sangga.
“Baik komandan! Laksanakan, saya tidak masalah!” Jawabnya.
“Hm, baiklah, kamu sekarang antar mas Sangga ke kontrakannya. Dan satu lagi mas Sangga, jangan beritahukan bahwa kamu ini informan kami. Berita mengenai kamu akan kami skip, tidak ada yang boleh tau.Karena ini telah aturan kepolisian.”
“Baik, pak saya paham. Saya tidak akanbicara kepada siapapun,” jawab Sangga.
“Oke silahkan AKP, mas Sangga. Terimakasih telah memenuhi undangan saya dan keluarga saya untuk makan malam.”
“Sama-sama, pak. Saya mohon pamit.”Mereka langsung naik mobil dan menuju ke kontrakan Sangga. Sesampainya dikontrakan Sangga, Dira berlari menuju ke arah Sangga.
“Mas Sangga, dari mana sih? Gerobaknyamana?” tanya Dira.
“Eh Dira, gerobak saya diangkut samasatpol PP,” jawab Sangga sekenanya agar dia tak curiga.
“Hah, terus mas Sangga tidak bisajualan lagi dong? Mas Sangga telah makan?” tanya Dira dengan nada khawatir.
"Sudah, mas Sangga sudah makan tadi. Mas Sangga masuk dulu, ya.”
“Iya mas Sangga, maaf ya, aku mengganggu.” Dira kembali lagi berlari ke rumahnya.
“Ehem, anak cantik, pacar mas?” tanya Dirga.
__ADS_1
“Ah, bisa aja nih mas Dirga, bukan dia hanya anak tetangga saja. Yuk masuk, maaf ya hanya kontrakan sederhana saja.”
“Baik mas, taka pa, saya juga tinggal di kontrakan kok.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan Sangga kembali mandi. Setelah mandi Sangga mengambil piring dan Dirga membuka martabak yang telah dibelinya.
“Mas, itu foto siapa?’ tanya Dirga.
“Oh itu kakek saya. Sebenarnya bukan kakek kandung. Saya ini asli Cirebon mas, Cuma saya melancong ke Jakarta untuk mengadu nasib. Setelah stasiun kota saya membantu kakek Kresna karena almarhum dia ditabrak oleh motor dan gerobak cilok dan batagornya jatuh. Makanya saya diajak oleh beliau untuk dagang cilok dan batagor.”
“Oh begitu ceritanya. Kemampuan mas Sangga bisa melihat dari beliau juga?” tanyanya.
“Tidak mas, saya telah bisa melihat sedari kampung, Cuma saya tidak mengasahnya. Setelah di Jakarta, saya dibimbing oleh kakek dan mempertajamya.” Sangga sengaja berbohong karena pasi ada masalah dengan liontinnya.
“Hm, pantas…Mas Sangga selalu didampingi oleh Macan kumbang!” Sahut Dirga.
“Oh, mas Dirga bisa liat dia?” tanya Sangga kaget.
“Ya, saya hanya bisa liat, tak bisa komunikasi dan apalagi menyuruhnya.”
“Ya, dia itu punya kakek. Saya beri dia nama Leon!” ucap Sangga.
Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka berdua istirahat.
Besok paginya di kantor kepolisian, Sangga menonton konfrensi pers mengenai penggagalan kasus Narkoba senilai 10 milyar. Banyak wartawan dan dihadiri juga oleh beberapa jenderal polisi atasan Kombes. Bromo.
Setelah selesai konfrensi pers, Bromo mengajak Sangga untuk bertemu dengan atasannya langsung yaitu Irjen polisi Prana yang bertugas di Polda. Mereka berbicara bertiga membahas sebuah kasus yang telah lama menimpa adiknya, seorang pengusaha tekstil terkenal.
“Begini nak Sanggabuana, saya minta tolong kepada nak Sanggabuana untuk membantu saya. Kebetulan keponakan saya telah satu tahun ini menghilang. Dan telah lama, kami mencarinya, termasuk dibantu oleh tim dari polda dan tim colonel Bromo. Kamu masih kesulitan dan masih belum menemukan keponakan saya. Ini fotonya, namanya Dira.
Sangga menerima sebuah foto dan melihat kalau Dira sedang berada di sebuah hotel bersama dengan seorang laki-laki. Sangga merapalkan bacaan doanya.
“Dia sekarang sedang bersama seorang laki-laki, mereka habis melakukan hubungan. Tapi…Sebentar, sepertinya dia dibayar untuk itu!”
“Dibayar bagaimana nak Sangga?” Prana senang melihat kemajuan ini.
Sangga diam dan dia sedang mencari kenapa Dira ada di hotel tu dan ada apa dibalik semua itu?
“Dia telah bukan sosok dirinya. Dia telah hilang keingatannya, jadi dimanfaatkan oleh kawannya yang jahat dan dijual ke seorang mucikari!” Sangga akhirnya menyebutkan sebuah nama hotel dan nomer kamar.
“AKP Dirga!!” Panggil Bromo.
Dirga masuk.
“Siap komandan!”
Apakah Bisa Ketemu Diranya?
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG