
BAB 19.
Benteng masih terlihat kokoh. Dia tidak bisa menghancurkan benteng yang dibuat Sangga.
'Luar biasa benteng ini! Biasanya kalau aku pakai kekuatanku tadi, akan hancur benteng apapun!' Kekuatan apa yang dia pakai?? bathin sang pengendara kuda.
Sangga sudah memberikan benteng yang tidak terlalu besar energinya. Tapi kalau melihat kekuatan yang diberikan oleh pengendara kuda tersebut, Sangga merasa tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Mas hati-hati! Kamu geser saja ke belakangku!" Perintah Sangga. Dirga mengarahkan Wewe mundur. Dirga berada tepat di belakang Sangga. Tapi Wewe tetap siaga untuk membantu Leon kalau ada yang serangan yang besar.
"Sangga, hati-hati kamu! Dia sangat berbahaya!" Dirga sangat kuatir dengan serangan yang diarahkan ke Sangga oleh si pengendara kuda.
"HAHAHAHAHA."
"Cuma segitu kekuatanmu??" Sangga meledek dan mengarahkan jempolnya ke bawah. Si Pengendara kuda makin terlihat marah, dia merapalkan sebuah kalimat dan mengangkat kembali sebuah pecutan yang ada sinar birunya.
CETARR
CETARRRR
KRAAAKKKK
"Hahahahaha, sebentar lagi kalian akan mati!" Teriaknya.
'Hm lumayan juga kekuatannya. Akan aku lawan kali ini, tak akan kuberi ampun,' bathin Sangga ketika benteng buatannya sudah mulai retak.
"Sangga! Gimana ini?" tanya Dirga yang khawattir akan keselamatan mereka berdua dan mati dianangan di pengendara kuda. Telapak tangan Sangga mengarah ke Dirga.
"Tenang mas, kalem...!" Sangga menenangkan Dirga yang sudah mulai gusar karena bentengnya sudah banyak yang retak. Kalau dibiarkan kekuatan pecutnya bisa melukai mereka.
"Cuma segitu?" tanya Sangga meledek. Sangga mengarahkan telapak tangannya ke atas dan merapalkan sebuah doa.Tiba-tiba ada sinar hijau yang menyilaukan mata mereka yang melihatnya. Dirga menunduk dan begitu sinar itu mengumpul semua di dalam genggaman tangannya, Sangga langsung melempar ke arah si pengendara kuda.
"TERIMALAH INI!!" Teriak Sangga menggelegar.
"HAAAHHH."
DUAR DUAR
Seakan langit berguncang, Wewe dan Leon sudah siap menerkam begitu ada aba-aba dari tuannya.
Tampak sang pengendara kuda langsung jatuh dari kudanya.
"AAARRRRGGHH.....!!"
__ADS_1
BRAAKKKKK
"Hiiiiikkkkkkkk....Hiikkkkkkkkk...."
Kudanya langsung kabur dari orangnya. Si pengendara kuda tampak susah untuk berdiri. Dari mulutnya keluar darah segar. Bajunya robek-robek. Dia terkapar tak berdaya. Tapi tak berapa lama diamulai bangun dan duduk.
"Itu hanya peringatan buatmu! Kalau sektemu tak dibubarkan dalam 2X 24 jam, aku akan kembali! Kalian harus menyerahkan diri kepada Kepolisian! Sekte kalian harus dibubarkan!!" Teriak Sangga dari atas punggung Leon.
"Tidak segampang itu kawan! Hahahahahaha....Sekte kami sudah banyak menyebar dinegara ini. Kalian tidak bisa membuat sekte kami bubar dalam sekejab!!" Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tidak bisa?? Kalau begitu sekarang sebaiknya kau harus ikut kami!!" Sangga mengarahkan tangannya ke orang itu dan melempar sebuah jala dari tangannya. Orang itu meronta-ronta dan akhirnya dia terdiam. Karena semakin dia meronta, membuat jala itu makin mengikat tubuhnya.
"Hahahaha." Sangga turun dari Leon dan mendekat ke arah pemimpin sekte itu.
"Kamu masih mau melawan saya??" Sangga berdri sekitar dua meter dari orang itu.
Sangga mengarahkan telapak tangannya ke arah badan orang itu dan melemahkannya. Sangga menarik semua ilmu pemimpin sekte itu semua. Pecutnya yang terlempar Sangga ambil dan memegangnya.
"Apa nama pecut ini??" Sangga mengalirkan energi dan pecut itu merespon dengan mengalirkan energi aneh ke badan Sangga.
"Haaaaaaaa...." Sangga berteriak sebentar dan kemudian normalkembali.
"Ki BEWOK!! Hahahaha." Sangga tertawa.
"Kurang Ajar! Kamu sudah mengambil Senjata andalanku! Kamu sekarang sudah menjadi tuannya. Aku serahkan senjata pamungkasku untukmu!" Pemimpn sekte itu kemudian berubah menjadi lebih tua.
sekarang Ki Bewok sudah menjadi senjata pamungkas Sangga.
"Saya hanya orang biasa saja! Kamu harus ikut bersama kami!" Sangga menarik jala tersebut dan mengikatnya. Sebelumnya, Sangga sudah memasukkan pecut itu ke dalam tubuhnya yang menghhilang dengan sekali perintah dari Sangga.
"LEON, Tarik!!" Leon datang medekat dan digigitnya ujung jala yang sudah terikat.
"HEI! Mau kamu bawa kemana aku?" Teriak si Pemimpin sekte itu yang terseret di dalam jala. Dia meronta-ronta, tapi tetap dia tak bisa berbuat banyak.
"Kamu harus ikut kami!" Sangga langsung melompat ke punggung Wewe di belakang Dirga.
"Ayo Wewe, jalan!" Wewe langsung jalan dan melompat. Wewe dalam sekali lompat sudah ada di dalam kamar apartemen.
"Sudah sampai mas Dirga!" Mereka turun, dan Leon melepaskan gigitannya di jala tadi.
"Terima kasih kawan, kalian boleh kembali!" Sangga mengucapkan terima kasih kepada Leon dan Wewe.
"AAAAUUUMMMM..." Mereka menjawab dan dalam sekejab mata, Leon dan Wewe sudah menghhilang.
__ADS_1
Mereka berdua kembali ke raga masing-masing dan Sangga merapalkan sebuah doa, wujud Jalanya nyata yang sudah berisi sang pemimpin sekte itu. Dia sudah dalam keadaan yang menyedihkan, bajunya sobek sobek dan semua kotor. Banyak darah yang masih mengalir dari mulut dan hidungnya.
"Hei, kamu siapa namamu!??" tanya Dirga.
"Aku Sangar Khan!" Orang itu terlhat kesakitan.
"Hm, kamu orang india? Siapa pemimpinmu??" tanya Dirga.
"Bukan, saya dari Gucapat! Saya tidak akan bicara apapun! Itu sudahjanji kami!!"
"Hm, ya sama saja!! Nanti kusiksa kamu!!" Dirga kesal dan menoyor kepala Sangar.
"Mas, diapain orang ini? Suruhlah kepolisian mengambilnya! Apa kita yang interogasi??" tanya Sangga yang kemudian berjalan ke arah kulkas dan mengambil tiga botol air mineral. Satu dikasih ke Dirga dan satu diberikan ke Sangar.
"Terima kasih, Sang!" Ucap Dirga.
"Ya. Telpon Briptu. Doni saja sekalian Jenderal Bromo dan Jenderal Prana. Mereka harus tau semuanya!"
"Iya! Bentar aku akan telpon!"
Kemudian, Dirga menelpon Briptu. Doni dan jenderal Bromo. Pak Bromo yang baru bangun mendapatkan telpon dari Dirga, sesudah subuh langsung meluncur keapartemennya. Jenderal Prana pun ditelpon dan menuju ke Aprtemen dimana Dirga dan Sangga tinggal.
Satu jam kemudian, Bromo sudah sampai.di Apartemen. Dia langsung masuk dan mereka menginterogasi Sangar. Jenderal Prana juga sampai di apartemen dua jam kemudian.
Sangar langsung dibawa oleh Briptu. Doni ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut. Jendral Bromo dan JenderalPrana sangat senang dengan hasil ini. Bromo mendatangi Sangga dan Dirga untuk mendapatkan cerita mengenai penangkapan Sangar yang tak masuk akal.
"Baguslah, bagaimana itu ceritanya kalian bisa menangkap dia? Dia sektenya ada di jawa sana! Jauh dari sini! Kalian dalam beberapa jam saja sudah bisa membawa da kesini dalam keadaan terluka! Keren kalian! Haahahaha." Jenderal Bromo menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir.
"Ah, itu sih rahasialah. Tapi yang jelas, saya sudah melihat kemampuan Sanggabuana. Dia patut diberikan penghargaan dari kepolisian!" ucap Dirga semangat.
"Wah, kau melebih-lebihkan saja mas!" Sangga tersenyum simpul.
"Wah, pokoknya tadi itu pengalaman yang tidak akan bisa saya lupakan! Saya merasa tidak ada gunanya sama sekali di hadapanmu Sangga! Kamu tidak gentar hadapi dia. Pecutnya saja besar dan panjang. Aku mikir aja, kalau aku kena pecutnya bakal putus ini kaki atau lengan! Hahahaha."
"Ah, kita serahkan saja sama Allah, mas. Kan kita sedang membela kebenaran! Yang salah harus kita musnahkan!" ucap Sangga sambil meminum air mineral dari botol.
"Senjata itu bakalan membuat kamu jadi tambah kuat sangga! Siapa namanya? Ki Jebluk?"
"Iya Ki Jebluk!" jawab Sangga.
"Hm, nama yang aneh, tapi kekuatannya luar biasa.
.......
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG